Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Caterine wilson


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


"Perhatikan baik-baik yah!!!" ujar Caterine saat tidak ada tanggapan. Hanya tatapan mata yang di terima-nya, membuat Caterine menghentak kaki kesal saat tidak ada tanggapan dari mereka.


"Jawab dong!!!" bentak Caterine marah. Membuat Kiara yang ada di pelukan Dirga, lagi-lagi tersentak kaget dengan badan bergetar takut.


"Ssttt ... Ada aku!" gumam Dirga menenangkan.


"Cih, sok kuat. Padahal untuk berdiri saja sudah susah, mau sok-sok-an melindungi wanita sialan itu!" ujar Caterine meledek.


"Urus saja urusan Lu sendiri," ujar Dirga datar.


Caterine sekali lagi kesal, lalu mulai melakukan kegiatannya sendiri. Kegiatan yang membuat mereka berdua mengernyit bingung.


Iya ... Di depan mereka saat ini, Caterine sedang sibuk dengan peralatan untuk menghapus make-up.


Setelah selesai dengan ritualnya, Caterine menghadap ke arah Kiara dan Dirga yang melotot tidak percaya.


"Kamu!!!!" seru Kiara kaget. Sedangkan Dirga menahan emosinya, saat melihat wajah sok polos yang memandang mereka dengan senyum malu di buat-buat.


"Haloo Tuan dan Nyonya tersayang!"


Suasana di dalam ruangan menjadi hening, saat Dirga yang marah menatap tajam ke arah orang yang ternyata adalah Anita. Sedangkan Anita sendiri menatap keduanya, dengan kekehan senang.


Benar sekali, di hadapan mereka saat ini adalah mantan pembantu mereka dulu.


Caterine terkekeh saat melihat raut wajah marah, dari seorang Pria yang Ia cintai.


Wajah Dirga yang biasa datar sekarang menampilkan raut wajah marah, Caterine senang karena berhasil membuat Dirga keluar dari karakter-nya.


"Apa maksud Lu, Anita?" tanya Dirga marah.


"Uh ... Benar-benar lucu" batin Caterine sinting.


"Maksudnya? Maksudnya apa sih!!!" balas Caterine main-main.


Wajah Dirga tambah memerah, seiring dengan sikap menyebalkan dari Caterine dan itu membuat Caterine semakin senang.


"Wanita sinting!!!" seru Dirga marah saat melihat Caterine terkekeh.


Perkataan Dirga membuat Caterine kesal, tentu saja siapa orang yang tidak akan kesal jika di panggil wanita sinting, oleh orang yang di cintai.


"Cih, siapa wanita sinting? Kalau saja Kamu tidak menolak Ku dan menikah dengan wanita sialan itu. Tidak mungkin Aku berbuat nekat seperti ini, apalagi setelah mengetahui jika wanita sialan yang menikah dengan Mu adalah cucu dari Wicaksono. Membuat Ku semakin muak dan marah!!!" seru Caterine emosi. Penjelasan tidak masuk akal yang di katakan Caterine, membuat Kiara memandang Caterine bingung.


"Apa maksudnya? Kenapa keluarga Ku di bawa serta? Apa yang salah dengan keluarga Ku?" tanya Kiara bertubi-tubi.


"Tentu saja, Kamu dan keluarga Kamu itu keluarga perebut. Bukan hanya perusahaan keluarga Ku, tapi juga Kalian malah memaksa pernikahan dengan keluarga Wijaya. Benar kan apa perkataan Ku?" balas Caterine sinis. Ia berdecih jijik, saat melihat raut wajah tidak mengerti dari Kiara.


"Sok polos, pura-pura tidak mengerti," batin Caterine kesal.


"Aku tidak mengerti, siapa yang memaksa siapa?" tanya Kiara tidak paham.


"Tent -


"Jangan di dengar kan, Dia hanya wanita gila yang otak-nya terbelakang mental. Kamu jangan bertanya lagi, oke sayang?" sela Dirga cepat.


Ia menatap tajam ke arah Caterine, yang saat ini mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Cukup omongan nggak penting dari Lu, apa pun yang Lu alami itu nggak ada sangkut-pautnya, dengan perusahaan atau juga pernikahan keluarga Gue. Apa lu sekarang mengerti?" ujar Dirga datar.


"Ha-ha-ha!!!"


Perkataan Dirga membuat Caterine tertawa dengan kerasnya. Ia merasa lucu dengan semua-nya, bagaimana bisa dunia tidak adil terhadapnya.


Pria yang di cintai olehnya sama sekali tidak mengenali-nya, perusahaan pindahan keluarga-nya bangkrut di tangan keluarga perebut pria-nya.


"Lucu sekali, tidak ada sangkut-pautnya? Dasar sial -


Ceklek!


Kalimat dari Caterine harus terhenti, saat pintu ruangan terbuka dari luar. Di susul oleh Andrew yang masuk, dengan raut wajah dingin.


Mereka bertiga serempak menoleh, ke arah pintu di mana ada Andrew yang melangkah pelan, berlalu bergitu saja dan duduk dengan santai-nya di ranjang berbau apek.


"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja, anggap Aku tidak ada. Oh ... Atau Tuan Dirga mau bertanya, kenapa bisa wanita cantik ini ada di sini?" ujar Andrew dengan polos. Saat melihat ketiganya diam, setelah kedatangannya.


"Aku baru mau bercerita, menyebalkan!!!" balas Caterine pura-pura marah.


"Tidak perlu, Gue nggak sudi dengar kisah menyedihkan, dari orang menyedihkan seperti kalian!" sela Dirga dingin.


Perkataan Dirga membuat Andrew tersenyum sinis, berdecih sebal karena melihat kesombongan Dirga yang tidak pada tempatnya.

__ADS_1


"Sudah terluka begitu, masih saja sombong? Benar-benar begundal sejati!" ujar Andrew sinis.


Ucapan menghina dari Andrew membuat Dirga berdecih sinis, menatap tajam Andrew yang balas menyeringai ke arahnya.


"Apa Aku boleh bercerita?" tanya Caterine sok manis. Ia menghadap Andrew yang mengangguk, dengan senyum miringnya.


"Dengarkan yah!!!" lanjut Caterine menghadap ke arah Dirga dan Kiara.


Caterine berdehem, lalu bertepuk tangan seakan cerita-nya nanti adalah cerita paling membanggakan sedunia.


"Jadi, begini loh awal mula Aku bertemu dengan Tuan Andrew ...


Flasback on


Caterine pov


Saat ini di hadapan-Ku ada Papa-Ku, yang sedang terduduk lemas karena masalah perusahaan. Tepatnya Hotel Arston milik keluarga Wilson, Hotel yang baru di buka beberapa tahun lalu ini harus kalah saing dengan keluarga Wicaksono.


Papa meskipun wajah-nya nampak biasa saja, tapi Aku tahu Dia sedang mengalami tekanan batin yang luar biasa.


Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi Aku berfikir jika Aku bisa menikah dengan Anak dari perusahaan terkenal, perusahaan Papa bisa bangkit kembali.


"Kita kembali ke Jerman saja, perusahaan peninggalan Kakek di sana masih bisa menjadi sumber kehidupan kita. Kamu mau kan kembali ke Jerman?" ujar Papa-ku tiba-tiba.


Pertanyaan dari Papa membuat-ku bingung antara ikut atau tidak. Aku harus mengejar cinta Ku, tapi Aku juga tidak ingin meninggalkan Papa sendiri.


"Tapi Pah, bagaimana dengan Dirga. Cate sangat menyukai Dia, apa tidak bisa Papa melamarkan Dirga untuk Cate?" balas Ku berharap.


Papa menggeleng kepala dengan ekspresi sedih, Dia mendesah sebelum menjawab pertanyaan dariku.


"Keluarga kita bukan apa-apanya, apalagi dengan keluarga Wijaya. Mana mungkin Dia menerima lamaran Papa, Kamu cari yang lain saja yah!" balas Papa Ku.


Aku terkejut mendengar kalimat, dengan nada pesimis dari Papa.


"Tidak pah, Aku tidak mau!" seru Ku menolak. Lalu aku meninggalkan Papa di ruang tamu, yang memanggil nama Ku berulang.


Sejak saat itu Aku bertekad, untuk mendapatkan Dirga apa pun caranya.


Aku menelponnya hampir setiap saat, tapi sayang hanya nada dingin yang ku dapat.


Namun aku bukan orang yang mudah menyerah, Aku selalu mencoba dan mencoba.


Tapi sayang sekali lagi, ketika Aku menelponnya nomor miliknya sudah tidak aktif, terakhir kali Aku menelponnya adalah saat Dia memutuskan panggilan dariku secara sepihak.


Aku marah dan Aku kesal, puncaknya saat Papa mengalami serangan jantung karena Hotel benar-benar tidak bisa di tolong lagi.


Aku menerima kesepakatan dengan keuntungan yang menggiurkan, Aku bisa mendapatkan Dirga sekaligus mendapatkan keuntungan dari berkas tersebut.


Tuan Andrew bilang akan memasukkan Ku kedalam rumah Dirga sebagai pembantu.


Aku tidak terima, apa maksudnya Aku bekerja sebagai pembantu. Tapi saat Dia menjelaskan, jika Istri dari Pria yang ku cintai ini polos dan naif. Aku mengerti maksud dari ucapan-nya apa, Tuan Andrew membantu Ku dalam pemalsuan identitas dan berhasil.


Singkat cerita


Akhirnya aku bekerja di rumah Dia, melihat Dia dalam jarak dekat membuatku senang.


Apalagi saat Dia berjalan dengan langkah tegasnya, tapi Aku kesal Dia menaiki tangga tanpa melihat ke arah Ku.


Hati ku semakin kesal, saat melihat kemesraan keduanya. Untunglah Anak dari Pria yang Ku cintai, memiliki rupa yang sama dengan Dia. Sehingga saat Aku menjaga anaknya, Aku seperti menjaga Anakku sendiri.


"Padahal Bapak Kamu dingin banget sama Aku, tapi kok kamu manis banget sih. Nggak apa-apa deh, nggak bisa deket sama bapaknya, yang penting bisa peluk kamu" gumam Ku senang. Aku mencium-nya seperti sedang mencium Daddy Si Gav .


( Episode Jalan-jalan ke kantor Daddy)


Penyamaran Ku lancar, Aku menghayati peran Ku dengan sungguh-sungguh.


Bahkan pembantu yang lain pun percaya Padaku, Aku hampir selalu ketahuan setiap sedang melakukan hal mencurigakan.


Tapi untunglah Aku bisa menghindar, apalagi Bi Titin Si kepala pembantu, orang yang di percaya oleh wanita sialan itu.


Meski harus selalu ekstra menampilkan raut wajah, yang sungguh membuat Ku muak,tapi sekali lagi Aku berhasil meyakinkan Kedua Bibi itu. Sehingga Aku bisa terus bertemu dengannya. Belum lagi bisa menghirup aromanya dari dekat, saat Aku menggendong Gav.


Seperti Aku lah ibu dari Gav dan Dia adalah suamiku.


Aku senang saat menjaga Gav dan Gav juga senang saat bermain dengan Ku.


Selama 6 bulan bekerja, Aku selalu mencari cara agar bisa berdekatan dengannya. Tapi perintah Tuan Andrew yang tidak sabaran, membuat Ku dilema.


Di satu sisi aku masih ingin berdekatan dengannya, tapi di sisi lain aku punya misi sendiri.


Bukan hanya Dirga yang harus aku perjuangankan, tapi juga perusahaan turun temurun yang di amanat kan Papa untuk Ku.


Akhirnya Aku mengalah demi kepentingan perusahaan , lalu Aku membuat seolah-olah melakukan kesalahan fatal.


Aku tahu kok, ada seseorang yang melihat Ku saat Aku sedang membersihkan kamar tidur.


Jangan kira Aku bodoh.

__ADS_1


Cara satu-satunya agar Aku keluar dari sini, tanpa di curigai adalah Tuan rumah memecat pekerjanya sendiri.


Memanfaatkan sifat cemburu wanita, Aku akhirnya melakukan itu juga.


Dan berhasil, meskipun sakit saat mendengar kata-kata dari Dia tapi Aku tahu ini belum saatnya menyerah.


"Kamu masih muda, cinta akan datang untuk kamu di luar sana. Hapus rasa cinta itu di hati kamu, tanamkan itu di otak kamu. Dengar ini jangan pernah berharap dan sekarang kamu keluar atau saya panggil Bima buat Seret kamu?"


( Episode jangan pernah berharap)


Itu adalah kata-kata terakhir yang Aku dengar, sebelum aku meninggalkan rumah Dia.


Selanjutnya hanya tinggal menunggu waktu, untuk bertemu dan mendapatkan Dia kembali.


Tuan Andrew bilang nasib baik berpihak padanya, saat Anaknya Bersinggungan dengan orang yang ternyata adalah Dirga.


Bukan hanya dengan berkas yang ternyata rancangan bangunan baru, tapi ternyata Tuan Andrew menyusun rencana untuk wanita milik Dirga.


Aku setuju, dengan kata lain Aku bisa melihat wanita yang berani memarahi Ku terluka.


Bukan hanya luka fisik, tapi Wanita itu juga harus merasakan hal yang lebih mengerikan dan pasti kalian tahu maksudnya apa.


Anak dari Tuan Andrew memang sialan sejati, bahkan diriku pun Dia lihat seperti makanan yang siap santap.


Hampir saja Aku berdecih, bila tidak ingat jika Aku masih butuh bantuan mereka. Lagi pula Aku sudah keluar banyak biaya, untuk membayar penyidik karena Andrew sendiri sudah hampir bangkrut.


Aku tidak perduli dengan uang dan wanita itu, yang penting Dirga bisa melihat bagaimana wanita Nya di nodai pria lain. Aku mau tahu, apakah Dia akan tetap mencintainya?


"Hu-hu-hu ... Jadi tidak sabar," batin Ku senang.


Caterine pov off


Flasback end


"Jadi, apa Kamu masih bingung kenapa Aku sangat membenci Kamu, heum?" tanya Caterine setelah selesai bercerita.


Kiara menutup mulut-nya tidak percaya, jadi selama ini Anita hanya berpura-pura.


"Anita kenapa kam -


"Jangan panggil Aku Anita, Aku Caterine anak dari Alex Wilson!" sela Caterine tidak terima.


"Aku sebenarnya ingin fokus dengan perusahaan dulu, tapi bagaimana yah. Kamu sombong sih, berani memarahi Aku dengan percaya diri seperti itu. Jadi jangan salahin Aku, jika Aku ingin kehancuran Kamu!" lanjut Caterine dengan dingin.


"Sudah lebih baik ...


Di saat bersamaan, jauh dari gedung tempat Dirga dan Kiara di sekap.


Mobil yang membawa anggota keluarga Dirga, membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata.


Di belakang mobil yang di kendarai Raka, ada Bima beserta anggotanya yang mengikuti kecepatannya.


Meskipun sudah lama tidak menguji adrenalin dengan berkabut ria di jalanan, nyatanya teknik mengendarai Raka masih seperti dulu.


Berbagai jenis kendaraan di depan Ia hindari dengan gesit, membuat seakan-akan kecepatannya menyamai cahaya.


Hingga tidak terasa rombongan mereka, sampai di sebuah area yang cukup jauh dari kota S. Tepatnya di sebuah gedung terbengkalai, mirip seperti Hotel membuat Fandi mengernyit bingung.


"Ini seperti Hotel, apa ini milik keluarga Wilson?" gumam Fandi bertanya.


"Pantas saja, jauh dari kota," balas Hendri.


"Pah, semuanya!!!"


Seruan Raka sebagai ketua, membuat mereka melihat ke arah Raka dengan raut wajah serius. Mereka mendekat ke arah Raka, berkumpul menjadi satu menunggu instruksi darinya.


"Apa sudah siap?" tanya Raka semangat.


"Siap!"


"Bagus, sekarang kita berangkat!"


"Baik!!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya


Jangan lupa komentar dan klik jempolnya


Serta vote dukunganya ....


Sampai babai


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2