
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Dirga Sekali lagi menghela nafas, menyerah dengan jalan fikir mahluk Betina yang sungguh kompleks. Seperti labirin, bercabang dan sebagainya.
Intinya padahal sepele, pecat beres.
" Buset, mending menangani perusahaan reseh kalau gini caranya." Batinnya lelah.
" Jadi kamu maunya bagaimana?" tanya Dirga menyerah.
" Bagaimana kalau kita tanya dulu, apa Dia menyukai kamu atau hanya mengagumimu yank?" ujar Kiara, menatap Suaminya yang saat ini alisnya terangkat sebelah.
" Bertanya? " beo Dirga, memandang Istrinya yang mengangguk kecil.
" Um" gumam Kiara membenarkan.
Kemudian suasana menjadi hening, saat keduanya larut dalam fikirannya masing-masing . Untung saja masalah ini cepat di ketahui, coba bila sudah tahap ekstrem baru ketahuan? Apa jadinya rumah tangga mereka nanti.
" Huft ... Jadi sekarang mau bagaimana? setelah di tanya, apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya Dirga gemas, setelah beberapa saat hening. Ia menghembuskan nafas lelah, gagal paham dengan apa mau Sang Istri.
" Gue cium juga nih ah" batin Dirga antara kesal dan mau.
" Ya, tapi. Em ..
" Kenapa sih, cewek itu pemikirannya ribet. Nggak bisa yah, to the point aja." batin Dirga, menatap datar ke arah Istrinya yang kebingungan.
Tidak kunjung mendapat jawaban dari Sang Istri, Dirga pun mengambil keputusan sendiri. Menggunakan haknya sebagai kepala keluarga, demi kelangsungan kehidupan mereka kedepannya.
" Fine, sekarang juga Kamu panggil Anita. Tunggu di ruang tamu, setuju nggak setuju Dia harus keluar dari rumah ini. Aku yang putusin dan Aku juga yang akan menjawab pertanyaan dari Mama." ujar Dirga final. Ia memerintah dengan tegas kepada Istrinya , membuat Sang Istri hanya bisa mengangguk mengerti.
" Iya "
Dirga segera kembali ke kamarnya, meninggalkan Kiara yang termenung.
" Apa nggak apa-apa yah, bukankah ini sama saja dengan memutus rezeki orang." Gumamnya, mengusap rambut anaknya pelan.
Di halaman belakang, ada Anita dan Bi Ana yang sedang menyapu daun kering. Membantu mang Dana, yang saat ini sedang merapihkan tanaman di pinggir kolam.
" An, Anita " panggil Bi Titin, membuat Anita yang sedang mengobrol dengan Bi Ana, menoleh ke arah di mana suara berasal.
" Iya Mbok, An di sini. Ada apa Mbok?" sahut Anita, kemudian bertanya setelah Bi Titin berdiri di depannya.
Anita mengernyit dahi bingung, saat melihat raut wajah Bi Titin yang marah dan sedih.
" Tuan memanggil Kamu, sebaiknya Kamu cepat menemui Tuan." balas Bi Titin, tanpa menjelaskan.
Bi Ana yang di sampingnya mengernyit, penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Tapi saat melihat raut wajah Bi Titin yang keruh, membuatnya diam tidak berani bertanya.
" Apa ini ada hubungannya dengan kejadian itu yah, berarti nyonya sudah tahu." batin Bi Ana menebak , tidak tahu jika Bi Titin lah yang sudah bercerita.
" Iya Mbok" balas Anita singkat, Ia meletakkan sapu di tempatnya. Lalu melenggang pergi, meninggalkan Bi Ana dan Bi Titin yang mulai bergosip.
Sepanjang perjalanan menuju ruang tamu, entah kenapa perasaan Anita tidak tenang. Seperti akan ada badai, yang berhubungan dengan perasaan terlarangnya.
Langkahnya terasa berat, apalagi saat melihat Tuan serta Nyonya duduk di Sofa. Menunggunya dengan raut wajah tidak biasa, juga melihat ke arahnya dengan pandangan tidak terbaca.
" Ada apa ini?" Batinnya bertanya.
Tap
Anita berhenti, di depan majikannya yang duduk terpisah. Ia melihat ke arah Tuannya yang balik melihatnya dengan datar, tapi entah kenapa siang ini semakin datar dan dingin.
" Siang Tuan, siang Nyonya. Ada yang bisa Anita bantu?" ujar Anita, menunduk sopan setelah merasakan pandangan menusuk dari Tuanya.
" ...."
" ...."
Anita mengernyit bingung, saat tidak kunjung mendengar jawaban dari kedua majikannya. Ia pun berdiri gelisah, melamun dengan segala pemikiran buruknya.
Sedangkan Dirga, melihat ke arah Istrinya yang diam melihatnya pun, menghembuskan nafas untuk yang kesekian kalinya.
" Anita, sekarang kamu bereskan barang-barang kamu. Mulai hari ini saya memberhentikan kamu, terima kasih atas pengabdian kamu selama 6 bulan ini." ujar Dirga datar dan to the point, memandang pembantunya tanpa ekspresi.
Deg
Anita tersentak dengan kabar buruk ini, jantungnya berdegub kencang. Ia segera melihat ke arah Sang Tuan, yang hanya memandangnya dengan sorot mata dingin.
" Tidak, ini tidak mungkin." batin Anita gelisah. Ia tidak merasa memiliki salah, hingga tiba-tiba bisa di pecat seperti ini.
__ADS_1
Ia pun melihat ke arah Sang Nyonya, yang saat ini sedang menundukkan kepala. Lalu Ia memberanikan diri, melihat lagi ke arah Sang Tuan. Namun sayang, ekspresinya tidak ada yang berubah.
" Tuan, apa salah saya?" tanya Anita, memberanikan diri melihat ke arah Tuannya.
Dirga, yang mendengar pertanyaan dari pembantunya mengangkat alis takjub. Sudah tahu pasti akan ada pertanyaan seperti ini, yang keluar dari mulut pembantunya.
Dirga melirik ke arah Sang Istri, yang juga sedang melihat ke arahnya. Melihat kode mata dari Istrinya, Ia pun mengangguk.
" Anita" panggil Kiara. Ia menggantikan Dirga, yang saat ini sedang menahan kesalnya.
Suaminya tidak cocok, kalau memakai cara lembut saat berbicara.
" Iya Nyonya" balas Anita singkat, melihat ke arah Sang Nyonya.
" Apa kamu tahu kesalahan kamu?" tanya Kiara pelan, menuai gelengan kepala dari Anita.
" Tidak Nyonya"
Kiara pun ikut menghembuskan nafasnya lelah, saat mendengar jawaban dari Anita baru kemudian melanjutkan ucapannya.
" Anita, apa ada yang mau kamu sampaikan untuk Suamiku." ujar Kiara menekan kata suami, membuat Anita yang mendengar tersentak kaget. Bahkan Dia dengan cepat, melihat ke arah Suaminya yang auto melihat ke arah Anita dingin.
Deg
" Bagaimana nyonya bisa tahu, apa ada yang mengadu? " batin Anita gelisah, jika sudah begini apa yang harus Ia lakukan.
" A Aku ...
" Kamu fikir kamu siapa? ".
Sela Dirga cepat dengan nada datar, saat mendengar balasan terbata dari pembantunya.
" Sayang" tegur Kiara lembut. Ia menggelengkan kepalanya ke arah sang Suami, Yang sudah mengeluarkan hawa nerakanya.
Dirga melengoskan wajahnya kesal, saat melihat Anita yang ketahuan sekali menyimpan rahasia, tapi masih belum mau jujur.
" Anita, jawab saya dengan jujur." ujar Kiara, membuat fokus Anita yang tadi melihat ke arah Suaminya. Kembali menghadap ke arahnya, lengkap dengan butiran air mata.
" Hiks ... Iy , iya Nyo Hiks Nyonya ." balas Anita terbata, kali ini hancur sudah angan-angannya. Jangankan untuk bisa dekat dengan Sang Tuan, menikmati senyum langka dan aromanya pun tidak akan bisa lagi.
" Kamu suka sama Suami saya?" tanya Kiara to the point, melihat ke arah pembantunya yang lagi-lagi tersentak kaget. Bahkan matanya ikut melotot, memandangnya Dengan telapak tangan menutup mulut panik.
" A Ak Aku ...
" Jangan pernah berharap, karena seribu seperti Kamu, tidak ada apa-apanya dengan Istriku." Lanjutnya kejam, menuai seruan protes dari Kiara yang merasa Suaminya kelewatan.
" Sayang cukup, bukan seperti ini kesepakatan kita." Seru Kiara marah, biar bagaimana pun Anita juga wanita. Hati siapa yang tidak akan sakit, saat mendengar kalimat menyakitkan dari orang yang di sukai.
Kiara melihat ke arah Anita, yang saat ini sedang menangis sesegukan. Membuat hati nuraninya tergerak, Ia tidak menyangka Suaminya akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan seperti ini.
" Anita, saya sudah dengar sendiri bagaimana perasaanmu terhadap Suamiku. Saya tahu rasa cinta tidak salah, tempat lah yang salah. Kamu sudah tahu, jika yang kamu cintai adalah suami saya. Tapi kenapa masih menyimpannya, terlebih itu adalah majikan kamu sendiri. " ujar Kiara hati-hati , namun hanya sesegukanlah yang terdengar.
" Anita, Saya juga sudah tahu. Bahwa kamu memang benar mencintai Suamiku, lalu memilih mencintainya dalam diam. Apa saya salah menyebutkan rahasiamu?" Lanjutnya, membuat Anita melihat ke arahnya, setelah lagi-lagi tersentak kaget.
Kiara menunggu jawaban dari Anita, tapi sayang sekali Anita bahkan tidak mampu berbicara. Seakan tenggorokannya tersangkut sesuatu dan ia juga melihat tubuh Anita yang bergetar takut.
" Diam artinya iya." Lanjutnya singkat, setelah keterdiaman Anita Ia memutuskan pilihannya segera.
" Nyonya maafkan saya, hiks ... Saya memang punya fikiran ingin merebut Tuan ...
" Merebut? " beo Kiara marah, saat pembantunya mengeluarkan kata-kata yang menurutnya lucu di pendengarannya.
Tadinya Kiara sudah ingin memaafkan, tapi mendengar sendiri apa keinginan terpendam dari pembantunya, membuat Ia marah seketika.
Deg
" Nyonya maks ...
" Kamu fikir, saya takut Suami saya berpaling ke arah Kamu. Makanya di saat Saya tahu, saya buru-buru pacat kamu. begitu? " ujar Kiara emosi, menuai gelengan kepala dari Anita.
" Tid ...
" Cukup, bereskan barang-barang Kamu sekarang. Saya tidak mau mendengar apapun lagi, jangan buat saya semakin marah dengan air mata kamu Anita." Lanjutnya, sama sekali tidak ingin mendengar alasan pembantunya lagi.
" Ini gaji, bonus serta biaya finalti untuk kamu. Seperti yang Istri saya katakan, secepatnya kamu pergi dari sini. Kamu tenang saja, tidak akan ada yang tahu alasan kamu di berhentikan tiba-tiba." ujar Dirga, menggantikan Istrinya yang saat ini sedang meredam emosinya.
" Tu ....
" Sekarang" sela Dirga datar, memandang tanpa rasa kasihan. Jika tidak ada Istrinya di sini, entah apa yang akan terjadi. Gila ya, dengan anak pengusaha terkenal aja Ia kejam. Apalagi yang seperti ini, Ia sampai harus menahan diri untuk tidak mengumpat.
" shit" batin Dirga emosi.
" Baik Tuan, saya akan pergi. Tapi Tuan harus tahu, Saya mencintai Tuan dalam diam cukup. Sampai nanti pun, akan mencintai Tuan. Mungkin karena saya hanya seorang pembantu, tapi apa karena saya pembantu tidak boleh mencintai Tuan?" tanya Anita berani, di sela-sela rasa kecewanya dan tangisnya.
" Anita, kamu jangan lancang. Cukup kamu pergi sekarang jug
__ADS_1
Hu huweee huwee
Kalimat dari Kiara terhenti, saat mendengar suara tangisan Gav. Ia segera meninggalkan Dirga menuju ke ruang bermain, di mana ada Gav tertidur.
Sedangkan Dirga berdiam dengan ekspresi marah, melihat ke arah Anita yang tiba-tiba hilang rasa Beraninya.
" Huft, stay calm Ga" Batinnya mencoba sabar. Saat ini tidak ada Kiara disini, seharusnya Ia bisa menjadi dirinya sendiri. Kejam dan arogan, bukankah itu dirinya?.
" Kamu masih muda, cinta akan datang untuk kamu di luar sana. Hapus rasa cinta itu di hati kamu, tanamkan itu di otak kamu. Dengar ini jangan pernah berharap dan sekarang kamu keluar atau saya panggil Bima buat Seret kamu?" ujar Dirga tanpa nada, melihat ke arah pembantunya yang menangis, mendapatkan perkataan kejam darinya.
Dengan berlinang air mata, Anita pergi meninggalkan ruang tamu
Meninggalkan Dirga dan amplop tebal, yang sama sekali tidak di lirik Anita.
Di ujung ruang tamu, ada Bi Titin dan Bi Ana. Melihat dari kejauhan, dengan mulut menganga tidak percaya. Menurut mereka Anita salah, tapi perlakuan Tuannya terlalu kejam. Biar bagaimana pun, Anita perempuan apalagi umur Anita masih muda. Masih belum mengetahui mana benar dan mana salah.
" Aku nggak nyangka Mbok, Anita bisa suka sama Tuan. Padahal jelas-jelas Tuan sudah punya Nyonya Kiara, kenapa masih nekat yah?" gumam Bi Ana, bertanya kepada Bi Titin yang hanya bisa menghela nafas.
" Namanya cinta Ana, mana ada yang tahu kepada siapa akan jatuh. Tapi ini lebih baik, sebelum semakin parah. Kamu tahu sendiri, cinta itu bisa merubah seseorang. Perempuan itu mahluk yang lebih mengutamakan perasaan, takutnya malah akan membahayakan rumah tangga Tuan dan Nyonya." ujar Bi Titin panjang lebar. Ia membalas pertanyaan dari Bi Ana, yang saat ini mengangguk kepala setuju.
" Iyo sih Mbok, Aku yo nggak nyangka." gumam Bi Ana. Ia melihat ke arah Tuannya yang sedang memaki, kesal setelah kepergian Anita. Sepertinya sudah terlalu lama menahan kesal, sehingga saat tidak ada orang, Tuanya segera melampiaskannya dengan bebas.
" Tuan seram sekali." batin Keduanya.
Siang beranjak menjadi sore, di Kediamanan Dirga suasana tidak ada yang berbeda setelah kejadian pemecatan Anita.
Kiara sebenarnya masih merasa emosi, tapi saat melihat anaknya yang tersenyum guling-gulingan seperti biasa, membuatnya ikut tersenyum.
" Gav sayang, mainnya nanti sama Mommy aja yah." gumam Kiara pelan, mengusap kepala anaknya yang sedang nyunsep di matras.
Bhuuu tu tu
" Ahahaha ... Kenapa liurnya banyak sekali, dasar. Sini Mommy lap dulu, nanti main lagi." Seru Kiara, tangannya mengambil tissu kemudian mengelap dagu dan pipi Gav yang basah. Anaknya jika sudah tidur tengkurap, akan mengeluarkan liur berlebih.
Bhuuuu hi hi hi
" Malah ketawa, nih liur kamu sayang. Basah semua, nggak tampan lagi loh nanti. " Sahut Kiara, saat Anaknya malah tertawa tanpa beban.
Bhuuu da da
" Ee ... Dad
Ceklek
Pintu terbuka, di susul Dirga yang masuk dengan senyum seperti biasa.
" Daddy kembali nih, berenang yuk Gav!" seru Dirga setelah masuk. Ia ikut guling-gulingan di samping Anaknya yang tertawa senang, senang karena ada teman guling-guling.
sedangkan Kiara memekik senang, saat di ajak berenang oleh Sang Suami.
" Yey berena ...
" Siapa yang ajak Mommy? Daddy kan cuma ajak Baby. Iya kan sayang? " sela Dirga cepat, melihat ke arah Istrinya yang melotot kesal ke arahnya. Kemudian bertanya kepada Gav, yang langsung cekikikan.
Bhuuu hi hi hi tu tu da da
" Ish, nyebelin."
" Ahaha, kabur Gav kabur. Jangan ajak Mommy, Mommy macan betina!" seru Dirga, membawa Anaknya ke luar kamar bermain. Meninggalkan Kiara yang bengong, di permainankan oleh Suami dan Anak sendiri.
" Hei, Mommy ikut. Jangan tinggalin Mommy!" seru Kiara keras, setelah sadar dari bengongnya. Ia mendengar suara tawa dari keduanya, seakan tidak terjadi apa-apa di siang hari tadi, yang menurutnya sedikit membuat tidak nyaman.
" Jangan ajak Mommy Gav, kita berdua saja yang berenang."
Bhuuuu hi hi na na
Kiara melihat dengan senyum dari bawah tangga, saat Suaminya sudah melupakan kejadian barusan. Seenggaknya Dirga sudah bisa belajar, mengontrol emosinya dan itu kemajuan untuknya. Ia mendengar dari Sang Mertua ataupun sahabat Suaminya, jika Dirga bukan orang yang sabar dan tidak mudah memaafkan orang yang berani mengusik ketenangannya.
" Syukurlah, setidaknya tidak ada bibit benalu di tanaman kami." Batinnya, kemudian menyusul Sang Suami yang sepertinya sedang mengganti pakaiannya.
End
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar dan klik jempolnya yaaaa.....
Serta vote dukunganya..
Sampai babai
Terimakasih
Baca juga karya aku
" Penggemar Rahasia " & " My lovely Baby"
__ADS_1