Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Maafin Mas Yang Tidak Peka


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya


Keesokan harinya


Hari ini tidak seperti biasa, Gavriel bangun dari tidurnya di subuh hari, tanpa sang Mommy yang membangunkannya.


Ia sengaja bangun subuh, terlampau subuh sebenarnya, untuk berlari dan melakukan aktivitas olahraga lainnya.


Di halaman besar rumah kedua orang tuanya, Gavriel melakukan lari berkeliling di temani dengan suara musik, yang berasal dari headset bluetooth terpasang di kedua telinganya.


Meskipun telinganya mendengar musik, nyatanya pikirannya tidak singkron dengan apa yang di dengarnya.


Setelah obrolan ngaco ia dan Ezra tadi malam, sepupunya pulang tanpa ada penjelasan selanjutnya.


Sampai saat ini ia masih memikirkan, apa maksud suka yang di ucapkan Ezra tadi malam.


Masalahnya bukan hanya Ezra saja yang bertanya, tapi juga sang adik yang sampai sekarang masih sebal dengannya.


Ia belum meminta maaf, sebab El akan pergi saat ia hendak menghampirinya.


Dan itu membuatnya tambah frustrasi saja.


Sebenarnya kenapa mereka bertanya seperti itu, lagian apa iya jika ia suka dengan teman sekelas yang baru saja ia kenal.


Gavriel pov on


Aku saat ini sedang lari-lari di tempat, sambil berpikir mengenai pertanyaan adik serta sepupuku.


Aku tidak mengerti apa yang mereka tanyakan.


Kenapa mereka sampai bertanya seperti itu?


Sebenarnya apa yang membuat mereka menganggap aku menyukai dia?


Aku memang merasa nyaman dengan kehadiran dia, lalu apa hanya karena nyaman aku suka dengan dia?


Kalau begini bukan kah artinya aku juga suka dengan Queen? Karena aku juga nyaman dengan kehadirannya.


Aku menggelengkan kepalaku, menghilangkan pikiran anehku.


Tentu saja aku menyukai Queene, karena dia adalah sahabatku.


Tapi .... Siapa Kei untukku? Kenapa aku merasa nyaman yang berbeda, saat aku sedang bersamanya.


"Apa benar, aku menyukainya?" gumamku, berhenti dari lari-lariku.


Aku pun berbalik ke arah rumah, saat cahaya mentari pagi, sudah mengintip malu di sela-sela pepohonan halaman rumahku.


Di depan kamar aku berpapasan dengan adikku, yang melihatku dengan mata memdelik kesal.


"Pagi El!" sapaku, tapi sayang dia hanya bergumam dan kembali masuk ke kamarnya, kemudian menutup pintu, meninggalkan debaman yang pelan tapi cukup keras.


"Haih."


Aku menghela nafas, kemudian masuk kedalam kamar dan bersiap untuk berangkat sekolah.


Sarapan pagi ini cukup sunyi, karena Daddy sedang ada urusan penting, sehingga kami hanya makan bertiga dengan suasana aneh.


"Mom, El berangkat dengan Pak Anto yah!"


Aku menolehkan wajahku, saat adikku berbicara dengan Mommy, bukan karena berbicaranya, tapi karena perkataan El yang membuatku melotot seketika.


Apa-apa'an ini kenapa El seakan tidak menganggapku ada.

__ADS_1


"Loh ... Kenapa nggak sama Mas seperti biasa?"


Mommy belum tahu, aku rasa pura-pura belum tahu.


"Malas Mom, El ma-


"El kamu berangkat dengan Mas, titik!" seruku mutlak.


Adikku hanya melengoskan kepala, lalu bergumam terserah kemudian melanjutkan sarapannya kembali.


Aku bisa melihat Momm menatapku, bertanya melalui kode mata tanpa kata, yang aku jawab dengan gelengan kepala.


Akhirnya aku berangkat dengan El di boncenganku, meskipun ada yang berbeda dengan dia yang duduk menjauh dariku.


Sesampainya di depan gerbang sekolahnya, aku menarik tangannya yang hendak meninggalkanku begitu saja.


Grep!


"El ... Mas minta maaf, kalau Mas punya salah," ujarku menatap adikku memohon.


Aku bisa melihat El yang menghela napas, lalu menatapku dengan pipi menggembung lucu.


Adikku masih seperti itu kalau kesal.


"Mas, nggak salah. El yang kekanakan," balas adikku.


"Lalu kenapa Mas di jauhi seperti itu?" tanyaku belum puas.


"Huft ... Mas, El hanya bertanya apa Mas-


"Suka dengan kak Kei?" selaku cepat, saat adikku hendak bertanya, membuatnya mengangguk masih dengan pipi menggembung kesal.


"El ... Mas bukan tidak mau menjawab, tapi Mas bahkan tidak tahu, suka apa yang El maksud," ujarku menantap adikku meminta pengertian.


"Mas ... El tuh tahu, selama ini hanya kak Queene, yang bisa membuat Mas tersenyum seperti itu. Tiba-tiba datang kakak perempuan lain, lalu bisa membuat Mas tersenyum seperti itu, bagaimana El tidak bertanya?"


Hah!


"Lalu apa artinya Mas juga suka dengan kak Queene, karena Mas tersenyum dengan kak Queene?" tanyaku membuat adikku melihatku dengan kening berkerut.


"Tentu saja tidak, Mas dan kak Queene sudah lama bersama."


Adikku bahkan bingung dengan pertanyaanku, lalu bagaimana aku yang mendapat dua pertanyaan sama seperti itu.


"Lalu bagaimana bisa El bertanya, jika Mas suka sama dia seperti itu?" tanyaku gemas.


"Tapi-tapi, tapi Mas tidak biasanya seperti itu."


"Mas tahu .... Tapi bisakah kita lupakan, maafin Mas yang nggak peka, Mas cuma tidak tahu, suka yang kamu maksud itu apa," ujarku jujur.


El menatapku setelah menghembuskan napas lalu tersenyum melihatku, membuatku ikut tersenyum karena artinya kali ini aku di maafkan.


Grep!


"Mas ... El minta maaf," bisik adikku, hingga aku balas memeluknya dengan senyum tipis.


Ah ... Akhirnya adikku memaafkan aku.


"Mas."


"Heum?"


"Mas ...."


Queene membisikkan sesuatu yang membuatku kaget seketika.


"Apa maksudnya? Kok nanyanya gitu?" tanyaku tidak sabar.


Aku melihat adikku tersenyum usil, saat dia berhasil membuatku gugup seketika.

__ADS_1


Bagaimana bisa adikku bertanya seperti itu, ah ... Membuatku malu saja.


"Nggak di jawab juga nggak apa-apa, kan cuma nanya. Blee!"


"Kamu ini masih kecil, jangan pikirin yang seperti itu dulu," ujarku sambil menarik pipinya pelan, membuatnya tersenyum lalu balik menarik pipiku, sehingga kami pun tertawa bersama.


"Hi-hi, Mas malu artinya iya yah?"


Adikku bertanya dengan usil, membuatku geleng kepala dengan senyum kecil, setidaknya adikku sudah kembali seperti dulu dan itu membuatku lega.


"Sok tahu, sudah sana masuk."


"Oke Mas! El masuk, Mas hati-hati di jalan."


Aku mengangguk dan kembali menghidupkan mesin motorku, memindahkan gear dan kopling.


"Sampai jumpa, lill princess!"


"Sampai jumpa, Mas!"


Brum!


Di perjalananan aku tidak bisa untuk tidak menggeleng kepala, masih lucu akan ucapan adikku tadi.


"El ... Apa ini maksud kamu, saat dulu kamu berkata, jika akan tambahan di antara kita nantinya?" batinku saat mengingat wajah seseorang.


Tidak lama akhirnya sampai juga aku di halaman parkir sekolah, kebetulan motor yang aku tumpangi datang bersamaan dengan motor Ezra, yang membonceng Queene di belakangnya.


"Abis anter El, Gav?" tanya Ezra sedangkan Queene hanya diam.


Aneh pikirku.


"Iya ... Daddy tidak ada di rumah," balasku melihat ke arah perempuan satu-satunya di antara kami.


"Que, tumben diam saja?" tanyaku dengan alis terangkat penasaran.


"Sakit perut."


"Udah minum obat?"


"Sudah."


Ya ampun ... Singkat sekali, membuatku menghela napas.


Ini ada apa lagi, kemarin El dan sekarang Queene.


Besok siapa?


Ezra?


Ya kali Ezra masa aku rayu seperti adikku juga.


"Minum air hangat yah, nanti aku ambilin."


Dia hanya mengangguk dan berjalan lebih dulu, meninggalkan kami yang saling lihat.


"Sebenarnya, ada apa dengan Queene?" tanyaku kepada sepupuku yang hanya mengangkat bahu tak acuh.


"Sepertinya karena itu."


"Itu? Yang kata kamu semalam?" tanyaku berjalan bersama sepupuku, menuju koridor menyusul sahabat perempuanku yang pasti sudah duluan.


"Iya."


"Tapi itu apa sih, sebenarnya?" batinku tidak mengerti.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya.


Sampai babai.


__ADS_2