Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Dadd, where Are You


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Long Ping, Yuen Long, New teritori.


Kediamanan Chen


Empat remaja yang sedang liburan ini, sampai di rumah kakek Queene sekitar pukul lima sore. Mereka berempat segera kembali ke kamar masing-masing, untuk membersihkan diri sebelum makan malam dan kumpul bersama lagi, menentukan tempat untuk keesokan harinya.


Pukul. 19:00


Seperti biasa, nenek Nena akan di bantu oleh Queene dan Selyn, menyiapkan hidangan makan malam.


Dengan menu andalan ikan dan sayuran hijau. Kali ini nenek Nena hanya berdiri memperhatikan, saat Queene mencoba unjuk kebolehannya, memamerkan skill memasak yang ia pelajari dari klub memasak di sekolahnya.


Selyn sendiri hanya bisa mencuci dan memotong, karena ia sudah jujur tidak bisa memasak saat sang Daddy melarangnya belajar masak, serta alasan lainnya adalah tidak ingin dirinya terkena cipratan minyak panas ketika memasak.


"Jadi, bagaimana liburan di hari pertama kalian. Apakah menyenangkan atau sangat menyenangkan?" tanya Nena dengan nada penasaran, menatap dua cucunya dengan senyum merekah.


"Sangat menyenangkan, Nenek. Bukan hanya melihat, memakan, atau juga belajar memetik. El juga senang, soalnya El dan yang lainnya memainkan sebuah permainan, terus El meskipun tidak menang, tapi El tidak kalah."


Nena harus ekstra mendengarkan dengan jeli, kalimat semangat dengan nada menggebu-gebu yang di ucapkan oleh Selyn, kebiasaan sang Mommy yang Nena ketahui dengan sangat, bagaimana dan seperti apa jika sudah berbicara.


Nyerocos tanpa jeda.


"Astaga! Mirip sekali," batin Nena kagum dengan gelengan kepala imajinasi, cukup dalam hayalan karena kalau ia benar-benar menggelengkan kepalanya, akan ada pertanyaan panjang dari cucunya, yang masih menatapnya dengan binar semangat.


"Permainan? Permainan apa?" tanya Nena yang telah selesai dengan kagum dalam hatinya.


"Foto dengan wisatawan!" balas Selyn berseru senang.


"Yang menang siapa?"


"Tuh."


Selyn menunjuk ke arah seseorang lainnya, yang sedang fokus memasak dengan dagunya, lengkap dengan bibir mencebil masih sebal. Ia bukan hanya kalah dari Mamasnya, tapi juga kalah telak dari Mbanya.


Tapi tenang saja, ia cukup bangga karena kali ini ia bisa menang dari Mamasnya, yang biasanya selalu memenangkan pertandingan.


"Apa sih El, masih tidak terima, Mba menang?" tanya Queeneira yang akhirnya buka suara.


Ia dari tadi hanya mendengarkan obrolan seru, antara Nenek dan adiknya yang membicarakan tentang pertandingan, di kebun strawberry sana tadi siang.


"Tidak terima, Mba kan bisa mengerti mereka. Huemb," sahut Selyn mendelik pura-pura marah, kepada Queeneira yang hanya bisa balas dengan ekspresi meledek.


"Kalah mah, kalah saja," tandas Queene telak, dengan tangan mematikan kompor ketika masakan terakhirnya jadi.


"Wah! Sudah matang, cepat sekali," seloroh Selyn dengan pekikan dan binar kagum.


Queeneira mendengkus saat melihat adik sahabatnya berbinar, ketika melihat hasil makanan yang di masak olehnya.


"Karena di masak El, bukan di lihatin saja," sindir Queeneira, membuat ekspresi berbinar Selyn berubah menjadi cemberut, lengkap dengan bibir manyun.


"Is! Ngambekan," gumam Selyn masih dengan bibir manyun.


Queeneira menggelengkan kepala, sebelum menghadap sang nenek yang juga sedang menggelengkan kepalanya.


"Kao tim, Bobo. Cung yau moa? (Beres, Nek. Ada lagi tidak)" tanya Queeneira.


"Moa la, cing hai cit sangko. (Tidak ada, tinggal potong buah)" balas Nena, kemudian membantu cucunya menyajikan masakan di meja makan.


"El yang susun di meja!" seru Selyn semangat, sebelum membawa piring berisi hasil masakan ke ruang makan, yang masih satu ruangan hanya dengan sekat dinding sepinggang.


"Iya, El yang susun semua," sahut Nena dengan nada geli.


Setelah selesai dengan urusan dapur, mereka pun memanggil para laki-laki untuk berkumpul di meja makan, menikmati santap malam mereka bersama.


Makan dengan diselingi obrolan ringan, mereka terkadang tertawa saat merasa lucu, akan ucapan dari orang yang ikut hadir di meja makan, terutama Selyn yang tidak bisa diam bahkan hanya untuk sesaat.


"Oh iya Gav, Ez. Bagaimana makanan hari ini, enakan kemarin atau hari ini?" tanya Nena iseng, saat tiba-tiba suasana ramai menjadi hening.


Ezra tentu saja menjawab dengan nada semangat, saat ia rasa hidangan hari ini atau kemarin sama enaknya. Ingat kan ia ini pemakan segalanya, tapi ia juga punya lidah tajam, soal rasa haruslah yang utama.

__ADS_1


"Enak kok Nek, ini enak sama seperti kemarin."


"Ho-ho ... Seperti itu," sahut Nena dengan kekehan ganjil, membuat sang suami geleng kepala, tahu siapa sebenarnya target pertanyaanya.


Merasa di lihat oleh nenek Nena, karena ia hanya memberikan anggukan kepala, akan pertanyaan dengan jawaban sepupunya. Gavriel pun berdehem, tersenyum kaku baru kemudian menjawab dengan singkat, namun lagi-lagi menuai kekehan mencurigakan dari Nena.


"Enak Nek, lebih enak dari kemarin."


"Ho-ho ... Cucuku emang yang terbaik, masakan apapun pasti bisa di masak. Iya kan, Queene," ucap Nena sambil menyenggol lengan sang cucu, menuai desahan malu dari Queene yang di goda seperti itu.


Uhuk!


"Mou kamyong ma, Bobo .... (Jangan begitu lah, Nenek)" rengek Queene malu, membuat Nenek dan Kakeknya yang mengerti, tergelak merasa gemas akan respon sang cucu.


Disaat dua orang paru baya dihadapan mereka tergelak, dengan Queeneira sebagai korban yang memasang wajah berlipat, diam-diam Gavriel tersenyum kecil akan ekspresi sahabatnya.


Tidak banyak orang yang mampu membuat seorang Queeneira malu, akan apa yang di lakukannya atau juga yang sedang terjadi di sekitarnya. Biasanya Queeneira hanya akan menampilkan ekspresi senang dengan senyuman lebar, juga kesal dengan wajah berlipat. Kini, di depannya ada wajah merona malu yang terlihat lucu, saat kedua nenek-kakek sahabatnya genjar menggoda sahabatnya.


Pemandangan langka yang segera otaknya simpan, sebagai moment penting di antara moment penting lainnya.


"Shining," batin Gavriel kemudian melanjutkan acara makannya, dengan isi makanan hampir berpindah ke perutnya.


🍃🍃🍃🍃🍃


Makan malam selesai, saat ini mereka sedang kumpul bersama di ruang televisi, dengan tonton berbahasa pribumi, yang sungguh membuat ketiganya bingung sangking cepatnya pemain film tersebut berbicara.


"El tidak mengerti," gumam Selyn kepada sang kakak, yang saat ini sedang memeriksa pekerjaannya melalui handphone.


Sang kakak menoleh, kemudian tersenyum tipis sebelum menjawab.


"Sama, he-he."


"Is!"


Selyn memukul lengan sang kakak, sebagai bentuk kekesalan akan jawaban singkat, lengkap dengan kekehan garing sang kakak.


"Gangguin Dadd dan Momm, yuk," bisik Gavriel mengajak sang adik, yang balas menatapnya dengan binar senang.


"Yuk! Dadd cuma kasih kita kabar pesan. Sepertinya Dadd sengaja tidak ingin di ganggu," balas Selyn dengan nada kesal, pipinya yang chuby semakin chuby, saat si empunya menggembungkan pipinya.


Ia sampai menghitung dalam hati, hari ini berapa kali ia dibuat kesal, oleh Author yang katanya lagi kumpulin pundi-pundi untuk-


"Mereka sedang baby trip, El. Itu kata Dadd, entah maksudnya apa," sahut Gavriel ikut mendengkus, saat ingat alasan sang Daddy membiarkan mereka liburan mandiri.


"Baby trip, nanti pulang bawa adik bayi dong," ucap Selyn polos, setelah mendengar ucapan sang kakak.


Gavriel terkekeh kecil, saat adiknya dengan polos mengartikan ucapannya.


"Dasar .... Mentang-mentang Mas bilang baby trip pulang bawa bayi. Lantas, kalau Mas bilang jungle trip(jungle trekking), artinya Dadd pulang nanti bawa macan. Begitu, heum?" timpal Gavriel kemudian dengan gemas mengusak rambut sang adik, yang balas dengan kekehan renyahnya.


"Mas benar, seharusnya jungle trip bukan baby trip. Kan Dadd dan Momm dulu poto preweddingnya di hutan belakang milik uyut," tandas Selyn dengan anggukan kepala, masih dengan sang kakak yang mengusak rambutnya gemas.


"Heum ... Seperti perempuan cantik dan gorila?" timpal Gavriel menggibah sang Daddy, mumpung orangnya tidak ada di sekitarnya saat ini.


"Maksudnya, Momm perempuan cantik, Dadd gorilanya?" tanya Selyn dengan polosnya.


"Betul!"


"Yah Mas, berarti kita anak gorila dong," timpal Selyn dengan kening berkerut.


"Dadd yang gorila, kita mah keturunan Momm asli."


"Bisa juga tuh, Mas."


Keduanya pun terkekeh bersama, tanpa tahu jika orang yang jadi korban mereka sedang bersin-bersin di sela kegiatannya.


Kehebohan yang berasal dari pasangan kakak-adik ini, membuat orang di sekitar mereka menoleh ke arah mereka, namun sayang tidak indahkan, sebab keduanya masih asik saling berbagi kasih sayang khas mereka.


Jika saja mereka yang melihat, tidaklah mengenal baik pasangan kakak-adik ini. Maka kesalahpahaman adalah yang akan mereka dapat, saat keduanya sedang bercanda seperti ini. Tapi beda lagi, saat keluarga keduanyanya lah, yang saat ini sedang menyaksikan sendiri bagaimana sang kakak menyayangi adiknya.


Bukan hanya sekali-dua kali mereka dikira sebagai pasangan kekasih, baik saat tampil di publik ketika jalan bersama, maupun saat sang adik memasang fotonya di media sosial.


Tapi ini adalah keuntungan untuk Gavriel, yang tidak perlu khawatir saat banyak remaja perempuan hendak mendekatinya, saat ada sang adik sebagai tamengnya.


Beda Gavriel, beda lagi dengan Selyn yang harus rela dirinya di brondong pertanyaan, maupun terkadang di tatap sinis oleh perempuan di luar sana. Namun ia menanggapinya santai, karena ia mendapatkan kesenangan tersendiri, saat melihat ekspresi kecewa dari perempuan cabe di luar sana.

__ADS_1


"Seru banget, ada apa sih?" tanya Nena melihat keduanya, yang saat ini menoleh juga ke arahnya. Melihatnya dengan senyum berbeda, senyum kecil dari Gavriel sedangkan Selyn tersenyum lebar sebagai jawaban.


"Tidak ada, Nek," jawab Selyn masih dengan senyum lebarnya.


"Baiklah kalau tidak ada," ujar Nena tidak ambil pusing, ia tidak ingin terlalu mencapuri urusan yang bukan masuk kapasitasnya.


Apalagi orang yang bersangkutan tidak ingin berbagi.


"Kami ke kamar dulu ya, Nek, Kek," pamit Gavriel.


"Kami, mau menghubungi Dadd dan Mommy kami," lanjutnya saat melihat ekspresi penasaran dari yang lainnya.


"Oh ... Silakan, nenek dan kakek mengerti. Kalian pasti rindu dengan kedua orang tua kalian, ini juga kan liburan pertama kalian tanpa mereka," sahut Nena mengerti akan situasi.


Mendapatkan anggukan kepala dari sepupu dan sahabat perempuannya juga, Gavriel dan Selyn pun akhirnya pamit undur diri, berjalan bersama menuju kamar milik Selyn-Queene untuk menghubungi kedua orang tuanya.


Mereka kakak-adik manja?


Bukan ... Mereka hanya terlalu terbiasa akan kehadiran Dadd dan Mommnya, sehingga mereka akan merasa seperti ada yang hilang, saat tidak melihat keduanya di sekitar mereka.


Dan ini adalah hari kedua perpisahannya, dengan kedua orang tua mereka, yang ada di belahan bumi lainnya.


Di Paris sana, saat ini masih sore dengan matahari terik meski udara sedikit dingin.


Jika di Hong Kong saat ini pukul. 20:00 maka di Paris adalah pukul. 15:00. Perbedaan waktu negara yang mereka kunjungi dan negara yang orang tua mereka kunjungi adalah enam jam.


Mereka menerka-nerka kegiatan apa, yang saat ini sedang dilakukan oleh sepasang orang tua, sudah tidak muda tapi masih romantis, bahkan dihadapan mereka tanpa perlu malu.


"Kira-kira mereka sedang apa, Mas?" tanya Selyn saat ia membuka pintu kamar, kemudian masuk, diikuti sang kakak di belakangnya.


"Sedang bersenang-senang, apa lagi," sahut sang kakak dengan bahu terangkat.


"Is! Maksudnya El itu, mereka pergi kemana. Gitu loh," tandas Selyn gemas.


"Entah."


"Is!"


Selyn berdecih kesal, saat sang kakak menjawab pertanyaannya, dengan jawaban singkat yang membuatnya kesal seketika.


Kenapa kakaknya bisa membuatnya tertawa, bahagia, marah, sedih, gemas, kesal, disaat bersamaan yah. Sama seperti sang Daddy, yang bisa membuatnya sebal namun juga tertawa disaat bersamaan jika sudah bertengkar.


"Sudah, sebaiknya kita cepat hubungi Daddy dan Mommy. Kamu kangen tidak?" putus Gavriel menyudahi acara sebal sang adik, yang akan panjang jika tidak segera disudahi.


"Kangen dong! Yuk Mas," balas Selyn cepat.


Gavriel bersiap ikut rebahan di sebelah sang adik, yang sudah siap dengan posisi favoritnya jika sudah rebahan. Apalagi kalau bukan tengkurap.


Panggilan pun di mulai.


Pada dering pertama sambungan video call, mereka menunggu dengan sabar, lengkap dengan senyum lebar untuk Selyn.


Dering berlanjut, tapi belum juga di terima, dan itu membuat mereka khawatir seketika. Karena biasanya tanpa mereka menunggu, pasti panggilan dari mereka langsung di terima. Tapi sekarang, sampai dering kesekian panggilan mereka belum juga di terima.


Hingga layar handphone bertuliskan ulangi panggilan lah yang mereka lihat.


"Mas, kok nggak di angkat?" tanya Selyn khawatir, dengan raut wajah panik yang kentara, membuat Gavriel pun merasakan perasaan tidak enak. Tapi ia tidak boleh ikut panik, jika tidak adiknya akan semakin khawatir dan akan menangis.


"Kita hubungi ulang yah, mungkin Dadd dan Momm tidak mendengarnya," balas Gavriel, menepuk kepala adiknya pelan sebagai penenang.


"Iya Mas."


Gavriel pun menekan ulang tombol panggil, melakukan panggilan ulang dengan perasaan khawatir, namun ia sembunyikan dengan ekspresi datarnya. Sedangkan Selyn seperti biasa terang-terangan akan memperlihatkan ekspresinya, jika saat atau pun sedap tidak khawatir.


"Dadd, where are you? (Ayah, di mana kamu)" batin Gavriel cemas.


Tut! Tut! Tut!


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada apa dengan Dirga dan Kiara?


Mau tahu

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya ....


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2