
Seoson dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Empat tahun kemudian
Hari-hari berlalu di lewati dengan penuh keceriaan, begitu pula keluarga kecil Dirga yang melewatinya dengan senyum dan kebahagiaan.
Kebahagiaan menyaksikan tumbuh kembang dua malaikat kecil, yang sekarang bertransformasi menjadi setan kecil.
Gavriel yang sekarang berumur enam tahun sudah menjejaki di dunia sekolah, tahun ini kebetulan Dia memasuki jenjang sekolah dasar.
Sebenarnya belum masanya Gav masuk sekolah dasar karena umurnya masih kurang satu tahun, tapi emang dasar keturunan Wijaya, yang bebas dengan segala keinginannya.
Gavriel memasuki masa taman kanak-kanak, di saat Dia berumur lima tahun dan bersikeras ingin masuk sekolah lagi tanpa di tunda.
Kelakuannya di tiru oleh sepupunya, Ezra yang umurnya bahkan masih enam tahun kurang.
Kedua anak laki-laki ini di tengahi oleh seorang perempuan, bernama Queeneira yang juga meminta dengan keras kepada kedua orang tuanya, untuk bersekolah jika dua temannya sekolah.
Persahabatan tiga anak ini terjalin semenjak mereka balita, mungkin ini juga lah yang menjadikan ketiganya tidak bisa di pisahkan.
Sekolah Dasar Negeri kota S
Di sebuah taman di sekolah dasar negeri, ada tiga anak kecil beda jenis kelamin yang sedang duduk. Maksudnya satu duduk, dua lainnya bermain perosotan yang ada di taman tersebut.
Seorang anak yang duduk itu, diam dan fokus membaca buku silabus matematika yang belum saatnya untuk di bacanya.
Dia sama sekali tidak melirik sedikit pun ke arah dua temannya, yang dari tadi menggodanya untuk ikut bermain.
"Eh-eh ... Gav, kenapa Kamu di sini jika keljaan Kamu hanya membaca buku!" seru Ezra dengan kesal.
Ia heran dengan sepupunya yang selalu tidak bisa jauh dari buku tebal, yang membuat matanya juling seketika.
Anak yang tadi duduk dan di panggil Gav tersebut melirik sebentar, ke arah sepupunya yang tadi memanggil namanya.
"Baiklah Aku pelgi," balas Gavriel lempeng, Ia hendak berdiri tapi suara anak perempuan menghentikannya.
"Ya ampun ... Tav kok ngambekan sih!" seru anak kecil perempuan satu-satunya bernama Queene, memanggil Gav dengan nama Tav, nama zaman mereka bayi.
"Gav, Queene. Bukan Tav!" seru Gavriel tidak terima.
Ia melirik dengan mata melotot lucu, mata turunan Sang Mommy yang membuat Queene tertawa kecil.
"Tapi imut di panggil Tav loh!" seru Queene menggoda.
Gav diam saja tidak membalas ucapan Queene, teman perempuan sepopoknya memang suka sekali memanggilnya dengan sebutan Tav.
Dia bilang lucu, lucu dari mananya ... Dulu kan Ia belum mahir bicara, wajar dong kalau memanggil nama sendiri dengan sebutan Tav.
"Bialkan saja," batin Gavriel berusaha tidak perduli.
Queene yang tidak mendapatkan balasan lagi dari teman bayinya, melirik ke arah Ezra yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Apa?" tanya Ezra dengan mata berkedip lucu.
"Apa? Cuma lihat," balas Queene balik bertanya.
"Sudahan yuk ... Kasian Tav sendilia-
"Aku dengal Queene, siapa yang Kamu kasihani?" sela Gavriel tanpa melirik Queene yang terkikik kecil.
"Psst ... Gavliel umulnya belapa sih?" bisik Queene di telinga Ezra yang segera berhitung.
"Sebental," gumam Ezra pelan.
"1+2+3 sama deng-
"Ah elah Ez, sampai di hitung sepelti itu," sela Queene gemas dengan kelakuan Ezra yang selalu main-main.
"Jangan di sela dulu dong!" seru Ezra melotot ke arah Queene yang mencebilkan bibirnya lucu.
"Kamu kelamaan," balas Queene tidak perduli.
"Kan Kamu yang beltanya!" seru Ezra berkaca pinggang.
"Tapi Kamu jawabnya kelamaan!"
"Ya kan Aku pellu mengingat!"
"Kan ting-
Gavriel yang mendengar pertengkaran kedua temannya hanya bisa mendengus, selalu seperti ini jika mereka bermain tanpa Ia awasi.
"Kelakuan meleka sepelti bocah saja," batin Gavriel melihat dengan datar kejadian di depannya.
(Kamu juga masih bocah Gavriel, eh iya-yah)
__ADS_1
Perdebatan antara Ezra dan Queene masih terus berlanjut, sehingga Gavriel yang bosan mendekati keduanya dan berdiri di antara keduanya.
Mereka masih belum melihat ke arahnya, tepatnya masih belum sadar dan masih berdebat.
Ia mengangkat kedua tangannya dan meletakkan telapak tangannya di masing-masing wajah teman sepopoknya, mendorong pelan lalu menyusup di antara keduanya.
"Dali pada kalian beltengkal, lebih baik kita masuk kedalam kelas. Apa kalian tidak dengal bel sekolah belbunyi?" ujar Gavriel saat telah berdiri di antara keduanya.
"Ah ... Singkilkan tangan Kamu Gav!" seru Ezra protes, berusaha menampik tangan sepupunya.
"Yah ... Tav kebiasaan deh!" kali ini Queene yang protes, tangannya memukul kecil tangan Gavriel yang masih nemplok di wajahnya.
Sekarang giliran Gavriel yang terkekeh senang, saat tiba waktunya Ia mengerjai balik dua teman kecilnya.
"Lasakan, suluh siapa bisik-bisik tentang umul Aku. Apa kalian lupa, jika kemalin Aku balu menginjak umul enam tahun. Ha-ha-ha!"
Umur enam tahun kelakuan mereka sudah seperti ini, apalagi umur enam puluh tahun yang akan datang.
Etdah ...
"Sudah, sebaiknya Kita ke kelas. Nanti ibu gulu mencali Kita," ujar Gavriel menengahi.
Ia melepas telapak tangannya dan memasang wajah polos saat melihat ke arah kedua temannya.
"Yuk!" Serunya, lalu meninggalkan kedua temannya yang memanggil namanya kesal.
"Gavliel leseh!!"
Lagi-lagi kekehan kecil terdengar darinya, Ia suka saat melihat wajah kesal dua temannya.
Kelas 1A
Di depan kelas ada seorang Guru menjelaskan pelajaran berhitung, yang membuat Gavriel menguap bosan.
Menurutnya pelajaran ini hanya untuk kelas satu dan Ia bahkan sudah bisa mengerjakan tugas untuk kelas enam.
(Kan Kamu memang kelas satu, masa)
Tapi Ia tetap mengerjakan tugasnya dengan serius, di sebelahnya ada Ezra yang menulis dengan susah saat deretan angka harus di jumlahkan hasilnya.
"1+3 sama dengan 4, lalu-
Gavriel melirik sekilas ke arah sepupunya dan melihat tulisan dari sepupunya yang lumayan rapih, sehingga Ia sendiri tidak bisa membacanya.
"Angka belapa itu?" tanya Gavriel dengan logat cadelnya.
Ezra yang sedang fokus menghitung melihat ke arahnya dengan mata bulat, serta kepala miring ke kiri bingung.
"Gav tidak bisa membaca?" ujar Ezra melotot kaget ke arah Gavriel yang berkedip-kedip memproses kalimat sepupunya.
Bisik-bisik pun terdengar, membuat Gavriel menoleh ke kanan dan kiri dengan kening berkerut.
"Bu gulu, Gavliel tidak bisa membaca!" seru seorang Siswi mengadu kepada ibu Guru yang menoleh kebelakang, melihat tingkah anak didiknya
"Siapa yang tidak bisa membaca?" tanya Ibu Guru lembut.
Dengan kompak seluruh murid plus Ezra menunjuk ke arah Gavriel, yang berkedip-kedip tidak mengerti (polos mode on).
"Gavriel sayang, tidak bisa membaca?" tanya Ibu Guru lembut.
"Eh ... Aku bu Gulu?"
Ibu Guru baru dengan nama Dini itu mengangguk, lalu melangkah mendekati Gavriel.
"Nanti belajar dengan ibu yah, belajar membac-
"I can lead and wlite teachel," ujar Gavriel dengan sombongnya, menatap guru baru itu yang terdiam saat murid didiknya berucap bahas asing dengan lancar.
Meski huruf R berubah menjadi L ...
"Ah ... Seperti itu," gumam ibu Dini canggung.
Ia kembali ke mejanya dan memeriksa lagi absensi dari anak murid bernama Gavriel.
Matanya melotot saat melihat nama yang tersemat di belakang nama Gavriel.
"Ya ampun, Wijaya yah," Gumamnya lalu melihat ke arah muridnya, yang tadi Ia kira tidak bisa membaca sedang memarahi teman sebangkunya, sedangkan yang di marahin malah terkekeh dengan santainya.
"Ya Tuhan, ini hari pertama dan dapat murid seperti ini," batin Ibu Dini terkekeh miris.
Pelajaran telah usai, kini saatnya Gavriel dan teman sekelasnya pulang.
Di luar gerbang sekolah dasar telah menunggu sebuah mobil Lamborghini merah, serta seorang pria yang berdiri gagah menyender di pintu mobil dengan pose keren.
Bisik-bisik terdengar di sekitarnya, membuat seseorang yang jadi korban bisik-bisik mendengus meskipun di tahannya.
Saat ini Ia sedang menunggu Putranya pulang sekolah, kegiatan sehari-harinya yang Ia sempatkan meski sedang sibuk sekalipun.
Ia berdiri tegak saat matanya melihat penampakan Sang Putra sedang berjalan dengan Dua anak kecil lainnya, yang Ia kenali sebagai anak dan keponakannya.
__ADS_1
"Daddy!!" seru Gavriel semangat saat melihat Sang Daddy di depan gerbang sekolahnya.
Dirga tersenyum kecil saat mendengar seruan semangat dari Putra tampannya dan itu menuai jeritan tertahan dari sekitarnya.
"Sial," batin Dirga mengumpat.
Tidak ingin mengubah suasana hatinya, Ia berusaha menyingkirkan perasaan kesalnya dengan berjongkok, bersiap menerima pelukan maut Gavriel yang saat ini berumur enam tahun.
Hup!
"Daddy, tadi Ezra ngeljain ibu Gulu balu," ujar Gavriel mengadu kepada Sang Daddy yang mengernyitkan dahi bingung.
"Mengerjai?" tanya Dirga.
Gavriel mengangguk imut lalu menjelaskan dengan semangat, saat Ia berhasil membuat ibu guru baru itu terdiam.
Alhasil Dirga terkekeh saat mendengarnya, Ia sungguh tidak menyangka jika kelakuan Raka menurun kepada Ezra dan kelakuan songongnya menurun kepada Sang Putra.
"Astaga, haruskah Gue koprol saat ini juga," batin Dirga geli sendiri.
"Ungkel!"
Seruan mungil dari dua anak sahabatnya membuat Dirga menoleh, Ia menurunkan Gavriel yang ada di gendongannya dan menepuk kepala Ezra dan Queene bergantian.
"Kalian pulang ke rumah Ungkel dulu yah, Onty Yaya kangen sama kalian. Oke?"
"Oke/Yey!" seru keduanya bersamaan.
Mereka pun memasuki mobil dan meninggalkan depan gerbang sekolah, menuju kerumah Wijaya muda. Sudah jadi kegiatan rutin yang mereka lakukan, jika salah satu di antara Ia atau sahabatnya menjemput anak mereka seperti ini.
***
Gerbang yang menjulang tinggi menyembunyikan kemegahan rumah milik Wijaya muda sudah terlihat.
Di dalam mobilnya Dirga menekan klakson yang menjadi tanda, sehingga Petugas yang menjaga kediamannya membuka gerbang untuknya.
Mobil zaman Ia muda masih sama persis seperti dulu, tidak ada yang berubah lengkap dengan isinya.
Dirga benar-benar mengembalikan keutuhan mobilnya tanpa ada yang terlewati, meskipun harus mengeluarkan biaya lebih tapi Ia cukup puas dengan hasilnya.
Tiga pasang kaki mungil turun terlebih dahulu, berlomba dengan tingkah kekanakan dengan seruan semangat dari bibir mungil mereka.
Berlomba untuk menjadi pemenang, siapa yang bisa sampai dalam terlebih dahulu.
"Yey Aku menang!" seru Gavriel senang saat lagi-lagi Ia mencapai finish terlebih dahulu.
Ezra dan Queene yang di belakangnya mengambil nafas dan menenangkan nafas mereka yang ngos-ngosan.
"Bhuu ... Kamu menang telus!" seru Ezra tidak terima.
"Iya!" sahut Queene mendukung Ezra.
"Bleee ... Ili saja,"
Sedangkan asik pamer kemenangannya, suara mungil dari arah belakang membuat ketiganya menoleh ke arah asal suara berada.
Tidak jauh dari mereka ada Selyn, yang berlarian menuju ke arah mereka dengan semangat.
"Oni-tan!"
"Imouto-chan!".
Gavriel ikut berlari menuju Selyn yang terkikik senang, lalu memeluk adiknya erat seakan mereka tidak bertemu bertahun-tahun.
"Hi-hi!"
Selyn terkekeh saat berada di pelukan posesiff kakaknya.
"Kakak sudah pulang?" seru Kiara dari arah belakang, sehingga Gavriel bergantian melepas pelan pelukan Sang adik dan berlari menuju Sang Mommy yang menerima pelukan Putranya erat.
"Mommy, lapal!" seru Gavriel manja, beda sekali saat Ia menghadapi Guru di sekolahnya.
"Oke ... Kita semua makan yuk!" ajak Kiara semangat.
"Yey ... Makan!"
"Yey Daddy ikut,"
"Daddy kelja sana,"
"Ah ... Habis manis sepah di buang,"
"Hi-hi, lasain!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
__ADS_1
Imouto-chan \=Adik perempuan
Ni-tan \= Kakak laki-laki.