Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Apa Yang Sebenarnya Terjadi


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wardhana


Queeneira pov on


Pagi datang, aku bangun seperti biasa, di jam sama seperti kemarin-kemarin.


Saat ini aku sedang berdiri di depan jendela kamarku, menikmati udara segar di pagi hari, dengan sinar matahari yang mengintip malu melalui pohon rindang di depan kamarku.


Aku merentangkan tanganku, dengan hidung menghirup aroma pagi hari ini.


"Selamat pagi dunia," gumamku dengan senyum kecil.


Setelahnya, aku pun melangkahkan kakiku ke arah meja belajarku. Aku membalik sebuah bingkai yang kemarin aku letakan terbalik, saat aku merasa sebal namun rindu, dengan seseorang yang berada di dalam foto tersebut.


Foto dengan aku dan sahabatku, yang saat itu masih belum memasuki jenjang sekolah atas, tepatnya saat aku dan sahabatku masih duduk di bangku SMP.


Aku tersenyum, tapi juga mendengkus, saat mengingat apa yang di katakan oleh kakak kelasku, yang mengatakan jika dia akan membantuku.


Membantu apa, aku semakin merasa jauh dengannya.


Ya .... Semenjak pulang dari liburan, aku dan kakak kelasku__Ge, selalu menghabiskan waktu bersama saat di sekolah. Membuat aku kehilangan waktu untuk berkumpul bersama sahabatku, tapi aku juga tidak sepenuhnya tidak suka.


Aku justru bersyukur, saat kak Ge berusaha untuk membuatku nyaman. Jujur saja, aku sangat ingin bersama dengan dua sahabatku, tapi saat melihat teman sekelasku selalu berada di samping sahabat yang aku suka, aku menjadi kesal sedang dan berakhir dengan aku yang memilih untuk menyingkir.


Kak Ge selalu mendukungku, bilang jika apa yang sedang dia lakukan adalah yang terbaik untuk aku dan sahabatku.


Dasar sok tahu, pikirku sebal.


Kenapa aku bisa bilang seperti ini, karena aku sudah mendengar sendiri, jika sahabatku akan mengikhlaskan aku jika aku bahagia.


Dan sepertinya, sahabatku saat ini sudah menganggap, kalau aku bahagia dengan kakak kelas kami, karena aku akhir-akhir ini lebih memilih bersamanya alih-alih bersama sahabatku sendiri.


Waktu sudah menunjuk pukul tujuh, aku pun bersiap-siap untuk mandi kemudian berangkat sekolah.


Seperti biasa aku akan di jemput oleh kak Ge, seperti kemarin-kemarin. Kemudian aku memasuki kamar mandi, melakukan ritual bersih-bersih saat aku merasa jika bau iler lebih mendominasi indra penciumanku.


30 menit kemudian


Aku sudah siap dengan seragam sekolahku, aku juga sudah mendapatkan pesan untuk menunggu kedatangan kak Ge.


Menuruni tangga hendak menuju ruang makan, aku berhenti sejenak untuk merogoh saku jaketku, saat aku merasakan getaran pada handphoneku.


Aku melihat dengan kening berkerut, saat nama adik sahabatku__El tertera di layar handphone sebagai pemanggil.


Ada apa? Batinku bingung.


Dengan segera aku menerima panggilan itu, kemudian menempelkan di telinga kanan dan menjawab sapaan cerianya dengan sama cerianya.


"Halo, Selyn."


Sambil melanjutkan langkahku menuruni anak tangga, aku menyapa Selyn yang balas dengan sapaannya.


"Selamat pagi, mba Que!"


Dasar, El yang energic kenapa berbeda sekali dengan kakaknya yang kakunya aduhai.


"Selamat pagi juga, El. Ada apa?"


Aku menjawab dan bertanya kepada Selyn yang terkekeh lebih dulu, baru menjawab pertanyaanku dengan ajakan yang membuatku berhenti dari acara jalanku.


"Mba, El jemput dengan Mas yah. Mba siap-siap!"


Bagaimana ini, aku sudah menerima pesan dari kak Ge untuk menunggu. Pasti saat ini kak Ge sedang di perjalanan menuju kemari.


Aku pun terdiam, memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan untuk Selyn, agar Selyn mengerti dan tidak marah kepadaku.


"Loh, Mba. Kenapa tidak dijawab, Mba Que nggak apa-apa, kan?"


"Ah! Maaf El, tidak-tidak. Maksudnya Mba tidak apa-apa."


Aku merutuki diriku sendiri, saat aku mendengar pertanyaan khawatir dari adik sahabatku.


"Oh! Syukur lah kelau tidak ada apa-apa. Jadi bagaimana, El jemput yah. El-


Tidak, aku harus mengatakan dengan jelas, kalau aku tidak bisa berangkat bersama mereka.


"El!"


Aku pun segera menyela, dengan Selyn yang berkata iya, kemudian aku pun mengucapkan kata maaf dengan Selyn, yang untunglah tidak mengatakan apa-apa, hanya membalas dengan apa adanya dan juga nada suara yang terdengar sekali sedang kecewa.


"Maaf, Mba sudah ada yang jemput."


"Sudah ada yang jemput?"


"Iya."


"Oh, baiklah. Kalau begitu, El tutup panggilannya, bye mba Que."


"Bye, El."


Tut!


Huft .... Maafkan mba, El.

__ADS_1


Aku tahu kamu pasti kecewa, karena dulu pasti aku dengan senang hati selalu menerima ajakan ini tanpa pikir panjang.


Aku pun melanjutkan langkahku dengan langkah pelan, berusaha untuk tidak memikirkan kejadian ini.


Aku tidak ingin kak Ge tahu, jika aku sebenarnya ingin sekali berangkat bersama mereka. Kak Ge orang baik, dia tidak pantas jika aku perlakuan seperti ini, saat sedih aku dekati, giliran aku senang dengan ajakan sepele seperti ini, aku malah ingin membatalkan jemputan pagi ini.


Di meja makan ada Baba dan Mama, mereka menungguku untuk sarapan bersama, dengan tambahan kak Ge, yang menyapaku dari belakang di antar oleh asisten rumah tangga di sampingnya.


"Selamat pagi, Que. Selamat pagi Om-Tante!"


Kak Ge sudah kenal dengan kedua orang tuaku, meskipun tidak akrab seperti dengan Gavriel dan Ezra. Tapi setidaknya mereka menerima, saat aku pertama kali membawa teman laki-laki lain selain mereka berdua.


Sebenarnya Mama sih terserah, aku ingin berteman dengan siapa. Karena bagi Mama, jika aku nyaman dengan pertemanan ini, maka Mama juga akan mendekungnya.


Baba hampir sama dengan Mama.


Walaupun tidak mengucapkan kata-kata, tapi aku tahu Baba menerima saat aku bilang, jika aku berteman dengan kak Ge. Kak Ge juga saat berkenalan sudah izin, jika akan sering mengantar-jemputku.


"Selamat pagi juga, Ge!"


"Hn."


Kedua orang tuaku membalas dengan tanggapan berbeda. Mama yang hangat dan Baba yang hampir mirip dengan sahabatku.


Is ... Jangan ingat dia dulu deh.


"Ge sudah sarapan? Sini sarapan bersama, mau ya."


"Sudah, Tante. Terima kasih."


"Tidak apa-apa. Minum susu atau jus yah."


"Baik, Tente. Maaf merepotkan."


Aku yang menoleh ke arah Mama dan Ge kembali melanjutkan langkah kakiku, untuk berjalan menghampiri meja makan dan duduk di samping Baba yang segera mengusap rambutku lembut.


"Are you ok, sweet heart? (Apa kamu baik-baik saja, sayang)"


Aku mengernyit saat Baba bertanya tentang keadaanku.


Emangnya ada apa, kenapa Baba bertanya seperti itu.


"I'm ok, Baba. Why? (Aku baik, ayah. Kenapa)"


Baba hanya menggelengkan kepala pelan, kemudian melanjutkan acara minum kopi dengan tangan memegang selembar kertas.


Kertas yang sudah tidak membuat aku penasaran lagi, saat Baba sudah terbiasa membaca dan mempelajarinya sebelum melakukan sidang.


"Ada kasus lagi, Baba?" tanyaku dan lagi-lagi aku hanya mendapatkan gumaman.


"Hn."


Skip


Di depan teras, aku dan kak Ge pun berpamitan dengan Baba dan Mama, untuk berangkat ke sekolah.


"Hati-hati dijalan, jangan kebut-kebutan."


Kami berdiri di hadapan orang tuaku, dengan Baba yang mewanti kak Ge yang mengangguk mengerti.


"Baik, Om."


"Que, jangan lupa bilang terima kasih."


Kali ini Mama yang mengucapkan hal yang selalu mengingatkan aku akan ucapan terima kasih, dari dulu aku selalu diajarkan untuk tidak sungkan mengucapkan terima kasih, jika akan meminta atau sudah di tolong oleh seseorang.


"Baik, Mah."


"Baiklah, Om-Tente. Kami berangkat sekolah, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Di perjalanan kami lalui dengan mengobrol, membicarakan apa saja, mulai dari yang penting hingga masalah sepele.


Kami juga mendengarkan musik bersama, musik yang disukai kak Ge hampir sama dengan Gavriel dan Ezra.


Pop dengan tempo cepat, apalagi lagu dari Maroon 5__This love, lagu yang saat ini kami dengar.


"Pernah lihat video clip lagu ini?"


Aku yang sedang mendengar dengan sesekali mengikuti lirik lagu, menoleh ke arah kak Ge yang melihat ke depan tapi bibirnya tersenyum aneh. Membuatku curiga, apalagi mendengar dia bertanya tentang video clip dari lagu yang sedang kami dengar saat ini.


"Lagu lama kan, kak, tapi aku tidak pernah lihat MV-nya. Kenapa?"


Aku bertanya dengan kening berkerut, saat dia menggelengkan kepala.


This love has taken its toll on me🎶


She said goodbye too many times before🎶


And her heart is breaking in front of me🎶


I have no choice 'cause I won't say goodbye anymore, woah, woah, woah🎶


"Nggak apa-apa sih. Tapi gue selalu kagum dengan mereka, band yang tidak ada matinya."


Aku mengangguk setuju, karena aku juga pikir begitu.


"Iya, Gavriel dan Ezra juga suka," timpalku, dengan aku yang lagi-lagi di ledek olehnya, saat aku membawa-bawa nama sahabatku di tengah obrolan kami.

__ADS_1


"Cie ... Jadi cemburu loh gue, setiap kita ngobrol pasti ada nama mereka. Ehem, maksudnya nama dia."


"Ih! Apa sih, nggak jelas."


Aku yang salah tingkah mendengar perkataan kak Ge lebih memilih membuka jendela mobil. Kemudian melengoskan wajah melihat ke arah lainnya, enggan melihat kak Ge yang semakin asik menertawakan reaksiku, jika sudah menyinggung masalah sahabatku.


"Iya-iya, kalau gue sih nggak jelas. Tapi kalau dia pasti jelas banget, yah?"


"Kak! Nyebelin!"


"Ck-ck! Sepertinya ada yang senang nih, saat kemarin berduaan di ruang UKS. Ah! Gue lupa kasih tahu, kalau ada orang yang nggak suka, waktu liat gue selalu nempelin lu, ehem."


"Dih! Siapa yang seneng sih, biasa aja lah kak. Lagian siapa yang nggak suka sama kakak, Ezra?"


"Kok cuma Ezra sih, yang satunya nggak disebut?"


Aku seketika merutuki diri sendiri, saat aku lupa jika kak Ge ini suka sekali mencari kesalahan saat orang membalas perkataannya. Dan aku harus kena ledekannya lagi, saat lagi-lagi aku malu menyebut nama sahabatku yang satunya.


"Tau ah! Gelap banget sih," dengkusku.


Kemudian kami pun melanjutkan obrolan membahas hal aneh lainnya, dengan kami yang tergelak saat sadar, jika apa yang kami obrolkan ini hal yang sangat absurd dan tidak bermanfaat.


Tidak lama lampu lalu lintas pun berubah warna. Kak Ge membelokkan stir kemudi, saat kami ada di persimpangan menuju sekolah kami, kami juga masih melanjutkan obrolan hingga tidak terasa gerbang sekolah kami ternyata sudah hampir terlihat.


Kami pun turun dari mobil bersamaan, tidak ada acara buka pintu karena aku menegaskan kepada kak Ge, jika aku tidak suka diperlakukan seperti itu, kecuali dengan seseorang yang akan menjadi pemilik hatiku.


Kak Ge pun menerima, dia juga bilang, kalau apapun yang membuat aku nyaman, maka dia akan melakukannya.


Saat seperti ini lah aku merasa sangat berdosa dan bodoh, karena sudah menyia-nyiakan laki-laki sebaik kak Ge, untuk sahabatku yang sampai sekarang masih saja sering membuatku kesal dan senang disaat bersamaan.


Cinta itu buta.


Cinta itu aneh.


Cinta itu membuat orang bodoh.


Yah ... Benar sekali, sangking cintanya aku kepada sahabatku, aku sampai rela menjadi orang bodoh.


Kami berjalan bersama, kak Ge memgantarku sampai depan kelas.


Di depan kelas kami melanjutkan obrolan kami, sambil menunggu bel masuk dengan beberapa teman yang menyapa kami ramah.


Aku belum melihat tanda-tanda kedatangan kedua sahabatku, aku juga tidak melihat mereka di dalam kelas.


Apa masih di jalan yah, batinku.


Lalu aku melihat sekitar, saat kak Ge sedang berbicara dengan anggota OSIS, yang tiba-tiba datang dan menanyakan kegiatan sekolah.


Dari sini aku melihat sahabatku, yang berdiri dengan Kienera di sampingnya, kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak nyaman dan aneh, ada sebenarnya.


Ini bukan karena mereka yang berdiri berdampingan, juga bukan karena Keineira yang merapatkan diri ke tubuh sahabatku yang membuat perasaanku aneh. Tapi, lebih ke raut wajah sahabatku, yang tiba-tiba berubah menjadi lebih kaku dan menatapku dengan ekspresi tidak terbaca.


Ada apa, batinku bingung.


Dari raut wajah sahabatku yang melihat ke arahku saat ini, entah kenapa seperti sedang menyimpan perasaan bercampur, tapi aku tidak mengerti kenapa.


Sebenarnya ada apa.


Aku juga melihat Keineira yang melihatku dengan senyum manis, saat sahabatku melanjutkan langkah kakinya, menuju ke arahku berdiri saat ini.


Sahabatku hanya berjarak beberapa langkah di depanku. Aku pun bersiap menyapanya, namun aku harus menelan lagi ucapanku, saat dia melewatiku begitu saja, meninggalkan aroma maskulin yang sangat aku sukai di indra penciumanku.


"Gav-


Wush!


Aku tercengang dengan apa yang baru saja terjadi.


Di saat aku tercengang, teman sekelasku juga ikut melewatiku. Tapi tidak benar-benar lewat begitu saja, aku mendengar dia berbisik dengan aku yang terdiam tidak percaya.


"Gavriel sudah tahu, jika kalian sudah jadian. Selamat yah."


Aku baru saja ingin menanyakan maksud ucapannya barusan, membalikkan tubuh dan aku malah harus melihat dia yang sudah duduk di sebelah Gavriel. Aku juga melihat dia sepertinya sedang membisikan sesuatu di telinga Gavriel, lalu tidak lama dia juga menoleh ke arahku dengan senyum aneh.


Apa maksudnya ini?


Apa yang sebenarnya Keineira katakan kepada Gavriel.


Kenapa Gavriel tiba-tiba lebih dingin seperti ini kepadaku.


Puk!


"Hei! Ad-


Teng! Teng! Teng!


Untunglah bel berbunyi, saat kak Ge hendak bertanya tentang keanehanku yang tiba-tiba. Sehingga aku pun tidak perlu menjelaskan, apa yang baru saja terjadi denganku.


"Sebaiknya kakak masuk kelas, bel sudah bunyi kak."


Tanpa menunggu jawaban dari kak Ge, aku pun masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku milikku, yang jaraknya lumayan jauh dari Gavriel, sehingga aku pun tidak bisa mendengar apa yang saat ini sedang dia katakan pada sahabatku.


Gavriel, ada apa?


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2