Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Punya Dedek!!


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Mansion Wijaya Muda


Hari yang cerah menyamb-


Hoek! Hoek! Hoek!


Hari yang cer-


Hoek! Hoek!


Hari yang kurang cerah menyambut pasangan Wijaya muda, dimana terdengar suara orang mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi kamar tuan rumah.


Di depan closet ada Dirga yang terduduk, dengan wajah menghadap pembuangan. Di belakangnya ada Sang Istri, memijat lembut tengkuk Dirga mengurangi efek sehabis muntah.


"Duh ... Pagi-pagi sudah merepotkan, apa Kamu sedang masuk angin, Yank?" tanya Kiara, Ia senantiasa memijat tengkuk Sang suami, meskipun sesekali menguap mengingat ini masih pukul empat pagi.


"Nggak tahu say-


Hoek! Hoek!


Ucapan Dirga terputus saat rasa mual menghampirinya kembali, Ia kembali mengeluarkan isi perutnya dan lagi-lagi mengusap sudut bibir dengan tissue yang di ulurkan Sang istri.


"Huft!"


Dirga mendesah lega saat sudah selesai, perutnya terasa kosong namun Ia masih belum merasa lega.


"Sudah selesai?" tanya Kiara pelan.


"Heum,"


Setelah mendapat jawaban berupa gumaman dari Sang suami, Kiara menuju washtafel mencuci tangan yang tadi Ia gunakan untuk memijat tengkuk Suaminya.


Sedangkan Dirga yang terduduk lemas di atas closet, mengernyitkan dahi saat Istrinya mencuci tangan sehabis memijatnya, seakan menyentuh kulitnya akan terkena penyakit yang bahaya.


"Kenapa cuci tangan seperti itu?" tanya Dirga tidak suka.


Kiara menolehkan kepalanya kearah Sang suami, yang wajahnya pucat efek sehabis menguras isi perutnya.


"Cuci tangan apa salahnya?" tanya Kiara dengan alis mengernyit bingung.


"Nggak salah, kalau Kamu cuci tangan sehabis memegang benda kotor. Tapi kan Kamu habis pegang leher Aku, emang leher Aku ada kotorannya?" balas Dirga sewot.


Nyut!


Hati Kiara seketika berdenyut nyeri saat mendengar suara sewot, dari Sang suami yang melihatnya dengan tatapan tidak suka.


"Kok Kamu marah sama Aku, yank?" tanya Kiara suaranya bergetar, lengkap dengan mata berkaca-kaca sedih.


Dirga hampir saja menepuk dahi frustrasi, saat ingat jika akhir-akhir ini Istrinya dalam masa sensitif.


Ia menarik dan membuang nafasnya lelah, lalu melihat ke arah Sang istri dengan senyum lembut.


"Gomene, Aku cuma bertanya. Aku nggak marah kok sama Kamu, cius," ujar Dirga pelan takut menyinggung perasaan Sang istri lagi.


"Nah, gitu dong!" balas Kiara dengan mood fast swingnya.


Senyum di bibir Kiara mengembang, lalu segera menggelap kering tangannya dan melenggang pergi meninggalkan Dirga, yang melihat ke arah Istrinya dengan kepala menggeleng.


"Di mulai lagi," gumam Dirga lelah.


Dear Author sableng ...


Bisa tidak sesi ngidamnya di skip saja, Gue sudah terlalu lelah menjadi korban dari keganasan dan ketidak adilan istri sendiri dan demi kebaikan bersama, lebih baik author yang terhormat mewujudkannya.


Kalau tidak siap-siap saja, akan ada mogok peran dari cast bernama Dirga tampan Wijaya.


(Baiklah, yes, tidak janji, sial)


***


Skip


Hari ini Dirga mengambil libur, Ia menemani Sang anak yang berlarian di halaman depan rumahnya, bermain dengannya sambil menunggu Sang Mommy yang sedang bersiap-siap.


Kejadian mual dan muntah tadi subuh, membuatnya lemas dan lunglai di saat bersamaan. Ia menebak jika ini adalah fase ngidam Sang istri yang jatuh kepadanya, Ia juga berfikir jika kali ini Sang jabang bayi lahir akam mirip dengannya lagi.


(Nggak usah sok tahu Dirga. Lah .... Anak-anak Gue, sewot sekali kao. Cih)


Rencananya mereka akan ke Dokter, memeriksa kandungan Istrinya yang menginjak usia sembilan minggu, sudah lumayan terlihat di perut sedikit buncit milik Kiara.


Mereka juga sudah memberi tahukan berita ini kepada Para sahabatnya, saat mereka sengaja berkumpul bersantai di hari senggang.


"Kid, jangan lari terlalu cepat!" seru Dirga, tapi sayang sekali Sang anak tidak mendengarnya.



"Hi-hi, Dadd lali-lali!"


"Jangan berlarian, sayang!" sahut Dirga mengejar Gavriel yang tertawa senang.


Dirga mengejar Gavriel yang sudah jauh di depannya, Anaknya semakin tidak bisa diam semenjak bisa jalan dan berlari.


Drap! Drap! Drap!


Bunyi sepatu yang beradu dengan paving terdengar, saat Dirga yang mengejar Gavriel yang malah ke asikan, Gav merasa Sang Daddy sedang mengajaknya bercanda.


"Hi-hi, dadd, ain!"


Tap! Tap! Tap!


Langkah kaki mungil milik Gavriel terdengar, bersahutan dengan milik Sang Daddy.

__ADS_1


Dirga sengaja melambatkan langkah kakinya, saat mendengar kekehan senang Sang putra yang jarang Ia dengar.


Kecuali lewat sambungan telepon.


"Awas yah ... Kalau tertangkap!" seru Dirga semakin membuat Anaknya terkekeh.


"Ngkap, Dadd!"


"Hi-hi!"


Senyum Dirga mengembang, saat melihat moment langka seperti ini.


"Sebentar lagi tertangkap loh!" seru Dirga menggoda, terkekeh kecil saat mendengar suara kekehan semakin nyaring dari mulut kecil Anaknya.


Di ujung sana ada Kiara yang keluar dengan pakaian terusannya, melihat ke arah Anak dan Suaminya dengan senyum lebarnya.


Semakin dikitnya waktu Suaminya untuk bermain dengan Sang anak, membuat Gavriel selalu mencari cara mengambil perhatian Sang Daddy.


Ia berjongkok saat melihat Anaknya, yang berlari kearahnya dengan tangan terbuka lebar.


"Momm!"


"Kemari sayang, Kita tinggalin Daddy, jangan ajak Daddy!" seru Kiara dengan tangan ikut terbentang siap menerima terjangan maut Gavriel kecil.


"Gavriel!!"


Brugh!


Di perjalanan Gav berlari menuju Kiara, Gav tidak sengaja terselandung kakinya sendiri, sehingga Kiara yang awalnya tersenyum menyambut Sang anak, menjadi berteriak panik saat melihat Gavriel terjatuh.


Gav jatuh dengan telapak tangan menahan beban, sedangkan lututnya menahan kaki sehingga tidak benar-benar jatuh.


Dirga yang awalnya berlari kecil menjadi panik dan segera berlari cepat menghampiri anaknya, yang jatuh namun dengan posisi sujud.


"Gavriel!!" teriak Dirga panik.


Drap! Drap! Drap!


Tap!


Kiara dan Dirga tiba bersamaan di tempat Gavriel terjatuh, Dirga segera mengangkat anaknya masuk kedalam gendongannya.


"Sayang, Kamu tidak apa-apa?" cerca Kiara panik, Ia memeriksa setiap inci tubuh anaknya yang matanya memerah dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Astagfirullah, sayang. Hiks, telapak tangan Kamu berdarah!" seru Kiara panik dengan isakan kecilnya.


Dirga membawa Gavriel memasuki rumahnya dengan terburu, menuju tempat dimana mereka menyimpan kotak P3K.


Di belakangnya ada Kiara yang mengikuti dengan berjalan sedikit cepat, namun tidak berlari mengingat jika Ia di larang oleh Dokter kandungannya.


Hiks! Huwee!


Dirga semakin panik saat mendengar isakan berubah menjadi tangisan kuat, sepertinya Sang anak baru merasakan sakit karena tadi masih belum terdengar isakan.


"Dadd, akit, hik!"


Ia mengusap pelan rambut Anaknya sayang, lalu meniup-niup pelan luka di telapak tangan mungil milik Anaknya.


Fuh! Fuh! Fuh!


"Sembuh yah sayang, Gav tunggu Mommy ambil obat yah. Jangan nangis lagi, bukannya Gav akan jadi kakak, heum?" ujar Dirga lembut, setelah meniup kecil luka Gavriel.


"Yank, ini air dan obatnya!" seru Kiara dari arah belakang, di ikuti Bi Ana yang membawa baskom berisi artikel air antiseptik.


"Letakan di sini, kapasnya ada?" balas dan tanya Dirga tanpa melihat ke arah Kiara.


"Ada,"


"Tahan ya sayang, nggak sakit kok. Ingat kakak nggak boleh cengeng, kalau cengeng siapa yang jaga adik, heum?" gumam Dirga lembut dengan kapas yang sudah di celupkan di air antiseptik.


"Ung!"


Gavriel melihat wajah Sang Daddy masih dengan ekspresi sakitnya, luka gores di telapak tangan Anaknya tidak terlalu lebar, tapi Ia tahu pasti rasanya perih.


Dengan lembut Dirga mengusapkan celupkan kapas di atas luka gores Sang anak, menuai tangisan Gavriel yang merasa perih dengan badan meronta.


Huwaaa! Hiks!


"Akit, hu-hu!"


"Aduh, tahan sebentar sayang!"


Dirga semakin panik saat mendengar lagi teriakan sakit dari Anaknya, Ia menoleh ke arah Sang istri yang juga melihat ke arahnya dengan dengan mata berkaca-kaca.


"Yank, Aku nggak kuat. Hiks ... Gavriel sayang," gumam Kiara lirih melihat ke arahnya lengkap dengan bibir bergetar.


Oh tidak ... Seketika Dirga kalang kabut sendiri, saat kedua orang yang di sayanginya menampilkan wajah sama.


"Huft .... Tenang Ga, tenang!" batin Dirga meyakinkan diri.


Ia menarik dan membuang nafas mencoba tenang, lalu Ia melihat kembali ke arah Gavriel yang masih terisak.


Ia menatap Gavriel lembut, lalu meniup sekali lagi luka milik Gav.


"Gav dengar Daddy," gumam Dirga pelan, membuat Gavriel melihat ke arahnya masih dengan sesegukannya, lalu Ia mengusap perlahan rambut anaknya.


"Gavriel, bukannya akan menjadi kakak yah?" tanya Dirga lembut dan Gavriel masih sesegukan dengan sesekali meringis.


"Biasanya ... Seorang kakak itu harus kuat, agar bisa melindungi adiknya. Bukan kah, Gavriel ingin adik? Kalau Gav tidak kuat menahan sakit kecil ini, siapa yang akan menjaga adik, huem?" lanjut Dirga membujuk.


Isakan Gavriel sedikit demi sedikit berhenti, melihat kearah Sang Daddy dengan mata bulat polosnya.


Dirga tahu meskipun Sang anak tidak mengerti apa yang di sampaikannya, tapi Ia hanya berharap Gavriel akan sedikit mengerti perasaan yang di sampaikan olehnya.


Isakan Gavriel berhenti meski masih sesekali menyedot ingus, yang naik-turun di hidung mungilnya.

__ADS_1


"Ka, dik!"


"Iya ... Gavriel kan, akan segera menjadi Kakak, kakak yang tangguh bisa menahan perih luka ini. Got it?" sahut Dirga dengan senyum lembutnya.


Gavriel mengangguk imut, lalu mengulurkan telapak tangannya ke arah Dirga yang tersenyum lega.


"Fyuhhh!" batin Dirga mendesah lega.


Ia pun melanjutkan lagi mengusapkan kapas dengan antiseptik di telapak tangan mungil dengan noda merah di sana.


"Fyuh ... Fyuh ... Luka cepat sembuh!" seru Dirga di tengah-tengah acara membersihkan luka.


Dengan lembut Ia membersihkan debu dengan noda merah menempel di kapas, lalu menempelkan plaster pada luka gores Anaknya.


"Done ... Selesai, nggak sakit kan?" gumam Dirga tersenyum bangga ke arah Anaknya, yang hanya meringis kecil lalu diam tidak menangis lagi.


"Pintar, anak Daddy sekarang bisa di andalkan. Kalau begini, Daddy bisa titip Mommy dan adik sama Gav, kan?" lanjut Dirga memandang dengan sorot mata berharap ke arah Anaknya, yang balas melihat Dirga dengan kedipan polos.


"Dadd, hiks,"


"Tidak apa-apa, sudah selesai. Lihat Mommy, Dia khawatir sama Gav. Bilang ke Mommy kalau Gav baik-baik saja, got it?"


Kiara menghampiri keduanya, lalu memeluk sayang Sang anak dan mengecup telapak tangan dengan balutan plaster lembut.


"Cepet sembuh ya sayang, jagoan Mommy dan Daddy tidak boleh menangis. Got it?" gumam Kiara melihat anaknya dengan mata merah sehabis menangis.


Ia merasa tidak sanggup melihat Sang anak berdarah seperti itu, selama ini Gav selalu berlarian di dalam rumah atau pun taman belakang. Sehingga walaupun terjatuh, Gav tidak akan terluka seperti ini.


"Momm!"


Gavriel memanggil nama Sang Mommy manja, kembali berkaca-kaca namun tidak menangis. Tangannya terulur kearah Sang Mommy kode minta di gendong.


Kiara segera membawa Gav kedalam gendongannya, menepuk punggung anaknya lembut saat terdengar isakan kecil di dalam dadanya.


"Sstt ... Sudah sembuh sayang, tidak sakit lagi kan?" bisik Kiara lembut, yang di balas gelengan kecil dari Anaknya.


"Pintar!" sahut Kiara senang.


Dirga ikut mengusap kepala anaknya, membuat Gavriel menoleh kearahnya.


"Pintar, Gavriel Wijaya memang pintar. Iya kan, Mommy?" ujar Dirga bertanya kepada Sang istri.


"Huem ... Gavriel Wijaya memang pintar," balas Kiara dengan kepala mengangguk.


Dirga dengan iseng mencolek kecil pinggang Sang anak, menuai kekehan dari Gavriel yang teredam karena wajahnya ada di dada Sang Istri.


"Hi-hi, Dadd akal!"


"Siapa yang nakal?" sahut Dirga, masih dengan iseng mencolek pinggang Gavriel.


"Dadd!"


"Heum?"


"Hi-hi!"


"Eli, dadd eli!"


"Siapa yang geli?"


"Hi-hi!"


Akhirnya tawa dari Sang anak terdengar lagi, lebih renyah dari biasanya. Bersambut dengan tawa Sang istri, Dirga berharap Anaknya akan bisa menahan perih meskipun itu bukan dari luka fisik. Namun luka yang lebih parah di waktu mendatang, di saat Gavriel sudah dewasa. Tentu saja Ia akan selalu mendampingi, meskipun mata sudah tidak lagi mampu membedakan warna dan dengan anggota tubuh tidak kuat menahan beban seperti saat ini. Ia meyakinkan diri, jika apapun yang terjadi Ia akan selalu ada untuk Anak-anak dan Istrinya.


"Oke Kid, sudah siap lihat calon adik bayi?" ujar Dirga melihat Anaknya, yang menatap dirinya dengan kedipan polos.


"Ayi!"


"Heum ... Adik bayi, got it?" sahut Dirga membenarkan.


Gavriel terkekeh polos dan bertepuk tangan semangat, kemudian mengulurkan tangan kearahnya meminta di gendong.


"Gendong sama Daddy?" tanya Dirga, lalu tersenyum dan segera menyambut uluran tangan Sang anak.


"Kakak Gavriel, cie ... Mau punya adik!" seru Dirga mencolek iseng hidung mungil Sang anak gemas.


"Kak, hi-hi!"


"Kakak Gavriel, he-he-he!" ujar Kiara ikut menimpali seruan Suaminya.


"Yuk ... Berangkat!" seru Dirga lalu mengulurkan tangannya ke arah Kiara, yang di sambut segera.


"Yuk, he-he!"


Mereka pun berjalan beriringan dengan sesekali bercanda, tertawa dengan tawa berbeda namun satu perasaan. Menuju rumah sakit, dimana Gav akan melihat calon dari adiknya di masa yang akan datang.


Tepatnya enam bulan dua minggu lagi ....


"Hi-hi, ayi!"


"Senang sekali yang mau jadi kakak,"


"Dadd, Tav kak!"


"Iya Kamu jadi kakak,"


"Hi-hi!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....


Salam semangat untuk semuanya...

__ADS_1


Sampai babai


__ADS_2