
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kiara yang merasa di perhatikan oleh Sang anak mengernyitkan dahi bingung.
Ia menatap Anaknya dengan raut wajah penasaran, lalu tersenyum lembut.
"Ada apa, heum?" tanya Kiara lembut.
Sesekali Ia membenarkan letak gendongannya, saat merasa tubuh anaknya melorot ke bawah.
Sang anak yang di tanya, melihat dengan mata bulatnya lengkap dengan senyum polos.
"Momm, au ayi!"
"Hah?"
Kiara kaget dengan perkataan simple namun bermakna dari Gavriel, yang malah terkikik senang dan mengulangi perkataan polos, hasil meniru ucapan Sang Daddy.
"Hi-hi, ayi Tav au ayi!"
Celotehan Gavriel yang terdengar semangat, membuat orang-orang yang ada di sekitarnya kompak menyerukan tanya, dengan nada kaget yang tidak mampu di tutupi.
"Apa!"
"Astaga .... Tahu dari mana Gav kalimat ini, Kiara?" tanya Fandi kaget.
Wow ... Cucunya di umur satu setengah tahun, sudah bisa meminta sesuatu yang di luar prediksinya.
"Dirga akhir-akhir ini sering menyebut kata bayi pah, tadi juga Aku nyebut nama bayi. Aku sendiri bingung, apa benar Gavriel hanya meniru. Tapi kenapa Ia berbicara sambil melihat Aku dan bayi bergantian?" balas Kiara panjang lebar, lalu bertanya dengan bingung.
Tante dan Om atau juga orang tua Fania, hanya bisa geleng kepala dengan kepintaran di atas rata-rata cucu mereka.
"Ya berarti itu kode, Kiara. Sepertinya Gav ingin punya mainannya sendiri, teman di rumah yang tidak berpisah seperti temannya yang lain!" seru Sari, Tantenya dengan nada menggoda.
Kiara tersenyum malu mendengarnya, apalagi di dengar oleh keluarga dan sahabatnya, yang ikut menggoda dengan senyum meledeknya.
"Ih ... Nanti dulu saja!" seru Kiara gugup bergerak salah tingkah.
"Sekarang juga nggak apa-apa kok, kan lahirnya sembilan bulan kedepan!" sahut Elisa dengan alis naik-turun menggoda.
"Iya kan, Am?" Lanjutnya meminta dukungan, menyenggol lengan Amira yang langsung mengangguk menyetujui.
"Ho'oh ... Berarti pas usia Gav dua tahun lebih, jarak yang lumayan!" seru Amira menimpali perkataan Elisa.
Mereka terkikik bersama lalu mengadu telapak tangan dari Ezra dan Queene, yang di sambut kekehan dari dua balita tersebut.
"Dih ... Kalian juga nambah kalau begit-
"Nambah, nambah apa nih?"
Kalimat dari Kiara terhenti, saat seseorang menyela dengan pertanyaan bernada penasaran.
Semua yang terlibat dengan acara menggoda istri dari pengusaha sukses, bernama Dirga Wijaya serempak menoleh ke asal suara, dimana ada Dirga berdiri dengan ekspresi bingung.
Di belakang Dirga ada Kai, Faro, Raka dan tentu saja Ronald. Sepertinya Mereka sudah selesai dengan obrolan berakrab ria ala Daddy somplak, yang sesungguhnya berisi kata-kata indah namun tidak berfaedah.
"Jarak lumayan, apa'an itu?" tanya Raka ikut penasaran.
Kiara yang mendengar pertanyaan bernada penasaran dari Suaminya, semakin bergerak salah tingkah, karena ini adalah obrolan yang seharusnya mereka saja yang tahu.
"Tidak ad-
"Gini loh Bang, Gavriel tadi bilang minta bayi. Dia minta adek, tapi Mba Kiara bilang nanti saja. Alasannya terlalu klasik, iya kan, Mba?" sela Amira cepat.
Ia melihat ke arah Mba ipar sepupunya dengan tatapan usilnya, kemudian terkekeh kecil saat melihat Kiara melotot lucu kearahnya.
"Am, reseh ih!" sewot Kiara malu.
"Ha-ha-ha .... Kirain nambah apa, tahunya nambah yang ini. Kalian tenang saja, kalau Gavriel yang meminta tentu saja akan Aku kabulkan. Iya kan, Dear?" balas Dirga santai sambil berjalan ke arah Sang istri.
Ia melihat ke arah istrinya yang juga melihat ke arahnya, dengan pipi merah lalu melengos malu.
"Ug ... Apa sih," gumam Kiara saat Dirga di sampingnya.
"Loh, kok apa sih," tanya Dirga menggoda.
"Ih ... Gendong Gav yank, pegel!" dengus Kiara lalu menyerahkan Gav kedalam gendong Suaminya.
"Dadd,"
Gav yang tahu jika Sang Daddy lah yang menggendong, segera menelusupkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Sang Daddy, menuai dengusan dari Dirga yang tersenyum geli.
"Manja!" gumam Dirga di telinga Anaknya, menuai kekehan dari Gavriel yang geli saat pinggangnya di kelitiki oleh Sang Daddy.
"Hi-hi!"
"Sudah-sudah, yang penting kabar baiknya saja. Iya kan, Dirga?" ujar Barly, ayah dari Fania.
Entah ingin menghentikan acara menggoda keponakannya atau ingin menambah bahan, yang jelas kekehan menggoda kembali di layangkan untuk Kiara yang semakin bergerak salah tingkah.
"Tenang saja Om, kalau berhasil Kami akan segera memberitahu semuanya. Iya kan, sayang!" balas Dirga lalu mengerlingkan matanya ke arah Sang istri, yang melotot lucu ke arahnya.
Kekehan terdengar dari Dirga, membuat Kiara kesal.
Obrolan pun terus berlanjut, dengan tambahan Fania yang bangun dari tidurnya.
Di tengah-tengah obrolan, Sarah yang penasaran dengan kejadian di ruang bersalin bertanya dengan nada serius.
"Oh iya, Fan. Tadi sewaktu persalinan, apa ada kendala berat. Tante merasa prosesnya kok lama sekali?" tanya Sarah memandang Fania dengan kening berkerut penasaran.
__ADS_1
"Iya tante, soalnya panggul Aku kan kecil. Terus itu ukuran bayinya besar, jadi dokter bilang Aku mengalami CPD. Ya terus begitu lah," balas Fania menjelaskan apa adanya.
"CPD yah?" gumam Sarah berfikir.
"Iya Tante ... Tadinya Aku mau minta operasi sesar saja. Tapi Fanianya menolak, jadi Aku hanya pasrah saja," sahut Kaisar melanjutkan penjelasan yang istrinya sampaikan.
"Ya wajar sih ... Seorang ibu merasa belum lengkap, kalau melahirkan dengan cara operasi. Aku juga dulu gitu sewaktu akan melahirkan Gav, padahal Dirga ingin Aku sesar saja," ujar Kiara membenarkan.
"Oh iya, Kai!" seru Sari menjeda kalimatnya, Ia melihat ke arah menantunya dengan wajah penasaran, membuat Kaisar balik melihat ke arah Mertuanya dengan ekspresi sama.
"Iya Mih, ada apa?" tanya Kaisar penasaran.
"Apa Kamu sudah menentukan nama untuk cucu Mami?" lanjut Sari bertanya. Wajahnya menampilkan ekspresi antusias ingin mengetahui nama dari cucu pertamanya.
Sebelum menjawab, Kaisar melihat satu per satu orang yang ada di ruangan tempat istrinya di rawat dan berdecih kesal, saat melihat mantan rivalnya.
Ingin rasanya Ia menampol wajah Dirga yang saat ini sedang melengoskan wajahnya pura-pura, padahal sesekali melirik ke arahnya dengan ekspresi ingin tahu juga.
"Cih ... Pura-pura masa bodo, padahal ingin tahu," batin Kaisar kesal.
"Iya Mih, sudah kok. Iya kan Dek?" balas Kaisar melihat ke arah istrinya yang mengangguk mengiyakan.
"Iya Mih, Kami sudah memiliki nama untuk lill princess Kami!" seru Fania antusias.
"Benarkah ...jadi siap namanya?" tanya Sari kemudian.
Kaisar tersenyum melupakan fakta jika Ia sedang jengkel, saat melihat lagi ekspresi wajah Dirga yang sekarang melihatnya dengan datar, namun binar matanya tidak bisa menutupi rasa penasaran.
"Namanya kimimela Sutomo artinya kupu-kupu kecil, karena walaupun nanti Dia tumbuh dewasa. Dia akan tetap jadi kupu-kupu keci indah, yang hadir di tengah-tengah hidup kami," ujar Kaisar dengan senyum tulusnya.
"Aww ... Namanya indah sekali, nanti kalau Aku juga melahirkan, Aku ingin nama anak Kami indah seperti Baby Kimi. Iya kan, sayang?" ujar Kiara antusias, lalu berisik ke arah Gavriel yang terkikik geli.
"Hi-hi, ayi!"
"Wait, ini telinga Aku yang bermasalah atau perkataan Kamu yang ada makna lain, Ra?" ujar Elisa bertanya dengan ekspresi terkejut.
"Apanya Sa?" tanya Kiara tidak mengerti. Keningnya berkerut, saat Ia melihat ekspresi penasaran dari sahabatnya.
"Tadi kan Kamu bilang 'nanti kalau aku melahirkan', itu apa maksudnya coba?" tanya Elisa mengulangi pertanyaannya.
"Lah iya juga, Gue baru sadar!" sahut Raka saat mendengar kalimat ambigu yang di ulang oleh Elisa.
Dirga dan Kiara terkekeh saat mendengar pertanyaan dari sahabatnya.
"Lah ... Apa yang salah, kan kalau Kiara hamil nanti melahirkan, iya kan?" balas Dirga santai.
"Gila ... Gue aja satu pun belum punya, Lu udah otewe mau punya lagi. Hebat!" seru Ronald dengan ekspresi terkejut.
"Lu kan belum nikah, bimbing!" ujar Raka lalu tersenyum mengejek.
"Nanti juga nikah, bombong!" balas Ronald sewot.
"Makanya kawin, bembeng!" sahut Faro ikut membuli Ronald, yang langsung melotot kearahnya.
Dirga semakin terkekeh saat mendengar pertengkaran dari sahabat, yang mempeributkan tentang kawin dan nikah.
Puk! Puk! Puk!
"Huem?" gumam Dirga bertanya, saat Sang istri menepuk pelan lengannya.
"Emang Aku salah yah, bilang kalau nanti Aku melahirkan?" gumam Kiara bertanya. Ia memandang polos Suaminya, lalu merenggut kecil saat merasakan usapan gemas pada rambutnya.
"Salah? Kamu nggak salah yank, merekanya saja yang IQ-nya tidak sampai," gumam Dirga membalas pertanyaan istrinya, menuai kikikan imut dari Kiara namun menjadi bahan sorakan dari orang yang mendengarnya.
"Huuwww!!!"
"Apa sih, sewot saja!" seru Dirga santai.
"Siapa yang Kamu maksud dengan IQ tidak sampai, heum ... Menantu durhaka?" tanya Fandi yang mendengar gumaman kurang ajar dari menantunya.
"Lah ... Emang Dirga sebut nama?" balas Dirga dengan alis terangkat, senang saat melihat Mertuanya tidak bisa menjawab.
"Cih ... Mimpi apa punya menentu model gini," gumam Fandi pelan, misuh-misuh sendiri membuat Sarah yang mendengarnya menggeleng kepala pelan.
Cara suami dan menantunya berinteraksi memang unik, tapi sebenarnya mereka saling menyayangi.
"Jangan menggerutu Pih, dosa loh!" seru Dirga dengan mata berkedip sok polos, tidak selaras dengan ekspresinya yang datar tanpa ekspresi.
(Nah ... Disini Saya bingung, bagaimana bisa mata berkedip polos tapi wajahnya datar, nggak usah di bayangin Thor, susah).
"Tapi sebenarnya Mba Kiara hamil nggak sih?" tanya Amira masih penasaran.
Mereka yang medengar pertanyaan penasaran seoson dua, melihat lagi ke arah pasangan Wijaya Muda yang kompak saling pandang.
"Kasih tahu nggak yah!" balas Dirga dengan nada mengesalkan.
"Tinggal kasih tahu saja, repot," seru Fandi pura-pura tidak tahu.
"Dih ... Ada yang kesal," balas Dirga tersenyum penuh kemenangan, saat Mertuanya tidak membalas perkataan menggoda darinya.
Dan Ia semakin terkekeh saat melihat Mertuanya melengos, di sampingnya ada Sarah yang melihat dengan kekehan kecil saat Suaminya tidak bisa membuli Dirga, biasanya jika ada Papa dari Dirga, menantunya akan habis di jadikan bahan bullian.
"Dasar," batin Sarah geli.
Tidak mendapatkan jawaban dari seorang bernama Dirga, mereka pun menyerah dan melanjutkan obrolan lainnya. Menghabiskan waktu dengan berbagi cerita, hingga tidak terasa waktu menjelang sore hari.
Skip
Saat ini Dirga dan Kiara sedang dalam perjalanan pulang, di sampingnya Kiara yang memangku Sang anak mengusap-usap berulang punggung Gav, kebiasaan agar tidurnya tetap lelap.
"Yank!" panggil Kiara pelan, menuai gumaman dari Suaminya yang saat ini sedang fokus menyetir.
__ADS_1
"Hmm?"
"Ada apa?" lanjut Dirga bertanya.
"Apa sebaiknya Kita kasih tahu mereka yah, tentang kebar ini?" ujar Kiara pelan, bertanya dengan wajah menghadap ke arah Suaminya.
Dirga menoleh ke arah Kiara tersenyum kecil, lalu kembali fokus kedepan.
"Terserah Kamu, Aku ikut saja!" balas Dirga semangat.
"Tapi kata Mami dan Mama nanti saja, kalau sudah beberapa bulan!" seru Kiara plin-plan. Ia mengernyitkan keningnya, berfikir lagi dan itu membuat Dirga mendengus heran dengan tingkah Sang istri.
"Ya kalau gitu nggak usah," balas Dirga santai.
"Oke ... Nanti kalau ada moment pas aja deh, hi-hi-hi!" putus Kiara lalu terkikik imut.
Diam-diam Dirga menghela nafas, saat mengetahui jika saat ini istrinya dalam fase moody.
"Terserah kamu, sayang. Asal engkau bahagia!" balas Dirga lalu mengusap sayang rambut Kiara.
"Mudah-mudahan ngidamnya nggak aneh-aneh lagi," batin Dirga Berdoa.
Yah ... Benar sekali, sebenarnya Kiara saat ini sedang hamidun.
Ini ketahuan kira-kira beberapa hari yang lalu, saat itu mereka sedang mempersiapkan barang-barang untuk keperluan jalan-jalan mereka.
Dan di saat sedang mempersiapkan barang, Kiara tiba-tiba pingsan membuat Dirga panik luar biasa.
Ia membawa istrinya dengan segera ke Dokter dan Dokter menyatakan jika istrinya sedang hamil muda, karena kelelahan akibatnya Kiara pingsan.
Ia senang luar biasa, meskipun jalan-jalan batal itu tidak apa-apa.
Lalu mereka memberitahukan ini kepada keluarganya dan jadilah dua orang tuanya menasihati untuk tidak memberitahukan ini kepada orang lain terlalu awal.
Mereka menurut saja, lagian kandungan Kiara juga baru menginjak usia tiga minggu, masih muda dan belum ada apa-apanya.
"Hi-hi-hi!!"
Dirga mengangkat sebelah alis heran, saat mendengar kekehan aneh dari istrinya.
"Kenapa tertawa?" tanya Dirga bingung.
"Kata-kata kamu seperti judul lagu, Hi-hi!" balas Kiara masih dengan kekehannya.
Dirga mendengus, lalu mengambil tangan istinya untuk di kecupnya. Ia menyanyikan sebait lagu dengan wajah menghadap kedepan.
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia🎶
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu🎶
Kau tak perlu berbohong, kau masih🎶 menginginkannya🎶
Kurela kau dengannya asalkan kau bahagia🎶
"Loh kok nyanyi lagu gini, Aku bahagia kok dengan Kamu!" tanya Kiara dengan alis bertaut bingung.
"Ini kan-
"Kamu kata siapa sih Aku nggak bahagia?" sela Kiara cepat saat saat Dirga akan membalas pertanyaannya.
"Nggak loh. In-
"Kalau mau nyanyi yang romantis dong,"
"Ini kan cum-
"Kamu nggak mau nyanyi?"
"Ya Lord, Gue lupa penyakit istri Gue akhir-akhir ini kumat. Ya ampun .... Gue kira ngidamnya biasa aja,"
"Kenapa nggak nyanyi, ayok nyanyi!" seru Kiara memerintah.
"Loh kok nyanyi sih?"
"Kamu nggak mau nyanyi untuk Aku?"
"Bukan git-
"Kalau begitu nyanyi sekarang,"
"Hah?"
"Burung kakak tua, pake huruf vokal 'o', nggak mau tahu!"
"Mampyusss Gue, inikah rasanya mati tak mau hidup pun segan,"
"Ayo nyanyi!"
"Tap-
"Sekarang!"
"Yank!!!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Seorang ibu yang memiliki panggul sempit kemungkinan akan sulit menjalani persalinan normal karena adanya risiko cephalopelvic disproportion (CPD). CPD adalah ketidaksesuaian antara ukuran kepala bayi dengan ukuran panggul ibu yang akan menjadi jalan lahir.
__ADS_1
Salam semangat untuk semua.