Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
My Turn ~ Hanya Kamu Di Hatiku


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Devano Denandra__Menyimpan Rasa


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Gavriel pov on


Aku pulang lebih dulu dibandingkan dengan teman sekolahku yang lain. Saat aku merasa, jika di sekolah pun aku tidak memiliki kegiatan lainnya.


Di dalam mobil yang aku kendarai saat ini, hanya ada keheningan saat aku menghindari mendengar sebuah lagu.


Disaat aku sedang fokus dengan jalanan yang ada di depanku saat ini, tiba-tiba aku mendengar getaran di dashboard yang berasal dari handphoneku.


Aku pun mengambilnya dan melihat nama Daddy tertera pada layar handphoneku.


Ada apa, pikirku penasaran.


Dengan segera aku menekan tombol hijau, kemudian panggilan pun teralihkan ke headset bluetooth yang saat ini terpasang di telinga sebalah kananku.


"Hn. Ada apa Dadd?" tanyaku saat panggilan aku terima.


"Sedang di jalan?"


"Iya."


"Bisa ke kantor?"


"Baik."


"Hn. Hati-hati, Daddy tutup panggilannya."


"Hn."


Tut!


Aku penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Daddy, apakah soal pekerjaan atau sekolahku nanti.


Tidak ingin menebak-nebak jawaban yang belum tentu benar, aku pun memutar stir kemudi di persimpangan, saat rumah dan gedung perusahaan Daddy tidak searah.


Sekitar lima belas menit kemudian, aku pun sampai di halaman luas komplek gedung dengan nama Wijaya terpampang jelas.


Gedung hasil jerih payah Daddy, tanpa ada penggabungan dengan aset Wijaya lainnya.


Seketika aku merasa beban di pundakku kian berat, saat aku di hadapkan dengan kenyataan, jika mempertahankan lebih sulit dengan membangun yang belum ada.


Sulit untuk bisa mencapai rantai piramida paling atas bagi pengusaha, tapi lebih sulit lagi mempertahankan untuk tetap ada di puncak sana.


Maka itu aku memutuskan untuk fokus dengan ini dulu, baru kemudian fokus dengan urusan pribadiku sendiri.


Lagian aku rasa, aku masih sangat muda untuk memikirkannya. Juga, jika sahabatku memang tercipta untukku, kami pasti akan bersama meskipun aku menjauhinya dan dia membenciku sekalipun.


Aku turun dari mobilku, berjalan dengan langkah lebar ke dalam lobby dan sesekali mengangguk saat aku disapa ramah oleh karyawan yang berpapasan denganku.


"Selamat siang, Tuan muda!"


"Hn."


Di depanku ada lift pribadi yang akan mengantarku ke atas, dengan segera aku menekan tombol open dan pintu lift pun terbuka.


Ting!


Aku memeriksa kembali handphoneku, yang sesekali akan bergetar saat ada notif beruntun dengan simbol instakilo terpampang.


Terkadang aku heran, padahal selama ini aku tidak pernah sekali pun memposting foto pribadi di instakilo-ku, tapi kenapa jumlah pengikutku semakin banyak saja disetiap jamnya.


Apa aku hapus saja akun media sosialku?


Aku ingin sekali menghapusnya, tapi bayangan akan kemurkaan El selalu membuatku urung melakukannya.


Ting!


Aku kembali menyimpan handphone di saku celanaku, berjalan ke arah pintu ganda ruangan Daddy dan mengetuk pintu sedikit kuat.


Tok! Tok! Tok!


Pintu terbuka dengan Unkel Dani yang membukakan pintu untukku.


"Oh! Gavriel, masuk."


Aku hanya mengangguk dan berjalan masuk saat unkel Dani mempersilakan aku masuk.


Saat aku baru saja melangkah masuk, aku melihat Daddy tidak lah sendiri melainkan dengan seseorang lainnya, yang sangat aku kenali itu siapa.


"Yo! Gavriel, apa kabar?"


Untuk sesaat aku terdiam, ketika aku melihat seseorang itu melihat ke arahku, namun aku segera tersadar saat beliau menyapaku ramah seperti biasa.


"Sore, Unkel. Baik."


Aku pun berjalan ke arah Daddy dan beliau__ayah sahabatku__Unkel Faro, yang saat ini sedang duduk dengan banyak kertas dan dokumen di meja.


Sedang apa mereka.


"Duduk," perintah Daddy saat aku berdiri di hadapannya.


Aku pun duduk dengan sikap kaku, saat aku merasa jika sesekali Unkel Faro melihat ke arahku dengan lirikan tajamnya.


Dan itu membuatku seakan menjadi tersangka, dengan beliau yang jadi hakimnya.

__ADS_1


Astaga! Aku yakin Unkel Faro pasti sangat mengerikan, jika sampai aku menyakiti sahabatku lagi.


Tapi kan aku sudah menjauhinya sesuai apa yang diinginkan Unkel.


"Mata lu bikin anak gue ketakutan, geblek."


Aku tersadar dari melamunku, saat aku mendengar ucapan Daddy, dengan Unkel Faro yang mendengkus ke arah Daddyku.


Ah! Aku melamun.


"Anak lu biar jadi laki strong, bangke, masa baru dilirik gitu aja takut."


Aku hanya bisa menatap percakapan Daddy dan Baba Queeneira dalam diam, saat aku tahu jika bukan maksud Unkel membuatku merasa terintimidasi.


"Anak gue nggak boleh strong, dodol. Nanti kalau stres tak tertolong bahaya, soalnya belum ada pawangnya."


Ini maksudnya pawang apa sih, aku kok merasa seperti disindir.


Disindir dengan Daddy sendiri itu rasanya sesuatu, mau dibales takut durhaka.


"Yah ... Sayang banget, amuy gue nggak bisa jadi pawang anak lu, mau gue jodohin sama anak bujang lain soalnya. Yang lebih tampan dan kaya pastinya, bukan yang plin-plan yang cuma bisa-


"Tunggu! Ini maksudnya, lagi bahas apa sebenarnya, kenapa bawa pawang dan Queeneira segala macam?"


Aku yang sudah mulai merasa jika obrolan keduanya mulai menjurus ke arah pribadi, menyela dengan cepat. Terkesan tidak sopan, tapi masa bodo, entah kenapa kalau sampai obrolan ini di teruskan, aku merasa akan ada obrolan nyelekit lainnya dengan aku sebagai korban.


"Dan apa maksudnya, Queene akan dijodokan dengan yang lainnya," lanjutku bertanya dengan hati tidak terima.


Unkel Faro tidak langsung menjawabnya, tapi beliau justru memandangku dengan datar, lalu melihat Daddy yang juga melihat aku datar.


"Tidak ada maksud apa-apa, Gavriel."


Aku tidak percaya begitu saja, saat Daddy menjawab pertanyaan yang aku ajukan kepada keduanya. Aku melihat mereka dengan pandangan menuntut, hingga akhirnya aku mendengar helaan napas dari Baba Queeneira.


"Gavriel, sudahkah kamu menjauhi Queeneira?"


Deg!


Kenapa pertanyaan ini lagi, aku bahkan harus menahan rasa sakitku, saat aku melakukan perintahmu duhai Unkel Faro.


"Hn. Tentu," jawabku dengan tegas, karena aku ingin membuktikan jika aku memegang janji, jika aku sudah benar-benar berjanji.


"Lalu, apa perasaanmu?"


Apa perasaanku? Tentu saja sakit, pertanyaan bodoh.


"Aku ..."


Apa yang harus aku katakan, apa aku harus bilang yang sejujurnya atau aku harus bilang jika aku berbohong.


"Aku rasa, ini yang terbaik."


Aku berbohong, aku tidak tahu benarkah ini yang terbaik atau justru sebaliknya.


Menjaga dia adalah sesuatu yang yang tidak perlu diminta lagi, karena meskipun aku hanya menjadi bayangannya, aku akan lakukan dengan ikhlas.


"Hn. Tentu."


Aku menganggukkan kepalaku, setelah menjawab pertanyaan Baba Queeneira dengan gumaman pelan.


Maaf, aku lagi-lagi berbohong, Queene. Tapi kamu sudah tidak apa-apa kan, karena kamu sudah punya Ge yang akan selalu setia di sampingmu.


Setelahnya, Daddy pun mulai menjelaskan tentang alasan Daddy memintaku datang kemari.


Tentang pengalihan nama perusahaan cabang di Cambridge. Dekat dengan universitas yang akan menjadi tempat aku menuntut ilmu, mengambil gelar MBA dengan harapan bisa menambah peluang bagiku, untuk meraih kesuksesan seperti yang raih oleh Daddyku.


Tidak lama, kami pun selesai dengan pembahasan kami. Aku pun pulang, dengan Unkel Faro yang juga sudah selesai urusannya.


Berdua di lift dengan ayah dari perempuan yang sebenarnya kamu sukai, apa perasaanmu, bisakah kalian jelaskan?


Apakah seperti aku, yang tiba-tiba merasa jantungku berdetak cepat, merasa grogi terlebih aku sudah membuat anak perempuannya menangis.


Padaha dulu aku dan unkel tidak seperti ini, masih santai juga enjoy saat bertemu. Tapi kenapa atmosfer saat ini terasa berbeda yah, lebih berat dan menyesakan.


"Ada apa?"


Aku menoleh segera dan melihat Unkel dengan ekspresi mencoba biasa saja, kemudian menoleh lagi ke arah depan dan menatap pintu lift lurus.


"Hn. Tidak," jawabku singkat, dengan beliau yang mengangguk entah artinya apa.


Kemudian hening namun tidak lama, saat aku mendengar beliau bertanya dengan nama kakak kelasku disebut, membuat aku merasa tidak nyaman saat mendengar nama itu lagi.


"Kenal dengan Ge? Menurut kamu bagaimana? Sepertinya cocok jika amuy jadian dan nanti menikah dengannya?"


Tolong jelaskan, apa maksud beliau bertanya seperti itu kepadaku. Apa beliau ingin meledekku, mengingatkan jika aku tidak punya kesempatan memiliki anaknya lagi?


Aku tahu, jadi jangan ingatkan aku. Please.


"Hn. Mereka cocok," sahutku dengan nada mencoba biasa saja dan lagi-lagi beliau hanya mengangguk.


"Ya-ya, kamu benar, amuy pasti cocok jika berpasangan dengan Ge."


Bikin kesal saja, tapi terserah saja, itu lebih baik. Iya kan?


"Hn."


Ting!


Kami pun bersama-sama jalan menuju parkiran, kemudian sebelum benar-benar berpisah aku pun menghentikan langkahku, menghadap ke arah beliau yang juga melihatku seperti menunggu.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Unkel," panggilku dengan beliau yang bergumam menjawab panggilanku.


"Maaf, maaf untuk air mata yang Queeneira keluarkan."


"...."


Tidak ada lagi raut wajah hangat, yang ada tatapan datar khas seorang ayah yang aku lihat saat ini, juga tidak ada tanggapan saat aku hanya melihat segaris bentuk bibir yang terkunci rapat.


"Aku, ingin menjadi pria sukses seperti Daddy. Tanpa ada kesalahan di dalamny-


"Jadi kamu pikir Queeneira akan menjadi batu sandunganmu, jika Queeneira hadir ditengah-tengah perjuanganmu, begitu?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku tidak ingin menyakiti Queeneira."


"Nyatanya amuy sudah lebih dari sakit."


"Maaf."


"Huft."


Helaan napas darinya, membuat aku berpikir harus segera menjelaskan lagi alasan lainnya, kenapa aku lebih memilih melepas Queeneira saat ini.


"Gavriel, dengar ini."


Aku pun melihat ke arahnya, menatap beliau dengan ekspresi serius saat beliau pun menatapku demikian.


"Tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi jika kamu memang merasa ini adalah yang terbaik, Unkel hanya bisa berdoa untuk kebaikan kalian berdua."


"...."


"Unkel tidak memaksa dan tidak mendorongmu menjauh dengan sebuah pilihan. Tapi, Unkel minta sama kamu, sebagai ayah dari Queeneira, untuk kamu benar-benar lupakan segalanya jika memang kamu tidak menginginkan Queeneira. Paham kan, maksudnya unkel apa?"


Aku bisa berkata, jika aku tidak menginginkan Queeneira, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku yang sakit ini.


"Paham, tentu saja. Unkel."


"Bagus! Kalian masih muda dan labil. Unkel tahu, waktu yang akan membuat kalian sama-sama tahu dan membuat kalian semakin dewasa, untuk menyikapi segala masalah yang nanti akan datang."


"Hn. Unkel benar."


"Baiklah, kita berpisah disini, hati-hati di jalan, Gavriel."


"Tentu."


Setelahnya, Unkel pun berbalik memunggungiku dan entah mengapa hatiku merasa gamang, saat memikirkan perkataan terakhir dari beliau.


Ada apa dengan hatiku.


Tiba-tiba ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokanku dan jika tidak segera aku keluarkan, maka akan menjadi penyakit yang menyakiti hati dan pikirku.


"Unkel!"


Tunggu! Apa yang akan aku ucapkan sebenarnya?


"Ya?"


"Unkel, aku."


"Ada apa, Gavriel?"


Beliau tentu saja melihatku dengan ekspresi aneh dan penasaran, karena aku pun sebenarnya tidak tahu kenapa aku memanggil namanya tadi.


"Aku."


"Hn?"


"Aku ......"


Unkel awalnya melihatku dengan penasaran, kemudian menjadi kaget dan tersenyum geli saat aku akhirnya mengatakan kata-kata itu.


Astaga! Aku tidak tahu, akhirnya aku bisa juga mengatakan pada seseorang, tentang perasaan yang selama ini aku simpan sendiri.


"Kalau begitu, raih sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Tapi jangan salahkan Unkel, jika amuy tidak bisa menunggu sampai kamu kembali. Paham kan, maksudnya apa?"


Aku menganggap itu adalah bentuk dukungan untukku secara tidak langsung. Meskipun aku tahu, jika tidak akan ada yang tahu dengan perasaan seseorang di masa depan.


Tapi setidaknya aku sudah meminta khusus kepada orang tuanya.


"Paham."


"Ok! Kita berpisah disini, selamat berjuang. Gavriel."


"Terima kasih, Unkel!"


"Jangan sekarang, tunggu sampai kamu benar-benar berhasil, ok!"


"Tentu."


Aku berdiri melihat dari belakang punggung Baba Queeneira, baru kemudian berjalan menghampiri mobilku, saat beliau sudah tidak terlihat di depan mataku.


Satu hal yang mengganjal hatiku sudah hilang, sekarang aku hanya perlu tetap menjaga jarak dengannya, sampai aku benar-benar menjadi pria yang sukses dan dengan begitu dia akan bangga saat berjalan di sampingku nanti.


Queeneira, aku tidak tahu bisakah aku meraihmu nanti. Tapi, aku pastikan jika saat ini sampai waktu yang akan datang, hanya akan ada kamu di hatiku.


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2