Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
My Turn ~ Melihatnya Dengan Yang Lain


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini, Park Won__My Turn.


My turn ditunjukkan untuk Gavriel, jadi jika ada judul dengan awalan ini. Artinya ini lebih mengarah ke apa yang dirasakan oleh Gavriel.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Gavriel pov on


Saat ini aku sedang duduk di depan Daddy, melihatku dengan ekspresi datar seperti biasa, tapi ada yang sedikit berbeda dari ekspresinya.


Kenapa?


Ehem!


Deheman dari Daddy, membuatku menatap Daddy dengan ekspresi bertanya.


"Ada apa dengan wajahmu, Gavriel?"


Ah! Benar juga, aku duduk di hadapan Daddy karena luka kecil di sudut bibirku, jika bukan karena ini aku pasti sedang duduk di depan layar laptopku.


"Tidak ada apa-apa, hanya salah paham."


Aku hanya menjawab seadanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut, karena aku tahu semakin dijelaskan justru Daddy semakin tidak akan percaya.


"Hn. Sudah selesai?"


Aku mengangguk, kemudian Daddy mengulurkan sesuatu ke arahku, dengan aku yang mengambilnya segera.


Sebuah kunci, sepertinya untuk tempat tinggalku.


"Jadi, bagaimana masalahnya. Apa kamu sudah mengerti, lalu menyerah."


Deg!


Aku awalnya tidak mengerti, dengan pembahasan apa yang sedang diucapkan oleh Daddy. Tapi saat aku mendengar kata menyerah, aku pun mengerti dan menganggukan kepala pelan.


"Hn. Itu lebih baik, dari pada aku tidak memberikan kejelasan," jawabku singkat.


Aku mendengar Daddy menghela napas, kemudian menyandar santai di sofa.


"Apa kamu punya firasat, tidak bisa menjalani ini dengan baik?"


"Tidak, tentu saja aku bisa. Aku pasti bisa melampaui Daddy," bantahku, saat Daddy meragukan kemampuanku.


"Baiklah, Daddy hanya ingin apapun itu yang terbaik untukmu, Gavriel."


"Thanks, Dadd."


Setelahnya, kami pun membahas masalah pendidikanku nanti, di New York tepatnya di EF Academy.


Yah ... Aku akan melanjutkan satu tahun pendidikan high senior, untuk mengambil diploma dan berlanjut ke Universitas Harvard.


Sekolah dengan sistem pendidikan cepat, sehingga aku bisa dengan cepat pula memegang kendali memegang perusahaan Daddy di sana, saat unkel Dani mengambil alih pertama, sambil menungguku selesai menuntaskan pendidikanku.


Ini juga adalah alasanku untuk melepas perasaanku, karena aku tahu saat aku sudah menyelam ke dunia seperti Daddy, aku tidak akan punya waktu untuk memikirkan lainnya, hingga aku mampu menggapai dan menggengamnya erat di tanganku.


Aku tidak ingin serakah dengan apa yang ingin aku raih nanti, karena apa yang kita dapatkan belum tentu sejalan dengan apa yang kita bayangkan.


Aku mampu, tentu saja aku yakin itu.


Dan juga, aku melepasnya bukan hanya karena aku takut tidak mampu menjalaninya dengan baik, tapi aku takut mengekangnya dalam perasaan yang belum bisa aku pastikan.


Aku tidak mungkin menyuruhnya untuk menungguku, sedangkan aku tidak tahu kapan aku akan kembali dari masa perjuanganku.


Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untuknya, karena aku yakin jika di sana aku pasti akan tenggelam di dunia sendiri, tanpa ingat jika aku punya seseorang yang harus aku perhatikan.


Aku tidak bisa menggengam tangannya, saat dia butuh seseorang untuk menghiburnya.


Aku tidak bisa menghapus air matanya saat dia sedih, karena aku sudah tidak bersamanya lagi.


Juga ... Aku tidak bisa memberikan kehidupan normal layaknya pasangan, karena nanti jarak jauh memisahkan kami berdua, jadi aku tidak akan memaksakan kehendakku kepadanya.


Setelah selesai dengan diskusi kami, aku pun keluar dari ruangan kantor Daddy, berjalan ke arah kamarku yang hanya berjarak satu kamar dari ruang kantor.


Adikku__Selyn sepertinya sedang di dalam kamarnya, sibuk menyiapkan akselerasinya.


Aku tersenyum bangga dengannya, karena setelah pernaikan kelas nanti, adikku bukan lagi siswi kelas sembilan melainkan siswi kelas sepuluh, dengan sekolah yang sama dengan sepupu dan sahabatku.


Selyn ingin sekali bisa bersama aku dan dua kakak lainnya, tapi sayang, saat El datang aku tidak ada di tengah-tengah mereka lagi.


Huft ....


Sepertinya umurku akan semakin berkurang, karena aku akhir-akhir ini selalu menghela napas.


Dengan segera aku memasuki kamarku, membatalkan niatku yang ingin berbincang dengan adik kesayangaku, adikku yang tadi khawatir dengan mata berkaca-kaca saat melihat luka di sudut bibirku.


Ceklek!

__ADS_1


Blam!


Skip


Pagi datang cepat, aku saat ini sedang berdiri di depan cermin setinggi tubuhku, sedang merapihkan kembali seragam yang aku pakai dan setelah merasa cukup dengan penampilanku hari ini, aku pun keluar kamar dengan adikku yang juga keluar dari kamarnya.


"Selamat pagi, Mas! Lukanya tidak sakit lagi, kan?" tanya adikku, dengan ekspresi khawatir yang kentara di kedua bola matanya.


Aku tersenyum kecil, dengan kepala mengangguk dan menepuk kepala adikku sayang.


"Tentu saja, El. Don't worry."


Adikku mengangguk dengan pelan, kemudian kami pun jalan bersama menuruni anak tangga lalu berjalan menuju ke arah dapur, menghampiri kedua orang tua kami yang saat ini sudah menunggu kedatangan kami untuk memulai sarapan bersama.


Acara makan pagi masih seperti biasa, diisi dengan obrolan tentang hal-hal kecil, hingga tidak terasa makanan kami pun tandas.


Aku berangkat dengan Selyn, yang kali ini tidak banyak bicara dan sibuk dengan buku modul di tangannya.


"Rajinnya, yang mau jadi anak SMA," godaku, dengan adikku yang hanya melihatku untuk meledek balik dan fokus kembali dengan bukunya.


"Bleee ... Iri saja."


Dasar ... Aku yakin, jika El tahu kebenarannya pasti dia akan murka denganku.


Aku sengaja memberitahukan ini nanti saja, saat aku besok atau lusanya akan benar-benar berangkat ke New York.


Aku tidak ingin membuat semangat belajar adikku teralihkan, memikirkan aku yang akan pergi meninggalkannya.


Tidak lama, mobil yang aku kendarai akhirnya sampai di depan gerbang sekolah adikku. Aku menepuk kepalanya seperti biasa, memberi semangat dengan dia yang balas mengecup pipiku, tepat di bagian sudut bibirku yang terluka.


Cup!


"El sayang Mas, Mas jangan terluka lagi yah. El sedih," gumamnya, dengan aku yang merutuki diri sendiri.


Dasar payah, membuat adik sendiri sedih.


"Tentu, ini yang pertama dan terakhir. El, tenang saja, ok," sahutku, kemudian adikku pun meninggalkan mobil, dengan aku yang menatap kepergiannya sendu.


Setelah ini pun aku tidak bisa menjaga adikku, aku akan meninggalkannya untuk waktu yang tidak bisa aku tentukan.


Sial, kenapa sukses susah sekali diraih.


Aku memundurkan mobilku, kembali jalan menuju arah di mana sekolahku berada, setelah mematikan lagu yang tadi di putar El, lagu yang membuatku menahan diri agar tidak mematikan lagu saat itu juga.


Lagu sedih dari negeri gingseng__Korea. Lagu dengan judul My Turn, yang berarti giliranku. Lirik dengan arti yang luar biasa menohok hatiku, saat aku merelakan dirinya untuk sekarang bahagia dengan yang lainnya, lalu menunggu waktu giliranku untuk membahagiakannya, menggantikan tugas seseorang yang sudah dulu membahagiakannya.


Ah! Ribet sekali, padahal itu hanya lagu, tapi kenapa akhir-akhir ini aku baper dengan sebuah lagu galau.


Lagu tembak tidak ya, yang liriknya diulang-ulang lah yang paling membuatku sebal.


Memang mudah jika harus menyatakan perasaan, tapi menjalaninya yang sangat lah sulit.


Terlebih sahabatku adalah anak dari sahabat Daddy.


More than just diffucult, if you know.


Oke stop, jangan bahas yang tidak perlu, sebaiknya aku segera ke kelasku, untuk menghindari tatapan yang memandangku ingin tahu.


Baru melihat aku terluka sedikit saja sudah penasaran, bagaimana kalau mereka tahu jika aku menghajar anak orang kemarin.


Tidak menghajar, hanya membalas satu kali pukulan, tidak lebih.


Memasuki kelas, aku segera duduk di bangkuku yang masih belum berpenghuni, entah kemana orangnya padahal bangku yang lain sudah ditempati oleh pemiliknya masing-masing.


Bangku ini pun hanya tinggal beberapa minggu lagi aku tempati, karena sehabis ujian pernaikan kelas nanti, aku akan meninggalkan sekolah ini yang artinya meninggalkan kelas ini juga.


Aku membuka tasku, mengambil buku juga mengeluarkan laptop untuk mengerjakan beberapa tugas, sebelum pelajaran dimulai.


Tidak lama satu per satu teman sekelasku berdatangan, termasuk dia__sahabatku yang datang bersama kakak kelasku, mengantar hingga depan pintu kelas dan seperti biasa mengobrol santai di depan sana.


Meskipun aku sudah merapalkan mantra ikhlas dalam hati, nyatanya itu semua tidak mempan, saat jantungku berdetak dengan ritma kencang yang membuatku sakit dan tidak nyaman.


Tidak, aku tidak boleh begini. Ini untuk kebaikannya, aku harus bisa melupakan rasa ini.


Kemudian aku pun lebih fokus dengan pekerjaanku, mengetik juga memeriksa barisan kata di keyboard dan layar laptopku.


Aku harus banyak melakukan kegiatan, agar aku tidak memikirkan hal yang membuatku kepikiran dengan masalah hati.


Tidak lama bel tanda masuk pun berbunyi, aku pun menghela napas lega saat akhirnya aku tidak perlu melihat lagi, pemandangan menyakitkan mata di depanku seperti tadi.


Ini adalah hari pertama saat aku memutuskan untuk mengabaikan rasa sakitku. Hari berikutnya aku juga harus melihatnya tertawa bersama teman lainnya, dengan kakak kelas itu turut serta.


Sepertinya, kakak kelas itu mengikuti saranku, untuk memanfaatkan waktu saat sahabatku patah hati.


Bagus ... Aku lebih baik melihatnya bahagia dengan yang lainnya, dari pada mengeluarkan air mata, hanya karena aku yang baru sadar dengan perasaan ini.


Hari berikutnya masih seperti itu, tapi setidaknya bukan hanya dengan kakak kelas kami sahabatku bisa tertawa seperti itu. Tapi dengan siswi lainnya, yang kebetulan satu kelompok di klub memasaknya.


Padahal dulu dia tidak bisa memasak dan bilang tidak ingin masuk klub memasak, dia juga bilang hanya ingin ikut klub karate, agar dia bisa berkelahi melindungi adikku.


Lucu sekali, padahalkan seharusnya aku yang melindungi mereka.


Ini adalah hari ke-tujuh aku menjauhinya, dengan dia yang juga cuek tidak ingin melihatku, hanya saat ada Ezra dan El lah kami bisa ada di satu tempat yang sama. Selebihnya, dia akan menghindariku.

__ADS_1


Lebih baik begitu, bagus Queeneira.


Rasa sayang dan cintamu untukku harus kamu lupakan, jika tidak kamu hanya akan tersakiti.


Lusa adalah hari pertama ujian kami, nanti aku akan berada di ruang ujian berbeda dan waktu yang berbeda, dengan dua orang yang selalu bersamaku.


Aku terpisah dengan mereka, karena abjad absensi kami yang tidak berdekatan.


Tidak apa-apa, karena aku yakin mereka berdua bisa melewati ini dengan baik dan lancar, tanpa ada kekurangan satu hal pun.


Sebelum ujian dimulai, sekolah mengadakan hari istirahat, dimana para murid diperbolehkan santai dengan kegiatan yang ingin dilakukan.


Aku sendiri lebih memilih duduk di stadion basket, melihat Ezra yang berlatih basket dengan teman setim kami di bawah sana.



Lalu sahabatku yang satunya bersama klub memasaknya, Ezra bilang mereka akan praktek memasak mie.


Aku ingin mencicipinya, tapi mana mungkin dia memberikannya padaku.


Bosan hanya duduk saja melihat mereka bermain, aku pun berdiri dari dudukku dan berjalan keluar stadion, sambil mendrible bola basket yang ada di tanganku ke lantai, sehingga menimbulkan suara pantulan menemani langkah kakiku.


Aku ingin mengelilingi sekolah, untuk yang terakhir kalinya. Aku yakin setelah ujian nanti aku tidak punya waktu lagi, sibuk dengan berkas dan dokumen kepindahanku ke sekolah baru.


Aku tidak tahu ingin kemana, yang jelas aku hanya ingin mengelilingi sekolah sendiri tanpa gangguan.


Dug! Dug! Tap! Tap! Dug! Tap!


Lorong semakin sepi, saat aku berjalan ke arah belakang sekolah.


Buat apa aku ke sini, lebih baik aku kembali ke koridor lainnya, melihat tempat lainnya yang menurutku lebih baik, dari pada tempat dengan kenangan tidak mengenakan untukku.


Baru saja aku ingin berbalik hendak meninggalkan taman belakang, telingaku tidak sengaja mendengar suara seruan kesal seorang perempuan, suara yang aku kenali siapa, disusul dengan sahutan suara laki-laki yang juga aku kenali, tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini.


Queeneira!


Otakku memperingati untuk tidak melangkah lebih jauh dari ini, tapi sayang hatiku tidak sejalan dan memerintahkan kakiku untuk terus mendekati sumber suara.


Jangan lebih dari ini, pergi sekarang.


Semakin otakku bilang untuk pergi, kakiku justru semakin cepat mendekati sumber suara.


"Yah! Kalau tidak enak, jangan di makan!"


Apa mereka sedang bersama, untuk memakan makanan hasil praktik memasak Queeneira? Tanyaku pada diri sendiri.


"Tidak! Sayang sekali, mubazir oy!"


Tentu saja, dia akan memakannya sekali pun itu tidak enak, karena dia menyukai orang yang membuatnya.


"Alasan! Kembalikan dan pergi dari sini!"


Apa aku akan punya kesempatan lagi, untuk bisa memakan masakan hasil tanganmu, Queene.


"Oh! Ngusir! Liat saja balasannya."


"Dasar pendendam!"


"Jangan teriak-teriak, nanti ada yang dengar!"


Bodoh! Kalian berdua memang sedang saling berteriak, cocok dan kompak jika kalian bersama, batinku dengan perasaan sakit.


"Kakak juga teriak-teriak, mikir!"


Benar, tepatnya kalian berdua saling berteriak, Queene.


"Oy! Ngajak gelud!"


"Ayo! Siapa takut!"


Akhirnya aku sampai di tempat keduanya duduk, meskipun mereka sama-sama sedang adu mulut, nyatanya mulut yang digunakan untuk berbicara, tetap melahap apa yang ada di piring masing-masing.



Queeneira, kamu sekarang sudah bahagia kan? Jadi, aku lega meninggalkan kamu bersama dia.


Cukup!


Aku sudah melihatnya, lebih baik aku kembali ke stadion atau pulang ke rumah untuk menenangkan hatiku.


Akhirnya giliranku tiba, saat aku melihatmu tidak bersamaku dan bersama yang lainnya.


Nah ... Queeneira, teruslah tersenyum seperti itu.


Karena selain senyuman, wajahmu tidak pantas dihiasi ekspresi lainnya.


Aku menyayangimu, sahabatku.


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2