
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Ini adalah hari ke-dua, dari masa orientasi sekolah Gavriel dan dua sahabatnya.
Saat ini di lapangan sedang ada kegiatan cari tanda tangan senior, kegiatan ajang untuk mengerjai adik kelas agar mendapatkan tanda tangan.
Tidak benar-benar mengerjai, hanya meminta adik kelas untuk melakukan sesuatu, dengan tantangan berbeda-beda.
200 murid baru yang menjadi peserta MOS, telah di bagi dalam 20 kelompok dengan masing-masing 10 anggota.
Nasib kali ini tidak bagus, bagi ketiga sahabat yang terpisah di kelompok berbeda.
Gavriel, Ezra dan Queeneira harus berbaur dengan murid baru lainnya, saat ketiganya tidak di satukan dalam kelompok yang sama.
Ezra dengan santai menyelesaikan tantangan untuknya, meskipun ia harus rela saat ada beberapa kakak kelas perempuan, meminta nama akun media sosial instakilonya.
Ya ampun ... Ezra bahkan harus geleng kepala, saat dengan semangat kakak kelas perempuan itu, membuka handphone dan mencari di daftar pencarian sesuai dengan apa yang di sebutnya.
Tapi ia juga mendengus geli, saat teman satu kelompoknya buru-buru mencatat, karena peraturan peserta MOS yang tidak boleh membawa handphone, untuk peserta MOS.
"Ezra yah, sini aku tanda tangani. Nggak apa-apa deh, nggak pake tantangan, yang penting istirahat nanti, kamu makan bareng kita-kita yah. Iya nggak, guys!"
"Setuju!"
Ini adalah salah satu kalimat, yang sungguh membuatnya merinding seketika.
Jika hanya beberapa kakak kelas perempuan, mungkin ia akan menanggapinya santai, tapi lihat ke belakang, hitung ada berapa jumlah orang yang menyetujui, ajakan dari satu orang kakak kelas.
"Gila, bisa merinding gini," batin Ezra saat mengingat.
Kalau sekarang tenang saja, ia sudah duduk santai, ketika dua sahabatnya masih di kerjain oleh kakak kelas lainnya.
Ia terkekeh, apalagi saat melihat Queene, yang entah kenapa mendapatkan tantangan berbeda dari murid lainnya.
"Sepertinya, ketos itu sensi sama Que-que deh," gumam Ezra saat mengingat, jika memang hanya Queen sahabatnya, yang di perhatikan oleh ketos, dengan tampang lumayan di atas rata-rata.
"Apa dia suka dengan Queene?" lanjutnya dengan kening berkerut.
Ia menggeleng dengan bibir terkekeh, saat fikiran tidak-tidaknya, hinggap di kepala tampannya.
"Belum tahu saja, si pereman kalau sudah marah," gumam Ezra mendengus geli.
Queeneira, yang sudah berhasil mengumpulkan semua tanda tangan hampir saja menghela nafas lega.
Tapi hanya sebentar, saat matanya melihat lagi dengan teliti, barisan nama di selembar kertas, daftar yang di bagikan oleh anggota Osis.
"Kak Lytha sudah, kak Ratna sudah, kak Sabrina sudah, kak Diar sudah, Kak Oot Nasrudin sudah, kak Haru sudah,"
"Heum ... Kak Ade, kak Mimi, kak Yun, kak Amel, kak Maul, kak Nufus juga sudah,"
Ia bergumam sambil menyebutkan nama-nama dari anggota osis.
"Siapa ini, eh kak Ardan juga sudah. Jadi tinggal ...."
Seketika matanya melotot, saat melihat lagi daftar nama anggota OSIS, di selembar kertas yang saat ini ia pegang.
Ia menepuk keningnya saat lagi-lagi harus berurusan dengan dia.
Dia siapa?
Siapa lagi, kalau bukan ketua Osis, yang entah kenapa selalu mengerjainya.
Oke ... Ini salahnya, tidak memperlihatkan sikap manis, di pertemuan mereka di hari pertama pula.
"Omina-omina-omina," batin Queene ketar-ketir.
Ia pun melangkahkan kakinya, mendekati dia.
Dia siapa?
(Elah Thor, kagak usah di ingetin. He-he, sewot ae Queene)
"Lindungi hambamu yang cantik ini, Tuhan," gumam Queene narsis dengan mulut komat-kamit.
Sedangkan di sisi Rajendra atau juga Ge, yang saat ini sedang duduk santai, tidak bisa menahan senyum di bibirnya, saat target favoritnya berjalan mendekat ke arahnya.
"Wiw ... Si ubrek dateng, ada rencana apa?" tanya Ardan, berbisik kepada Ge yang tersenyum miring, saat melihat murid baru bernama Queeneira, menghampirinya dengan wajah kaku.
"Pfft ... Sepertinya, dia masih inget kejadian kemarin," batin Ge menahan tawa.
Ia ingat sekali saat kemarin ia menghukum dia, adik kelas barunya, untuk bernyanyi menghadap tembok, hanya karena dia lupa mengikat rambut dengan tali rapia dua belas warna.
Padahal hanya kurang satu dan sebenarnya ada beberapa adik kelas juga, yang talinya kurang dua bahkan tiga.
__ADS_1
Tapi karena ia yang keburu gemas, jadinya ya begitulah, adik kelas favorit dengan sebutan ubrek menjadi sasaran ulah usilnya.
Mungkin hukuman darinya hanya sepele, tapi malunya itu loh ... Jadi bahan tertawaan anak-anak lain? Siapa yang mau.
Tap!
Queene pun sampai di depan ketua Osis dengan nama Ge, di sebelahnya ada juga kakak kelas bernama Ardan.
Dua-duanya memiliki wajah lumayan tampan, tapi baginya, sang Baba lah yang paling tampan.
"Ano ... Selamat siang, kak Ge, kak Ardan!" sapa Queene dengan nada kaku, membuat dua kakak kelas yang di sapa melihatnya dengan alis terangkat.
Glek!
Oh muy gud ....
Ia menelan salivanya susah payah, saat mendapat tatapan aneh dari dua kakak kelasnya.
"Kenapa?" sahut Ge dengan nada biasa, menyembunyikan kekehan gelinya.
"Segitunya takut sama Gue," batin Ge geli.
Beda Ge, beda Ardan yang melihat Queene dengan mata berbinar senang, tanpa bisa di tahan.
Ia dengan nada suara ceria, menggoda adik kelas favorit temannya, menuai dengusan kesal dari Ge, yang menyaksikan kejadian di depannya dengan mata berotasi bosan.
"Ardan dan kelakuannya," batin Ge sebal.
"Queeneira yah, ada apa cantik," sahut Ardan menggoda adik kelasnya.
"Eh! Iya kak Ardan, ano ... Mau minta tanda tangan kak Ge," ujar Queene dengan nada suara ragu.
"Oh! Tanda tangan," sahut Ardan menyenggol Ge, yang ada di sampingnya dengan usil.
"Apa sih," ujar Ge pura-pura sewot.
"Tuh, tanda tangan," ujar Ardan mengikuti permainan.
"Siapa?" tanya Ge pura-pura tidak tahu.
"Tuh," balas Ardan menunjuk depan dengan dagunya.
Queene harus menahan kesal saat melihat dua kakak kelasnya, yang entah kenapa seperti sedang mempermainkannya.
"Kakak kelas reseh, awas saja," batin Queene gondok.
"Siapa, yang minta tanda tangan, siapa?" tanya Ge melihat ke arah temannya, tanpa melihat ke arah Queene yang saat ini menggepalkan tangannya kesal.
"Saus tar-tar," batin Queene sudah hampir di ambang batas.
Ge menyerah saat ia merasakan perbedaan suhu udara, yang berasal dari arah depannya, tepatnya berasal dari adik kelas yang saat ini melihat ke arahnya, dengan mata mendelik gahar.
"Sial, kenapa bisa lucu gitu," batin Ge akhirnya menyerah.
"Ehem ... Jadi kamu mau minta tanda tangan?" ujar Ge bertanya.
"Iya, kak," balas Queene bersabar.
"Oke!"
"Benarkah kak, ini ker-
"Dengan satu syarat!"
Queene hampir saja memekik gembira, saat kakak kelasnya mengiyakan permintaannya, tapi berganti dengan penasaran saat ucapannya di sela, hanya untuk menyatakan jika tanda tangannya tidak gratis.
"Apa, kak?" tanya Queene penasaran.
"Kamu hanya perlu ..."
"Yang benar saja kak!"
Ge terkekeh senang, saat mendengar pekikan membahana dari adik kelasnya, yang sesungguhnya sudah ia prediksi.
Sedangkan di sisi Gavriel, yang saat ini sedang berjuang lepas dari jerat kakak kelas perempuan.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang di alami Ezra, nasib Gavriel lebih mengenaskan dari Ezra. Setidaknya Ezra bisa mengatasinya dengan senyum, senyum yang di pelajarinya dari sang Pipi.
Gavriel harus menahan rasa kesalnya, dengan selalu menampilkan tatapan tajam, yang malah berujung jeritan dengan namanya di sebut lebay.
"Akh! Kenapa semakin menjadi," batin Gavriel menjerit frustrasi.
"Ayolah Gavriel, hanya sebuah lagu. Setelahnya, kami semua akan membuat lembar kertas itu penuh, tanpa kamu bergerak," rayu salah satu kakak kelas, membuat kakak kelas lainnya mengangguk setuju.
"Iya! Hanya satu lagu, selesai," sahut yang lainnya dengan mata berbinar semangat.
"Ayolah!"
Seruan-seruan memaksa dirinya menyanyi, semakin terdengar semangat.
__ADS_1
Dan itu membuatnya semakin merasakan terpojok, menatap kakak kelas yang sedang menatapnya, layaknya serigala lapar.
"Mommy, kenapa perempuan sangat mengerikan," batin Gavriel horor.
Kembali pada Queene yang saat ini sedang menjalankan tantangan.
Saat ini ia sedang duduk dengan kakak kelas jahil melihatnya, memperhatikan setiap gerakan yang di lakukannya.
"Hitung yang benar!" seru Ge menyela dengan galak, saat Queene keselo, menyebut angka dua ratus enam puluh empat dan dua ratus enam puluh enam.
"Ck! Kapan selesainya, kak!" sembur Queene yang sudah terlanjur kesal.
"Ya tidak bakal selesai, kalau kamu berhitung sambil mendumel," balas Ge santai, menuai pelototan, tapi alih-alih menyeramkan, justru terlihat lucu di penglihatannya.
"Hih!" dengus Queene melanjutkan hitungannya yang kesekian.
Sebenarnya apa sih yang sedang di hitung Queene, sehingga Queene harus berjuang hingga setengah jam lamanya?
Entah harus menggeleng kepala atau ikuti cara Ge, tapi yang jelas saat ini di meja dengan kakak kelas ketua Osis dan Queene, ada dua buah mangkuk dengan isi kacang hijau.
Ya ... Benar sekali, Queene yang di kenal tidak sabar, harus rela menghabiskan waktu istirahatnya, dengan kacang hijau di dua mangkuk yang sudah di hitungnya susah payah.
Ini kacang hijau terakhir, ia dengan gaya lebay meletakkan kepalanya di atas meja, kemudian mendesah lelah dan frustrasi.
"Sudah, sudah kak. Ha-ha-ha, sudah selesai!" gumam Queene dengan kekehan senangnya.
Ge yang melihatnya ikut terkekeh, asli ... Ia cukup terhibur, saat melihat ekspresi serius yang di tampilkan adik kelasnya.
"Astaga, ada juga perempuan polos seperti ini," batin Ge bersiul takjub.
"Bagus, sini kertasnya," ujar Ge dengan nada biasa, menyembunyikan rasa senang di hatinya.
Queene pun menyerahkan kertas tersebut dengan senyum lebar, senyum yang membuat jantung Ge berdetak dengan cepat.
"Apa ini?" batin Ge bingung.
Ia memegang dada dimana letak jantungnya berada, sambil melihat ke arah Queene yang berlari menghampiri dua sahabatnya.
Skip
Hari sudah siang, saatnya mereka yang sudah menjalani aktivitas seharian pulang kerumah masing-masing.
Seperti biasa tiga murid baru berstatus sahabat ini, bersiap-siap untuk pulang, kembali ke rumah masing-masing.
Di sepanjang koridor sekolah baru mereka, tidak hentinya mereka bertiga bersenda gurau, meski itu hanya dua di antara ketiganya.
"Eh! Kesel banget aku, ih pengen deh rasanya makan anak ayam goreng," cerocos Queene kepada dua sahabatnya, yang berjalan santai di kanan dan kirinya.
"Masih ingat saja," sahut Ezra dengan kepala menggeleng.
"Tentu saja kesal, aku harus menghitung kacang hijau satu per satu. Uh, lihat jari tanganku keram," sewot Queene, memperlihatkan jari-jari lentiknya, ke arah dua sahabatnya yang melihatnya segera.
"Jari-jari biasa di pakai buat ngupil aja, sok di liatin," dengus Gavriel kejam
"Yah! Gavriel, sembarangan!" sembur Queene melotot ke arah Gavriel kesal.
Gavriel terkekeh, lalu menepuk dan mengambil kepala Queene untuk bersandar pada dadanya, sebelum membawa wajah sahabat perempuannya, ke dalam ketiaknya seperti biasa.
"Sabar, hirup ini dulu. Di jamin rileks segera," gumam Gavriel dengan kekehan, membuat Queene yang jadi korban terpekik sambil memukul punggungnya.
"Gav-
"Gavriel! Ezra!"
Gavriel dan Ezra yang di merasa namanya di panggil, menoleh dengan segera ke asal suara.
Di belakang mereka ada tiga remaja perempuan, memakai seragam yang sama dengan mereka, dengan satu perempuan menatap mereka malu.
"Kalian!" seru Ezra setelah mengingat, sedangkan Gavriel hanya menatap satu di antara ketiganya dengan binar senang.
Tatapan mata berbeda, yang membuat Queene di sampingnya melihat depan dan samping bergantian, dengan kening berkerut penasaran.
Hanya sedikit orang yang mampu membuat Gavriel, melihat seseorang dengan binar seperti itu dan entah kenapa membuat sesuatu dalam hatinya tidak terima.
"Kei!" seru Gavriel memanggil salah satu di antara ketiga remaja di depan mereka.
"Hai! Gavriel!" sapa balik Kei menatap Gavriel dengan binar sama bahagianya.
"Apa ini," batin seseorang penasaran.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.
__ADS_1