
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Apa ada yang lainnya, Ga?" tanya Raka. Ia juga akan beraksi seperti sahabatnya, jika ada pria lain memiliki niat meniduri Istrinya, apalagi mendengar sendiri rencana dari mulut Si pria sialan tersebut.
"Sebenarnya Jaya Dharma sudah mengirim mata-mata di sekitar rumah, mengirim surat beserta foto Kiara dan juga mengikuti Dirga di setiap perjalanan," ujar Dirga menjelaskan. Ia bahkan harus melarang Sang Istri, yang ingin pergi belanja bersama Sang Anak.
"Kenapa kamu tidak bilang!" seru Bakrie marah. Hal mengganggu seperti ini, bagaimana bisa Cucunya tidak diskusikan dengan keluarganya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Dirga, kenapa sampai seperti ini?" ujar Hendri ikut bertanya.
Dirga mendengarnya, tapi belum menjawab, karena saat ini Ia masih menimbang. Apakah harus melibatkan keluarga serta sahabatnya, atau menyimpan ini sendiri.
"Cerita lah Dirga, Kiara adalah Cucu Kakek, anak dari Papa mertua mu. Bagaimana kamu bisa menanggung beban ini sendiri? Apa kamu tidak menganggap kami ada?" tanya Bagus bijak. Mengenal dari tabiatnya, Cucu menantunya bukanlah orang, yang akan menyusahkan orang lain jika Dia bisa melakukannya sendiri.
"Kita ada di sini untuk bantu Lu, Ga. Apapun yang terjadi, kita akan selalu ada di samping Lu, menghadapi semua masalah ini," ujar Raka. Ia menatap raut wajah tak terbaca sahabatnya, dengan sorot mata tegas.
"Ya Ga, apapun itu kita ada buat bantu Lu. Kita udah bersahabat lama, apa Lu nggak percaya dengan kemampuan kita?" sahut Faro menimpali. Meskipun sedikit kecewa, tapi Ia tahu, jika Dirga hanya tidak ingin membuat mereka khawatir.
"Maafin Dirga Kek, Pah dan semuanya. Dirga hanya merasa mampu, Dirga fikir tanpa melibatkan yang lain, akan lebih mudah untuk membereskan Jaya Dharma. Tapi nyatanya, Dirga malah kena perangkap, lebih membuat Dirga jatuh. Dirga selalu tidak bisa kontrol diri, jika itu sudah menyangkut Kiara," ujar Dirga menyesal.
Selanjutnya keheningan tercipta, setelah mendengar alasan Dirga melakukan tindakan sendiri,tanpa memberitahukan masalah ini kepada mereka.
Mereka tahu, Dirga hanya tidak ingin membuat mereka dalam bahaya, tapi jika itu malah membuat diri Dirga sendiri dalam bahaya, bagaimana mereka bisa diam saja.
"Jadi, sudah sampai mana kamu bertindak?" tanya Bakrie. Yang lalu biar berlalu, Ia tahu maksud di balik tindakan ceroboh Cucunya, sudah saatnya mereka membalas perbuatan ini.
"Dirga sedang mencari titik lemah Andrew Jaya Dharma, Dirga yakin kunci utamanya ada di orang itu dan Richard hanyalah salah satu pion dalam serangan ini," balas Dirga menjelaskan pendapatnya. Ia menatap satu per satu orang yang ada di hadapannya, yang saat ini sedang menampilkan raut wajah berbeda.
"Andrew sangat licin, meskipun bukti sudah ada tapi back-up nya sangat kuat, apa kamu sudah mendapatkan sedikit informasi?" tanya Bakrie penasaran. Di antara semuanya, hanya Dia lah yang punya pengalaman berhadapan dengan Jaya Dharma. Jadi Ia tidak heran, jika Cucunya baru mendapatkan sedikit informasi, melihat dari kuatnya pertahanan.
"Sudah dapat, Kakek tenang saja. Mungkin ini bisa menjadi senjata kita, tapi hukum rimba lebih cocok di bandingkan dengan hukum penjara. Karena Dirga tahu, di penjara pun percuma jika keesokan harinya bisa keluar bebas lagi," balas Dirga datar.
"Tidak, jika kita punya bukti kuat Ga. Gue bisa tangguhkan hingga hukuman seumur hidup, jika ada bukti kongkrit," sahut Faro yakin.
"Iya, kita bisa memulai rencana, lebih cepat lebih baik. Papa tidak mau, masalah ini di biarkan berlarut-larut. Ini tidak aman, untuk kehidupan Cucu Papa kedepannya," ujar Hendri.
Dirga tersentak kaget, saat Papa-nya menyebut cucu di kalimatnya. Bagaimana Ia bisa santai, jika ada Anaknya yang bisa saja jadi target selanjutnya.
"Sial," batin Dirga kesal.
"Hanya tinggal menjebak Andrew, kita bisa memulainya dengan melakukan ...
Perusahaan Jaya Dharma
Di hadapan Richard saat ini ada Sang Papa yang sedang tertawa senang, saat melihat berita di televisi serta berita pasar saham, yang menampilkan grafik keuntungan perusahaannya.
Merosotnya nilai saham Wijaya, memberikan dampak positif untuk perusahaan Jaya Dharma. Ada beberapa perusahaan juga, yang langsung membuat kesepakatan kerja sama dengan perusahaan miliknya. Padahal sebelumnya, perusahaan itu biasanya bergabung dengan perusahaan Wijaya.
__ADS_1
"Lihat, bukankah ini lebih menyenangkan. Penjara bukan apa-apanya, lebih baik melihat orang itu terpuruk, jatuh di mata masyarakat. Orang-orang yang dulu memuji sekarang balik menghina," seru Andrew senang.
Melihat harga saham milik Wijaya turun beberapa persen, membuatnya bahagia. Kerugiannya mencapai jutaan dolar, jumlah yang banyak jika setiap menitnya di akumulasi.
"Tapi pah, kapan kita akan bersenang-senang? Richard sudah tidak tahan, untuk mencicipi Istri dari Si arogan itu!" seru Richard kesal.
Selama 1 bulan ini mereka hanya mengintai, mengirim hadiah serta melakukan serangan kecil-kecilan dan itu membuatnya bosan.
Ayolah ... Ia sudah tidak sabar menikmati menu utama, melihat tanpa bisa menyentuh membuat imajinasi liarnya menggelora.
"Sial, bagaimana bisa ada cewek yang begitu menggoda, bahkan tanpa melakukan apapun," batin Richard kesal.
Mainanya tidak semenarik Istri orang itu, meskipun ada yang cantik tapi menurutnya biasa saja.
"Sabar lah, kesabaran akan menjadikan semua indah pada waktunya. Ha-ha-ha ... " balas Andrew di akhir dengan tawa senang.
Tok ... Tok ... Tok
Mendengar ketukan suara pintu, tawanya berubah menjadi seringai mengerikan.
"Masuk!" seru Andrew dengan suara keras.
Krieet!
Pintu terbuka pelan, di susul dengan kaki jenjang beralaskan high-heels dengan tinggi 15 cm.
Seseorang itu masuk, dengan langkah menggoda di setiap hentakan kakinya, memandang ke arah Andrew, yang balas memandangya.
"Sudah siap sesuai perintah,Tuan," balas Wanita tersebut. Melirik ke arah Richard, yang sedang melihatnya dengan tatapan liar.
"Bagus, nggak sia-sia saya buat identitas palsu kamu. Seharusnya kamu lebih lama lagi di sana, biar lebih seru, ha ha ha ..." Seru Andrew senang. Ia tertawa bahagia, meski ada sedikit perubahan rencana karena Anak brandalnya. Tapi saat mendapat kesempatan lainnya, Ia tidak menyesal bersabar sampai seperti ini.
Rencana awalnya bukan ini, Ia tidak berniat untuk memiliki wanita, yang di luar juga bisa Ia dapatkan. Tapi saat melihat ketertarikan anaknya, terhadap Istri dari saingannya membuat Ia berfikir, bonus berupa service mungkin lebih menyenangkan.
"Hentikan semua tindakan kita, di saat Dia sudah menganggap aman, barulah kita bertindak, di mulai dari perusahaan lalu ....
Beberapa minggu berikutnya ...
Sesuai apa yang di katakan Andrew, bila mereka tidak mengganggu lagi atau mengirim mata-mata di sekitar rumah Dirga.
Hari-hari di kehidupan Dirga pun sudah mulai kembali normal, Istrinya sudah bisa jalan keluar rumah, dengan Sang Anak yang tertawa senang.
Meskipun perusahaannya mengalami gocangan, dengan turunnya pendapatan . Tapi setidaknya Dirga bisa bernafas lega, rumahnya tidak lagi di intai dalam bayangan.
Ia juga sedang memulai mendapat muka lagi di hadapan masyarakat, membuat pemilik saham yang lain mulai percaya kembali dengannya.
Tapi sesungguhnya, Ia merasa sedikit khawatir dengan kedamaian ini.
Seperti akan ada badai, setelah hari yang cerah.
Kantor Wijaya
"Apa!!"
__ADS_1
Suara keras dari Dirga, memenuhi ruangan kantornya, saat mendengar perkataan dari Dani.
Dirga menatap tidak percaya, saat Dani melaporkan jika Meeting pembangun gedung Mall di batalkan. Apalagi ada penurunan harga saham lagi dan lagi, meski skala kecil namun setiap jam-nya semakin menurun, banyak investor yang lari ke perusahaan Jaya Dharma dengan alasan tidak jelas.
"Bagaimana mungkin, mereka sudah sering kerja sama dengan kita, bagaimana bisa mereka membatalkan meetingnya?" tanya Dirga emosi.
Ia menatap lagi laporan grafik, pada layar Tab miliknya. Di sana terpampang penurunan yang halus, namun setiap jam nya berubah. Mulai dari 3% turun hingga 8%, jika seperti ini pendapatan perusahaan bisa semakin jatuh ke titik terendah.
"Rancangan yang kita buat, di pamerkan lebih dulu oleh perusahaan Jaya Dharma. Mereka mengklaim, jika Rancangan gedung yang mereka pamerkan, lebih dulu di buat jauh sebelum ada proyek," ujar Dani menjelaskan. Ia sendiri bingung dari mana rancangan rahasia, yang di desain Tim perusahaannya sampai jatuh ke tangan lawan.
"Bos, apa Bos yakin Rancangannya aman di rumah Bos?" lanjut Dani bertanya.
Dirga tersentak kaget , saat mengingat jika Rancangan yang sudah di desain lama, memang tersimpan di dalam ruangan kantor pribadi di rumahnya.
"Astaga, sial!!!"
Ada musuh dalam selimut di rumahnya, Ia tidak sadar karena fokus penjagaan di luar rumah.
"Dani, Lu bilang ke bagian Rancangan. Cari titik spesial di rancangan yang di curi, kita minta Meeting ulang untuk melawan balik, Lu ngertikan maksudnya apa?" seru Dirga tegas. Ia harus membalikkan keadaan, jika Ia bisa mendapatkan bukti pencurian Rancangan dari Jaya Dharma, investor akan berbalik ke arahnya.
"Mengerti, Bos!" balas Dani paham. Ia segera berbalik badan, meninggalkan Dirga yang sedang emosi.
"Sial, sudah di mulai yah," Gumamnya dengan senyum miring.
Kantor Jaya Dharma
Setelah gebrakan melalui pemaren Rancangan, yang berhasil menarik para investor. Andrew di temani oleh si wanita, yang saat ini sedang duduk manis, tidak hentinya tertawa senang.
Rancangan yang di curi oleh wanita di ruangannya saat ini, membuat perusahaannya mendapatkan untung banyak. Bukan hanya keuntungan, tapi peminat investor untuk menanam modal di Rancangan semakin banyak. Itu artinya kucuran dana semakin deras, biaya produksi banyak yang bisa di sunat sana-sini.
"Tuan, bagaimana denganku. Bukankah anda bilang, akan memberikan Si Wijaya itu untukku?" tanya Si wanita.
"Kamu tidak sabar sekali, setelah ini Aku yakin akan ada serangan balik, Aku sudah kasih kejutan di luar sana. Kita nyalakan dulu api-nya baru kemudian, Si Wijaya itu yang akan datang dengan sendirinya, bagaimana?" ujar Andrew misterius. Menuai kikikan seram dari si wanita, yang tidak sabar untuk bisa merasakan rencana yang sudah di susun lama.
"Tidak sabar, hu hu hu ... " Batinnya bahagia.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hukum rimba : hukum yang berlaku yang menyatakan siapa yang menang atau yang kuat dialah yang berkuasa
Sunat Dana : Pemotongan dana, tidak sesuai dengan pengeluaran, sama dengan korupsi.
Ikuti terus kisahnya...
Jangan lupa komentar dan klik jempolnya ...
Serta vote dukunganya...
Sampai babai
Terima kasih
__ADS_1