Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Satu Belum Selesai, Muncul Yang Lainnya


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Visual hari ini


Gavriel Wijaya



Selyn Wicaksono



Queeneira Wardhana



Ezra Bennedict



Rajendra Glen Saputra



Keineira, Intan dan Raiya



Disneyland resort, Hong Kong.


Di pintu keluar Small world, Selyn, Ezra dan lima orang lainnya menunggu, sambil ngobrol ngalur-ngidul seputar wahana, yang baru saja selesai mereka lihat.


Ardan seperti biasa akan nempel bak tokek, kepada Selyn yang bercerita dengan gaya ceriwisnya.


"Lain kali ke sini lagi yah, sama Mas Ar. Mau nggak?" ajak Ardan dengan sok cool, kepada Selyn yang tersenyum lebar, namun jadi kikikan saat sepupunya menyela dengan galak ajakan Ardan, yang mendengkus merasa sebal saat obrolan serunya di sela.


"In your dream, jauh-jauh sana, merusak pemandangan aja."


"Apa sih, siapa yang ngajak ngomong situ. Ribet banget hidupnya," sewot Ardan setelah mendengkus, kepada Ezra yang hanya mengangkat bahu tidak peduli.


"Ipi sih, ribit bingit hidipnyi," tiru Ezra dengan nyinyirnya.


Ardan hampir saja mengumpat kesal, namun saat melihat Selyn yang terkikik imut, ia jadi lupa dan malah menikmati dengan santai, pemandangan indah yang tersaji di depannya.


"Ck-ck-ck, adiknya cakep, sayang kakaknya seperti gorila," batin Ardan, tidak tahu saja jika Gavriel bersin-bersin di dalam sana.


"Sudah Mas, jangan ribut. Mas Ardan juga, Mas Ezra cuma bercanda kok," lerai Selyn memandang sepupu dan kakak kelas Mamasnya bergantian.


"Iya El, Mas Ar ngerti kok. El tenang saja," sahut Ardan dengan senyum yang menurutnya tampan, membuat Selyn tersenyum lebar.


Lain Selyn lain lagi Ezra, yang merasa gumoh saat mendengar kakak kelasnya mulai mencoba mencari perhatian, kepada sepupunya yang masih tersenyum dengan lebarnya.


"Eleh," dengkus Ezra kesal sendiri, melengoskan kepalanya, dan tersenyum kecil saat melihat sepupunya yang berjalan dengan sahabat dan teman sekelasnya.


"Sudah keluar tuh," bisik Ezra tanpa menoleh ke arah Selyn, yang segera melihat ke arah pintu keluar sana.


Dengan tangan melambai semangat, Selyn menunggu rombongan sisa yang juga sedang berjalan ke arah mereka saat ini berdiri. Senyum lebar masih terpasang di bibirnya, apalagi saat melihat Mamas dan Mbanya yang jalan bersisihan, meski di sampingnya ada Mba satunya ikut serta.


"Habis ini ke mana lagi? Maze kah?" tanya Queeneira saat sudah sampai di depan teman-temannya.


"Kemana aja deh, yang penting seru. He-he," sahut Selyn, kemudian terkekeh kecil saat sang kakak menerima uluran tangannya, membawa sang kakak berdiri di sampingnya.


Sepertinya, bungsu pasangan Wijaya-Wicaksono ini sudah kangen dengan kakaknya, padahal mereka hanya pisah beberapa menit.


"Mas, El kangen, sama Mas," bisik Selyn, di telinga sang kakak yang ganti terkekeh geli.


"Manja," dengkus Gavriel, namun dalam hati tersenyum senang.


Ia melihat ke arah Mbanya, yang memasang wajah berseri, berbeda dengan Mba satunya yang memasang wajah ditekuk, seperti ada sesuatu yang menyenangkan, namun hanya satu yang merasakan.


"Apa yah kira-kira," batin Selyn penasaran.

__ADS_1


"Jadi kita ke Maze nih?" tanya Intan dengan nada senang, saat akhirnya pilihannya di pilih juga.


"Terserah, El ikut aja," sahut Selyn dengan bahu terangkat tidak peduli, ia masih asik bergelayut manja dengan sang kakak, tanpa tahu ia di tatap oleh seseorang karena cemburu.


"Ingat, dia itu adiknya. Tapi lama-lama kok rasanya iri juga yah**," batin seseorang sambil menahan ekspresinya.


"Bagaimana kalau setelah itu ke tempat mickey show, keren juga loh."


Gavriel dan yang lainnya menoleh ke arah Susan, yang hanya diam menikmati suasana keramaian taman bermain. Ia menatap satu per satu remaja, teman dari orang yang di pandunya, dengan senyum mengembang dan mata berbinar senang.


"Di sana emangnya ada apa, Mba?" tanya Selyn, menatap guide tour yang dibawa oleh Intan, dengan ekspresi penasaran.


"Aku sudah belum yah, masuk di tempat yang kata Mba Susan itu," gumam Queeneira, saat ia merasa lupa-lupa ingat, ketika dulu bermain di sini dan mencoba wahana seperti yang disebut oleh Susan.


"Ummh ... Ya seperti nonton bioskop, tapi ini 4D, jadi seperti nyata gitu," jelas Susan masih menatap mereka satu per satu.


"Oh! Iya, aku pernah. Tapi sayang banget, nggak bisa ambil foto yah pas pertunjukan," sahut Queeneira cepat, senang saat ingat apa yang di maksud oleh Susan.


"Jadi, bagaimana?" tanya Susan memastikan.


Mereka hanya mengangguk, saat Selyn seperti biasa akan dengan semangat menerima ajakan, ketika mendengar penjelasan Susan, ditambah dengan Mbanya yang juga sepertinya tahu apa yang di maksud oleh Susan.


"Oke!"


Akhirnya mereka pun bersama-sama berjalan sedikit jauh dari tempat mereka saat ini, melewati food stand dan restoran yang tersedia di dalam taman.


Alice maze atau juga alice's curious labyrinth adalah tempat selanjutnya, yang akan mereka jejaki keseruannya. Mereka bersama-sama masuk ke dalam labirin, dengan berpasangan saat dengan cepat, baik Intan maupun Raiya menyeret Ezra dan Selyn, untuk berjalan bersama mereka. Sehingga kini lagi-lagi tersisa Gavriel, Queene, Keineira dan satu orang lagi, yang baru saja masuk karena tertinggal saat ia melihat-lihat peta yang dibawanya.



"Loh! Kalian cuma bertiga? Yang lain mana?" tanya seseorang itu, atau juga Ge, dengan kepala menoleh ke arah kiri dan kanannya, mencari keberadaan tiga kunyuk yang adalah temannya namun tidak ditemukan juga.


"Duluan kak, sepertinya mereka terlalu bersemangat," sahut Queeneira, saat sahabatnya sepertinya tidak niat ingin menjawab pertanyaan kakak kelas mereka.


"Oh! Ya sudah, kamu dengan aku yuk. Kita keliling bersama," ajak Ge tanpa melihat ke arah lainnya, fokus kepada adik kelas ubreknya.


"Kita sama-sama berempat ya kak, sama Gavriel dan Keinera juga. Aku nggak mau ninggalin mereka berdua," balas dan lanjut Queeneira dalam hati, melirik teman sekelasnya yang kebetulan sedang melihatnya juga.


"Eh! Oke, nggak masalah."


Mereka pun jalan berempat, memasuki lebih dalam labirin dengan sesekali berhenti, untuk melihat lebih jelas miniatur karakter Disneyland dari dekat.


Gavriel yang hendak mengulurkan tangannya ternyata kalah cepat, saat Ge yang lebih dulu menggapai lengan sahabatnya, sehingga kini Queeneira berjalan bersisihan dengan kakak kelasnya, yang tertawa lebar ketika menarik tangan sahabatnya dan mengomeli si kakak kelas sambil berlari meninggalkan tempat mereka saat ini.


Ia menarik perlahan tangannya yang menggantung di udara, kemudian mengepalkan tangannya kesal, saat lagi-lagi rasa posesif itu muncul.


"Tidak, jangan muncul lagi," batin Gavriel berusaha menekan rasa kesalnya.


Ketika ia masih meredakan emosinya, ia menoleh ke arah samping saat merasakan tarikan pada kaos biru yang di pakainya. Wajah Keineira yang tersenyum kecil adalah hal yang ia lihat, serta tangan milik temannya yang masih memegang erat kaos yang di pakainya saat ini.


"Kamu sama aku yah, Gavriel. Aku takut tersesat," pinta Keinera dengan suara lembut.


Gavriel menatap ke arah Keineira yang masih menatapnya dengan tatapan meminta, kemudian menatap ke arah di mana sahabatnya pergi, lalu kembali lagi menatap Keineira dengan helaan napas diam-diam untuk menenangkan diri.


"Huft ... Mungkin dia lebih bahagia dengan yang lain," batin Gavriel kemudian mengangguk, sehingga Keinera merasa senang dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Yuk," ajak Gavriel. Ia membalikkan tubuhnya, berniat ke arah yang di lalui sahabatnya, namun harus berhenti saat lagi-lagi ia merasakan tarikan, kali ini pada lengan sebelah kanannya.


Ia hampir saja menyentak tangan seseorang yang berani memegang lengannya, tapi saat ingat jika itu adalah temannya, ia menahan diri dengan helaan napas sabar.


"Ada apa?" tanya Gavriel, membalikkan tubuhnya, menatap teman sekelasnya dengan kening berkerut bingung.


"Gavriel, itu, em ... Kita ke arah lainnya saja yuk. Sebenarnya aku ingin ke arah sana, tapi-


"Oke ... Terserah kamu, Kei. Kita ke arah yang kamu mau, nanti aku hubungi yang lain untuk bertemu di satu titik," sela Gavriel cepat, menyetujui apa keinginan Keineira, yang tersenyum bahagia di depannya.


"Terima kasih, Gavriel."


Keineira pun dengan segera membawa tangan Gavriel ke dalam gengamannya, menariknya untuk mengikuti langkahnya, ke arah sebaliknya dari tempat Queeneira dan lainnya berada.


Ia merasa disaat seperti ini lah, kesempatan bagus yang harus ia gunakan sebaik-baiknya.


"Oke, kamu harus banyak ngobrol, Kei," batinnya menyemangati diri sendiri.


Ia berterima kasih kepada dua temannya, yang membantu ia dengan rencana memisahkan antara Selyn, Ezra dengan Gavriel dan Queeneira. Karena menurutnya, seseorang yang sangat susah disingkirkan adalah adik dari laki-laki yang ia sukai.

__ADS_1


Kepergian Gavriel dan Keineira, yang melangkah ke arah lain di lihat oleh Queeneira, yang kembali lagi saat ia merasa jika sahabatnya tidak mengikuti langkahnya.


Ia meninggalkan kakak kelasnya di belakang, yang memanggil namanya dan mengikutinya untuk menemui sahabatnya lagi, agar mereka bisa bersama-sama melihat isi labirin.


Tapi sayang sekali, ia hanya mampu terdiam ketika ia melihat sendiri, bagaimana saat sahabatnya tidak menolak genggaman tangan teman sekelasnya, disaat dulu sahabatnya anti untuk bersentuhan dengan orang lain terlebih perempuan.


Lagi-lagi ia menemukan fakta, jika memang sahabatnya menyukai teman sekelasnya. Dan sialnya, ia harus menyaksikan secara langsung adegan yang membuatnya sakit.


Sakitnya sama saat ia melihat sahabatnya bercanda dengan teman sekelasnya.


Sedangkan Ge, yang tadi menarik tangan adik kelasnya dengan sengaja, terdiam, saat ia merasa bodoh membuat adik kelasnya lagi-lagi menampilkan raut wajah seperti waktu itu, saat ia tidak sengaja melihat wajah sendi di taman belakang, ketika ia sedang bersembunyi dari kegiatan sekolah.


Ia merasa bersalah, saat keisengannya merusak moment bahagia adik kelasnya.


Huft ...


"Bodoh," umpat Ge menyesal.


Melangkah mendekati Queeneira yang masih terdiam, Ge pun menepuk pelan bahu Queeneira, yang tersentak kaget dan menoleh cepat ke arahnya.


Puk!


"Ah! Eh! Sorry, tadi aku tiba-tiba ninggalin kakak," pekik Queeneira dengan ekspresi ling-lung.


Ge tersenyum kecil, kemudian menepuk kepala adik kelas kesayanganya pelan.


"Seharusnya Gue yang bilang sorry, sorry karena gue udah membuat lu begini," balas Ge dengan nada menyesal.


"Loh! Kok gitu, kak?"


"Seharusnya Gue tahu, lu ingin bersama dengannya. Kalau aja gue nggak sembarangan narik tangan lu, pasti nggak akan begini jadinya," jelas Ge masih menatap Queeneira dengan perasaan menyesal.


"...."


"Maaf," lirih Ge menundukkan wajahnya.


Queeneira tentu saja merasa bersalah juga, karena terang-terangan mengeluarkan ekspresi, yang seharusnya ia sendiri saja lah yang tahu keadaan hatinya. Ia menghela napas dalam, kemudian menepuk bahu Ge yang segera mengangkat wajahnya, menatap Queeneira dengan ekspresi terkejut.


"Ya sudah lah kak, toh kalau bukan karena kakak juga, aku tahu dia lebih pilih yang lain."


"Tapi-


"Nikmati aja apa yang ada, jangan pikirin yang tidak-tidak. Karena aku yakin, jika dia memang untukku, mau seperti apapun orang berusaha mengambilnya dari sisiku, pasti akan tetap jadi milikku juga."


"Maksudnya?"


"Tidak ada, yuk kak, keburu yang lain sudah selesai dan sampai pintu keluar," tandas Queeneira cepat, sambil berbalik dan meninggalkan tempat mereka berdiri saat ini.


Ge yang masih mencerna ucapan Queeneira akhirnya sadar dan segera menyusul Queeneira, yang sudah jauh di depan sana.


"Hei! Jelaskan dulu apa maksudnya!"


"Tidak ada tayangan ulang."


"Jelaskan!"


"Ogah!"


"Ubrek!"



"Gelo! Diam dan lihat miniatur rapunzel saja."


"Tidak mau!"


"Terserah!"


"Adik kelas durhaka!"


"Bodo!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2