
Seoson dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Di perjalanan menuju kafe
Gavriel dan Ezra saat ini sedang di perjalanan menuju kafe, tempat mereka janjian dengan anggota Osis lainnya.
Suasana yang ramai dengan pejalan kaki di sekitarnya, membuat dua anak Adam ini sukses jadi perhatian karena paras wajah mereka yang ada di atas rata-rata.
Para pejalan kaki tersebut melihat keduanya dengan pandangan terpesona, apalagi Gavriel, yang memiliki wajah tampan dengan tinggi tubuh semampai khas laki-laki beranjak remaja.
"Oy!"
"Pa'an?"
"Di perhatiin banci tuh, di seberang jalan," bisik Ezra dengan kikikan meledeknya.
"Sialan, Aku fikir apa'an!" seru Gavriel menampol sepupunya yang semakin terkikik.
"Gav!"
"Hn?"
"Ck ... Cukup Unkel aja lah, yang kalau di panggil balas dengan gumaman!" seru Ezra dengan decakan sebalnya.
"Wajar lah, Aku kan anaknya, dodol!" balas Gavriel dengan bahu terangkat tidak perduli.
"Ish!"
"Eh .... Kamu nanti, mau lanjut sekolah dimana?" tanya Gavriel, sambil merogoh saku celananya untuk mengambil handphone miliknya.
"Hum ... Pipi bilang, Aku masuk di SMA tempat dulu Pipi sekolah aja. Kamu sendiri gimana?" balas dan tanya Ezra.
"Ya berarti sama, mana bisa Aku jauh dari Kamu," balas Gavriel, melirik ke arah sepupunya dengan cengiran khasnya.
"Berarti Aku nggak usah jawab, reseh iyuh!" seru Ezra kesal.
"Dari pada nggak ada obrolan, hayoo!"
"Eleh ..."
Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan tanpa ada obrolan, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, Gavriel memainkan handphonenya sambil berkirim pesan dengan Sang Mommy, saat beliau menanyakan alasannya pulang telat.
Ezra yang di samping ikut memainkan handphone, sekedar membuka chat dan menyalakan musik dengan headset bluetooth di kedua telinganya.
Mereka berdua tidak sadar, saat ada beberapa siswi sekolah lain yang berjalan di hadapan mereka.
Dari tiga murid di hadapan mereka, ada salah satu siswi yang jalan mundur menghadap ke arah temannya, Dia bersenda gurau dengan kedua temannya tanpa tahu, jika di belakangnya ada seseorang yang juga menunduk dengan wajah fokus melihat handphone.
Kejadian tidak terduga pun terjadi, Si siswi yang tadi membelakangi Gavriel, tiba-tiba menoleh saat seseorang berseru seperti memperingati.
"Kei, di belakang Kamu!"
"Gav! Awas!"
Terlambat ....
Seruan Ezra yang mencoba memperingatkan sepupunya sia-sia, karena yang terdengar setelahnya adalah bunyi dua orang bertabrakan dan jatuh, serta ringisan sakit dari bibir keduanya.
Bruukhh!
"Weew ... Nice banget posisinya," gumam Ezra edan, saat posisi jatuh Gavriel yang terlihat menguntungkan di matanya.
Di saat bersamaan, di sisi Gavriel.
Gavriel pov on
"Eleh ..."
Aku terkekeh saat mendengar gerutuan kesal dari sepupuku, karena tidak ada yang di bicarakan lagi. Aku pun membuka handphoneku, menulis pesan untuk Mommy sekalian bertanya tentang El, apakah sudah sampai atau belum.
Aku berjalan tanpa melihat ke arah depan, asik berkirim pesan dengan Mommy yang akan berubah jadi usil, jika sudah ada bahan untuk meledekku.
Aku tersenyum membaca pesan dari Mommy, meskipun Momm bilang El belum sampai, tapi Aku berusaha untuk berfikir positif, apalagi ini baru beberapa menit semenjak mereka meninggalkan sekolah.
"Gav! Awas!"
Seketika Aku menghadap depan, saat telingaku mendengar seruan dari sampingku, yaitu suara sepupuku yang memperingatiku.
Tapi na'as, karena jarakku dan jarak perempuan dengan seragam SMP di depanku ini terlalu dekat, tabrakan pun tidak bisa Aku hindari.
Aku menabraknya dengan Aku yang tertarik ke arahnya, apalagi saat Dia mencengkram seragam yang Aku gunakan saat ini.
Brug!
Aku bisa melihat wajah terkejutnya, sebelum di gantikan ringisan sakit, saat Aku jatuh menimpahnya.
Benar ... Menimpahnya, karena saat ini Aku ada di atas tubuhnya dengan wajah berdekatan, menyisakan jarak beberapa centi saja.
"Ukh!"
"Aww!"
Dari sini, Aku bisa melihat matanya yang terpejam seperti menahan sakit, lalu terbuka sehingga Kami pun saling bertatapan.
"Matanya indah," Batinku tanpa sadar menatap dalam manik coklatnya.
Untuk sesaat Aku terpesona dengan remaja perempuan di bawahku, tapi untunglah suara sepupuku membawa kembali kesadaranku, sehingga Aku dengan cepat bangkit dari atas
tubuhnya.
"Kalian berdua tidak apa-apa?"
"Sial ... Bagaimana bisa seperti ini," Batinku mengumpat kesal.
Gavril pov end
Normal pov
Gavriel pun bangkit dari jatuhnya, kemudian membantu korban tabrakannya untuk berdiri.
"Maafkan Aku!" seru Gavriel dengan nada khawatir.
Ia melirik siku korban di depannya, yang saat ini mengeluarkan aliran merah.
"Sorry!" Lanjutnya, dengan panik Ia mengambil lengan kiri Si korban untuk di lihat seberapa parahnya luka yang di sebabkan olehnya, menuai ringisan sakit dan gerakan kaget yang kentara.
"Ugh!"
"Apakah sakit?" tanya Gavriel melihat siku dan Si korban bergantian.
"Kei! Kamu tidak apa-apa?"
Seruan dua orang teman dari orang yang mereka panggil dengan sebutan Kei, membuat Gavriel menoleh ke arah belakang, dimana kedua Siswi tersebut berjalan menghampiri mereka saat ini.
Mereka berdua syok, saat melihat temannya yang jatuh dan tertimpah dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Seseorang yang di panggil Kei itu pun menoleh kebelakang, saat dua temannya bertanya dengan nada khawatir.
"Aku ngga apa-apa! Tenang saja," balas orang yang mereka panggil Kei tersebut.
"Kamu serius nggak apa-apa?" tanya Gavriel, membuat Si korban menoleh ke arahnya lagi.
"Iya, nggak apa-apa!" Balasnya dengan senyum kecil, senyumnya manis membuat Ezra yang melihatnya tersipu, lalu dengan cepat menolehkan wajahnya ke arah lain.
"Reseh banget, Gav yang di senyumin, Aku yang baper," batin Ezra kesal sendiri.
"Yakin? Kita beli obat dulu yah, di situ ada minimarket, Kita obatin dulu luka kamu. Got it!" ujar Gavriel lembut, sehingga membuat Ezra yang di sampingnya mengernyit bingung.
"Ada apa dengan Gavriel, nggak biasanya Dia bersikap manis. Apa ini cuma karena rasa bersalah?" batin Ezra curiga.
"Eh ... Nggak apa-apa kok, serius!"
"Aku maksa, ini salah Aku. Oke, jangan di tolak," ujar Gavriel tegas, yang di balas anggukan pasrah oleh korban yang di tabraknya.
"Kalian juga ikut, sebentar aja kok," lanjut Gavriel menoleh ke arah belakang Si korban.
"Baik!" seru kedua teman Si korban kompak.
"Ez, kasih tahu yang lain," ujar Gavriel memberi kode, yang di mengerti oleh sepupunya segera.
"Oke!"
Akhirnya kelima remaja ini berjalan bersama, menuju salah satu minimarket terdekat, dengan tujuan membeli obat dan istirahat sejenak, memulihkan rasa kaget akibat insiden tabrakan tidak terduga barusan.
Sesampainya mereka di depan minimarket, Gavriel memerintahkan ketiga Siswi tersebut untuk duduk, dengan Ezra menemani ketiganya.
"Ez .... Kamu tunggu di sini," ujar Gavriel yang di balas anggukan kepala mengerti oleh sepupunya.
"Oke!"
Gavriel pun pergi meninggalkan ketiganya, memasuki minimarket untuk membeli barang yang di butuhkannya.
Tidak sampai sepuluh menit, Gavriel keluar dengan kantung plastik di tangannya.
"Maaf, lama yah!" seru Gavriel membuat keempatnya menoleh ke arahnya.
"Tidak kok!"
Gavriel pun duduk di tempat yang tadi diduduki sepupunya, setelah dengan kejamnya menggeser sepupunya untuk berpindah tempat.
"Geser!"
"Elah! Tempat yang lain banyak!" seru Ezra namun tetap pindah juga.
Gavriel meletakkan kantung plastik di atas meja, membongkar isinya dan mengeluarkan tiga buah soft drink kaleng, yang di ulurkan ke hadapan ketiganya.
"Aku beliin minuman, sambil nunggu Aku obatin luka, di minum." ujar Gavriel.
"Thanks!"
"Mas, Aku nggak dibeliin?" tanya Ezra menyebut nama Gavriel dengan sebutan dan nada yang biasa Adiknya pakai.
"Jijik! Beli sendiri sana!"
"Mas!"
"Hentikan, ambil sendiri di kantung plastik,"
"Makasih Ma-
"Dan hentikan panggilan itu, hanya El yang boleh panggil pake kata Mas. Slepet nih!" sela Gavriel cepat, saat Ezra akan melanjutkan ucapan yang sungguh membuatnya geli.
"Preett!"
Gavriel menghadap kembali ke arah korban, yang memperhatikan kejadian tadi dengan senyum kecil, yang segera di sembunyikan dan berganti dengan senyum manis.
Senyum yang membuat Ezra lagi-lagi terpesona.
"Jangan senyum gitu, kenapa manis banget. Kalau senyumnya buat Aku iya aja, lah ... Siapa yang di senyumin siapa yang baper. Sial," batin Ezra melengoskan wajahnya, sambil meminum, minuman kaleng miliknya.
"Aku lihat lukanya, Sorry yah ... Aku pegang tangan kamu," gumam Gavriel pelan, melihat Si korban dengan sorot mata menyesal.
"Itu ... Sebenarnya Aku bisa obati sendiri. Ak-
"Kasih liat aja, ini bentuk tanggung jawab Aku. Jadi Kamu jangan menolak, got it?" sela Gavriel tegas, sehingga membuat Si korban mengangguk menuruti apa maunya.
Dua teman di sampingnya, memperhatikan dalam diam saat temannya yang jadi korban tabrakan, sedang di obati dengan hati-hati oleh Si pelaku tabrakan.
Gavriel pun memulai kewajibannya, Ia membersihkan debu di siku perempuan di depannya dengan tissu basah.
Sesekali Ia akan meniup pelan luka lecet itu, saat mendengar ringisan sakit.
"Maaf," gumam Gavriel melihat wajah remaja perempuan di depannya, dengan sorot mata menyesal.
"Aku baru ini, melakukan hal seperti ini," batin Gavriel bingung.
"Tidak apa-apa,"
Ia pun membubuhkan obat merah dan kemudian menempelkan plaster dengan hati-hati, membuat Si korban tersenyum senang saat di perlakukan lembut seperti ini.
"Sudah selesai, maaf sekali lagi." ujar Gavriel.
"Serius tidak apa-apa, Kamu juga sudah mengobati lukanya, kan?" Balasnya dengan senyum manis.
Deg!
"Apa ini?" batin Gavriel bingung.
"Gav!"
"Oit?" sahut Gavriel, lalu menoleh ke arah belakang melihat sepupunya yang sedang melihat ke arah layar handphone.
"Queene bilang sudah sampai, Dia bilang nanti antar Dia pulang. Mau main dulu sama El dan Onty Yaya," ujar Ezra menatap sepupunya.
"Lah ... Kenapa nggak sama Kamu atau Unkel Faro?" tanya Gavriel bingung.
"Ye ... Kamu seperti tidak tahu Que-que saja, maunya nempel sama Kamu terus!" seru Ezra membalas pertanyaan sepupunya.
"Ck ... Ya sudah, balas Iya, nanti Aku yang antar," balas Gavriel berdecak sebal.
"Emang sudah di balas Iya, mue-he-he!" seru Ezra di sela kekehan isengnya.
"Terus kenapa nanya? Dodol!" seru Gavriel sewot, kesal apalagi saat melihat kekehan dari sepupunya.
Di belakang Gavriel, Si korban yang mendengar nama seorang perempuan di sebut, merasakan hal yang membuat Ia penasaran.
"Pacar yah?"
"Eh! Sorry, Aku bukan ingin iku-
"Bukan! Bukan pacar kok, Kamu juga tidak perlu minta maaf,"
Gavriel menyela dengan cepat pertanyaan dan pekikan kaget, dari remaja perempuan yang saat ini menampilkan ekspresi wajah kaget.
Ia menjelaskan sesuatu yang membuatnya mengernyit bingung sendiri.
__ADS_1
"Untuk apa Aku menjelaskan?" Batinnya bingung.
"Oh!"
"Eh! Kita belum kenalan, padahal dari tadi sudah banyak ngobrol!" seru Ezra dengan cengiran khasnya.
"Eh! Iya juga!"
"Aku Ezra dan ini Gavriel, salam kenal!" seru Ezra memperkenalkan diri.
"Aku Kei, ini Intan dan yang di sebelahnya Raiya. Salam kenal Ezra, Gavriel!" seru Si korban bernama Kei memperkenalkan dirinya dan dua temannya.
"Hai! Aku Intan!"
"Aku Raiya!"
"Salam kenal Raiya dan Intan!" seru Ezra semangat.
Ia memberikan senyum memikatnya, sehingga Dua teman Kei memekik girang dalam hati, tapi tidak untuk Kei yang biasa saja.
Kalau kata Miminya Senyum pemikat turunan Pipi, Si playstation cap badak.
"Oh iya ... Karena kewajiban Aku sudah selesai, Kita berdua pamit duluan yah. Tidak apa-apa, kan?" ujar Gavriel menyudahi.
"Iya! Tidak apa-apa," balas Kei dengan ramah.
"Kami harus menghadiri pertemuan Osis, sudah telat sih, tapi setidaknya Kami hadir. Sekali lagi, maaf ya!" ujar Gavriel menjelaskan.
Penjelasan yang lagi-lagi sebenarnya tidak perlu di jelaskan.
"Ada apa sih, sebenarnya?" batin Gavriel bertanya bingung.
"Iya .... Maaf yah, merepotkan!" seru Kei tidak enak.
"Tidak, itu bukan masalah. Kalau begitu Kami pergi, hati-hati di jalan," ujar Gavriel sambil berdiri dari duduknya.
"Terima kasih!"
"Sampai jumpa, Kei, Raiya dan Intan juga!" seru Ezra kemudian mengikuti langkah sepupunya, meninggalkan ketiga Siswi asing yang bertemu melalui hal tidak terduga.
"Sampai jumpa!"
Sepeninggalnya dua remaja laki-laki tampan tersebut, Intan dan Raiya segera menggoda temannya, yang menjadi korban tabrakan cowok tampan tadi.
"Ehem ... Baru ini, kita lihat seorang Kei nurut di pegang-pegang sama cowok, iya nggak, Rai?" ujar Intan menggoda, yang di angguki oleh Raiya.
"Betul, biasanya nggak gitu," sahut Raiya ikut menggoda.
"Ih ... Apa'an sih, biasa aja kali. Dia juga kan niat ingin obatin Aku, emang salah?" balas Kei mengelak.
"Tapi biasanya, tidak sampai pegang tangan segala. Iya kan, Rai?"
"Iyap ... Betul!"
"Ah!" seru Intan tiba-tiba, membuat Raiya dan Kei melihatnya dengan ekspresi bingung.
"Ada apa?" tanya Kei khawatir.
"Kenapa tadi tidak minta nomor teleponnya, is ... Jadi tidak bisa bertemu lagi, kan?"
"Betul juga, tuh!"
"Ih ... Udah ah, kalian ini ada-ada saja, sebaiknya Kita pulang. Sudah sore," ujar Kei, kemudian Ia berdiri dan di ikuti kedua temannya.
Mereka berjalan meninggalkan depan minimarket, dengan Kei yang menoleh ke belakang, tepatnya ke arah jalan dimana dua remaja laki-laki berjalan tadi.
"Gavriel yah, sampai jumpa lagi," Batinnya dengan senyum kecil.
Sedangkan di sisi Gavriel dan Ezra, yang saat ini sedang duduk ikut mendengarkan penjelasan rencana Persami, mereka duduk dengan sesekali menimpali rencana-rencana dari panitia di depan sana.
" Gav!"
"Hn?"
"Kei ... Cantik yah, bagaimana menurut Kamu?"
Deg!
"Hn."
"Apa'an, jawab yang benar!"
"Masih kecil Ez."
"Lah, hubungannya apa? Kan cuma kenalan!"
"Aku polos, Aku tampan, Aku tidak dengar!"
"Ck ... Bilangin Unkel nih!"
"Bilangin apa?"
"Bilangin, Kamu tadi nimpah anak perawan orang!"
"Oy! Jangan sembarangan,"
"Ck ... Kenapa tadi nggak minta nomor telponnya yah!"
"Lenjeh!"
"Biarin, yang penting tampan!"
"Tampan, mirip seperti dodol!"
"Sembarangan!"
Gavriel pun menulikan pendengarannya, dari gerutuan sepupunya dan melihat ke arah jendela.
Ia memandang jauh di sana, tersenyum kecil namun tidak lama, di gantikan dengan gelengan kepala.
"Apa sih, ada-ada saja," Batinnya mendengus geli.
"Kei yah ... Sampai jumpa,"
Keduanya sama-sama mengucapkan sampai jumpa, apakah benar mereka akan bertemu lagi?
Saat ini keduanya masih belum tahu, mereka berfikir jika mereka hanya bertemu sekali dan belum tentu bertemu lagi.
Biarkan semua mengalir apa adanya ... Karena waktu akan membongkar semua rahasia.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisahnya ....
Kisah manis remaja, dengan kelakuan remaja pada umumnya.
Sampai babai.
__ADS_1