
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya
Di ruang tamu kediamanan Dirga, sudah berkumpul tiga keluarga cemara, yang akan melakukan perjalanan liburan dengan tujuan berbeda.
Mereka menyebut ini liburan mandiri untuk anak-anak mereka, karena benar, jika liburan kali ini mereka akan melepas dan membiarkan anak-anak mereka, berlibur tanpa pengawasan mereka.
Jika para orang tua kali ini memilih Paris sebagai destinasi liburan, maka beda dengan empat remaja yang memilih Hongkong sebagai tempat tujuan liburan mereka.
Mereka juga sengaja menginap di rumah milik Dirga, agar bisa berangkat bersama dan berharap bisa menjalani perjalanan panjang ini, dengan tanpa kekurangan satu apapun.
Di ruang tamu sudah berkumpul, para Daddy namun tidak dengan para Mommy serta anak-anak mereka, yang lebih memilih untuk kumpul di tempat lain.
Padahal hari sudah larut, besok juga mereka akan berangkat jam lima subuh untuk menunggu take off di jam enam pagi.
Para orang tua lebih memilih di jam itu, agar anak-anak mereka bisa istirahat dan sampai tujuan di siang hari, agar keesokan harinya mereka cukup istirahat untuk memulai liburan mereka .
Saat ini tiga Daddy tampan tapi edan sedang duduk bersama, ngobrol ngalur-ngidul saat ketiganya tidak ditemani oleh pasangan masing-masing.
Mereka sudah lama tidak kumpul seperti ini, membuat mereka seakan bernostalgia, saat kumpul hanya bertiga tanpa yang lain ikut serta.
"Ga! Anak-anak suruh istirahat gih, besok kita berangkat subuh, kan," ujar Raka tiba-tiba, saat melihat pukul waktu di jam besar yang terpajang indah di ruang santai.
Di sampingnya ada Faro, yang juga melihat jam besar itu untuk melihat waktu, sebelum mengangguk menyetujui ucapan sahabat kampretnya. .
"Hn, kenapa gue dah," dengkus Dirga saat mendapat perintah seenaknya, namun tetap berdiri juga dari duduknya saat mendengar jawaban kompak dari kedua sahabat strongnya.
"Karena pilihan kita cuma lu."
"Ck ... Bangke lu pada," dengkus Dirga sebelum pergi meninggalkan dua sahabatnya,
untuk menghampiri anak-anak mereka yang sedang duduk di teras depan rumahnya.
Dirga berjalan santai, sambil melihat isi rumahnya yang jarang ia perhatiankan.
Senyum kecil terbit di bibirnya, saat melihat bingkai berisi foto yang terpajang apik, memenuhi dinding khusus foto keluarganya.
Ia tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan, melihat empat remaja yang dulu nakalnya minta di gampar, dari anaknya serta anak sahabatnya, tumbuh dengan tanpa kekurangan.
Waktu cepat berlalu, kini saatnya ia melepas tangan, agar anaknya bisa tumbuh mandiri dengan ia, sebagai penonton, pembimbing dan penyemangat dari belakang.
"Terkadang gue rindu saat Gavriel kecil, Selyn kecil, saat mereka akan lari kepelukan gue sepulangnya gue dari kantor," gumam Dirga sedih.
Ia pun menggelengkan kepalanya, menghilangkan efek melow yang selalu muncul saat ia mengingat masa lalu, masa kecil anak-anaknya.
Kakinya melangkah lagi, berjalan ke arah teras depan, untuk menghampiri anak-anaknya, yang saat ini sedang berbincang dengan sesekali ada tawa dari keempatnya.
Moment paling indah di hidupnya adalah moment saat melihat kesayangannya tertawa seperti itu.
Dari sini ia bisa melihat si bungsu, yang sedang menatap anak sulungnya kesal. Entah karena apa, karena ia tahu pasangan kakak dan adik itu memiliki cara berbeda, untuk menyampaikan rasa sayang mereka.
"Wah! Mas curang, seha-
"Apa kalian tidak melihat, pukul berapa saat ini?"
Ucapan Selyn terpaksa berhenti, saat Dirga dengan tiba-tiba menyela ucapan kesal si bontot, dengan mereka yang melihat ke arahnya segera.
"Dadd!/Unkel!" seru keempatnya bersamaan.
Dirga menggelengkan kepalanya tidak heran, saat melihat sendiri bagaimana interaksi keempatnya.
"Besok kalian ada penerbangan pagi sekali, sebaiknya sekarang kalian istirahat," lanjut Dirga dengan nada datar, saat hanya mendapatkan tatapan dari keempat remaja di depannya.
"Hn."
Lain Gavriel lain lagi dengan Selyn, putri bungsunya, yang segera berdiri dari duduknya, untuk bergelayut manja di lengannya, membuat Dirga mendengkus namun juga terkekeh geli di saat bersamaan.
"Dadd juga besok ada penerbangan pagi kan, kok belum tidur?" tanya balik Selyn, lengkap dengan bibir mengerucut kesal.
Mereka memang akan terbang selama lima jam ke negara Hongkong, sedangkan Daddynya lebih lama dari mereka, tepatnya tujuh belas jam lamanya.
"Ini mau istirahat tidur, tapi saat Daddy ingat kalian belum istirahat, Dadd jadi kepikiran," sahut Dirga dengan tangan mengusap lembut sisi wajah sang putri, yang masih menempel di lengannya.
"Oke, El istirahat sekarang. Nanti disana, Dadd jangan kangen yah sama El, soalnya El nggak akan kangen sama Dadd," ucap Selyn menggoda sang Daddy, saat melihat tatapan sedih dari Daddynya.
Selyn tahu kok, Daddynya sedang merasakan perasaan tidak rela, maka itu ia lebih baik menggoda sang Daddy, agar Daddynya tidak kepikiran dengan perjalanannya dan kakaknya nanti.
__ADS_1
Ini adalah perdana ia dan kakaknya liburan tanpa ada yang mendampingi, meskipun ia takut tapi sebenarnya ia juga menanti saat-saat bisa liburan bebas seperti esok hari.
Bagaimana yah, pokoknya ia senang bisa liburan bebas tapi juga takut, jika nanti ada apa-apa dengan mereka di negeri orang sana.
"Kata siapa Dadd akan kangen sama El, justru Dadd akan bersenang-senang dengan Momm sampai puas, melupakan El," timpal Dirga balik menggoda putri bungsunya, yang kini menampilkan raut wajah kesal, dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut lucu.
"Ish ... Dadd, gigit nih. Jahat banget, El ikut Momm dan Dadd saja kalau begitu," dumel Selyn main-main, menuai kekehan dari Dirga yang merasa lucu dengan tingkah sang putri.
"Ha-ha-ha ... Oke-oke, sebaiknya kalian sekarang istirahat. Besok akan menjadi hari yang melelahkan untuk kalian," putus Dirga disela-sela kekehannya.
"Hn / Oke! / Siap Unkel."
Jawaban dengan nada dan intonasi berbeda yang diterimanya membuat Dirga geleng kepala, apalagi saat mendengar gumaman dengan nada datar dari anak sulungnya.
Ia tidak marah dan kesal dengan anak sulungnya, saat ia sendiri sadar sering melakukan itu dengan Papanya dulu.
Ini kah yang disebut kurma-
(Karma oy! Iya karma)
Iya karma atas sikapnya yang dulu hingga sekarang tidak berubah, masih saja bengkeng dan seenaknya kepada Papanya.
"Baiklah Dadd, El dan Mba Que istirahat duluan, oyasuminasai otou-sama," ujar Selyn kemudian mengecup pipi sang Daddy.
"Hn, oyasuminasai, el-chan," balas Dirga balik mengecup kening putrinya.
"Yuk Mba, kita pillow talk berdua," ajak Selyn yang di angguki kepala mengiyakan dari Queene.
"Unkel, Queene istirahat duluan. Sampai besok," ujar Queene yang dibalas anggukan kepala dari Dirga.
"Hn, selamat beristirahat."
"El, Mas ez, ikut dong!"
Seruan dari sepupunya membuat Selyn menghentikan langkahnya, balik melihat sepupunya dengan lidah menjulur, lengkap dengan ekspresi meledeknya.
"Sorry aja yah Mas, ini nih girls only. Kalau Mas mau ikut, pake rok dulu gih. Bleeehhh!" ledek Selyn sebelum melenggang pergi, meninggalkan Ezra yang mendumel, serta Gavriel dan Dirga, yang menggelengkan kepala mereka tidak heran.
"Ck ... Nggak asik main beda-bedain gender," gerutu Ezra sebal.
Ezra dan rasa ingin tahunya, adalah turunan dari Amira, yang kepo dan selebornya minta dianiaya.
Dari tempat mereka duduk dan berdiri, mereka bisa mendengar seruan Queeneira, yang menegur Selyn.
"Ayok kita gibah jama'ah Mba, mumpung tidak ada Mas Gav dan Mas Ez."
"Hei! Kami dengar!"
Selyn semakin cekikikan dengan Queene yang geleng kepala, meninggalkan Dirga, Gavriel serta Ezra yang melihat ke arah mereka dengan gelengan kepala.
Sepeninggalnya dua remaja perempuan tersebut, kini sisa tiga laki-laki saling pandang.
"Sebaiknya kalian juga istirahat, besok akan jadi perjalanan panjang untuk kalian," perintah Dirga dengan nada datar andalanya, menuai jawaban sama datarnya dari sang anak, namun beda dengan anak dari sepupu__sahabatnya yang menjawab semangat.
"Hn."
"Oke, Unkel!"
Dirga tidak marah akan jawaban datar anaknya, ia cukup maklum dengan tabiat anaknya yang sebelas-duabelas dengannya.
"Selamat malam, Dadd / Unkel."
"Selamat malam."
🍃🍃🍃🍃🍃
Di tempat lain, tepatnya di sebuah Kediamanan lumayan mewah milik keluarga Desmon.
Di dalam kamarnya, Keineira anak dari pasangan Reno dan Indy ini, baru saja selesai mengemas barang-barang keperluannya selama liburan nanti.
Liburan perdananya tanpa didampingi oleh kedua orang tuanya, karena liburan kali ini ia akan liburan dengan dua temannya, dengan tujuan wisata negara beton sana.
Di atas ranjangnya Kei tersenyum dengan bahagia, saat mengingat lagi cerita berujung mereka yang menyepakati untuk libur bersama esok hari.
Ia tidak menyangka, jika apa yang temannya bilang dengan sebutan anu adalah hal yang sangat menggembirakan baginya.
"Aku rasa Tuhan selalu memberikan aku jalan, agar aku bisa selalu dekat dengannya," gumam Kei senang, saat ingat jika satu minggu kedepan, mungkin ia bisa selalu bersamanya.
Flasback on
Di kelas dengan papan nama 10 IPS 1, telah berkumpul murid yang sedang menunggu di mulainya pembagian hasil penilaian akhir belajar atau juga bisa disebut dengan pembagian raport.
__ADS_1
Di antara kegiatan para murid kelas tersebut, ada tiga perempuan remaja yang sedang terlibat dalam pembahasan serius.
Intan, yang tadi mengajak Keineira untuk lebih dulu ke kelas sedang bercerita, mengenai hal yang ia pikir pasti akan membuat kedua temannya juga senang.
"Apa! Jadi, maksud kamu kamu dapat tiket cuma-cuma dari ayah kamu, karena ayah kamu ada kegiatan yang lebih penting lainnya. Lalu karena tidak ingin tiket ini sia-sia begitu saja, ayahmu memberikan ini untuk kita, lengkap dengan akomodasinya. Begitu kah, Intan?" tanya Raiya dengan nada lebaynya, membuat Kei dan Intan yang mendengarnya menutup wajah malu, apalagi saat melihat beberapa murid melihat ke arah mereka.
"Astaga, Raiya," desah keduanya, menatap tidak heran ke arah Raiya, yang hanya memberikan cengiran canggung.
"Maaf-maaf, he-he ..." ucap Raiya dengan kekehan canggungnya.
"Dasar lebay," dengkus Intan dan Kei bersamaan.
Di antara ekspresi malu akan kelakuan temannya, Raiya. Kei yang juga senang dengan berita ini menyembunyikan kesenangan, dengan senyum kecil namun hati bahagia luar biasa.
Dalam hatinya berpikir, jika libur kali ini bukan hanya liburan seru, tapi juga liburan anugerah untuknya.
Bagaimana bisa ia tidak menyebutnya anugerah, jika ia yang tadinya berpikir tidak bisa menghabiskan waktu liburan dengan dia, tiba-tiba diberi jalan untuk bisa menghabiskan liburan bersama.
Senyum yang di tampilkan oleh Kei membuat dua sahabatnya mengernyit bingung.
Ada apa, pikir mereka.
"Kamu kenapa, Kei?" tanya Intan dengan segala keingin tahuannya.
Kei pun menoleh ke arah Intan, lalu tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan temannya, Intan.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa bersyukur," sahut Kei tanpa menjelaskan, tentu saja membuat mereka semakin penasaran.
"Bersyukur? Untuk apa?" tanya keduanya semakin penasaran.
Keineira menghela napas, saat mendengar dan melihat ekspresi penasaran dari dua temannya.
"Huft ... Baiklah, aku jelaskan."
Kei pun melihat lagi ke arah dua temannya, kemudian tersenyum lagi, senyum bahagia dengan tambahan rona malu di kedua pipinya.
"Itu ... Kalian ingat kan, tadi pagi aku berangkat dengan Gavriel?" ujar Kei bertanya kepada dua temannya, yang mengangguk memgiyakan pertanyaan darinya.
"Terus kenapa?" tanya keduanya gagal paham.
"Heum ... Sebenarnya, mereka juga akan liburan di tempat sama, tempat yang akan menjadi tujuan kita liburan nanti," lanjut Kei dengan suara kecil, namun cukup untuk membuat kedua temannya kaget, karena kebetulan yang tidak disangka-sangka ini.
"Kamu serius, Kei?" tanya keduanya dengan nada kaget yang kentara, menuai anggukan kepala tanda iya, dari Kei yang tersenyum lebar.
"Iya!"
"Wah! Bukan kah ini yang disebut jodoh!" seru Raiya senang, sama dengan Intan yang menaik-turunkan alis menggoda.
"Cieee ... Yang jodoh mah nggak kemana," goda Intan bersiul dengan sengaja.
"Ih! Apa sih, kalian ini."
"Ha-ha-ha!!"
Flasback end
Dengan begitu, disini lah mereka bertiga.
Keineira, Intan dan Raiya, yang didampingi oleh orang tuanya masing-masing, sedang duduk di lobby, menunggu pesawat yang akan membawa mereka terbang menuju negara yang sama, dengan negara yang akan menjadi destinasi liburan Gavriel, Queeneira, Ezra serta Selyn.
"Kalian hati-hati di sana, jangan lupa hubungi kami jika sudah sampai. Nanti ada seseorang, yang akan menjemput kalian di bandara sana. Ingat jangan mudah percaya dengan orang asing," wanti Reno kepada tiga remaja, yang akan menghabiskan waktu liburan tanpa mereka yang menemani.
Awalnya Reno tidak percaya, tapi semuanya berubah, saat sang anak menyebutkan nama seseorang, yang membuatnya segera menyetujui.
Ia yakin jika ini adalah cara Tuhan, untuk menyatukan anaknya dengan anak dari keluarga besar Wijaya.
"Baik Pah, Kei akan langsung hubungi Papa, kalau sudah sampai di penginapan nanti," balas Kei dengan nada semeyakinkan mungkin. Membuat Reno dan Indy percaya, dengan Indy yang segera memeluk anaknya sayang.
"Dekati terus Gavriel sayang, jangan mau kalah dengan remaja keturunan Wardhana," bisik Indy menyemangati, membuat Kei tersentak kaget tapi tidak lama, saat senyum dan anggukan kepala semangat dari anaknya, yang membuat Indy tersenyum bahagia.
"Have fun, darling," ujar Indy mengurai pelukannya dan menatap anaknya dengan senyum lebar.
"Of course, Mom. See you," balas Kei, lalu melenggang pergi bersama dua temannya, satelah menyalami orang tua dari dua temannya.
"Kita akan bertemu lagi, Gavriel."
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Terima kasih kak atas dukungannya.
Sampai babai.