
Seoson dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wardhana
Queeneira pov on
Hai!
Perkenalkan ... Namaku Queeneira, biasa di panggil Queene atau Que-que atau juga pereman pasar.
Err!!!
Yang terakhir panggilan khusus dari dua sahabatku, tolong jangan di tiru, panggilan ini hanya untuk dua Sahabat sepopokku.
Masih mau maksa manggil Aku seperti itu?
Siap-siap gigitan maut melayang!
Bercanda!
Saat ini Aku sedang sarapan sambil menunggu jemputan untuk berangkat sekolah, bersama Ezra karena Dia yang letak rumahnya berdekatan denganku.
Sekarang Aku berumur 15 tahun, kelas 3 SMP di SMP Negeri 2 kota S.
Sebentar lagi Aku- maksudku Kami akan lulus dan menjadi murid SMA.
Yay ... Sekolah baru dan dapat pengalaman baru, tentunya dapat kendaraan baru.
Ini kesepakatan antara Aku dan Baba, beliau bilang akan mengizinkan Aku mengendarai kendaraan sendiri, jika Aku sudah bersekolah di jenjang yang lebih tinggi.
Aku berharap motor sport seperti Gavriel dan Ezra, yang akan Baba belikan untukku.
"Sarapan yang benar, Queene. Lihat kenapa hanya selai yang Kamu makan, rotinya juga dong!"
Wiw ... Itu seruan Mama, yang kini matanya melotot kearahku, saat Aku hanya memakan selai Blue berry, sedangkan rotinya Aku singkirkan.
"Mah ... Selainya manis, besok beli yang banyak yah!" Balasku tidak nyambung, Aku tersenyum lebar kearah Mama, menggoda Mama yang segera mengadu pada Baba.
"Baba, lihat anak Gadismu!"
Mamaku sangat lucu, Ia akan menyerahkan semuanya kepada Baba, jika sudah menyerah akan keusilanku.
"Queene, ingat rules Kita."
Babaku bilangnya santai sekali, tapi bisa membuatku segera memasang wajah mengalah.
Demi motor sportku ...
"Tu em ci, Mah," Gumamku, membuat wajah memelas kearah Mama, yang malah terkekeh kecil.
Tuh ... Mama paling suka membuatku mati kutu.
Tahu saja kelemahanku adalah rules, yang Baba ciptakan setiap ada keinginan dariku.
Tidak ingin perjuangan panjangku sia-sia, Aku pun memakan roti dengan tambahan selai segunung.
"Morning epri badi, Ez datang nih, numpang sarapan yah!"
Aku berdecih sebal saat mendengar suara tidak tahu diri, dari sahabat sekaligus kang ojekku.
Setiap pagi numpang sarapan, padahal dirumahnya, Onty Amira membuatkan sarapan untuknya.
"Kamu belum sarapan lagi, Ez?"
Mama bertanya kepada Ezra, yang di jawab dengan cengiran khas mirip Unkel Raka, menuai gelengan kepala dari Babaku.
"Sebaiknya kalian cepat sarapan, nanti terlambat. Lihat sudah pukul berapa ini?"
"Oke Ba!"
Aku pun dengan cepat menghabiskan sarapanku, meneguk sisa susu di gelasku dan mengelap bibirku setelah menyelesaikan sarapanku.
"Que, berangkat dulu Ba!" Ujarku mencium pipi milik Baba, dengan kecupan panjangku, menuai kekehan darinya.
"Dasar!" Gumamnya.
Aku beralih mengecup pipi Mama dan segera berangkat, menjemput sahabat Kami satunya sebelum pergi ke sekolah.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Skip
Tidak terasa Kami sampai di sekolah, Kami berempat saat ini ada di area parkir sekolah, dengan Selyn yang beradu argumen dengan Gavriel dan Ezra.
Kami sangat suka mengganggunya, ekspresinya yang di keluarkan oleh El, selalu membuat Kami terkekeh, heum ... Mirip seperti Onty Yaya.
"Sebaiknya Kita masuk, bel masuk sudah mau berbunyi!" Seruku, menyela ucapan Selyn yang jika di biarkan akan memakan waktu lama.
Aku lihat Dia cemberut, saat Kami bertiga terkekeh menertawainya.
Selalu seperti ini ...
Selyn yang imut saat di tertawai, Aku ingin punya adik seperti Dia, tapi sayang Mama dan Baba bilang ...
"Kamu saja, cukup sayang."
Bagaimana bisa Aku merengek hanya karena ingin seorang Adik, jika kasih sayang mereka memang selalu di curahkan untukku.
Sebenarnya Aku tahu kenapa alasan Baba tidak ingin tambah keturunan.
Bobo (Nenek) bilang, jika dulu, saat Mama mengandungku, fisik Mama tidak kuat dan harus rela keluar-masuk rumah sakit.
Itu sebabnya Baba tidak menginginkan sesuatu terjadi dengan Mama.
Baba sangat mencintai Mama dan tentunya mencintaiku juga.
Kami pun berjalan bersama, mengantar Adik kecil Kami, masuk kelasnya terlebih dahulu.
Kegiatan rutin yang akan Kami lakukan, sebelum Kami sendiri masuk ke kelas masing-masing.
Di sekolah Gavriel sangat menjaga Adiknya, maka itu jangan heran saat melihat El yang selalu ada di dekat Kami.
Istirahat pun, Gavriel akan memerintahkan Adiknya untuk makan bersama Kami, meskipun sesekali El akan bermain dengan sepupunya yang lain, Kimimela yang juga bersekolah di sini.
Tapi Kimimela sedang tidak masuk sekolah, izin ada keperluan mendadak, jadi El hanya istirahat denganku, sedangkan dua kakak yang lainnya ada kegiatan Osis.
Aku melihat wajah kusut El yang tidak semangat, sepertinya Dia sedih saat ingat akan berpisah dengan Kami.
Aku mendengus geli.
"Dasar, ini semua karena Gavriel. Coba kalau Dia tidak mengekang pergaulan El," Batinku kasian.
Sebenarnya banyak yang ingin dekat dengan El.
Tapi .... Waktu itu pernah sekali ada siswi kelas dua yang mendekati El, karena El adalah Adik dari Gavriel dan yah ... Seperti itulah.
Tahu kan maksudnya apa?
Si cabe ingin dekat dengan Gavriel melalui El, wah ... Anak sekolah zaman sekarang ada-ada saja.
Aku jangan di tanya ... Karena keakraban Aku dan dua pangeran di sekolah, Aku harus rela menjadi bahan pelototan dari para boncabe.
Itu sebabnya Aku ikut karate ...
Err!!
Alasan lain Aku ikut karate, karena Aku juga ingin melindungi El, jika ada yang macam-macam dengan Adik Kami yang paling kecil.
Aku ngerti, murid SMP tingkat kenekatannya masih di bawah batas, saat melakukan aksi kenakalan, tidak tahu saat SMA nanti.
__ADS_1
Aku juga selalu memasang wajah gahar layaknya pereman, saat ada anak bau jahe berniat menyatakan cintanya untukku.
Di sini Aku harus rela jadi bahan olokan kedua sahabatku.
Mereka bilang bagaimana akan ada laki-laki yang menjadi kekasihku, kalau Aku selalu pasang wajah angker.
Dih ... Mereka fikir Aku perduli, yang Aku perdulikan adalah Dia, yang selalu menganggapku layaknya pereman pasar.
Aku tidak mau ada salah paham apalagi ada kerenggangan di antara Kami, Aku ingin persahabatan Kami tidak ada gangguan dari pihat keempat atau kelima atau-
(Ketiga dulu, oy)
Ezra ketiga ... Kan Kami tumbuh bertiga.
(Eleh, Selyn di apa'in)
Selyn Adik ... Tidak mungkin membuat renggang dan salah paham.
(Oke)
Saat ini Kami sedang ada di parkiran sekolah, sedang meributkan masalah Selyn, yang tidak bisa pulang dengan Gavriel.
"Mas, pesenin Ko-jek aja yah, bagaimana?" Ujarnya kepada El.
"Ok-
"Oit ... Gimana kalau motornya, Aku saja yang mengendarai? Jadi Aku nggak perlu minta jemput Baba, bagaimana?"
Aku , yang berdiri di sebelah El menyela dengan cepat, melihat ketiga orang di depanku dengan alis naik-turun, serta senyum semeyakinkan mungkin.
Tapi sayang, jawaban kompak adalah yang Aku terima.
"Tidak."
"No."
"Atau barengan sama Unkel Faro?"
"Aish!"
Aku mendengus kesal, apalagi mendengar usulan agar naik mobil, dengan Babaku yang terkadang telat saat jemput.
Niatku kan baik, ingin mengantar pulang El selamat sampai rumah.
"Ya ... Sekalian sih, he-he," Batinku terkekeh.
"Aku tahu apa yang ada di fikiran Kamu, Que-que," ujar Gavriel menatapku datar, membuatku berdecih dan mengangkat daguku menantang.
"Apa? Coba katakan?"
"Eleh ... Kamu mau eksperimen lagi, kan? Kemarin belum cukup?"
Bukan Gavriel yang menjawab pertanyaannya melainkan Ezra.
Seketika ingatanku melayang, saat Kami main di lapangan, dengan Aku yang mencoba jumping dengan sepeda yang Aku bawa saat itu.
Ini emang salahku ...
"Is ... Nggak kok, bener, ini murni niat antar El pulang." elakku.
"Serius!" Lanjutku menegaskan, saat menerima tatapan mencurigakan dari dua sahabatku, beda dengan El yang menatap Aku dan Dua Kakak lainnya dengan kening berkerut tidak mengerti.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Selyn penasaran.
Gavriel menoleh ke arah Selyn, lalu menggeleng menjawab pertanyaan penasaran dari Adiknya.
"Tidak ada, Queene kemarin lagi-lagi malak di pasar dekat kompl-
"Ouch!!!"
Aku segera menampol bahunya, saat mendengar ucapan ngawur darinya tentunya dengan kekuatan seribu tanganku.
"Sembarangan, gigit nih!" Semburku tidak terima, mataku melotot kesal ke arahnya, tapi Dia malah terkekeh kecil.
"Berubah lagi jadi guguk, yah?" goda Dia dengan tangan menepuk-nepuk kepalaku iseng.
"Don't call Me Tav, Que!" serunya, Dia semakin iseng mengerjaiku, membuat rambutku semakin acak-acakan.
"Tidak akan!" Seruku belum menyerah.
Kami pun melakukan kegiatan rutin kami, tentu saja disebut kegiatan rutin, karena ini memang kegiatan yang akan terjadi jika Kami bersinggungan.
Cukup lama Aku dianiaya olehnya, lihat bahkan Dia tidak segan-segan memasukkan wajahku kedalam ketiaknya.
"Tav, lepaskan tanganmu dari leherku!" pekikku, dengan tangan memukul punggungnya, tapi Dia tetap pada pendiriannya.
"Tidak akan, hirup dulu aroma terapi ini hingga meresap kedalam qolbu. Baru kemudian Aku lepas, sesuai keinginan."
Akh ... Meskipun bukan bau keringat yang Aku hirup, tetap saja, udara segar yang lebih Aku pilih.
"Hoek ... Gavriel, lepaskan!"
Oke ... Aku menyerah, sebab jika Aku belum memanggil namanya dengan benar, Aku akan menghadap Sang Pencipta akibat aroma parfum khas miliknya.
"I win, always win!" Serunya sengak, mirip sekali dengan Unkel Dirga.
Unkel songong kalau kata Baba.
Dia pun melepaskan pitingan lengannya, dengan Aku yang langsung menampolnya berulang di iringi seruan kesalku.
"Belum mandi berapa abad, iyuh!" Semburku kesal.
Sebenarnya bukan masalah baunya, karena jujur saja bahkan harum seragamnya masih sama seperti tadi pagi, padahal Dia sebelum pulang bermain basket dulu.
Aku melihatnya terkekeh ... Kekehan yang hanya di tunjukkan di depan Kami.
Tapi jangan harap kalian akan melihat kekehan ini, di hari-hari biasa tanpa melihat Aku menyerah dan saat Dia menang dariku.
Ekspresi darinya hanya ada wajah datar, kecuali di depan Kami, orang-orang yang katanya spesial dihatinya.
Aku berharap tidak ada perempuan yang lebih spesial melebihi Onty Yaya, Selyn dan Aku, dikehidupan Gavriel kedepannya.
"Emangnya kenapa? Harum, kan?" Balasnya dan membawa kembali wajahku kedalam ketiaknya.
"Nyoh ... Rasakan sensasinya!" Lanjutnya dengan nada semangat.
"Akh ... Gavriel, bau, iyuh. Lepaskan Aku sekarang juga!"
Aku kembali masuk dalam jebakan batmannya.
"Ayo ... Katakan dulu, Gavriel tampan maafkan Aku. Seperti itu," Perintahnya yang di balas dengan cepat olehku.
Tentu saja ... Aku tidak akan menyebut Dia tampan, Dia itu hanya remaja dengan wajah datar, tidak tampan sama sekali.
"Mimpi!" Semburku cepat.
Dia semakin terkekeh saat mendengarku murka dan itu semakin membuatnya bersemangat, bersemangat mengerjaiku, tentu saja.
"Mas, ulu-lu-lu-lu-lu! Kapan El pulang?"
Kegiatan Kami terpaksa berhenti, saat Kami mendengar seruan protes, dari El yang sudah kesal, melihat kelakuan biasa Kami.
Kami pun melihat ke arah El, yang duduk di atas motor Ez, dengan ekspresi wajah kesal dan bibir mencebil lucu.
"Iya-iya, Mas pesani-
"Gav ... Ayolah, izinkan Aku!"
Aku menyela ucapannya dengan cepat, saat Dia bilang akan memesan kang ojek, Aku menggunakan nada suara memohon untuk merayunya.
Dia Pun menundukkan wajahnya menatap wajahku, yang saat ini sedang menampilkan raut wajah memohon.
"Aku janji, tidak akan kebut-kebutan. Ciyus," Lanjutku dengan mata berkedip, merayu.
Akhirnya setelah ada helaan nafas, yang membuatku kesal Dia pun mengangguk, membuatku terpekik senang, kemudian memeluk eratnya.
__ADS_1
"Yey ... Ulu-lu-lu, Gavriel kalau begini tampan sekali!" Seruku memuji.
Dia pun menggeleng kepala, mungkin heran dengan kelakuanku.
Masa bodo ... Yang penting bisa bawa motor lagi.
"Kunci, mana kunci? Kunci, kunc- humphh!"
Seruan ceriwisku berubah menjadi gumaman tidak jelas, saat dengan sengaja Dia membekap mulutku.
Dia selalu seperti itu ...
"Shut up, nggak jadi nih."
Aku segera menggelengkan kepala dan terkekeh, untuk menghindari pembatalan darinya.
"He-he! Jangan dong!"
"Hn," Gumamnya, sambil merogoh saku jaket yang di gunakannya saat ini.
"Nah, ini kuncinya. Ingat janji Kamu, got it?" Lanjutnya, sambil menyerahkan kunci motornya kepadaku.
"Of course, honey!" Ujarku sambil merebut kunci dengan kecepatan cahaya.
"Panggil honey kalau ada maunya," Ujarnya mendengus kesal, namun Aku hanya menjulurkan lidah ke arahnya.
"Hanya orang yang akan jadi kekasihku, yang Aku panggil honey. Blee!"
"Dan itu artinya mustahil, blee!" ledeknya dengan kalimat sarkas nan menyindirnya.
Reseh ... Mentang-mentang Dia selalu dapat pernyataan cinta, dasar sombong.
"Sembarangan, kalau Aku mau, mantanku sudah banyak tahu!" Semburku kesal.
"Ck ... Elah, nyembur nih!" Ledeknya sambil menghapus sesuatu di pipinya.
"Wah ... Ngajak gelud nih Bap-
"Haloo!! Uvo sudah mendarat dengan sempurna,"
Eww ... El sudah mulai gerah, sebaiknya Kami sudahi pertengkaran Kami, pertengkaran yang bisa di lanjutkan lain waktu.
"Oke, stop here honey." Ujarnya.
"Nah ... El, Kamu pulang sama Quene. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Mas. Got it?" Lanjutnya , menuai anggukan kepala mengerti dari El.
"Got it, Mas!"
Dia pun berjalan menghampiri El, yang tersenyum lebar saat senang bisa pulang denganku.
Sembil menunggu Dia berprotektif ria, Aku pun dengan semangat menaiki motor sport, berwarna hitam miliknya dan nangkring dengan gaya profesional.
"Hati-hati, oke."
Aku melihatnya melepaskan jaket yang pakainya, lalu memakainya di tubuh mungil Adiknya dan menarik sletingnya hingga dagu El.
Dia sangat overprotektif dengan El.
Terkadang Aku berfikir, akan sangat beruntung seorang perempuan yang nanti menjadi kekasih atau pun istrinya.
Akh ... Apa yang Aku fikirkan, itu masih terlalu jauh.
"Hubungi Mas, kalau sudah sampai," Ujarnya menepuk sambil kepala Adiknya sayang.
Apa Aku bilang, tapi Aku tidak iri jika itu El.
Aku juga sering di tepuk-tepuk seperti itu, Aku tahu rasanya dan sangat .....
"Ung!"
Setelahnya Dia pun berbalik menuju kearahku, yang sudah nangkring di atas motornya, dengan posisi siap dan Dia menatapku dengan kepala menggeleng.
"kenapa lagi?" Batinku bingung.
"Oi ... Que-que, turun dulu!" Tegurnya, membuatku melihat ke arahnya dengan ekspresi kesal.
"Apa lagi, akh!" Seruku kesal, tapi Dia tidak perduli.
"Turun!"
"Kenapa? Kan sud-
"Turun, sekarang, juga."
Dia menekan setiap kalimatnya, membuatku mengikuti perkataannya, namun di sertai delikan mata dariku.
Di samping Kami ada Ezra, yang geleng kepala, tidak tahu karena apa.
"Queene, tolong di kondisikan." Ujarnya membuatku bingung.
"Apa sih?"
Saat ini gantian Aku dan Ezra yang beradu argumen, Aku juga bisa melihat Ezra yang membuka tas sekolahnya, menarik sesuatu dari dalam dan berjalan menghampiri Kami.
"Nih ... Ganti dulu, baru naik motor lagi. Mau pamer kempol? Mending kalau berisi, enak di pandang. Nah ini, kurus layaknya kempol ayam kampung. Ganti gih!"
Seketika Aku mendengar tawa ngakak dari sebelahku, saat mendengar seruan nyinyir dari Ezra yang entah kenapa selalu menyebalkan, jika sudah kompak dengannya.
Err!!!
Memang salahku sih ... Sudah tahu memakai rok rampel sekolah, malah dengan seenaknya nangkring di atas motor, tanpa melihat kondisi.
Maafkan kesalahan Anakmu Baba dan Mama.
Aku pun menyambar celana training panjang milik Ezra, dengan wajah merah dan di tekuk kesal.
"Reseh ih!" Sewotku sebelum meninggal mereka berdua, yang lanjut ngekek mentertawaiku.
Akhirnya Aku mengganti rokku dengan celana milik Ezra, yang tentu saja kebesaran di pinggang mungilku.
Tapi tidak apa-apa, dari pada kempol ayam kampungku kemana-mana, lebih baik seperti ini.
"Hati-hati, Que! Ingat pesanku, jangan kebu-
"Iya sayang ... Kesatriamu ini berjanji, akan mengantar putri mahkota, selamat hingga tujuan!" Seruku menyela dengan cepat.
"Gundulmu ksatria," sembur Ezra, sambil menarik rambutku.
"Akh ... Besok jangan sarapan dirumah lagi,"
"Oke! Artiny-
"Oi bercanda!" Seruku menyela ucapan Ezra dengan cepat, menuai senyum meledek darinya.
"Ya sudah, Kami pulang. Sampai babai!" Seruku lalu memakai helm milik Gavriel, setelah menerima tepukan kepala sayang darinya.
Seketika harum shampo miliknya, memenuhi indra penciumanku.
"Wangi sekali," Batinku menghirup panjang aroma yang ada di dalam helm yang saat ini Aku pakai.
"Hati-hati!" seru Mereka yang terakhir kalinya, sebelum Aku dengan kecepatan pelan mengendari motor miliknya.
"Peluk pinggang Kakang, Neng. Kita akan pulang ke kerajaan!" Seruku kepada El, yang terkekeh dan memeluk pinggangku erat.
"Lanjut kang!"
Dan Kami berdua pun terkekeh, meninggalkan area parkir sekolah, dengan Dua Pangeran di pinggir jalan mengawasi Kami.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tu em ci \= Maaf
Ikuti kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Sampai babai