
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Sore harinya, Fandi sampai di kamar papanya. Ia di sambut oleh senyum istri tercintanya serta pelukan maut dari anak kesayangan.
" Yaya kangen Papa. " bisik Kiara lirih,
Membuat Fandi tersenyum lebar lalu balas memeluk Kiara tak kalah erat.
" Papa juga kangen kamu sayang" Balasnya .
Kemudian mengecup sayang kepala Kiara berulang.
Sarah yang melihatnya ikut senang,
Ia tersenyum haru dengan pertemuan antara Ayah dan Anak ini.
Grep.. Bruk
Fandi, yang melihat Istrinya hampir menangis menarik dan membawanya ikut masuk dalam pelukan lebar nan hangatnya. Sehingga kini dua wanita kesayangannya ada dalam rengkuhannya.
" Kalian berdua harta yang Papa punya setelah Kakek dan alm.Nenekmu.
Jangan tinggalin Papa dan Mama lagi ya Kiara sayang" nasihat Papanya, membuat Kiara pun mengangguk di ikuti isakan kecilnya.
" Sssttt .... Jangan nangis, Papa merasa gagal menjadi Ayah jika anak kesayangan Papa mengeluarkan air mata yang sangat berharga ini. Maafin Papa ya" pinta Fandi membuat tangis Kiara pun semakin pecah.
Tangis haru pertemuan keluarga itu pun harus terinterupsi oleh deheman seseorang
"Ehem.."
Kakek Bagus, yang kebetulan bangun dari tidur istirahatnya, melihat dengan mata berkaca kaca. Saat pandangan mengharukan tersaji di depannya.
Anak, Menantu dan Cucu kesayanganyanya sedang menangis sambil berpelukan.
Saling meminta maaf akibat ke egoisannya.
Jika saja Ia tidak memaksa Kiara menerima perjodohan ini, mana mungkin keluarga kecilnya akan mengalami kejadian menyedihkan ini.
Namun nasi sudah menjadi bubur,
Toh.. Ini demi kebaikan Kiara cucu kesayanganya. Dan juga rencananya dengan Dirga sudah berhasil. Hanya tinggal menunggu kebenaran terungkap dan kelanjutannya ada di tangan Kiara .
Namun, sudut hatinya berharap jika Dirgalah yang akan Kiara pilih, meski Kiara akan kecewa dengan kebenaran yang terjadi.
Merasa cukup melihat adegan yang menyanyat hati Bagus pun mengusap sudut matanya yang berair kemudian berdehem.
Fandi, Sarah , dan Kiara kompak menoleh ke asal Suara yang berasal dari ranjang dimana kakeknya berbaring.
" Papa /Kakek " pekik Mereka berbarengan dengan suara terkejut.
Di susul dengan langkah terburu mendekati ranjang, di mana ada Kakeknya yang tiba-tiba ingin duduk dengan gerakan susah payah.
Fandi membantu papanya dengan menopang punggung dan memegang tangan Bagus erat, sehingga akhirnya, Kakek Bagus bisa duduk dengan nyaman setelah Sarah meletakkan bantal di belakang punggungnya.
Sarah segera memberikan segelas air dengan sedotan yang di arahkan di mulut Kakek Bagus , saat Kakek memberi kode pada sarah yang ada di sampingnya.
" Kakek. .. Syukurlah, Kiara khawatir sekali melihat Kakek tidak kunjung membuka mata" ujar Kiara menahan isakannya.
Kakek Bagus tersenyum lemah, senang bisa melihat lagi wajah dari Cucu kesayanganyanya saat ini.
" Bagaimana keadaan Kakek " lanjut Kiara bertanya.
" Kakek tidak apa-apa, Kakek sudah sehat" balas Kakek Bagus dengan suara lemah yang hampir tidak terdengar.
" Syukurlah ..Kiara sayang banget sama Kakek ." desah Kiara lega.
" Kakek harus istirahat yang banyak, mulai sekarang Kakek tidak boleh bekerja.
Kiara yang akan ambil alih kerjaan Papa dan papa yang hendle bagian Kakek " ujar Kiara tegas. Membuat Kakek Bagus, yang dari dulu menantikan kesiapan Kiara tidak kuasa menahan senyumannya meski senyum tipis yang masih terlihat lemah.
" Baiklah , terima kasih Cucuku sayang" balas Kakek Bagus senang.
" Tidak, ini bahkan tidak ada apa-apanya Kek.
Apapun demi Kakek akan Kiara lakukan" janji Kiara pasti.
" Termasuk masalah perjo.. " mendengar kalimat yang akan Kakeknya ucapkan menjurus ke masalah sensitif untuknya.
Kiara pun buru buru memotong ucapan Kakeknya meski tidak sopan dengan mengalihkan pertanyaan lainnya.
__ADS_1
" Ahh ... Kakek , apa yang akan Kiara lakukan saat menjadi Direktur Eksekutif nanti" tanya Kiara mencoba berusaha mengalihkan pertanyaan Kakeknya dengan hal mengenai urusan Kantor .Membuat kakek bagus menghela nafas mengalah
" Biarlah mengikuti arus" batin Kakek Bagus pasrah.
Dan akhirnya Kakek Bagus dan semua yang ada di ruangan larut dalam obrolannya.
Membahas apapun kecuali masalah perjodohan.
Tidak terasa waktu menunjukan pukul tujuh malam, Fandi yang sempat pulang ke rumah tentu saja sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan kemeja biasa.
Sedang Sarah sudah membawa perlengkapannya sendiri.
Fandi yang sempat di telfon oleh Calon menantunya pun tahu jika hari ini Dirgalah yang mengantar Kiara dan mengantar barang Kiara ke rumah, membuat Fandi setidaknya bisa bernafas lega karena dengan adanya Dirga di sisi Kiara membuat kecil kemungkinan Kiara bertemu pemuda brengsek masa lalu Kiara dulu.
" Kamu pulang dulu ya, istirahat di rumah" perintah Papa Fandi yang di jawab gelengan keras oleh Kiara .
Kiara yang sedang fokus menyuapi Kakek Bagus makan bubur pun manyun, setelah mendengar perintah dari Papanya.
Kiara menggeleng kepala tanda protes
" Nggak mau pah, Yaya mau nemenin Kakek " tolak Kiara keras kepala.Membuat Fandi memasang wajah frustrasi menghadapi kekeraspalaan dari anak hasil cocok tanamnya bersama Sang istri.
" Persis banget kaya Saya dulu... Eh" batin Fandi kaget baru menyadari jika kekeraspalaan kiara ternyata berasal darinya.
" ini bukan salah saya, tapi salah papa saya" lanjut Fandi masih dalam batin, namun kali ini menyalahkan Bagus atas kekeraspalaanya yang menurun ke Kiara anaknya.
" Tidak bisa Yaya sayang, kamu pasti lelah... Jadi kamu istirahat di rumah saja" ujar Fandi tegas tidak mau di bantah.
Kiara kekeuh, ingin menginap di rumah sakit menemani Sang kakek.
" No Papa " balas Kiara tidak kalah tegas
" Kiara Arya Wicaksono " eja Fandi menekan suaranya di setiap kata, Berharap Kiara menurut. Namun sayang sekali, Darah lebih kental dari pada air.Jadi sia sia saja jika Fandi berharap Kiara akan menurutinya.
Sarah menghela nafas lelah, membuat dirinya yang dari tadi melihat percakapan antar Ayah dan Anak ini harus ikut turun tangan.
"Tadi aja sayang sayangan, sekarang adu kekeraspalaan. Dasar" batin Sarah heran.
" Oke ... Jangan ribut, Kakek perlu istirahat"
Lerai Sarah dengan aura seramnya.
Membuat Fandi dan Kiara, yang tadi saling menghadap dengan wajah berdekatan hampir menempel rekfles berpelukan satu sama lain dan kompak membatin
Melihat dua Orang keras kepala beda usia yang sudah mulai jinak, akhirnya Sarah pun merubah kembali aura seramnya menjadi hangat.
" Yaya sayang, kamu pulang dan istirahat di rumah ya" pinta Mama sarah lembut dan itu Membuat kiara lesu
" Tapi mah..." bantah Kiara, namun tidak jadi di teruskan pada saat melihat Sarah tersenyum manis, lebih tepatnya senyum iblis malihat ke arahnya.
Gleek...
" Ugg .. Oke Kiara pulang ke rumah deh" balas Kiara patuh setelah menelan slavianya dengan susah payah, akibat senyuman menjanjikan milik Mama tersayangnya.
Di sini kita bisa mengambil informasi jika Kiara keras kepala hasil turunan sang papa dan Kakek , dan seram saat marah atau diam hasil turunan Sang mama. Oke 👌 sip(plak)
" Bagus , anak mama yang cantik." ujar Sarah senang.
Kiara kalah, Membuat Fandi pun tersenyum penuh kemenangan ke arah Kiara, yang saat ini manyun sambil mempelototi dirinya.
" Ughhh ...Papa nyebelin, tapi sayang" batin Kiara plin plan.
Ckckckc.... Awas jangan jadi anak durhaka yang kedua kalinya ya Kiara sayang.
Akhirnya Kiara pamit, di antar oleh sopir pribadi keluarga pulang ke rumah untuk istirahat.
Sedangkan Dirga , Saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya. Dirga sudah lama pisah dan tinggal mandiri di apartemennya.
Apalagi ia jarang ada di kota S, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di perusahaan yang di berada di kota Y.
Membuat Dirga jarang bertemu dengan Mama dan Papanya,
Kakeknya, yang sebenarnya sudah pantas pensiun masih aktif menangani urusan kantor, sekarang Dia berada di luar negeri untuk kerja sama yang sebenarnya sudah Dirga hendle.
Masih ingatkan waktu Papanya menyuruhnya untuk keluar negeri waktu itu (episode bad mood dan dilema). Saat itu Dirga membantu Sang Kakek untuk negoisasi dengan perusahaan besar yang akhirnya sukses.
Dan sabagai ganti dirinya, kakeknya lah yang melanjutkan rancangan lainya.
Di depannya ada gerbang mewah, yang terbuka Otomatis pada saat mobil kepunyaan Dirga hampir mendekati gerbang.
Dengan sistem canggih yang di desain sedekian rupa, membuat keamanan dan kenyamanan Mansion milik keluarga Dirga terjamin.
Di jaga oleh beberapa Security profesional menambah persentase keamanan.
__ADS_1
Dirga di sambut ramah oleh Pak Ojo, keamanan paling sepuh yang sudah bekerja sangat lama dengan keluarga Wijaya .
" Selamat malam Tuan muda" sapa Pak Ojo
Pada saat dirga menurun kan kaca mobilnya.
" Malam Pak Ojo " balas Dirga ramah, mengingat Pak Ojo ini sering membantunya kabur jaman Ia nakal, tentu saja membuat Dirga respeck terhadapnya.
Setelah berbasa basi, kemudian Dirga kembali menjalankan mobilnya menuju garasi, tempat mobil milik keluarganya terparkir rapih.
Kebanyakan milik Kakeknya ,
Papanya tidak terlalu suka mengoleksi mobil.
Dan Mamanya sendiri hanya memiliki dua buah Mobil yang jarang terpakai, karena terlalu nyaman dengan adanya sopir yang membawanya pergi kemana saja.
Sedangkan satu milik Dirga mobil hadiah dari kakeknya dulu, Mobil Audi a4 yang sengaja ia simpan di Mansion ini.
Di apartemen pribadinya, tepatnya di Basement yang ia sewa khusus untuk parkir Mobil pribadinya, Dirga pun tidak kalah dari Sang Kakek .
Setidaknya ada Empat Mobil mewah, mulai dari Ferrari , Porsche , Lykan dan tentunya Lamborghini kesayangannya yang selalu Ia bawa kemana-mana.
Dirga sampai di depan pintu mansionnya yang tadi di buka oleh Mbok Siem , dan di dampingi oleh Bi Nana Kepala pelayan yang sudah bekerja dari jaman Dirga masih memakai popok.
Umurnya sudah hampir seperti kakeknya, namun ketelitiannya tidak di ragukan lagi.
Kesetiaannya membuat keluarga Wijaya menganggap Bi Nana sebagai bagian keluarga Wijaya . Bahkan anak nya pun ikut bekerja di sini.
" Selamat malam Tuan muda" sapa Bi Nana dengan suara khasnya dan senyum sejuknya.
Dirga balas tersenyum meski tipis,
" Malam juga Bi Nana , Mama Papa di mana? " balas Dirga singkat kemudian bertanya keberadaan orang tuanya.
" Di ruang keluarga Tuan muda" jawab Bi Nana sambil mengikuti Dirga, yang melanjutkan perjalanan menuju ruang keluarga, di mana tempat Papa dan Mama tercintanya berkumpul seperti apa kata Bi Nana .
" Dirga pulang" sapa Dirga datar namun ada nada hangat di dalam nya. Membuat Hendri dan Putri yang sedang asyik bercengkrama menolehkan kepala kompak.
" Dirga " pekik Mama Putri senang kemudian menghambur ke pelukan Dirga .
Pelukan dari Anak kesayangannya yang sudah lama tidak bertemu (padahal baru dua minggu, malahan sempet nyiksa dengan memberikan tugas yang aduhai nggak kelar kelar)
Dirga menyambut pelukan Sang mama tercinta dengan erat.
Kemudian membungkukan tubuh mnya singkat untuk salam kepada papanya setelah pelukan maut Mamanya a terlepas.
Dan karena jam menunjukkan waktu makan malam, akhirnya mereka pun menuju ruang makan bersamaan sama, untuk menikmati makan malam yang jarang mereka lewati bersama karena kesibukan dari setiap anggota keluarga Wijaya.
Selesai makan malam, Dirga menghadap papa nya untuk membahas masalah perusahaan serta sedikit masalah mengenai kondisi kesehatan Kakek Bagus, kakek dari Calon besannya.
Di kantor pribadi milik Fandi
Suasana ruangan yang di desain sederhana khas Papanya menyambut indra penglihatan Dirga . Susunan dan segala Furniture di dalamnya pun masih seperti dulu.
" Ehem ... Kamu ngajak Papa ke ruangan ini bukan cuma untuk melihat lihat kan, Dirga ? " tagur Hendri tegas, membuat Dirga pun mengalihkan pandangannya dan fokus ke pada Papa Hendri i sepenuhnya.
" Hn ... Tidak" balas Dirga datar plus dengan nada songongnya
" Cih ... Sama Papa sendiri aja songong apalagi sama Istrinya nanti" ejek Hendri telak membuat Dirga tersedak dengan wajah merona.
" Ck ... Nggak lucu Pah " balas Dirga sewot.
Gini nih kalau Anak songong ketemu Bapak yang sama songongnya, membuat suasana pun menjadi tambah berat.
Udah tahu kan jadi dari mana asal muasal kenapa Dirga bisa songong, lah bapaknya aja songong apalagi anaknya. Ehhh...
" Cih ... Nggak bisa becandaan kamu mah Ga , nggak seru" balas Papa Hendri tambah ngeledek, menuai dengusan dari Anaknya.
" Lalu ..." lanjut Hendri bertanya singkat kepada Dirga yang saat ini hanya memasang wajah minta di tampolnya.
Dan selanjutnya diskusi serta obrolan yang hanya di mengerti Merekalah yang selanjutnya terdengar. Hingga Dirga tiba-tiba membahas mengenai masalah yang sedang Ia hadapi saat ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Penasaran jangan kemana mana loh, tetap tunggu kelanjutan nya.
Tinggal kan jejak komentar dan saran
Serta klik tombol jempol nya.
Terimakasih
Dan
__ADS_1
Sampai babai