
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Benarkah?"
Kiara menggoda Suaminya, yang saat ini menampilkan wajah sombong tidak terima saat di remehkan.
"Mau Aku ikutan dalam permainan di sana?" ujar Dirga menantang.
Ia memandang dengan senyum miring, tapi berubah menjadi senyum jengkel saat Sang istri malah melihatnya dengan tatapan usil.
"Hi-hi-hi, lihat Daddy merajuk dan mulai sombong sayang!" gumam Kiara ke arah Gavriel yang ikut terkikik semangat.
Anaknya ikut melihat sekitar dengan pandangan berbinar senang, lalu menoleh ke arah Sang Mommy yang tadi berbisik julid tentang Sang Daddy.
"Hi-hi, Dadd!"
"Ikut-ikutan saja, dasar buntal!" sahut Dirga menjawili gemas pipi gembul milik Anaknya.
"Daddy ngambek, cie!!!" goda Kiara, yang di balas dengusan kecil dari Suaminya.
"Gigit nih, mau di gi-
"Oi, Ga!"
Kalimat yang akan di ucapkan Dirga terpaksa berhenti, saat mendengar namanya di panggil dengan sapaan akrab.
Dirga dan Kiara serempak menoleh, ke arah asal suara yang ternyata adalah Dani dan Baruna, serta tunangannya sheryl kalau Ia tidak salah ingat.
Mereka bertiga berjalan menghampiri Dirga, yang meminta waktu sebentar kepada Si panitia yang mengangguk mengerti.
"Yoo!" sapa Baruna, saat Ia di depan Dirga yang segera menyambut kepalan tangannya.
"Yo ... Lu juga sponsor di sini?" balas dan ujar Dirga bertanya.
"Bukan ... Gue sama sheryl nonton pertandingan sepupunya sheryl, dari sekolah Bakti Bangsa. Masih ingat sama khanza kan? Yang kemarin Gue ajak jenguk Lu!" seru Baruna menjelaskan.
Dirga mengangguk saat Ia sudsj mengingat, tentang sepupu dari tunangan sahabatnya.
"Iya ... Yang sama cowok muda itu kan?" tanya Dirga memastikan.
"Iya ... Nah Dia itu yang mau tanding, Dia kapten basket sekolahnya. Lalu khanza mengajak Kami nonton, biasa lah anak muda!" balas Baruna dengan senyum geli di belakangnya.
Dirga ikut terkekeh kecil, saat sahabatnya menyebut masa muda yang membuat Ia merasa tuwir mendadak.
"Gila, tiba-tiba jadi tertohok waktu Lu sebut anak muda," ujar Dirga bercanda.
Baruna tertawa kecil, saat menyadari apa ucapan dari Kalimatnya sendiri.
"Lah ... Gue baru sadar," ujar Baruna terkekeh kecil.
"Ya elah ... Emang kalian sudah tuwir kali. Pake acara ngelak segala macem!" celetuk Dani menuai plototan tajam dari Dirga yang membuat gerakan tangan memotong leher.
Dani terkekeh canggung, saat Bos-nya dalam mode sewot akibat candaannya.
"Candaan kali Ga, sensi banget," ujar Dani setelah terkekeh canggung.
Dirga mendengus kecil, saat melihat ekspresi ketakutan dari tangan kanannya.
"Lu dari tadi di sini, Dan?" tanya Dirga mengalihkan pembicaraan.
"Nggak juga, Gue sama Ros baru sam-
"Chotto matte ... Ros? Maksudnya Ros yang itu?" sela Dirga dengan nada kepo, ketularan penyakit dari istrinya.
"Iya lah ... Siapa lagi?" balas Dani cepat. Ia tersenyum miring ke arah Bos merangkap sahabatnya, yang juga balas tersenyum miring kepadanya.
"Gerceup juga Lu, dasar!" seru Dirga geli.
Di sampingnya ada Kiara yang sedang mengobrol dengan Sheryl, hanya bisa menggeleng kepala saat melihat kelakuan Sang suami, jika sudah bertemu dengan orang yang di percayainya.
"Rame yah mereka, padahal menurut berita dan cerita dari Baruna, Suami Kamu terkenal dengan sebutan itu," ujar Sheryl menyebut kata itu dengan tanda petik menggunakan dua jarinya.
Kiara terkekeh saat mendengar pernyataan benar adanya, dari tunangan sahabat Suaminya.
"Justru orang dingin dan arogan, yang di dalam hatinya menyimpan kehangatan berbeda dari pria lainnya. Setia dan hanya mencintai satu wanita, karena Dia terlalu tinggi untuk di Gapai!" seru Kiara membalas pertanyaan Sheryl dengan senyum lembut.
"Benar ... Don't judge someone from the cover, right**?" balas Sheryl dengan senyum kecil.
"That's right, Sheryl. Hi-hi!" ujar Kiara lalu terkekeh bersama Sheryl yang juga terkekeh kecil.
Dirga, Baruna dan Dani menoleh ke arah dua wanita, yang saat ini sedang terkekeh gurih, lalu melihat keduanya dengan pandangan penasaran.
"Kalian sedang mentertawai apa?" tanya Dirga penasaran.
Kikikan keduanya berhenti, lalu melihat ke arah tiga Pria yang saat ini melihat ke arah mereka berdua, dengan pandangan penasaran.
Kiara menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum kecil ke arah Suaminya.
"Tidak apa-apa, Daddy!" seru Kiara membalas pertanyaan penasaran Sang suami.
"Benar begitu?" tanya Dirga tidak percaya.
"Iya sayang, tidak ada apa-apa. Iya kan, Sheryl?" balas Kiara, lalu Ia menoleh ke samping ke arah Sheryl meminta dukungan.
"Hum ... Tidak ada apa-apa kok, Dirga!" seru Sheryl mengiyakan pertanyaan Kiara.
Dirga mengangguk, tidak memikirkan lebih jauh, karena nanti juga Ia akan tahu dari mulut Istrinya sendiri.
"Maaf Tuan Wijaya, sepertinya pertandingan akan segera di mulai. Apa Kita bisa ke kursi sekarang?" ujar Seorang panitia, menginteruspsi obrolan antara mereka saat ini.
Dirga menghadap ke arah Panitia dan mengangguk sebagai jawaban.
"Oke ... Kita pisah sampai sini dulu, sampai nanti lagi. Baruna, Sheryl!" seru Dirga sebagai perpisahan.
Posisi tempat duduk yang sudah di atur untuk para sponsor, membuat Ia tidak bisa dengan bebas menentukan kursi yang ingin di duduknya.
__ADS_1
Meskipun bisa saja Ia memerintahkan, tapi Ia terlalu malas protes, lagian Ia juga tidak ingin anaknya kepanasan berdesakan duduk menyumpel dengan penonton lainnya.
"Oke, kebetulan sepupu Kami juga sudah lama menunggu. See ya ... Ga!" ujar Baruna lalu meninggalkan Ia dan Dani, yang berjalan ke arah tempat duduk Vip untuk sponsor acara ini.
"Lu tinggalin Ros sendiri, Dani?" tanya Dirga di tengah perjalanan mereka.
"Iya," balas Dani cepat dan santai.
"Parah Lu, anak orang di tinggalin sendirian," ujar Dirga datar. Ia melihat dengan lirikan tajamnya, saat Dani santai menjawab pertanyaannya.
"Siapa yang di tinggal siapa dah, orangnya tadi lagi ke toilet. Kebetulan Gue lihat ada Baruna di pintu masuk, ya Gue samperin lah!" balas Dani tidak terima.
Dirga terkekeh kecil, saat mendengar nada sewot dari tangan kanannya.
"Biasa aja geh, sewot gitu. Lagi PMS yah?" ujar Dirga meledek.
Dani mendengus kesal, saat mendengar perkataan meledek dari Bos-nya yang tadi menuduh Ia serambangan.
(Sembarang bimbing. Iya maksudnya gitu)
"Talk with my hand, tadi siapa yang nuduh sembarangan?" ujar Dani sewot.
"Bos Lu, kenapa? Mau protes, heum?" balas Dirga dengan senyum mengesalkan.
"Cih!"
Dirga terkekeh kecil namun dalam hati, saat melihat ekspresi kesal dari Dani. Sudah lama Ia tidak menggoda tangan kanannya, terakhir kali Ia menggoda saat Ia berkata akan mengirim Dia ke Zimbabwe.
Puk! Puk! Puk!
"Nyuh,"
Dirga menoleh ke arah bawah, saat merasakan tepukan pada dadanya, serta suara imut yang adalah Putranya sendiri.
"Huem?" sahut Dirga menjawab tepukan Gav dengan gumaman.
"Nyuh!"
Gavriel bergumam dengan tangan menunjuk ke arah kursi penonton, di mana ada perempuan muda yang di kenalnya sebagai Ruby, orang asing yang di kerjai oleh Sang anak saat Ia ada di rumah sakit tempo lalu.
"Kakak Ruby?" sahut Kiara bertanya.
Gavriel terkekeh senang, saat mendengar nama kakak cantik di sebut Sang Mommy.
Penglihatan Anaknya tajam juga, padahal di sana banyak orang yang juga menonton pertandingan, tapi Gavriel mampu mengenali seseorang dengan baik.
"Ruby sekolah di Bakti Bangsa juga?" tanya Kiara ke arah Dirga dengan penasaran.
Dirga mengangkat bahu tanda tidak tahu, lalu menoleh ke arah panitia yang langsung melihat ke arah yang di tunjuknya.
"Apa di sana, yang memakai seragam berwarna putih abu-abu sekolah lawan atau seragam sekolah sini?" tanya Dirga datar ke arah panitia.
"Oh ... Itu seragam sekolah Kami Tuan Wijaya. Ada apa yah?" balas dan tanya Panitia tersebut penasaran. Ia Penasaran karena baru kali ini, seorang pengusaha sukses bertanya tentang seragam alih-alih bangunan stadion.
"Lalu ... Apa di sini ada siswi bernama Ruby?" tanya Kiara penasaran menyahuti pertanyaan Suaminya.
"Ruby? Di sini hanya ada satu Ruby. Kalau itu yang Nyonya maksud," balas Si panitia ramah.
"Mari!" seru Si panitia, mempersilakan Dirga dan Kiara duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Ia melihat Geonandes, partner bisnisnya yang duduk bersama seorang wanita, masih sama seperti kemarin saat Dia menghadiri pesta ulang tahun Anaknya.
Nicohlas yang di panggil Geonandes olehnya, menoleh ke arahnya dengan senyum miring.
"Yo ... Ketemu lagi!" seru Nicohlas singkat.
"Yeah ... Gue tahu Lu juga sponsor, waktu Gue lihat proposal kemarin," balas Dirga datar.
Ia memposisikan Anaknya duduk dengan tubuh menghadap ke arah lapangan, sedangkan Kiara duduk di sampingnya dengan kaki berlipat anggun.
"Go Shadow, go Shadow, go!"
"Go Shadow, go Shadow, go!"
"Go Shadow, go Shadow, go!"
Seruan penyemangat membuat suasana bertambah riuh, tepuk tangan tidak henti menggema memenuhi setiap sudut stadion.
Tidak ketinggalan teriakan dari Team Cheerleaders kubu sebelah kiri dengan gerakan menari sambil memainkan pom-pom di tangannya.
"Rame banget yank!" bisik Kiara dengan mata binar antusias, saat melihat gerakan tari team Cheerleaders.
Tak lama juga terdengar sorakan dari seberang yang berasal dari Team Cheerleaders kubu kanan, yang menambah suasana dalam stadion menjadi semakin meriah.
"Ray, ray, ray! Tiger! Tiger! Tiger! Sis, sis, sis! Boom, boom, boom! Aaaah! Princeton, princeton, princeton!"
"Woah ... Menurut Kamu, Ray ini kapten kah?" lanjut Kiara masih berbisik dengan antusias.
Dirga mendengus geli saat melihat Istrinya menampilkan ekspresi antusias, tanpa repot menyembunyikannya.
"Entah sayang, nanti Aku tanya!" seru Dirga geli.
Plak!
"Ih ... Kan Aku tanya aja loh yank, bukan sungguhan!" balas Kiara pura-pura kesal.
"Oke deh!" seru Dirga dengan tangan mengusap kepala Anaknya, yang saat ini tidak bisa diam sibuk menoleh ke kanan dan kiri.
Sepertinya Sang anak sangat exited dengan bola yang di perebutkan, oleh semua pemain di lapangan sana.
"Awas Kid, kepalanya sampai muter-muter seperti itu!" dengus Dirga terkekeh kecil.
"Hi-hi!"
Kekehan senang dari Sang putra, membuat Kiara dan Dirga ikut terkekeh.
Mereka menikmati jalannya pertandingan dengan serius, meski sekali-kali Ia akan menimpali pertanyaan dari arah sampingnya, dimana ada Nicholas yang iseng mengajaknya taruhan.
__ADS_1
"Pegang mana Lu Ga? Gue Bakti Bangsa!" seru Nicholas percaya diri.
"Pertandingan baru aja mulai, tapi oke deh ... Gue pilih Wisley School. Taruhan apa nih?" balas Dirga menyetujui.
"Mobil sport, terserah Lu mau yang mana. Bagaimana, heum?" ujar Nicholas dengan senyum menantangnya.
"Oke, deal yah?" balas Dirga sama-sama menunjukkan senyum miring andalannya. Ia mana mau mengalah dan feelingnya mengatakan jika sekolah Wisley lah yang akan menang.
"Firasat Gue mana pernah meleset," batin Dirga percaya diri.
"Deal!!" seru Nicholas menjabat tangan Dirga yang terulur.
"Apa sih?" bisik Kiara penasaran.
Ia yang tadi menghadap ke arah partner bisnisnya, menoleh ke arah Istrinya yang melihatnya dengan pandangan penasaran.
"Nandemonay!" bisik Dirga membalas pertanyaan penasaran dari Sang Istri.
"Oke deh!" seru Kiara tidak ambil pusing.
Ia kembali melihat kedepan, ke arah pertandingan dan memekik senang saat melihat tim wesley memasukkan bola ke arah ring.
"Yeeeh ... Masuk!" seru Kiara semangat.
Sedangkan Dirga melihat ke arah samping, dengan senyum miring meledek.
"See!" bisik Dirga tanpa suara, menuai decihan sebal dari arah sampingnya.
Dirga terkekeh dalam hati, lalu kembali melihat ke arah lapangan dan ikut memberi semangat meski dengan ekspresi tetap seperti awal.
Ekspresi datar .... Apalagi yang kalian harapkan. Dirga ikut nari, gabung dengan Cheerleaders gitu?
(Ha-ha-ha ... Ini Gue setuju. Diem Thor)
"Wow Ken-kuuu! Horeeeeee!"
"Yeeeeey masuuuuuuk!"
"Ken lihat aku Ken! Saranghae!"
"Yeeeeey Ken hebaaat, kereeen!"
"Kali ini siapa itu Ken?" tanya Kiara kembali kepo.
"Mau Aku cari datanya sekarang juga? Huem, sayang," balas Dirga dengan senyum manis maksudnya senyum tanpa ekspresi, jangan lupa hawa gemas yang menguar dari tubuhnya.
Jika saja Ia tidak sedang memangku Anaknya yang bergerak heboh, mungkin saja Ia akan membawa wajah Istrinya masuk kedalam pelukan ketiaknya.
"Bawel, diam dan tonton dengan khitmad. Jangan banyak protes, oke sayang!" seru Dirga dengan senyum ganjil.
Kiara terkekeh canggung, lalu mengecup dengan cepat pipi Suaminya, yang menampilkan ekspresi terkejut tapi berganti dengan senyum geli sesudahnya.
"Dasar!" gumam Dirga menepuk kepala Istrinya sayang.
Pertandingan pun berakhir dengan skor akhir 28-17 poin.
Kemenangan ada di pihak Wesley dan itu membuat Dirga menoleh dengan cepat ke arah samping, lalu tersenyum dengan sengak seperti biasa.
"You lose!" seru Dirga dengan senyum kemenangannya.
"Shit,"
Dirga terkekeh mendengar umpatan dari partner bisnisnya, Ia melihat dengan alis terangkat.
"Antar segera ke Kediamanan Gue, masih ingat kan alamatnya?" ujar Dirga dengan nada menjengkelkan.
"Iya ... Sialan," balas Nicholas sewot. Ia menatap tajam dengan bibir berdecih ke arah Dirga yang semakin terkekeh senang.
"I win, always and of course. Khe!" seru Dirga tidak perduli.
Hari ini di habiskan Dirga dan keluarga kecilnya dengan menonton pertandingan, bersenang-senang dengan cara mereka.
Meskipun sederhana namun Kiara lebih menikmati ini, apalagi Sang anak yang antusias dengan kegiatan yang di lihat oleh tatapan berbinarnya.
"Terima kasih, Daddy!" bisik Kiara pelan, membuat Dirga menoleh cepat ke arah Kiara yang melihat ke arahnya.
"Untuk?"
"Segalanya!" balas Kiara dengan senyum manisnya.
"Apapun untuk kalian, sayangku!" ujar Dirga lembut.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Chotto matte \= Tunggu dulu ...
Cast di atas ada di novel di bawah ini kak, mampir juga yuk ....
¬ Reinkarnasi Cinta Ruby
¬ Cinta Si Cupu
¬ Marriage Order
¬ Mine
Juga ada novel seru lainnya ..
¬ Bukan Salahku
¬ Love Is not Based bebet bibit bobot
¬ Shadow
__ADS_1
¬ Pendekar Elang Putih
Salam hangat untuk semuanya ...