Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
My Turn ~ Berita Atau Gosip


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Seminggu berlalu, dari kejadian Gavriel dan Queeneira di UKS.


Acara bakti sosial pun sudah selesai dilaksanakan, dengan Wijaya sebagai pembuka acara.


Gavriel pov on


Ini sudah lebih dari waktu, saat aku dan dia berdua di UKS. Aku kira, setelah aku dan dia berbicara santai di UKS, aku dan dia akan kembali bisa jalan bersama lagi. Tapi nyatanya tidak, bahkan saat aku masih berada di UKS, sahabatku dengan santai berbicara dengan kakak kelas kami, yang saat itu menyusul sahabatku untuk melanjutkan tugas mendata barang keperluan bakti sosial.


Saat ini aku sedang duduk di balkon atas, sendirian. Aku sedang melihat bintang di atas sana, bintang terang kesukaanku, bintang yang dulu aku lihat bersama mereka, saat kami masih memiliki waktu untuk bersantai tanpa beban memikirkan hal lainnya.


Aku mengingat pembicaraanku dengan Daddy dan Mommy. Meskipun mereka bilang ini terserah aku dan akan mendukung apapun jika itu untuk kebaikanku. Tapi, aku sendiri merasa ini keputusan yang berat untukku.


El sampai sekarang belum tahu, karena aku tahu dia pasti akan tidak akan setuju jika mendengarnya.


Sepupuku__Ezra juga belum aku beri tahu, aku bahkan menghindar jika dia bertanya tentang apa yang sedang aku pikirkan.


Lalu sahabatku__Queeneira, bahkan terakhir kali aku bisa berbicara santai saat di UKS, selebihnya dia akan bersama kakak kelas, yang sepertinya memang sengaja menarik atau membawanya pergi, ketika aku sedang ingin menghampirinya.


Kakak kelas itu sepertinya sengaja, ingin membuat aku terus-terusan melihat bagaimana kedekatan mereka berdua.


Sialan.


Ini membuatku kesal, tapi ini juga keputusanku, yang ingin melihatnya bahagia dengan yang lainnya.


Bukan hanya karena keputusanku untuk mengikhlaskan, tapi juga karena sebentar lagi aku tidak bisa menjaganya.


Huft ... Aku harap, Ge bisa jaga Queeneira, selagi Ezra nggak di sampingnya.


Waktu semakin larut, aku memutuskan untuk istirahat karena besok aku harus kembali sekolah.


Aku menuruni tangga santai, lalu berjalan menunju kamarku berada. Dari tempatku berjalan saat ini, aku bisa melihat Daddy berdiri menyandar di depan pintu kamarku.


Ada apa, pikirku penasaran.


Aku pun segera menghampiri Daddy, berdiri di hadapan Daddy yang mengendikkan kepalanya, menunjuk ke arah kantornya yang berada di sebelah kamarku.


Aku hanya menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Daddy. Masuk setelah beliau membuka dan mempersilakan aku masuk lebih dulu.


"Duduk!"


Aku pun duduk, dengan beliau yang berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil map dan berjalan ke arahku.


"Dadd sudah tanda tangan, juga sudah mengirimnya melalui e-mail. Hanya tinggal menunggu jadwalnya saja."


Aku mengangguk, saat beliau menjelaskan sesuatu yang sudah aku mengerti, karena ini juga adalah pembahasan yang aku bahas dengan Daddy tempo lalu.


"Ini, kamu baca."


Tanpa banyak tanya, aku mengambil map yang diulurkan oleh Daddy, kemudian membacanya dalam hati barisan kalimat di dalamnya.


Setelah selesai, aku melihat beliau, yang juga melihatku dengan ekspresi datar seperti biasa.


"Jadi, maksudnya. Aku akan memegang kendali, setelah aku selesai kuliah, begitu Dadd?" tanyaku dengan Daddy yang mengangguk.


"Dani yang akan memegang awalnya, jadi kamu dan Dani akan di sana. Daddy mau kamu tinggal dengan Dani di dekat kamu, bagaimana?"


"Tapi Unkel Dani sudah punya istri dan anak yang um-


"Daddy nggak minta kamu tinggal dengan Dani dan istrinya, tapi kamu akan tinggal di dekat mereka, dengan Dani yang jadi wali kamu. Kamu ngerti kan, rasa khawatir Mommy kamu seperti apa."


Aku menghela napas, kemudian mengangguk mengerti.


"Baik, Dadd."


"Kamu tidur, istirahat yang cukup."


"Daddy juga," balasku, berdiri dari dudukku setelah beliau membalas ucapanku dengan anggukan dan gumaman seperti biasa.


"Hn."


"Selamat malam, Dadd."


"Selamat malam, Gavriel."


Blam!


Aku menutup pintu dengan pelan, kemudian melanjutkan langkahku menuju kamarku.


Keesokan harinya


Seperti biasa aku akan bangun pagi, melakukan ritual olahraga dan setelah selesai olahraga barulah bersiap untuk sekolah.


Menuruni tangga dengan tas tersampir di bahu dan sesekali memutar kunci mobil, aku bisa mendengar suara kekehan senang dari dua perempuan kesayanganku, saat aku berdiri di ambang pintu dapur.


Aku merekam tawa keduanya dalam diam, saat aku sadar jika setelah ini, aku belum tentu bisa melihat langsung kebahagiaan keduanya.


Saat aku diam melihat keduanya, aku melihatnya adik kesayangaku melambaikan tangan, memanggil namaku dengan senyum lebar.


Ah! Untunglah aku tidak kehilangan adikku, saat kemarin, sewaktu liburan, aku selalu membuat adikku kesal.


"Mas! Kita jemput mba yuk!"


Jemput yah.

__ADS_1


Aku ingin mengangguk mengiyakan ajakan dari adikku, tapi saat aku ingat jika akhir-akhir ini sahabatku dijemput kakak kelas, aku jadi bingung harus menjawab apa.


"Mas kok diam saja, ayo jemput Mba Que."


Selyn melihatku dengan ekspresi memohon dan mengulangi pertanyaannya, membuatku menghela napas lebih memilih menepuk pelan kepalanya, yang masih menatapku penuh harap.


Puk! Puk! Puk!


"Coba kamu tanya dulu," ujarku dengan lembut, sehingga adikku pun mengangguk mengikuti perkataanku.


"Ok! Tunggu, El telpon Mba Que dulu."


Seperti biasa, El selalu semangat jika itu berhubungan dengan sahabatku.


Dasar.


Sebenarnya apa sih yang kamu punya, sehingga adikku pun sangat menyukaimu?


Aku bisa melihat El yang menampilkan wajah berseri, namun berangsur muram saat menutup panggilan dan melihatku dengan ekspresi kecewa.


"Kenapa?" tanyaku, tapi tanpa dijawab pun aku tahu, apa yang akan diucapkan oleh adikku.


"Nggak bisa Mas, mba Que bilang, ada yang jemput sekolah."


Apa kataku, emang seperti itu kok.


"Ya sudah, kita berdua saja kan bisa. Nanti mas bilang, besok-besok El mau jemput yah, bagaimana?"


"Oke deh Mas!"


Meskipun adikku menjawabnya dengan senyum, tapi aku tahu jika saat ini adikku sedang kecewa.


"Kalian berangkat berdua?"


Kami segera menoleh ke asal suara, di mana Mommy kami sedang berdiri dengan tangan cekatan menyiapkan sarapan.


"Iya, Momm. Mba Que tidak bisa ikut, dijemput katanya."


Adikku seperti biasa, akan terbuka jika Mommy sudah bertanya kepada kami.


"Dijemput? Wah! Sepertinya Que-que sudah punya kekasih yah. Sudah dijemput segala macam."


Kekasih.


"Hah! Kekasih Momm! Lalu bagaimana dengan Mas Gavriel?"


Uhuk!


"Loh ... Kok kamu tersedak, sayang. Hati-hati dong minumnya."


Aku tidak menggubris perkataan Mommy. Sibuk menetralkan rasa sakit pada tenggorokanku, dengan El yang menepuk-nepuk punggungku pelan.


"Mas bagaimana sih, hati-hati dong," omel Selyn dengan santainya, tidak merasa jika dia lah yang menyebabkan aku tersedak seperti ini.


Di ujung pintu dapur, ada Daddy yang berjalan pelan dan menarik kursinya untuk duduk, dengan Mommy yang sigap memberikan secangkir kopi hitam panas kepada Daddy.


"Arigatou, koi. (Terima kasih, sayang)"


"Doiteshimasita. (Kembali)"


Aku melihat bagaimana kedua orang tuaku mesra disetiap harinya.


Terkadang aku pun berpikir, apakah nanti saat aku memiliki seorang pendamping, aku akan menemukan seseorang seperti Mommy dan juga apa bisa aku seperti Daddy.


Entah, aku kira itu masih lama.


Lagian, ada yang lebih penting dari pada itu semua.


Aku hanya memiliki waktu lima tahun, untuk bisa membuktikan jika aku mampu melampaui Daddy.


Kami pun menikmati sarapan dengan obrolan santai, membahas apapun. Terkadang juga akan terdengar kekehan saat kami merasa itu lucu.


Setelah selesai dengan acara sarapan, kami pun berangkat menuju tempat aktivitas kami masing-masing.


Akhir-akhir ini aku suka membawa mobil, karena sepulang sekolah aku harus ke kantor dan artinya aku harus membawa pakaian juga laptopku.


Akan sangat merepotkan, jika aku melakukan perjalanan pulang dan pergi.


Selyn duduk di sebelahku, sibuk menghidupkan lagu kesukaannya dan aku harap lagu yang akan ia putar bukan lagu galau lagi. Kalau tidak aku tidak akan ragu, untuk membuang pemutar lagu dan membiarkan mobilku sunyi selamanya.


"Mas, ini lagu dari Red velvet__Psycho, bagus loh."


Aku hanya bergumam saat adikku mengikuti lirik lagu, dari lagu girlband kesukaanya.


Aku pikir terserah, selagi itu bukan lagu galau, aku akan ikut menikmatinya.


Di depanku ada lampu merah, kami pun berhenti di samping mobil berwarna hitam yang terlihat familiar.


Aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana.


Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, fokus dengan jalan di depanku menunggu lampu berganti. Tadinya ingin seperti itu, tapi aku kembali melihat ke arah samping saat adikku mengguncang lenganku, dengan jari menunjuk ke arah luar tepatnya ke arah mobil hitam, yang jendelanya terbuka.


"Mas! Itu mba Que. Kenapa sama kakak yang waktu itu kita liburan. Siapa namanya?"


"Ge."


"Iya, Mas Ge. Apa mereka sekarang memiliki hubungan? Kenapa mereka dekat seperti itu, mba Que juga tertawa seperti itu."


Aku hanya diam mendengar apa yang dikatakan adikku secara terus-menerus. Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah lain, asalkan tidak melihat ke arah di mana keduanya saat ini.


Sial.

__ADS_1


"Mas, jawab El dong!"


Aku segera menginjak gas dan memindahkan persenling, mengindahkan pertanyaan adikku yang masih melihat ke arah mobil hitam itu berada.


Arah sekolah yang beda persimpangan, membuatku sedikit lega saat aku tidak perlu lagi melihat keduanya bercanda seperti itu. Aki juga lega saat adikku tidak melihatnya lagi, sehingga aku tidak perlu mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak ingin aku dengar.


Aku lebih baik menulikan pendengaranku, jika ujungnya pertanyaan seperti itu yang aku dengar dari adikku.


Memang apa lagi yang aku harapkan. Bukan kah ini yang aku mau, dia bahagia dengan yang lainnya.


Tidak lama kemudian, kami pun sampai di depan gerbang sekolah.


"Sudah sampai, belajar yang benar. Got it."


"Got it, tapi Mas ...."


Aku mengangkat sebelah alisku, saat melihat ekspresi ragu di wajah adik kesayanganku. Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan yang tadi.


"Hm. Ada apa?"


"Mas, Mas belum jawab pertanyaan dari El."


Adikku yang keras kepala, tidak akan menyerah jika pertanyaannya belum dijawab dengan jelas.


Lebih baik aku pura-pura tidak mendengar.


"Pertanyaan apa, El?"


"Mas, jangan pura-pura tidak mendengar."


"Memang Mas tidak mendengarnya, El."


Aku menjawabnya dengan nada tenang, tidak ingin kelihatan sedang menghindar saat aku yakin, jika Selyn tidak akan begitu saja percaya.


"Bohong Mas!"


"Lalu apa yang ingin El dengar, sebagai jawaban?"


Adikku melihatku dengan bibir digigit khawatir dan itu membuatku tidak tega, sepertinya tadi aku terlalu dingin, saat menjawab pertanyaan terakhir darinya.


Aku pun menarik bahu adikku, untuk masuk ke dalam rengkuhanku kemudian mengusap rambutnya sayang.


"El ... Tidak semua pertanyaan harus dijawab. Apalagi yang ditanya bukan orang yang memiliki hak untuk menjawab. Kalau emang El mau tahu jawaban dari pertanyaan El, El bisa bertanya dengan orangnya langsung. Oke, mengerti kan, apa maksud Mas bicara seperti ini?"


Dalam rengkuhanku, aku bisa merasakan anggukan kepala pelan dari adikku. Sehingga aku pun mengurai pelukanku perlahan, melihat dengan senyum kecil dan menepuk kepala adikku setelahnya.


"Belajar yang benar, oke. Jangan pikirkan yang tidak-tidak, wakatta? (Mengerti)"


"Hai ... Wakattaruyo. (Iya ... Mengerti)"


"Good girl, kalau begitu masuk gih. Mas juga harus segera ke sekolah."


"Oke, Mas!"


Blam!


Pintu pun tertutup, dengan adikku yang melambai tangan dan berjalan mundur masuk ke area sekolah.


Setelah memastikan adikku masuk ke dalam, aku pun kembali menghidupkan mesin mobil, melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah sekolah.


Sepuluh menit kemudian aku pun sampai di depan gerbang sekolah, memasuki area parkir dan memarkirkan mobil di tempat kosong.


Sebelum turun dari mobil, seperti biasa aku akan melihat lagi penampilanku yang masih rapih saat aku berangkat dari rumah.


Biasanya rambut acak-acakan nih, pikirku dengan dengkusan merasa lucu, saat lagi-lagi aku memikirkan hal yang tidak penting.


Aku pun turun dari mobilku, berjalan dengan santai dan membalas sapaan dari teman sekolahku, dengan gumamam dan anggukan kepala seperti biasa yang aku lakukan.


Sedang asik berjalan santai, aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku, suara yang aku hapal saat akhir-ahkir ini selalu masuk dalam indra pendengaranku.


"Gavriel!"


Aku berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang dan menemukan teman sekelasku yang berjalan semangat ke arahku.


Terkadang aku berpikir, dari banyak perempuan di sekitarku, kenapa harus dengan sahabatku, aku merasakan rasa posesif. Padahal perempuan di hadapanku ini, dulu juga sempat membuatku berdebar, tapi aku biasa saja tidak ada rasa posesif padahal banyak yang mendekatinya.


Aku pernah bilang, jika aku merasakan debaran dengan dua orang berbeda.


Satu debaran dengan perasaan manis dan satunya juga sama manisnya, namun berbeda dengan tambahan posesif di dalamnya.


"Selamat pagi, Gavriel."


"Hn. Pagi."


Aku menjawab dengan singkat, kemudian melanjutkan langkahku, dengan dia yang ikut berjalan di sampingku.


"Tumben, kamu baru datang, Gav. Lalu, kemana yang lainnya?"


"Hn. Aku antara Selyn dulu, kalau yang lain, mungkin sudah di kelas."


Teman sekelasku mengangguk, kemudian kami pun berjalan bersama menuju kelas. Di sepanjang jalan tidak henti kami di sapa oleh teman-teman, dengan dia yang menanggapinya ramah. Sedangkan aku hanya mengangguk atau juga bergumam.


Di depan kami sudah terlihat pintu kelas kami, di depan sana aku juga melihat sahabatku yang berdiri dan bercanda dengan seorang laki-laki di hadapan.


Awalnya aku ingin mengabaikannya, dengan tetap berjalan tanpa niat meliriknya. Tapi tiba-tiba aku harus berhenti berjalan, saat aku mendengar perkataan teman sekelasku, yang mengatakan suatu berita yang membuatku diam dengan pikiran kosong seketika.


Mereka sepertinya sudah berpacaran. Aku lihat mereka kemarin di perpustakaan Berduaan dan juga ....


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2