Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Didiami Dan Lagu Galau


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Galau__Al Gazali.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Long Ping, Yuen Long, New territories.


Keesokan harinya, seperti yang rencanakan bahwa hari mereka akan pulang kembali ke negara asal mereka.


Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh, itu artinya masih ada lima jam lagi untuk mereka pergi ke bandara.


Queeneira dan Selyn, merencanakan pergi ke pusat pembelanjaan, untuk membeli oleh-oleh yang akan mereka tukar dengan orang tua dan keluarga mereka.


Sebenarnya bukan hanya dua perempuan ini, tapi ada Gavriel dan Ezra juga yang turut serta.


Keempat remaja ini berjalan bersama ke daerah pertokoan yang ada di long ping, tepatnya ke toko Bonjour, untuk membeli makanan yang dijual di sana.


Sebenarnya bonjour bukan hanya menjual makanan, tapi juga kosmetik dan lainnya. Lalu ada juga Watson, Miniso dan banyak lagi, yang jika dijelaskan akan menghabiskan waktu hingga besok.


Saat ini mereka sedang memilih buah tangan, dengan Selyn dan Queeneira, yang jalan bersama menyusuri rak demi rak yang ada di dalam toko. Sedangkan Gavriel dan Ezra mengikuti keduanya dari belakang, dengan mata melihat sekitar, mencari barang yang menurut mereka sesuai dengan orang yang akan menerima hadiah.


Saat berempat seperti ini, Gavriel masih bisa menikmati keceriaan dari sahabatnya dan adiknya, berbeda dengan tadi pagi saat mereka akan berangkat.


Ada sedih yang dirasakannya, saat ia benar-benar dijauhi oleh sahabatnya. Yah ... Benar sekali, sahabatnya akan menghindarinya jika kebetulan mereka berpapasan di dalam rumah. Namun akan kembali biasa, saat ada orang lain di sekitar mereka.


Dijauhi sahabat karena rasa cemburu buta.


Yang benar saja!


Ezra, yang tahu sedang ada apa-apa dengan sepupu dan sahabatnya berusaha untuk biasa saja. Ia membiarkan keduanya untuk saling terbuka, ia juga ingin sepupunya dan sahabatnya mengerti, jika keduanya saat ini sama-sama masih bertingkah seperti anak kecil.


Nyatanya mereka memang masih bocah, tapi apa iya sebocah itu.


"Ya tidak mungkin lah, semua akan jelas jika ada penjelasan dan keterbukaan diantara keduanya. Bukan umur yang menentukan seseorang masih bocah atau sudah dewasa. Tapi tindakan."


Ezra hanya bisa misuh-misuh dalam hati, tidak ingin ikut campur lagi, namun bukan berarti angkat tangan, saat keduanya nanti butuh ia dan yang lain sebagai penengah.


Ia akan memperhatikan keduanya dalam diam, baru kemudian jika sudah tahap tidak wajar barulah ia akan bertindak.


"Berasa tua, padahal umur masih muda," lanjut Ezra masih dalam hati.


Gavriel melirik sepupunya yang dari awal diam saja, namun tidak dengan ekspresi wajahnya yang terlihat seperti kacau. Seperti memikirkan sesuatu yang berat, yang belum pantas dipikirkan oleh laki-laki muda berumur enam belas tahun.


"Kenapa?" tanya Gavriel berbisik, dengan Ezra yang hanya meliriknya sebentar lalu melihat depan lagi.


"Nggak ada apa-apa, bingung mau beli apa," balas Ezra bohong.


"Oh ya? Tapi wajah kamu kok seperti itu, padahal cuma bingung milih barang." Gavriel mengangkat sebelah alisnya, ikut berhenti saat sepupunya berhenti untuk melihat barang yang menurutnya menarik.


"Wajah aku? Maksudnya bagaimana?" tanya Ezra tanpa melihat Gavriel, sibuk membaca tulisan yang sama sekali tidak dimengertinya.


"Ini bacaannya apa sih," lanjutnya dalam hati, pusing saat membaca tulisan khas daerah sini, sambil membolak-balik kemasan yang dipegangnya.


"Wajah minta ditampol, sepet banget soalnya."


Buagh!


Jawaban dengan nada datar yang diberikan oleh Gavriel, menuai tendangan dari Ezra yang merasa di zolimi oleh sepupunya. Bagaimana bisa sepupunya bilang wajahnya yang tampan ini sepet, jika nyatanya ini semua adalah karena ia memikirkan sang sepupu sendiri.


"kamvret!"


Gavriel mengumpat dengan kekehan di belakangnya, saat melihat sepupunya yang menampilkan wajah kesal. Sambil tetap memilih barang, namun bibir menyumpah serapahinya.


Keduanya pun melanjutkan sesi pilih-pilih, sesekali akan menghampiri dua perempuan di depan, lalu berpencar lagi, seperti itu berulang hingga mereka selesai berbelanja.


Tiba saatnya untuk mereka membayar, mereka mengantre dengan sabar, menunggu giliran sambil melihat orang yang berlalu lalang. Hingga kemudian, tiba juga giliran mereka untuk membayar barang-barang yang mereka beli.


Queeneira membawa dengan kedua tangannya, keranjang dengan isi barang-barang miliknya untuk di scan dan membayar dengan tunai, saat kartu kreditnya tidak masuk daftar pembayaran. Lalu berlanjut dengan Ezra, baru kemudian Selyn dan Gavriel, dengan Gavriel yang membayar semua barang yang dibeli sang adik.


Mereka pun keluar dari toko, sambil menenteng kantung belanja masing-masing.


Gavriel yang melihat sahabatnya kesusahan membawa kantung belanja, berinisiatif untuk membawakan kantung belanja milik sahabatnya. Gavriel dengan segera mendekati Queeneira yang berjalan di depannya, kemudian menepuk bahu dan berdiri di hadapan sahabatnya dengan senyum kecil.


"Berat? Mau aku bawain?"


Queeneira berhenti saat tiba-tiba sahabatnya berhenti di depannya, setelah menepuk bahunya pelan. Kemudian melihat sahabatnya dengan ekspresi bercampur, saat melihat ekspresi biasa atau ekspresi mencoba biasa, yang saat ini sedang ditampilkan oleh sahabatnya.


"Kenapa dia bersikap biasa saja, setelah dia dengan seenaknya menuduhku yang tidak-tidak," batin Queeneira tidak habis pikir.


Queeneira hanya diam, tidak merespon sama sekali ucapan sahabatnya, yang ingin membantu dirinya membawakan barang belanjaan miliknya, dan itu membuat Gavriel merasakan nyeri namun ditahannya.


Apa Queeneira benar-benar marah dengannya, karena tadi malam lagi-lagi ia mengacaukan suasana.


Pertanyaan ini adalah pertanyaan pertama yang muncul di hati dan pikiran Gavriel.


"Que, sini ak-


"Tidak perlu, aku bisa bawa sendiri."


Queeneira menyela dengan cepat, kalimat yang akan diucapkan oleh Gavriel, kemudian meninggalkan Gavriel yang hanya mampu terpaku, saat Queeneira lebih memilih untuk berjalan duluan menyusul yang lainnya.


"Queeneira, kenapa rasanya sakit banget," batin Gavriel, memejamkan kelopak matanya, kemudian menghembuskan napas, untuk meredakan rasa nyeri di hatinya.


Membalikkan tubuhnya ke arah Queeneira dan yang lainnya jalan, Gavriel pun dengan langkah terseret mengikuti jejak tiga orang lainnya, yang berjalan bersama di depan sana.


Mereka kembali menjelajah dari satu toko ke toko yang lainnya, sambil sesekali berfoto dan menghabiskan sisa waktu bersama, hingga tidak terasa waktu sudah semakin siang dan dua jam lagi mereka sudah harus sampai di bandara.


Waktu makan siang, mereka makan bersama nenek dan kakek Queene di restoran, sebagai perpisahan saat mereka harus kembali ke negara asal mereka.


Makan bersama, bercanda, membicarakan liburan selanjutnya, dan hal lainnya adalah yang mereka lakukan, saat mereka sadar jika hanya waktu seperti inilah mereka bisa menikmati waktu santai dengan kerabat tersayang.


Skip


Makan bersama selesai, akhirnya mereka pun pulang dan bersiap untuk bertolak ke bandara, di antar oleh kakek dan nenek Queeneira menggunakan mobil.

__ADS_1


"Hati-hati, jika sudah landing, jangan lupa kabari kami."


Nena mengusap sayang kepala cucu perempuannya, yang menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyum manis.


"Cucuku yang cantik," lanjut Nena mengecupi pipi kiri dan kanan Queeneira bergantian, kemudian kening dan yang terakhir mengusap kepala cucunya lagi.


"Bobo a, mou kamyong, ngo cengkan em hoisam a, (Nenek, jangan begini, nanti saya sedih)" gumam Queeneira dengan ekspresi sedih, bibir di tekuk ke bawah dan mata berkaca-kaca.


"Hai la, hai la, (Iya, iya)" sahut Nena dengan kekehan geli, merasa lucu dengan ekspresi menggemaskan cucunya.


"Nah! Gitu dong! Nenek siapa sih, cantik banget," goda Queeneira, sehingga Nena pun mau tidak mau semakin terkekeh.


"Dasar cucu siapa sih ini," balas Nena ikut menggoda sang cucu, yang juga ikut terkekeh lucu di hadapannya.


"Cucu bobo, cucu Kung-kung," timpal Queeneira dengan nada ceria, sehingga ia dihadiahi dengan kecupan dan pelukan dari kakek dan neneknya.


Setelah Queeneira selesai berpamitan. Gavriel, Selyn dan Ezra pun bergantian berpamitan, lalu tidak lama kemudian mereka pun jalan bersama menuju tempat boarding. Melakukan pengecekan tiket pesawat, masuk ke dalam pesawat dan duduk sesuai nomor tiket yang tertera.


Lima jam perjalanan kali ini terasa berbeda, saat adiknya juga asik dengan kegiatan sendiri, sedangkan sepupu dan sahabatnya juga melakukan kegiatan sendiri, meskipun terkadang ia melihat keduanya saling berbincang dan tertawa dengan sesuatu yang di lihat.


Seketika Gavriel merasa sendiri, saat adiknya tidak mengajaknya berbicara dan ia tidak tahu harus melakukan apa.


Mungkin jika ia membawa laptopnya, ia akan sedikit menerima melakukan perjalanan seperti ini. Maksudnya, perjalanan tanpa ada obrolan di dalamnya.


Tapi bagaimana bisa ia menerima, jika yang di sampingnya adalah adiknya sendiri, yang sebenarnya gatal ingin mengobrol dengan sang kakak.


"Ya ampun, gini banget ya," batin Gavriel mengeluh, dengan helaan napas dalam sehingga Selyn menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Selyn singkat, kemudian menolehkan ke arah lain, menghindari kontak mata dengan sang kakak.


Jika diperhatikan, ada yang kurang dari pertanyaan sang adik, apakah itu?


Itu adalah panggilan Mas, yang biasa Selyn ucapkan saat memanggil sang kakak.


"Tidak."


Selyn sebenarnya tidak ingin seperti ini, tapi saat mengingat jika Kakaknya membuatnya kesal, ia juga jadi ingin melakukan sama, yaitu membuat kakaknya kesal.


"Oh. Oke."


Selyn merasa seperti sang Daddy saat cuek seperti ini. Ia hampir saja terkikik tapi di tahannya, dengan deheman dan kembali ke kegiatan awalnya.


Baca majalah, lalu menonton televisi di depannya. Meninggalkan sang kakak, yang diam-diam mengela napas sedih, saat Selyn mendiamkannya.


Tadi di toko Queeneira, sekarang Selyn. Astaga! Nanti siapa lagi yang mendiaminya.


Akhirnya mau tidak mau Gavriel pun ikutan diam, menonton televisi dan perjalanan pun serasa seabad, disaat biasanya terasa cepat karena ia biasa berbincang dengan sang adik.


"Liburan yang menyenang, kan. Preeett," batin Gavriel kesal.


Pesawat landing, keempat remaja ini berbaur dengan yang lainnya, keluar dari dalam pesawat berjalan menuju gate arrival. Kemudian dilanjut dengan berjalan ke area parkir mobil, untuk menaiki mobil yang sudah siap mengantar mereka pulang.


Mobil yang menunggu mereka ini adalah mobil suruhan Dirga, mereka akan diantar sampai kediamanan Wijaya, karena kebetulan orang tua mereka akan landing beberapa jam setelahnya.


Di kursi bagian depan Gavriel duduk diam, menghadap ke arah jendela sedangkan yang lainnya tertidur dengan kepala saling menyandar.


Itulah alasannya ia lebih memilih melihat luar, untuk menghilangkan rasa cemburu, saat ingat jika yang sedang di cemburuin adalah sepupunya. Juga karena seseorang yang membuatnya cemburu bukanlah siapa-siapanya, hanya sebatas sahabat tidak lebih.


Suasana tidak benar-benar sepi, saat sang supir memutar lagu dari Al Gazal__Galau. Lagu yang membuat seseorang merasa tertohok, saat liriknya entah mengapa mirip dengan statusnya.


Cinta itu buta dan tuli 🎶


Tak melihat tak mendengar


Namun datangnya dari hati🎶


Tidak bisa dipungkiri


Itu benar memang benar🎶


Gavriel memijat keningnya, saat merasa suasana tiba-tiba berganti atmosfer.


Cinta itu ruang dan waktu


Tak sekejap harus mau🎶


Cinta butuh ruang yang sepi


Tuk mengutarakan hati


Kamu aku bincang bincang🎶


Mau bilang cinta


Tapi takut salah🎶


"Kalau cinta ya tinggal bilang, kenapa takut salah," batin Gavriel mendengar dengan hati aneh, setiap lirik lagu yang dinyanyikan oleh si penyanyi.


Bilang tidak ya?🎶


Bilang tidak ya?🎶


"kenapa, Den Gavriel ?" tanya si supir, Pak Anto yang dari sebelum lahir Gavriel sudah bekerja dengan keluarga Wijaya, atau juga supir pribadi sang Mommy.


Pak Anto merasa aneh dengan Tuan mudanya, yang biasanya menampilkan raut wajah tenang, tapi sekarang seperti ada yang sedang menggangu.


"Ah! Hn, tidak apa-apa, pak Anto."


Gavriel tidak menjawab apa adanya, ia juga hanya melirik sekilas lalu melihat lagi ke arah luar, masih dengan lagu galau yang mengiri perjalanan mereka.


"Oh! Kirain bapak, Den Gavriel kenapa," sahut Pak Anto kemudian fokus mengemudi lagi.


Lagu masih berlanjut, dengan lirik yang lebih menohok lagi, sehingga Gavriel ingin sekali rasanya mengganti lagu yang sedang di putar. Tapi tidak, ia berusaha biasa saja, menganggap lagu adalah lagu. Tidak ada urusannya dengan hatinya saat ini.


Mau bilang sayang tapi bukan pacar🎶


Tembak tidak ya?

__ADS_1


Tembak tidak ya?


Tembak tidak ya?🎶


Tembak tidak ya?🎶


"Ck ... Harus ya diulang mulu, dibilang tinggal tembak aja."


Meskipun raut wajah Gavriel datar, karena tidak bisa protes tentang lagu, nyatanya ia misuh-misuh kesal namun dalam hati. Sambil menyumpah serapahi lirik lagu yang didengarnya.


"Fak," batin Gavriel lagi-lagi mengumpat.


Cukup sudah cinta yang aku berikan🎶


Tulus dari hatiku ini yang paling dalam


Semoga kau mengerti


Semoga kau mengerti🎶


Mau bilang cinta tapi takut salah🎶


Bilang tidak ya?


Bilang tidak ya?🎶


Di bait terakhir ini, Gavriel bisa mendengar lenguhan seperti orang bangun tidur, dari salah satu orang yang duduk di belakangnya.


Ia melihat dari kaca kecil dalam mobil, siapa itu dan menemukan Queeneira lah yang bangun, menegakkan tubuh setelah menguap kecil.


"Sudah bangun, Que?" tanya Gavriel tanpa menoleh, menuai gumaman kecil dari Queeneira, yang lebih memilih melihat luar dari pada menanggapi pertanyaan Gavriel.


"Hn."


"Hais, masih kesel yah," batin Gavriel miris. Kemudian suasana hening, masih dengan lagu galau mengiringi.


"Lagu nggak kelar-kelar," lanjut Gavriel masih dalam hati. Dan untunglah beberapa saat kemudian lagu pun selesai, bertepatan dengan mobil memasuki pekarangan rumah Wijaya.


Mau bilang sayang tapi bukan pacar🎶


Tembak tidak ya?


Tembak tidak ya?


Tembak tidak ya?🎶


Tembak tidak ya?


Tembak tidak ya?


Tembak tidak ya?🎶


"Akhirnya selesai juga lagunya," batin Gavriel bersyukur.


Kemudian pak Anto lebih dulu keluar mobil, menuju bagasi untuk mengeluarkan barang-barang milik anak majikannya, meninggalkan Gavriel yang menoleh ke arah belakang, ikut membantu sahabatnya yang saat ini sedang membangunkan adik dan sepupunya.


Setelah memastikan jika sepupunya bangun, Gavriel pun turun dan bersiap untuk membawa adiknya, yang susah jika dibangunkan untuk di gendongnya.


Ceklek!


"Belum bangun juga?" tanya Gavriel, saat Ezra masih menepuk pelan pipi Selyn yang tidurnya pulas sekali.


"Kebo, mana bangun," sahut Ezra dengan suara serak.


"Ya sudah, biar aku yang bopong ke dalam," putus Gavriel, kemudian membuka jaket yang di pakainya untuk menutupi paha sang adik, yang memakai rok.


Hup!


Akhirnya Selyn pun ada di gendongan Gavriel, yang mengangkatnya biasa tanpa ada rasa beban. Mendahului dua yang lainnya, berjalan ke arah pintu rumah namun berhenti lagi.


Ia berhenti berjalan dan menoleh ke arah pak Anto, yang saat ini sedang mengeluarkan koper dan barang-barang.


"Pak!" panggil Gavriel, dengan pak Anto yang segera menjawab, menghentikan kegiatannya yang saat ini sedang mengeluarkan koper.


"Iya, den Gavriel," sahut pak Anto dengan kening berkerut penasaran.


Gavriel ragu ingin mengatakannya, tapi saat ingat rasa kesalnya ketika mendengar lagu di dalam mobil, ia pun dengan tidak peduli melanjutkan ucapannya, menyampaikan maksudnya memanggil sang supir.


"Pak! Lain kali jangan putar lagu galau yang tadi. Saya nggak suka," ucap Gavriel kemudian dengan cepat meninggalkan Pak Anto, yang hanya berkedip bingung tidak mengerti alasan anak majikannya tidak suka lagu yang tadi.


Sedangkan Queeneira, yang melihat pak Anto bingung pun mendekati pak Anto dan bertanya dengan penasaran.


"Kenapa, Pak?"


"Tidak tahu Non, emang apa yang salah dengan lagu galau."


Jawaban yang diberikan oleh pak Anto membuatnya juga bingung, ia menoleh ke arah di mana sahabatnya sedang berjalan dengan Selyn di gendongannya, lalu menoleh lagu ke arah pak Anto.


"Lagu galau yang tadi?"


"Iya, Non."


"??"


Dan Queeneira pun ikut bingung, menatap ke arah sahabatnya lagi dengan kening berkerut.


"Lagu galau, apa hubungannya sama dia yang tidak suka."


Yah ... Siapa yang tahu, hanya karena lirik yang menohok si pendengar, akhirnya lagunya pun ikut-ikutan tidak di sukai oleh si pendengar.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2