
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wardhana
Di depan teras Kediamanan Wardhana ada sebuah mobil berwarna hitam, dengan si pemilik mobil yang saat ini sedang berdiri di hadapan seorang laki-laki lainnya atau juga pemilik dari kediamanan Wardhana.
Dua laki-laki ini adalah Faro dan Ge yang berdiri saling berhadapan, dengan satu yang mendengar sedangkan yang satunya menjelaskan.
Faro menjelaskan dengan hati-hati bagaimana ia menyayangi sang anak, kepada Ge yang mengangguk mengerti, akan apa yang disampaikan oleh ayah dari perempuan yang ia sukai.
Faro menceritakan bagaimana anaknya tumbuh dengan Gavriel juga Ezra, bukan maksud untuk membuat Ge berkecil hati, juga tidak ingin Ge salah paham, karena ia selama ini terlihat seperti tidak menerima kehadiran Ge dikehidupan putrinya.
Sedangkan Ge sendiri hanya diam, mendengarkan dengan seksama, agar ia tidak salah mengartikan apa yang disampaikan oleh ayahnya Queeneira.
"Jadi ... Om hanya ingin kamu tahu, jika putri om bukan lah orang yang akan mudah melupakan sesuatu. Jika kamu memang ingin menemani Queeneira, om harap kamu tidak memaksakan kehendak dan menunggu sampai Queeneira yang membuka hati."
Penjelasan berikutnya dari Faro diangguki kepala juga oleh Ge, yang dari tadi mendengar dengan kepala menunduk.
"Bukan maksud om juga untuk melarang kamu dekat dengan amuy, tapi om hanya ingin amuy tidak mengalami lagi sakit, saat sekarang pun dia masih belum benar-benar melupakan rasa sakitnya."
Kedatangan Elisa dan Queeneira mengakhiri obrolan keduanya, kemudian Faro pun masuk ke dalam mobilnya setelah mengecup kening istri dan putrinya, karena tidak ingin mendengar pertanyaan yang pasti akan ditanyakan oleh putrinya.
"Kami juga berangkat, Tante!"
"Hati-hati di jalan!"
"Bye Mah, Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
SMA TRISAKTI KOTA S
Mobil yang di kendarai oleh Ge akhirnya sampai juga di parkiran sekolah mereka.
Queeneira lebih dulu turun dari mobil, baru kemudian Ge, yang berjalan menghampiri Queeneira disisi mobil lainnya.
Keduanya jalan bersama menuju kelas Queeneira berada, diiringi dengan obrolan ringan seperti biasa dan masih seperti kemarin. Seakan Queeneira sudah benar-benar melupakan masalah kemarin atau mencoba untuk baik-baik saja.
Ge pun demikian, tidak mengungkit masalah kemarin, saat ia juga ingat pembicaraannya dengan ayah Queeneira.
Ge akan berusaha membuat Queeneira nyaman dengannya, tanpa harus membawa perasaan pribadinya dan akan menunggu sampai Queeneira siap untuk membuka hatinya.
Meskipun belum tentu ia yang akan menjadi pilihan hati Queeneira, ia akan tetap menemani Queeneira sampai kapan pun.
Anggap ia bodoh, tapi rasa sayangnya dengan Queeneira sudah bukan rasa sayang biasa lagi, saat ia merasa harus melindungi Queeneira dari rasa sakit lainnya.
Mereka pun sampai di depan kelas Queeneira, masih menyempatkan untuk mengobrol seru, dengan Queeneira yang sebenarnya tahu, jika saat ini ada sahabatnya di dalam kelas dan sedang melihat ke arahnya.
Jangan nengok ke dalam, aku tidak ingin melihatnya dan ingat pesan Baba, batin Queeneira mengingatkan dalam hati permintaan sang Baba yang ingin ia melupakan rasa untuk sahabatnya.
"Jadi kami semua lari, karena tiba-tiba ada suara tawa perempuan di dekat pohon," lanjut Ge saat ia sedang menceritakan tentang ia dan tiga teman lainnya, ketika sedang melakukan unjuk keberanian.
Queeneira tertawa kecil saat mendengar cerita kakak kelasnya, mengalihkan rasa ingin menoleh yang ditekan habis-habisan dalam hatinya dengan larangan tidak dan jangan.
"Benarkah? Kalian ini sepertinya suka sekali tantangan, tapi penakut," sahut Queeneira meledek Ge yang menampilkan raut wajah tidak terima.
"Hey! Siapa yang penakut?"
"Kakak lah, siapa lagi."
"Dih! Siapa yang takut, ora-
Teng! Teng! Teng!
"Ah! Sial, baru juga datang sudah masuk aja."
Kalimat Ge berganti dengan umpatan kesal, saat bell sekolah berbunyi sebagai tanda masuk, membuat Queeneira menggelengkan kepala mendengar rasa kesal kakak kelasnya, yang tidak pernah jauh dari kata umpatan.
"Mulutnya kak, bukannya bersyukur masih bisa belajar, malah mengumpat. Mau disumpal rumput itu mulut?" timpal Queeneira dengan nada gemas, membuat Ge tergelak alih-alih takut dengan ancaman adik kelasnya.
"Ha-ha-ha!! Dari pada disumpal dengan rumput, mending sama yang lain aja," sahut Ge disela gelak tawanya.
"Iya sudah! Sama kaos kaki aja."
"Eh! Buset! Jorok banget cantik-cantik."
"Biarin, blee," tandas Queeneira dengan menjulurkan lidah meledek Ge, yang diam-diam merasa lega.
Syukurlah, lu nggak terlalu sedih, Queene.
__ADS_1
"Iya lah, terserah apa kata Nyonya aja. Gue ke kelas dulu, selamat belajar!"
"Oke! Selamat belajar juga, kak."
Queeneira pun membalikkan tubuhnya menghadap kelas, kemudian menghela napas dan melangkah masuk, membalas sapaan untuknya dan juga menyapa sahabatnya__Ezra, serta mengabaikan sahabat satunya__Gavriel yang diam-diam melirik ke arah Queeneira.
Hari selanjutnya datang, Queene yang masih menghindari Gavriel mencoba untuk berbaur dengan yang lainnya. Berbincang dengan teman dari kakak kelasnya, yang waktu liburan sempat bergabung dengan ia dan sahabatnya.
Lusa adalah hari ujian pernaikan kelas, biasanya Queeneira dan dua sahabatnya akan belajar bersama untuk menghadapi ulangan. Tapi tidak saat ia masih menghindar, juga saat ia masih menata hatinya yang sebenarnya masih berantakan.
Hanya saat sedang bersama Ezra dan Selyn lah, Queeneira tidak akan menghindari keberadaan Gavriel, yang juga hanya akan diam saat mereka berkumpul dengan adik dan sepupunya.
Sampai hari ketujuh, Queene juga masih menghindari dengan lagi-lagi berbaur bersama anggota klub memasak dan membahas kegiatan mereka nanti, kegiatan memasak saat hari bebas yang disusun oleh pihak sekolah.
Seperti yang sudah dibahas, jika sehari sebelum hati ujian, pihak sekolah memperbolehkan para murid untuk melakukan kegiatan yang diinginkan.
Maka itu, Queene dan teman lainnya saat ini sedang di ruang klub untuk memasak. Dengan masakan yang sudah mereka sepakati, jauh sebelum hari ini datang.
Ya ... Mereka akan memasak makanan dengan bahan mie dan di masak sesuai selera masing-masing dan kebetulan Queeneira membuat mie ala korea__Samyang.
Sebenarnya dalam hati Queeneira, ia ingin sekali memberikan hasil masakannya ini kepada sahabatnya. Tapi, tidak boleh, jika ia mendekati Gavriel artinya usahanya untuk menghindari Gavriel gagal.
Karena jujur saja, semakin ia menghindari sahabatnya, semakin ia merasa merindukan dan ingin dekat dengan sahabatnya itu.
Hati kecilnya masih belum mengikhlaskan rasa yang dimilikinya, ia masih ingin menggapai rasa cintanya, yang sudah ada dari sebelum ia sadar akan rasanya sendiri.
Tapi, ia sudah terlanjur bilang kepada Babanya, untuk belajar melupakan rasa sayangnya kepada sahabatnya.
"Que!" seru seseorang, memanggil Queeneira yang saat ini sedang melihat dua piring mie hasil buatan dengan tatapan kosong. Bimbang saat ia berpikir ingin memberikan satu piring untuk sahabatnya atau orang lainnya.
"Queeneira! Oy!"
"Ah! Apa?" tersentak kecil dan melihat seseorang yang berdiri di d hadapannya, Queene melihat dan bertanya kepada kakak kelasnya, yang entah kenapa tiba-tiba ada di hadapannya.
"Lah! Sejak kapan kakak di sini?" lanjutnya bertanya.
Ge mendengkus saat melihat Queeneira baru sadar dari melamunnya, kemudian melihat dua piring mie dengan tatapan berbinar lapar.
"Gue lapar!" seru Ge menatap Queeneira, yang balas menatapnya dengan ekspresi aneh.
"Ya makan kak, ngapain bilang ke aku kalau kakak lapar?" tanya Queeneira menjelaskan kepada Ge yang berdecak sebal.
"Ck ... Maksud gue itu, gue mau nyoba masakan lu. Harumnya bikin lapar, masa gitu aja harus di jelasin sih," tukas Ge dengan nada sebal yang kentara, sehingga Queeneira yang baru mengerti pun akhirnya tertawa canggung, menatap Ge yang menatapnya semakin sebal.
Benar juga, tidak salah aku memberikan ini untuk kak Ge, dia kan sudah berusaha membuat aku melupakannya, biarin Queeneira tersenyum kecil.
"Yuk! Ke taman belakangan aja yah, biar nggak ada yang liat kalau tiba-tiba gue mati keracunan," timpal Ge kemudian menggoda Queeneira yang balas dengan kata amin cepat, sehingga ia pun membalas Queeneira dengan usakan gemas pada rambut berkuncir milik Queeneira.
"Kak jahat, acak-acakan, kan!"
"Sengaja!"
Skip
Selesai makan mie dengan Ge di belakang taman, Queeneira dan Ge masih duduk dengan melihat ke arah danau.
Danau saksi saat Queeneira menangis, danau yang juga jadi saksi pertengkaran antara Gavriel dan Ge.
Udara yang menimbulkan suara desiran pepohonan, membuat suasana nyaman, meskipun keduanya sama-sama tidak sedang berbincang santai seperti biasanya.
Queeneira yang melihat danau sana terdiam jatuh dalam lamunannya, sedangkan Ge hanya diam sambil sesekali melirik ke arah Queeneira, yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya pada air jernih di danau yang ada di hadapannya.
Apa yang sedang lu pikirkan, Queene, batin Ge penasaran.
Saat Ge sedang melihat Queeneira, tiba-tiba Queeneira melihat ke arahnya sehingga kini mereka pun saling bertatapan, tapi tidak lama saat Queeneira memutuskan kontak mata dan melihat kembali ke arah danau sana.
"Kenapa liatin aku gitu, kak?" tanya Queeneira setelah lama keterdiamannya.
Ia melempar sebuah batu kecil ke arah danau, lalu tenggelam dan menimbulkan riak kecil di sekitarnya.
"Nggak apa-apa, nggak ada pemandangan yang indah selain lu soalnya," balas Ge dengan senyum usil menghiasi, sehingga Queeneira pun mendengkus dan kembali melihat ke arah Ge yang sudah melihat ke arah lainnya.
"Kak."
"Hmm?"
"Terima kasih, sudah nemenin aku dan menghibur aku."
"Nggak masalah," sahut Ge cepat, mengikuti Queeneira yang sesekali melempar batu kecil ke arah danau.
"Kak."
"Oit!"
__ADS_1
"Sorry."
"......"
Ge tidak menjawab, melainkan melihat Queeneira dengan kening berkerut yang disadari Queeneira dan segera melanjutkan ucapannya.
"Sorry, aku nggak bisa janjiin apa-apa buat kakak."
"Maksudnya?"
"Kakak sudah dengar dari Baba, kan. Jika aku bukanlah orang yan-
"Gue ngerti, gue ngerti banget."
"Semakin hari aku berusaha menghindarinya, semakin aku tidak bisa untuk melupakannya. Jadi aku rasa, dari pada aku seperti memberikan harapan, lebih baik aku kasih tahu lebih dulu. Kalau aku masih butuh waktu lama, untuk melupakannya dan aku tidak tahu sampai kapan itu."
"Jangan pikirin gue, bukannya udah gue bilang kalau gue sudah anggap lu ini sebagai adik gue sendiri," ujar Ge dengan nada dibuat-buat santai mengabaikan rasa sakitnya, ditolak untuk kedua kalinyanya dengan orang yang sama.
Ia tahu saat ini kenyataan semakin tergambar jelas di hadapannya. Kenyataan tentang sampai kapanpun, ia tidak bisa memiliki adik kelasnya.
Setelah jawaban Ge di dengar oleh Queeneira, keduanya pun saling diam.
Keterdiaman yang membuat Ge menghela napas dan memutuskan untuk mengungkit lagi, apa yang terjadi saat ia dan Gavriel sedang berbicara saat itu.
"Que, gue mau kasih tahu, saat gue sama Gavriel kemarin ngomong berdua disini. Lu mau denger atau tidak?"
"Maksud kakak, saat kakak dan Gavriel kemarin bertengkar?"
"Iya."
"Nggak kak, kalau hanya mengingatkan aku tentang dia yang bil-
"Kemarin gue bilang, kalau dia nggak suka dan cinta sama lu sedikit pun, iya kan? Tapi, apa iya lu langsung percaya seperti itu aja, Queene. Sedangkan lu nggak liat tatapan matanya saat itu."
Queeneira terdiam saat Ge menyelanya dengan ucapan sama, namun tambahan dengan kata-kata yang membuatnya diam seketika.
"Gue, yang baru kenal dia juga tahu, kalau saat itu dia lagi bohong."
"..."
"Gue sebenernya senang, saat akhirnya dia menyerahkan lu buat gue, sehingga gue bisa menggantikan posisi dia buat jagain dan juga ngebahagian lu."
"...."
"Tapi ternyata percuma, karena lu sebenarnya akan bahagia jika itu dengan dia. Iya kan, Queene?"
Queeneira hanya terdiam, saat Ge menjelaskan segala sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia dengar lagi, tapi saat Ge bertanya dengan nada frustrasi tentang kebahagiaannya, ia dengan cepat menoleh ke arah Ge yang melihat danau dengan tatapan sendu.
"Nggak kak, kamu salah. Aku bahagia dengan kehadiran kakak. Aku bersyukur karena adanya kakak, aku bisa melupakan rasa sedihku."
"Seperti itu?"
"Iya, tentu saja!"
"Aku benar-benar ingin melupakan Gavriel, kak," lanjut Queeneira sendu.
Lalu keduanya diam lagi, kemudian Ge pun berdiri dan mengulurkan tangannya, yang disambut segera oleh Queeneira, sehingga kini mereka pun berdiri berhadapan.
"Gue yakin sebenarnya Gavriel juga suka sama lu, Queene. Saran gue, kalau memang lu mau benar-benar melupakan dia. Pastikan dengan mata kepala dan dengar dengan dua telinga lu sendiri, saat dia jawab gue nggak suka sama lu di hadapan lu nanti. Karena gue yakin, tatapan mata dia adalah yang paling jujur saat nanti lu dapat jawaban dari dia."
"Tapi-
"Lu nggak mau kan, hanya karena salah paham antara perasaan lu dan dia, persahabatan kalian juga ikut hancur?" tanya Ge cepat, menyela kalimat yang akan diucapkan oleh Queeneira, dengan Queeneira yang mengangguk kecil.
"Nah .... Setidaknya, kalau kalian sama-sama sudah tahu jawaban akan perasaan kalian masing-masing, kalian bisa dengan cepat melupakan perasaan, tanpa tali persahabatan dibawa putus serta. Iya kan?"
Apa yang diucapkan oleh Ge adalah benar, semakin lama ia menghindari ini, persahabatan mereka semakin hambar dan ia tidak ingin lama-kelamaan persahabatan mereka hancur.
Benar, aku harus memastikan sendiri sebelum aku benar-benar akan melupakannya, batin Queeneira.
Ia mengepalkan tangannya, menatap Ge dengan senyum dan mata berkaca-kaca, membuat Ge mengusap kepala Queeneira, sebagai ganti saat ia merasa tidak pantas untuk memeluk Queeneira.
"Terima kasih, kak."
"Hn, semangat!"
Karena apapun jika itu untuk lu, pasti gue lakuin, Queeneira.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Terima kasih dan sampai babai.