Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Selamat Hari Baru Sayang


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Ruang inap VIP Dirga


Keesokan harinya


Sinar matahari menyinari sepasang kelopak mata yang masih terpejam, sehingga Si empunya mata merasa terganggu dan mencoba menghalaunya.


"Umh!!" Gumamnya dengan tubuh mengulet. Ketika kedua tangannya ingin merentang bebas dan lebar, entah kenapa Ia merasa seperti menyentuh sesuatu yang keras, namun juga empuk di saat bersamaan.


"Tunggu ... Ini apa? Kenapa Aku merasa seperti ada orang tidur di samping Aku?" Batinnya bingung.


"Dan sejak kapan Gav memiliki tubuh seperti ini?" Lanjutnya dengan tangan tidak tinggal diam.


Karena masih penasaran dengan sesuatu yang ada di sampingnya, Ia pun terus meraba atas-bawah dan menusuk-nusuk sesuatu, yang sekarang membalasnya dengan suara kikikan pelan.


"Khik-hi-hi!"


"Loh, ada suaranya?" Batinnya kaget, lalu Ia pun membuka matanya perlahan.


Sedangkan di saat bersamaan


Seseorang yang menjadi korban tangan nakal, yang ternyata adalah tangan dari Kiara, sedang menahan kikikan yang sudah dari tadi di tahannya. Sang korban atau juga Dirga merasa geli, saat tubuhnya di raba atas-bawah dan di tusuk-tusuk berulang.


Ia sebenarnya sudah bangun sedari awal saat Sang pelaku peraba atau Sang Istri, mengulet dan mencoba merentangkan tangannya.


Ia memperhatikan dalam diam tubuh Istrinya yang tidur di sampingnya, dengan posisi menyamping menghadapnya.


Bagaimana bisa istrinya tidur di sampingnya?


Ini semua atas permintaannya tadi malam, saat Sang mertua menemukan Anaknya, tidur dengan posisi duduk dan kepala menelungkup di samping ranjangnya. Sedangkan Ia hanya bisa melihat tanpa bisa memindahkan, terlebih Ia tidak tega membangunkan tidur lelap Sang istri.


Flasback on


Dirga pov on


"Maafin Gue yah, Kiara istriku, Gav Anakku. Bisa-bisanya kalian Daddy lupakan,apalagi di hari pertama Daddy membuka Mata," gumam Gue sedih.


Gue menatap Kiara yang terlelap dengan sayang dan menyesal, lalu dengan tangan Gue yang terpasang infus, Gue mencoba menyentuh kepala Dia.


Sedikit ada rasa nyeri tapi Gue tetap memaksakan diri, lalu setelah berhasil Gue mengusapnya dengan perlahan, takut membangunkan istri Gue dari tidur lelapnya.


"Gue kira Gue bakal lupa dengan kalian, tapi ternyata Tuhan masih sayang sama Gue. Sehingga kalian berlian dalam hidup Gue, selalu tersimpan dalam cadangan memori di otak Gue," gumam Gue pelan.


Gue masih setia mengusap surai hitam istri Gue, yang lembut dan wangi di indra penciuman Gue.


Gue kangen banget aroma yang berasal dari tubuh Dia, sayang banget saat ini Gue hanya bisa menyentuh saja, tanpa bisa melakukan yang lebih dari ini dan itu sudah cukup bagi Gue.


Saat Gue masih menikmati kegiatan menyenangkan bagi Gue, tiba-tiba pintu ruang rawat Gue terbuka di susul dengan Papa Mertua Gue setelahnya.


Dia kaget saat melihat Gue yang bangun dan sedang mengusap surai Anaknya, padahal tadi pagi mereka sudah panik karena Gue sempat lupa ingatan jangka pendek.


"Pah!" panggil Gue pelan.


Wajahnya masih syok,tapi nggak lama berganti dengan senyum yang terlihat hangat dan lega di penglihatan Gue.


Gue tersenyum kecil saat Papa Fandi tersenyum ke arah Gue, sambil melangkahkan Kakinya mendekat ke arah Gue.


"Kamu sudah sadar, Dirga?" tanya Dia dengan berbisik.


Sepertinya Dia tidak ingin membangunkan Putri tidur kesayangannya, tangan Dia juga ikut membelai sayang surai panjang milik istri Gue.


"Iya Pah, baru saja. Setelah Kiara tertidur," balas Gue menjelaskan dengan singkat.


Gue melihat Dia mengangguk mengerti, lalu melepas usapannya pada surai Kiara.


"Lalu, apa Kamu sudah ingat siapa Kamu?" Tanyanya to the point.


Seperti yang Gue duga, Papa Mertua Gue bukan orang yang suka basa-basi. Dia akan selalu mengungkap kan apa yang ada di hatinya, tanpa harus menyembunyikannya, terlebih jika itu menyangkut dengan anak semata wayangnya.


"Maafin Dirga Pah," balas Gue alih-alih menjawab pertanyaan Mertua Gue.


Gue mendengar helaan nafas dari Mertua Gue.


"Bukan permintaan maaf yang ingin Papa dengar, karena Papa tahu ini juga bukan kehendak Kamu," Ujarnya bijak.

__ADS_1


Gue tersenyum kecil saat mendengar perkataan Papa Mertua Gue, beliau itu walaupun kadang ngeselinnya minta di gampar, tapi beliau juga bisa jadi teman diskusi yang handal.


"Terima kasih,Pah," gumam Gue singkat.


"Tapi apa benar, Kamu sudah mengingat Kiara, mengingat Kami semua?" Tanyanya lagi sepertinya masih penasaran.


Emang yah nggak Bapak, nggak Anak sama-sama punya penyakit sama.


"Tentu Pah, tadi pagi Aku hanya syok dengan keadaan Aku yang tidak baik, di tambah bangun di tempat asing!" balas Gue menjelaskan.


"Lagian .... Walaupun Aku melupakan Kiara, Aku yakin akan tetap jatuh cinta kepadanya. Terlebih ada Gav di tengah-tengah Kami,jadi bagaimana bisa Aku tidak mencintainya!" lanjut Gue jujur.


Papa Mertua Gue tersenyum atau lebih tepatnya mendengus geli, saat mendengar jawaban dari Gue yang layaknya seperti seorang punjangga.


"Dan Papa pastikan kalian akan Papa pisahkan, kalau sampai Kamu melupakan Kiara terlebih Gav!" seru Dia dengan senyum menjengkelkan.


"Never, Pah!" balas Gue yakin.


"Enak aja, mau misahin Gue sama Istri dan Anak buntal Gue," batin Gue kesal.


"Oke .... Papa pegang ucapan Kamu, kedepannya tolong jangan seperti ini lagi. Hal yang Papa dari dulu hindari adalah air mata, terlebih dari mata wanita kesayanganya Papa. Apa Kamu bisa berjanji?" Tanyanya serius.


Gue tersenyum dan mengangguk dengan yakin, membuat Dia balas tersenyum dengan pandangan lega.


"Pasti Pah!" balas Gue yakin.


"Baiklah, kasian Kiara kalau tidur seperti itu. Papa pindahkan dulu di ranjang samp-


"Pah ..." sela Gue cepat. Sehingga Dia melihat ke arah Gue dengan pandangan bertanya.


"Apa lagi?" Tanyanya penasaran.


"Boleh Kiara tidur di samping Dirga?" ujar Gue tanpa malu sedikit pun. Gue kangen untuk merasakan hangatnya pelukan dari Istri Gue.


"Kamu yakin? Nanti bagaimana kalau Kiara menyengol luka di paha kamu? Papa nggak mau ambil resiko!" cerca Papa mertua Gue khawatir.


"Gue tahu pasti gini," batin Gue. Hampir saja Gue ngekek, kalau nggak ingat di depan Gue mertua sendiri.


"Papa tenang saja, Kiara kalau tidur nggak banyak gerak," balas Gue santai. Kenyataannya memang begitu, apalagi udah pulas tertidur di sela ketiak Gue.


"Dasar, padahal baru pulih tapi udah nggak tahu malu.Untung Papa pengertian," Ujarnya sambil mendengus.


"Kirain bakal taubat pasca siuman, nyatanya semakin songong saja," gumam Dia mencibir.


"Pah Dirga dengar!" sahut Gue dengan senyum menjengkelkan.


Lebih baik begini, setidaknya Gue nggak melihat tatapan kasihan Darinya, dari Papa mertua Gue yang dulu susah banget di takhlukin.


"Sengaja, biar Kamu dengar!"


Papa mertua Gue akhirnya mengabulkan keinginan Gue, memindahkan dengan hati-hati Kiara yang pulas sekali tidurnya.


Sekarang Gue dan Istri Gue lebih dekat, bahkan hanya dengan merasakan suhu tubuhnya perasaan Gue tenang.


"Kalau begitu Papa kembali kesebelah, malam ini Gav tidur dengan Mama. Kamu jangan khawatir," Ujarnya setelah memindahkan Kiara dengan lembut di sebelah Gue.


"Baik Pah, terima kasih banyak!" balas Gue.


"Tidak perlu, ini semua untuk kalian. Anak-anak Papa yang paling Papa sayangi," Ujarnya tulus.


"Selamat istirahat," Lanjutnya. Kemudian meninggalkan Kami berdua, menutup pintu dengan pelan tanpa menimbulkan suara debaman.


"Selamat istirahat,Pah!"


Gue melirik ke arah samping, di mana ada Kiara yang dengan segera melesakkan wajahnya di perpotongan ketiak Gue.


Gue bilang juga apa, sensor Dia itu sudah terlatih tentu saja akan langsung tahu di mana tempatnya.


"Selamat malam sayang, mimpi indah!" bisik Gue lembut. Lalu ikut menuju alam mimpi, berharap besok akan lebih indah daripada hari ini.


Dirga pov end


Flasback end


Kiara membuka perlahan matanya, saat mendengar kikikan mencurigakan dari arah sampingnya.


Kedip! Kedip! Kedip!

__ADS_1


Kelopak matanya berkedip saat melihat senyum seseorang, yang sudah sangat Ia rindukan.


Tangannya mengusap kedua matanya pelan, untuk memastikan jika apa yang di hadapannya bukan hanya fatamorgana.


"Cubit Aku sekarang juga!" gumam Kiara pelan.


Gyut!


"A-akkkhh ... Sa-sakit!!!"


"Berarti Kamu tidak mimpi, sayang!" sahut Orang yang ada di depannya lalu mendengus geli.


"Dirga!!"


"Yes, Dear!" sahut Dirga cepat.


"Dirga!!" panggil Kiara sekali lagi.


Cup


"Selamat pagi, selamat hari baru, Kiara istriku!" bisik Dirga setelah mengecup lama kening Kiara.


Kiara terdiam tanpa membalas sapaan dari Dirga, membuat Dirga mengernyit dahi bingung.


"Sayang!" panggil Dirga cemas.


"..."


Kiara tidak menyahuti penggilan dari Dirga, Ia hanya melihat dengan mata berkaca-kaca bahagia.


Grep!


Kiara segera memeluk Dirga yang awalnya tersentak kaget, menjadi tersenyum lalu balas memeluk Kiara dengan erat.


"Selamat kembali sayang, jangan pernah lupakan Aku!" gumam Kiara dengan terisak.


Hati Dirga tertohok saat mendengar permintaan Istrinya, sepertinya kemarin Ia sangat membuat Sang istri menderita karena di lupakan.


"Maafin Aku, Ak-


"Tidak!" seru Kiara menyela cepat kalimat Dirga.


Ia tidak ingin mendengar sesuatu apalagi permintaan maaf, karena ini bukanlah salah Sang Suami, ini hanyalah proses untuk mereka menuju kebahagian sempurna.


Ia menggeleng kepala cepat dan semakin melesakkan wajahnya, kedalam dekapan Sang suami. Ia menghirup dengan rakus aroma tubuh Dirga, yang meskipun tidak mandi dengan benar harumnya khas milik Dia seorang.


"Terima kasih sayang, sudah sabar menunggu Aku terbangun dari tidur panjang Ku!" bisik Dirga lembut. Ia mengecup surai istrinya,memejamkan mata menikmati setiap detik kebersamaan perdana mereka.


"Terima kasih juga, sudah mengingat Aku dan bangun dari mimpi indah Kamu, sayang!" balas Kiara bahagia.


"Terima kasih Tuhan, telah mengabulkan Doa Kami!" batin Kiara bersyukur.


"Dimana Gav?" tanya Kiara. Ia mendongakan wajahnya ke atas, melihat wajah Suaminya yang juga menatapnya.


"Gav di-


Ceklek!


"Selamat pagi!!" seru Seseorang menyela ucapan Dirga.


Mereka berdua menoleh serempak ke arah pintu, dimana ada Mama dan Gav yang dalam gendongan Mertuanya.


"Dadd!"


"Hai Buntalnya Daddy, what's up Kid?" sahut Dirga tersenyum hangat.


"Hi-hi!"


"Ah ... Berasa satu abad, nggak mendengar kekekahan menggemaskannya!" batin Dirga sedih.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....


Sedikit notes:

__ADS_1


Surai nama lain rambut.


Fatamorgana adalah sesuatu yang semu, yaitu suatu bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada.


__ADS_2