
Season dua ending
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Alika__Aku Pergi.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Bandara internasional kota S
Di lounge luas bandara internasional kota S, ada keluarga Wijaya lengkap dengan keluarga Wicaksono, berkumpul bersama keluarga kecil Benedict juga Wardhana, yang saat ini sedang mengantar kepergian dari salah satu anggota keluarga yang paling mereka sayang dan banggakan.
Gavriel Wijaya, berdiri dengan sang adik yang menempelinya layaknya perangko, dari awal keberangkatan hingga sampai di bandara tempat mereka saat ini berkumpul.
Selyn hanya punya satu malam bersama sang kakak, yang saat ini juga balas memeluknya dan sesekali mengusap rambutnya lembut.
Kemudian ada Ezra yang berdiri bersisihan dengan Queene, dengan Queeneira yang melihat pasangan kakak-adik itu dengan senyum juga rasa haru.
Hari ini adalah hari perpisahan mereka, namun, bukan berarti mereka tidak akan bertemu suatu hari nanti.
Segala macam nasihat puas didengar oleh Gavriel, baik dari orang tua, kakek-nenek, Unkel-Onty, sepupu juga sahabatnya__Cintanya.
Keduanya belum memiliki ikatan, tapi keduanya saling berjanji akan bersama suatu hari nanti.
Selain keluarga Gavriel, ada juga Dani dan keluarga kecilnya. Jika masih ingat dengan Ros, karyawan di perusahaan Wijaya, maka benar dia adalah istri dari Dani. Kemudian anak mereka yang saat ini berumur 14 tahun, anak laki-laki yang dipersiapkan, untuk menjadi asisten Gavriel layaknya Dani kepada Dirga.
Panggilan suara, dengan nomor penerbangan yang akan Gavriel dan Dani tumpangi terdengar memperingati.
Keduanya pun bersiap untuk memasuki pintu pemeriksaan, bersiap pula untuk berpisah dengan orang-orang kesayangan.
"Hati-hati, Gavriel, ingat pesan Daddy," ujar Dirga tegas, menutupi kenyataan jika ia sebenarnya sedih dan hampir menangis.
"Hn. Tentu Dadd."
Kiara tidak banyak berkata, ia hanya memeluk putranya erat dan menciumi pipi-kening dan kembali memeluk sang putra semakin erat.
"It's ok, Momm. Don't cry, please," bisik Gavriel dengan Kiara yang mengangguk.
"Mas, El sayang dengan Mas, El pasti kangen banget nanti sama Mas. Sehat terus disana."
"Me too, more than you, lill princess," bisik Gavriel memeluk adiknya erat.
Semuanya memeluk Gavriel berganti, bahkan Dirga pun memeluk Dani, sebagai permintaan untuk menjaga putra kesayanganya nanti di sana.
"Jaga Gavriel, Dani. Gue percayain Gavriel dengan lu," ucap Dirga saat memeluk Dani.
Gavriel juga memeluk Ezra dengan bisikan meminta, agar Ezra menjaga sahabat mereka(Cintanya lebih tepatnya), dengan Ezra yang mengangguk mantap.
Lalu Queeneira, ia hanya menatap pemandangan sedih di depannya dalam diam. Menanti gilirannya, untuk berpisah dengan sahabatnya__cintanya yang belum menjadi miliknya.
Hanya tersisa 5 menit, Gavriel pun berdiri di depan Queeneira yang menatapnya dengan bibir digigit menahan tangis.
Gavriel menggelengkan kepala, saat air mata Queeneira hampir menetes, kemudian mengusapnya perlahan.
"Aku harus pergi, jaga diri, Queene," ujar Gavriel dengan Queene mengangguk pelan.
"Ok, sampai jumpa," lanjutnya.
Gavriel menepuk kepala Queeneira pelan, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Queeneira, yang menatap punggung Gavriel dengan bulir air mata menetes.
"Gavriel," bisik Queeneira pelan, namun sayang panggilan keberangkatan lagi-lagi terdengar, sehingga Gavriel pun tidak sempat membalas dan berjalan cepat, menuju Dani yang sudah berdiri di pintu pemeriksaan.
"Sampai jumpa, semuanya!"
Itu adalah seruan dari Gavriel, sebelum pintu tertutup dan saat pintu terbuka Gavriel pun sudah tidak ada di sana.
Hiks!
Faro dengan segera membawa putrinya masuk ke dalam pelukannya, dilihat oleh semuanya yang hadir, bagaimana seorang Queeneira yang menangis tanpa suara berlebih. Tapi itu lebih sakit, dibandingkan dengan nangis meraung.
__ADS_1
Dirga mendekati Queeneira, kemudian meminta tanpa suara kepada Faro untuk ia yang berganti memeluk Queeneira, hingga akhirnya Queeneira pun kini ada dipelukan Dirga.
Aroma khas Gavriel menurun dari Dirga dan Queeneira pun saat ini merasa seperti sedang dipeluk oleh Gavriel.
"Queeneira, maaf jika Gavriel membuatmu sakit," bisik Dirga dengan Queeneira yang menggelengkan kepala.
Akhirnya acara haru-biru itu selesai, Queeneira berdiri di dekat jendela besar tempat untuk melihat aktivitas pesawat di luar sana.
Tangannya ia letakkan di kaca dan tersenyum dengan bulir kristal jatuh, kristal yang ia harap kristal terakhir yang akan jatuh.
Semoga kamu bisa meraih mimpimu, Gavriel. Aku akan menunggumu, meski aku tidak tahu sampai kapan aku akan menunggumu.
Sedangkan di pesawat yang di tumpangi Gavriel dan Dani.
Gavriel yang duduk di samping jendela pesawat, melihat ke arah luar pesawat dan melihat lapang landas dengan tangan mengepal.
Queeneira, aku akan meraih dunia di dalam genggamanku lebih dulu. Baru kemudian kamu, yang akan aku genggam dan aku masukkan di penjara emasku.
Pesawat pun akhirnya mengudara, meninggalkan lapangan landas menuju Bandara internasional John. F. Kennedy. Negara Amerika, New York sebagai tempat Gavriel menuntut ilmu.
Selamat jalan, my Arrogant Friend.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Beberapa tahun kemudian ....
Di sebuah gedung besar, tepatnya di sebuah butik yang masih merangkap dengan gedung studio pemotretan, ada seorang wanita muda duduk dengan peralatan tulis, serta layar laptop menyala.
Jari dengan kuteks bening itu menari lincah di atas keyboard.
Wajah cantik rupawan turunan kedua orang tuanya terlihat serius, saat ia fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.
Rambut yang dulu selalu ia kuncir kuda kini terurai menjuntai, menutup kening dan sesekali akan ia sampirkan di belakang telinga.
Disaat ia sedang fokus dengan pekerjaannya, ia di kagetkan dengan ketukan dari luar pintu ruangannya.
"Masuk!"
Ceklek!
Seorang pegawai atau asistennya masuk dan membawa tumpukan kertas di pelukanya, membuat wanita muda itu__Queeneira melihatnya dengan helaan napas lelah.
Astaga! Kapan aku istirahat, batinnya kesal.
"Bu! Ini laporan yang kemarin," lapor asistennya, sambil menyerahkan setumpuk map ke arahnya.
"Letakkan saja," sahut Queeneira sambil merenggangkan otot lehernya yang kaku.
"Baik!"
Sang asisten meletakkan map sesuai perintah, namun menyisakan sebuah buku entah majalah atau apa, untuk dibawa pergi namun Queeneira lebih dulu mencegahnya.
"Tunggu!"
"Ya, Bu?"
"Itu ... Apa yang kamu bawa?" tanya Queeneira dengan penasaran, menatap cover buku itu dengan perasaan aneh dan membuat si asisten menatap majalah yang ia bawa dengan senyum terlampau lebar.
"Oh! Ini majalah dari luar negeri, Bu. Saya jadi langganan," jelas si asisten dengan mata berbinar.
"Dari luar negeri?"
"Iya! Ini loh Bu, majalah dengan cover dan wawancara pengusaha muda sukses dari keluarga konglomerat Wijaya. Gavriel Wijaya akan pulang kembali," papar si asisten semakin antusias, tanpa tahu jika Queeneira yang mendengarnya terdiam, dengan wajah kaget dan jantung berdebar kencang.
"Gavriel Wijaya."
"Iya ... Lihat, Bu. Ya ampun, berasa mimpi kalau bisa ketemu Tuan tampan Wijaya muda."
__ADS_1
Queeneira tidak mendengar sama sekali apa yang dikatakan oleh asistennya, yang saat ini ia pikirkan adalah setelah sekian tahun, kenapa melalui media ia mengetahui kepulangan sosok tersebut.
Sedangkan jauh di belahan dunia lainnya, tepatnya di gedung perusahaan besar, ada seorang pria muda berkarisma, dengan segala pesonanya.
Pria itu berjalan dengan langkah tegapnya, aura absolut khas turunan keluarga selalu ikut serta, tatapan mata tajam dan wajah datar setia ditampilkan olehnya.
Waktu yang sudah berlalu sekian tahun, membuatnya semakin menjadi sesosok pria yang dikagumi.
Di belakangnya ada sang asisten atau tangan kanannya, mengikuti dengan setia setiap langkah yang dibuatnya.
Sosok itu adalah ....
"Mr. Wijaya, nice to meet you."
"Mr. Aderson, nice to meet you, too."
Ya ... Sosok itu adalah Gavriel Wijaya, menjabat tangan dan membalas sapaan dari partner bisnisnya dengan nada datar, serta wajah yang juga datar, meski ada secuil senyum bisnis terpasang dibibirnya.
Aku akan kembali, tunggu aku, Queeneira.
The End.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Haloo readers ....
Akhirnya sampai juga di ujung akhir kisah.
Apa kah ada yang sedih?
Mudah-mudahan ada 🤣
Author mengucapkan Alhamdulillah dan puji syukur kepada Tuhan, diberikan kesehatan sehingga author bisa menyelesaikan novel pertama author sampai season dua ini tamat.
Nah .... Sebenarnya author akan menyambung cerita ini di lain judulnya. Tetap ikuti kisahnyanya yah ☺️
Dan bagi yang ingin tahu, bisa lihat promosi author di bawah ini.
Tetap dukung karya author lainnya ya.
Lalu ucapan terima kasih kepada Manga Toon, yang sudah mensuport karya ini.
Lalu untuk orang tua author.
Untuk readers setia.
Terlebih kak Ratna readers setia Queeneira dan Gavriel, yang selalu membantu author menyusun kalimat dalam bahasa Jerman.
Juga buat kak Earlytha yang selalu mengingatkan tentang typo author yang aduhai sering banget.
Dan tentunya author yang mendukung karya ini.
Juga yang paling the best dari ter the best yaitu author lumpur cerdikiawan, author kesayangan yang selalu menjadi tempat berbagi.
Kemudian untuk yang tidak bisa disebut namanya, thanks a lot ...
Saya tidak ada tanpa kalian.
Salam sayang dan lope lope di udara untuk semua.
Sampai jumpa di Sequel Fell In love With my Arogan fiance \= Married With My Arrogant Friend.
Last but not last .....
Thanks all.
__ADS_1