
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kiara saat ini ada di tempat asing, namun indah di saat bersamaan.
Di depan nya ada hamparan bunga dendelion yang kelopak rapuh nya tertipu angin.
Tuk..tuk..
" Ee..." kiara kaget saat merasakan lengannya di toel imut oleh mahluk kecil yang sama imut nya sedang tersenyum lebar mirip seseorang.
Kiara menundukkan kepalanya dan berjongkok saat jari kelingkinnya di tarik pelan seakan ingin membisikan sesuatu.
" Ada apa cantik?" tanya kiara lembut melihat mata bulat mirip seseorang yang ia rasa tidak asing di hadapannya saat ini.
" imut nya..."
" mama..."
" hah??" pekik kiara tidak mengerti
" hihihi...."
" Hei... Cantik tunggu dulu" seru kiara kaget saat sang bocah kecil menariknya tiba-tiba untuk berlari mengikuti nya setelah terkikik lucu.
Kiara pin mengikuti dengan langkah kecil saat jari tangannya di tarik oleh anak kecil yang malah tertawa riang, tawa yang mengingatkan nya pada seseorang.
Anak kecil itu membawa ke tengah hamparan bunga dendelion yang masih menerbangkan kelopaknya satu persatu, kemudian berhenti dan menarik lagi tangan nya agar ia berjongkok.
" Ada apa hem..." tanya kiara lembut, memandang anak kecil di depannya dengan sayang, seperti ia memang mengenal dan akan marasakan menyesal jika tidak memperlakukan lembut anak tersebut.
" kenapa perasaan aku senang saat melihat mata berbinar nya"
" Mama.... Ini bunga dendelion lambang dari kekuatan bertahan hidup" ujar anak itu dengan logat khas anak kecil tapi jelas di pendengaran kiara.
" Huemm... Lalu ada apa sayang?" tanya kiara belum mengerti, ia kemudian mengusap rambut anak kecil itu sayang saat melihat raut wajah sedih di sana seakan menenangkan.
" kenapa hatiku sakit saat melihat kesedihan di mata itu, kemana binar bahagia tadi"
Kiara merasa sakit di ulu hatinya saat melihat senyum sedih yang di tampilkan anak imut di depannya yang memanggil ia mama seakan ia adalah memang benar mamanya.
" Mama janji yah.... Walau kehilangan aku mama tetap hidup bahagia agar papa tidak sedih" seru anak kecil itu mantap memandang kiara memohon.
" Maksudnya?" tanya kiara masih belum mengerti
" papa yang mana? Kenapa harus sedih?" batin kiara bertanya
" Mama, bukan salah mama aku nggak bisa bertahan dan menemani mama di dunia sana.
Tapi yang jelas aku akan menunggu mama di surga sana. Mama janji yah akan selalu bertahan hidup seperti dendelion yang meski terbawa angin tetap bisa hidup dan tumbuh lagi" ujar anak kecil Itu tanpa mengatakan kejelasan.
Kiara menatap sedih saat anak itu selesai mengucapkan kalimat nya.
" Mama aku sayang mama dan papa, tumbuh di rahim mama meski hanya sebentar tapi aku tahu mama sangat menanti aku di dunia, selamat tinggal mama , papa sudah memanggil mama kembali ke dunia mama"
Tepat saat itu juga, anak kecil asing dengan wajah familar mundur menjauh darinya di susul oleh suara dirga yang memanggil nama nya berulang dengan nada suara sedih dan menyayat hati.
" kiara sayang... Aku kangen kamu "
Di kamar inap kiara
Setelah sarah yang jatuh pingsan lagi, sarah di tempatkan di ranjang masih satu ruangan dengan kiara pasca operasi.
Sarah juga sudah siuman dan sedang duduk di samping ranjang milik kiara dengan tangan senantiasa mengusap sayang tangan kiara yang terpasang jarum infus.
Sebelumnya
" hiks... Mama.. Mama... Dirga gagal mah, dirga gagal menjaga kiara dan calon anak dirga mah "
" apa..."
Brugh...
" sarah.. Sarah... Bangun"
Sarah yang tidak kuat mendengar jika kiara ternyata sedang hamil dan keguguran langsung pingsan seketika dengan fandi yang dengan sigap menahan nya sehingga tidak benar-benar jatuh ke lantai koridor rumah sakit tempat kiara di rawat.
__ADS_1
" Mama..."
Dirga juga langsung melepas pelukan mamanya dan berlari menghampiri mertua nya yang pingsan lagi,
" suster, tolong" seru putri heboh dan segera para perawat menghampiri di ikuti oleh kerumunan orang di sekitar mereka
Sarah di bawa oleh fandi yang dengan sigap menggendong nya dalam gendongan depan membawa ke ruangan untuk di periksa.
" Apa Maksudnya dirga" tanya kakek bakrie dengan suara bergetar nya saat mereka ada di depan ruangan tempat sarah di periksa di dampingi oleh fandi, sedangkan mereka ada di luar menunggu dengan gelisah.
" Dirga juga baru tahu kek kalau kiara sedang hamil, dan kiara ternyata pendarahan dan harus di operasi untuk pengangkatan janin dan kalau tidak di operasi akan membahayakan nyawa kiara sendiri" balas dirga panik bahkan ia tidak tahu menyebut kata dan sudah berapa kali sangking paniknya.
" Astagfirullah... Kenapa ada cobaan seperti ini" desah kakek bagus lirih saat mendengar kenyataan buruk dalam hidupnya.
Tangis Mama putri seketika pecah saat mendengar penjelasan dirga mengenai menantu dan calon cucu pertama nya yang harus meninggal bahkan sebelum mereka tahu keberadaannya.
Sedangkan hendri terpukul, ia melihat anaknya yang dalam keadaan lebih kacau kemeja biru yang di pakai dirga bahkan belum di ganti menampilkan biru dengan bercak merah yang ia yakini dari kiara.
" Bagaimana dengan pelaku" tanya kakek bakrie marah
" Sudah di urus kek" balas raka yang senantiasa mendampingi dirga bersama faro yang juga mengangguk.
" bos administrasi nya sudah selesai, nona kiara akan di pindahkan di ruang vip setelah ini" seru dani melapor saat sudah berada di hadapan keluarga wijaya yang sedang di rundung awan mendung di sekitar nya
" thanks dani" gumam dirga pelan, setidaknya ada orang yang perduli dan membantu nya saat ini. karena jujur saja dirga sedang dalam fase linglung pasca menandatangani surat pernyataan tadi .
" Its oke ga" balas dani mengerti
Akhirnya mereka menuju ruang rawat vip milik dirga dengan tambahan ranjang untuk sarah yang masih pingsan agar satu ruangan saja dengan kiara yang masih belum sadarkan diri masih dalam pengaruh obat bius pasca operasi.
Tiga hari berlalu sejak operasi namun kiara masih betah tidur cantik tanpa niat bangun untuk memperlihatkan binar mata kesukaan dirga lagi.
Dirga juga tidak masuk kantor, jangankan masuk kantor mandi dan makan saja tidak mau jika saja sang mama papa dan mertua beserta kakek nya yang memarahi nya dan bilang kiara akan sedih jika melihat penampilan dirga yang acak acakan.
Padahal dirga hanya ingin menjadi orang pertama yang di lihat kiara saat membuka mata, tapi mendengar lagi nasihat dari orang di samping nya mau tidak mau akhirnya dirga mengalah itu juga pulang hanya untuk mandi dan berkemas beberapa baju ganti untuk ia di rumah sakit.
Wajah nya yang biasa segar sayu, dengan kantung mata hitam melingkar di sekitar kelopak matanya.
" Sa.. Lu nggak ada kerjaan?" tanya dirga serak saat melihat elisa yang mengusap lengan kiara yang di perban.
Hati nya kembali sakit saat melihat perban yang menutupi luka menganga di lengan kiara hasil perbuatan keji orang gila.
Butuh jahitan banyak untuk menutup luka yang memperlihatkan daging dalam lengan miliki kiara , membuat nya ikut merasa sakit saat melihat nya meski sudah di perban.
Kiara nya, sahabat nya yang melebihi saudara sendiri saat ini sedang koma tanpa tahu kapan akan siuman kembali.
Sebenarnya dokter bilang sudah melewati masa kritis, sehingga dokter pun bingung kenapa masih belum sadar seakan kiara sendiri yang memutuskan untuk tidak bangun.
" kiara bawel" batin elisa sedih
" Iya... Nggak apa-apa, thanks udah mau nunggu kiara. Tapi lu temuin faro dulu tuh di luar" ujar dirga memberitahu jika ada faro yang emang sedang menunggu di luar bersama keluarga nya yang lain di depan.
Bahkan kaisar dan Ronald juga menjenguk setelah tahu kabar kiara, padahal mereka beberapa jam lagi akan take off ke jepang untuk pekerjaan.
" oke..." balas elisa singkat dan beranjak dari kursi tempat nya duduk lalu berjalan ke arah pintu masuk untuk keluar menemui kekasih nya di depan, meninggalkan dirga yang ganti duduk di kursi yang tadi di tempati oleh elisa.
Blam..
Kini hanya ada dirga sendiri, memandang kiara dengan tatapan memohon dan sedihnya.
" bawel.... Kamu mau siksa aku sampai kapan? Ini sudah tiga hari semenjak hari itu.
Aku mohon sayang bangun, aku nggak bisa hidup tanpa kamu... Hu... Hiks.. hu.." dirga nggak tahan dan lagi lagi menangisi keadaan kekasih hatinya, belahan jiwanya yang masih belum bangun seakan sedang tidur cantik tanpa memperdulikan perasaannya yang sedih dan hampir gila.
" kiara... Sayang "
Ceklek...
" Dirga sayang, kamu makan dulu" seru mama putri dan harus sedih lagi saat melihat airmata lagi lagi keluar dari mata yang biasanya memandang orang tajam.
Hati nya sakit melihat betapa rapuh anak tengguh nya, sikap arogan dan dingin nya luruh seketika saat melihat kondisi menantu kesayangan mereka.
" Sayang..." panggil putri saat melihat dirga yang mencoba menghapus jejak air mata dengan terburu buru.
" Nant..."
Deg...
dirga yang tadi melihat ke arah mama nya sontak dengan kecepatan luar biasa menghadap ke arah kiara kembali saat tangan nya yang menggengam tangan kiara lembut merasakan gerakan spontan dari jari jari tangan kiara.
" kiara..." panggil dirga senang karena bukan hanya sekali tapi jari tangan kiara bergerak pelan lagi beberapa kali di ikuti oleh kelopak mata yang ikut bergerak namun berhenti lagi.
__ADS_1
" kenapa sayang?"
Dirga tidak menjawab melainkan berseru heboh dengan tangan sibuk memencet tombol darurat memanggil dokter.
Putri yang melihat tentu saja mengerti akan tindakan dirga, ia segera keluar dan memberi tahukan yang lain.
Tidak lama pintu terbuka dengan dokter dan beberapa perawat yang masuk, memeriksa sesuai prosedur dan menjelaskan keadaan kiara.
" Seperti nya tadi hanya gerakan syaraf yang berkedut tiba-tiba, tapi tuan tenang saja itu artinya pasien sudah dalam kondisi bagus. Mudah mudahan beberapa jam lagi bisa sadar sepenuhnya" jelas dokter dengan tanang dan ikut bernafas lega.
Pasien nya kali ini lebih dari vip, dan ia harus ekstra hati hati saat memberi diagnosa.
" Jadi beberapa jam kedepan istri saya akan sadar dok?" tanya dirga dengan perasaan senang.
" Seharusnya seperti itu" jawab dokter apa adanya
" Kalau begitu saya permisi dulu tuan dirga" lanjutnya pamit karena tugas nya selesai yang di jawab anggukan kepala singkat dari dirga
" Terima kasih dokter" balas dirga tulus.
Keluarga besar nya masuk di ikuti para sahabat yang menampilkan raut wajah sedikit lega.
" Kiara pasti sebentar lagi sadar ga" ujar raka menepuk bahu dirga memberi semangat
Raka yang mememani nya bergantian dengan orang tua dan faro yang harus menolak beberapa kasus penting.
" Pasti ka..." gumam dirga kemudian mengecup telapak tangan kiara yang ada di gengaman tangan nya.
" sayang cepet siuman yaa.. Aku kangen kamu" batin dirga berharap
Sore pun datang, keluarga nya telah pulang setelah dirga memaksa agar mereka bergantian istirahat agar tetap sehat saat kiara bangun nanti.
Sedangkan kaisar dan Ronald sudah lebih dulu pergi karena harus terbang ke jepang.
Elisa dan faro juga sudah pulang tidak lama setelah kai dan Ronald pergi, menyisakan ia dan raka yang sedang menjalani ibadah nya bergantian tadi dengannya.
Masalah kantor ada dani yang handle sehingga dani hanya sesekali mampir untuk memberikan berkas yang perlu di tanda tangani olehnya.
" Gue beliin lu makan dulu ya... Mau makan apa lu?" tanya raka saat ia selesai menunaikan ibadah nya.
" Apa aja bro" balas dirga nggak bersemangat
Karena baginya saat ini mau makanan enak sekalipun tidak seenak makanan yang di masak kiara.
" Oke.. Gue keluar bentar ya" ujar raka kemudian berlalu membuka pintu kamar rawat inap kiara setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan kepala dari dirga.
Di alam antara sadar dan tidak kiara
" Mama aku sayang mama dan papa, tumbuh di rahim mama meski hanya sebentar tapi aku tahu mama sangat menanti aku di dunia, selamat tinggal mama , papa sudah memanggil mama kembali ya ke dunia mama"
Tepat saat itu anak kecil asing dengan wajah familar mundur menjauh darinya di susul oleh suara dirga memanggil nama nya berulang dengan nada suara sedih dan menyayat hati.
" Sampai jumpa di surga nanti mama "
" kiara Sayang..... Aku kangen kamu. "
Dirga..
Kiara menoleh ke kiri dan kanan nya mencari suara yang sangat di hafal nya berada namun tidak ada, kemudian melihat ke arah depan lagi di mana anak kecil itu lama kelamaan berubah menjadi cahaya terang setelah tersenyum bahagia yang terakhir kali untuk kiara.
Kiara mengikuti cahaya yang semakin lama semakin membuat tubuh nya tertelan di antara sinar cahaya terang.
Di kamar rawat inap kiara
Kelopak mata kiara bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sebentar lalu tertutup lagi untuk membiasakan cahaya yang masuk di retina mata nya.
Dirga saat ini sedang duduk di samping kiara dengan kepala menelungkup di antara lengan nya dan lengan kiara.
Merasakan pergerakan pada Tangan kiara yang ada di gengggaman nya dirga mengangkat wajah nya dan menemukan mata kiara yang terbuka melihat ke arah atas melihat langit langit kamar di ikuti air mata yang mengalir di sudut mata kiara
" dirga...... "
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah nya...
Jangan lupa loh tinggalkan jejak komentar dan klik jempol serta vote dukungannya...
Sampai babai
__ADS_1
Terimakasih