Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Alasan kenyamanan


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Benedict


Hanya butuh sekitar sepuluh menit bagi Gavriel untuk sampai didepan gerbang Kediamanan Unkelnya, setelah mengendarai si merah dengan kecepatan gila, aji mumpung tidak ada seseorang yang diboncengnya.


Tin! Tin!


Seorang petugas keamanan membuka gerbang dengan terburu, setelah ia membunyikan klaksonnya sebanyak dua kali.


"Selamat malam, Tuan," sapa si satpam ramah.


Gavriel mengangguk dan menekan klaksonnya sekali lalu kembali mengendarai motornya, memasuki halaman luas kediamanan Benedict, kemudian memakirkan motornya disebelah motor sepupunya.


Ia membuka helm dengan segera, lalu menyugar rambutnya dengan jari-jari panjangnya, mengacaknya asal sehingga tatanan rambutnya menjadi seperti badboy.


Melangkah dengan langkah lebar, Gavriel menekan tombol bell disamping pintu ganda, yang tertutup sempurna sebanyak dua kali.


Ting! Tong! Ting! Tong!


Ceklek!


Tidak lama pintu rumah pun terbuka, menampilkan sosok asisten rumah tangga paruh baya, yang sudah bekerja di rumah sepupunya dari zaman mereka masih memakai popok.


"Den Gavriel, silakan masuk!" sapa si asisten rumah tangga ramah, yang dibalas senyum tipis oleh Gavriel.


"Hn, Ezra ada Bi?" tanya Gavriel sopan.


Tidak seperti Daddynya, Gavriel perpaduan sempurna dari kedua orang tuanya, jadi ia masih memiliki keramahan seperti sang Mommy, dingin diluar namun hangat didalamnya, khusus untuk orang-orang yang sudah dikenalnya sejak lama.


Tak terkecuali seorang asisten rumah tangga, tukang kebun, bahkan satpam sekalipun.


"Den Ezra ada di kamarnya, den," balas si Bibi berjalan mengikuti Gavriel, yang masuk melangkah lebih ke dalam.


"Kalau Onty Amira?"


"Di ruang santai, Den."


"Oke."


Setelah mengetahui sepupunya ada didalam kamar, Gavriel pun berjalan ke arah ruang santai, mencari Onty Amira untuk memberi salam sesuai perkataan dari si Bibi.


Dari sini Gavriel bisa melihat Ontynya, sedang mengetik sesuatu entah apa di laptopnya.


"Malam, Onty. Sedang sibuk?" sapa dan tanya Gavriel, setelah ia berdiri disamping Mimi dari seorang Ezra.


Amira mengangkat wajahnya, melihat dengan kening mengernyit saat memperhatikan penampilan keponakannya, yang masih memakai seragam sekolah di waktu malam seperti ini.


"Kamu belum pulang ke rumah."


Bukan pertanyaan tapi itu adalah sebuah pernyataan dari seorang Amira Setiawan Benedict, yang dibalas anggukan kepala dari yang ditanya.


"Abis dari mana?" cecar Amira menatap aneh keponakannya, karena tidak biasanya keponakan perfectnya seperti ini.


Setahu Amira, biasanya Gavriel akan pulang lalu keluar rumah, jika dia ingin main ke rumahnya atau rumah Elisa, mengunjungi satu-satunya perempuan yang seumuran dengan mereka.


"Tadi ada perlu, Onty," jelas Gavriel singkat.


Akan sangat bahaya kalau Onty Amira tahu, kemana ia sepulang sekolah, tanpa pulang kerumah terlebih dahulu.


Bahaya seperti apa?


Tentu saja bahaya, ia akan dibully habis-habisan oleh dua perempuan bawel di rumahnya.


Telinganya belum kuat menahan rentetan kalimat penasaran, dari pertanyaan penasaran pula Mommynya yang suka menggodanya, dan sang adik yang gemar merecokinya.


"Mandi, lalu pakai baju punya Ez. Kamu mau dimarahi oleh Mommymu?" ujar Amira menyudahi rasa curiganya.


Keponakan tampannya sudah mulai nakal, ia yakin jika Gavriel habis melakukan sesuatu, yang masih belum mau dibagi kepada keluarganya.


Seketika bibirnya bergetar menahan kekehan geli, membuat Gavriel yang melihatnya mengangkat alis curiga.


Onty dari Daddynya sama seperti sang Daddy, yang selalu membullynya di dalam pikiran, jika melihatnya dengan bibir bergetar menahan tawa seperti itu.


"Onty, kenapa?" tanya Gavriel curiga.


Amira menggelengkan kepalanya, kemudian memutuskan kontak mata kembali melihat layar laptopnya.


"Tidak ada, sudah sana kamu mandi. Jangan lupa bilang Mommy, oke!" balas Amira yang diangguki kepala mengertj oleh Gavriel.

__ADS_1


"Oke, Onty."


Gavriel pun melangkahkan kakinya menuju lantai atas, berjalan sedikit ke ujung koridor dan mengetuk pintu, dengan daun pintu bertuliskan si tampan room's, membuatnya mendengkus setiap kali main dan tidak sengaja membacanya.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu terbuka, menampilkan Ezra tubuh bertelanjang dada, memperlihatkan otot dengan bentuk belum sempurna, namun cukup untuk membuat fansnya menggila.


Ezra melihat dengan alis terangkat, saat melihat penampilan yang tidak berubah dari sepupunya, masih seperti saat mereka berpisah.


"Kamu belum pulang?" tanya Ezra penasaran.


Sepupunya yang selalu pulang tepat waktu dan tidak suka keluyuran, kecuali dengannya saat ini masih pakai seragam sekolah di malam hari.


"Tadi disuruh mampir," gumam Gavriel seperti bisikan, tidak ingin didengar oleh orang lain, kemudian memasuki kamar sepupunya.


"Pinjem kamar mandi," lanjutnya, bukan meminta izin karena Gavriel tampan kita lebih dulu masuk, baru berkata seperti itu.


Blam!


"Nggak usah bilang, kalau sudah masu," gerutu Ezra sambil mendengkus.


Ia berjalan menuju ranjangnya, rebahan dan lanjut mengutak-atik laptopnya, setelah memakai kembali baju kaos ungu, yang tadi sempat dibuka olehnya.


Niat hati ingin selfie tanpa baju, pamer kotak roti di media sosialnya, eh gagal karena kedatangan sepupunya.



Ezra memang buka laptop, tapi untuk Main game loh, bukan mengerjakan pekerjaannya.


"Ck ... Gagal," gerutu Ezra dengan wajah ditekuk.


Skip


Sekitar setengah jam kemudian, Gavriel keluar dari kamar mandi dengan berbalut celana boxer dan sweater putih polosnya.



Ia ikut merebahkan dirinya di samping sepupunya, dengan tubuh menyandar pada kepala ranjang.


"Kemana tadi?" tanya Ezra tanpa melihat sepupunya, yang sedang memainkan handphone di sebelahnya.


Seketika ia merasa menjadi anak durhaka, karena membuat Mommy kesayangannya khawatir.


"Ngapain?" tanya Ezra kaget, melihat sepupunya dengan ekspresi penasaran.


Gavriel dari dulu tidak pernah mengantar seseorang pulang, ia sudah curiga sejak awal kedekatan keduanya. Dan sekarang terbukti, bukan hanya mengantar pulang, bahkan sepupunya mampir segala macam.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh begitu, aku nggak ada maksud apa-apa, kecuali ramah tamah saja."


Gavriel tentu saja tahu apa maksud dari tatapan sepupunya, yang menampilkan cengiran lebar lengkap dengan kekehan khasnya.


"Habis kamu aneh sekali, kenapa sampai mengantar pulang, bahkan sampai mampir seperti itu. Seperti bukan kamu saja," ucap Ezra, kembali menatap layar laptopnya.


"Aneh bagaimana sih," sewot Gavriel tidak terima, membuat Ezra kembali menatap sepupunya dan menutup aplikasi game, dengan fokus sepenuhnya kepada Gavriel, yang saat ini menatapnya dengan kening berkerut.


"Astaga Gavriel!"


Ezra gemas sendiri, saat melihat sendiri bagaimana tidak pekanya, seorang Gavriel Wijaya jika sudah dihadapkan dengan hubungan itu.


Gavriel tentu saja melihat Ezra semakin bingung, saat sepupunya malah mendesah gemas seakan ia adalah orang paling tampan sejagat raya.


"Ez ... Serius deh, aku kan hanya menjadi teman yang baik, memberi tumpangan pada teman. Apa yang salah?" ujar Gavriel bertanya dengan frustrasi.


"Apa salahnya, kamu bilang?" tanya Ezra dengan nada geli, membuat Gavriel mengangguk masih dengan bingung.


"Oke ... Aku akui, mengantar teman pulang itu suatu kebaikan. Tapi ... Setahu aku, kamu itu bukan orang yang mudah memberikan tumpangan. Jadi, apa kamu sudah tahu letak kesalahan kamu dimana?" jelas Ezra panjang lebar, bertanya dengan serius kepada Gavriel yang menatapnya kaget.


"Sudah sadar? Gav-Gav, benar dong tebakan aku, kalau kamu itu suka dengan Keineira."


"..."


Diam ... Gavriel hanya bisa diam saat sepupunya berkata seperti itu.


Ia baru sadar jika selama ini memang ia sedikit aneh, dengan mudahnya ramah dan mengizinkan orang lain, masuk diantara ia dan sahabatnya.


Apa karena ini juga, adiknya menganggap dirinya suka dengan teman perempuan sekelasnya, kerena dirinya yang mudah menerima kehadiran seorang Keineira.


"Gav .. Aku nggak larang kamu deket sama siapa aja, karena itu hak kamu. Kamu suka dengan siapa, aku juga nggak bisa larang."


Ezra mengatakan dengan santai, ikut memainkan handphonenya, membuka aplikasi instakilonya.

__ADS_1


Fokus dengan akun sosial medianya, menghiraukan keterdiaman sepupunya, hingga helaan napas membuat atensi Ezra, kembali pada sepupunya yang mengusap wajah lelah.


Astaga! Seorang Gavriel lelah hanya karena perasaan suka, yang benar saja.


"Kamu salah Ez," gumam Gavriel pelan, sehingga Ezra yang mendengarnya bahkan harus mengernyit sebelum bertanya.


"Salah bagaimana?"


"Aku mau kasih tahu kamu sesuatu dulu, sebelum aku lebih lanjut memberi tahu maksudku, kenapa aku bilang ucapan kamu salah."


Karena melihat sepupunya sudah dalam mode serius, Ezra pun meletakkan handphone begitu saja, dengan tubuh berhadapan dengan Gavriel, yang menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang.


"Apa?" tanya Ezra serius.


"Tadi, sewaktu aku mampir di rumah Kei. Aku dikasih tahu sebuah fakta," gumam Gavriel menjeda kalimatnya, saat sang Mommy mengirimnya pesan izin, membuatnya tersenyum kecil.


"Fakta, fakta apa?" tanya Ezra tidak sabar.


"Hum ..."


Gavriel bergumam, sebelum menjawabnya pertanyaan tidak sabar dari sepupunya.


"Ternyata dulu sewaktu aku kecil, balita tepatnya. Aku dan Kei sudah pernah bertemu, bahkan kami foto berdua dengan aku yang kelihatan bahagia," jelas Gavriel sesuai apa isi hatinya, dan itu membuat Ezra tentu saja kaget.


"Berarti sebelum ini, sebenarnya kalian sudah bertemu, diluar dari insiden tabrakan itu?" cecar Ezra dengan analisisnya, menuai anggukan kepala dari sepupunya.


"Lalu, apa hubungannya?" lanjut Ezra bertanya.


"Tidak ada, aku hanya berpikir, apa ini sebabnya aku menerima keberadaannya dengan mudah. Sedangkan untuk orang lain, butuh waktu lama untuk aku menerimanya."


Baik Gavriel maupun Ezra sama-sama terdiam, saat memikirkan kemungkinan, jika salah satu alasan itu adalah benar adanya.


Gavriel cenderung bersikap dingin dengan orang baru, terlebih perempuan, tapi kenapa tidak dengan Kei yang jelas-jelas orang asing yang baru dikenalnya.


"Bisa jadi, aku juga berpikir seperti itu," sahut Ezra dengan gumaman pelan.


Setelahnya mereka saling diam, saat lagi-lagi tenggelam dengan masing-masing pikiran.


"Ez," gumam Gavriel memanggil sepupunya, menuai gumaman dari Ezra, yang melihat sepupunya penasaran.


"Aku bingung."


"Bingung kenapa?" tanya Ezra semakin penasaran.


"Tentang semuanya, tentang rasa aneh yang tumbuh dihatiku," balas Gavriel dengan ekspresi wajah, yang sungguh membuat Ezra ingin ngekek saat ini juga.


"Rasa aneh, yang tumbuh di dalam hati?" ulang Ezra menuai anggukan kepala dari sepupunya.


"Iya ... Aku nggak pernah merasakan ini sebelumnya, tapi akhir-akhir ini semakin menjadi. Dulu aku pikir, ini hanya perasaan biasa. Tapi aku salah," ucap Gavriel jujur.


Ia tidak malu menceritakan masalahnya, karena sepupunya juga terbuka dengannya tentang hal apa saja.


"Maksudnya?"


"Aku mau mencoba sesuatu," ujar Gavriel ambigu alih-alih menjawab pertanyaan sepupunya.


Sehingga kali ini Ezra bukan lagi menatap Gavriel bingung, tapi lebih dari sekedar penasaran, apalagi saat sepupunya bercerita tentang keinginannya.


"Ez aku mau ....."


"Bisa kan Ez, aku hanya berharap perasaan ini benar adanya. Bukan karena nyaman dan terbiasa," pinta Gavriel sungguh-sungguh, sehingga mau tidak mau Ezra pun mengangguk menyetujui rencana sepupunya.


Ini masalah perasaan, ia juga pasti bingung jika diberi pilihan berat, seperti yang dialami sepupunya.


"Baiklah Gav, aku cuma bisa menonton. Karena sebenarnya aku juga nggak mau, salah satu diantara mereka tersakiti. Jadi aku harap, kamu bisa dengan cepat menyadari perasaan kamu sendiri. Oke," nasihat Ezra bijak.


Gavriel mengangguk pasti, lalu tersenyum tipis ke arah sepupunya yang mengulurkan kepalan tangan seperti biasa.


Tos!


"Ganbarre! (Semangat!)" seru Ezra tulus.


"Mochiron (Tentu saja)"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Apa yang direncanakan oleh Gavriel?


Mau tahu ...


Ikuti saja kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2