Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Tugas Sekolah


__ADS_3

Seoson dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Mansion Wijaya Muda


Hari-hari berlalu di lewati dengan biasa, kumpul bersama, main bersama dan tentu saja membuat onar bersama juga.


Siang itu selepas sekolah, Gavriel dan dua teman lainnya hendak bersama-sama mengerjakan tugas sekolah mereka.


Hari ini giliran Kiara menjemput anaknya, beserta dua anak dari teman dan sepupunya.


Ia bersama Elisa menjemput anak mereka, dengan pak Anto sebagai supir.


"Momm!" panggil Gavriel saat mereka sudah sampai di ruang tamu.


Ngomong-ngomong tahun ini mereka sudah naik kelas loh ... Kelas tiga dan Gavriel sudah bisa menyebut huruf R.


"Yes sweetheart, ada apa?" balas Kiara menoleh ke arah dimana anak dan dua lainnya berada.


"Momm, dimana kami bisa menemukan anak katak?" tanya Gavriel polos bertanya kepada Sang Mommy dengan kening berkerut bingung.


Kompleks rumahnya bersih dari sungai atau selokan, Ia bingung harus mencari dimana rumah dari binatang melompat tersebut.


Kiara ikut berfikir saat mendapat pertanyaan bingung dari Sang anak. Sejauh yang Ia tahu daerah perumahannya tidak ada sungai, hanya ada rumah dengan pagar tinggi dan taman dengan fasilitas lengkap.


"Emang tugas kalian apa?" tanya Elisa saat melihat kebingungan dari anak sahabatnya serta Anaknya sendiri.


"Mempelajari pertumbuhan katak!" seru ketiganya bersamaan.


"Pertumbuhan katak?" beo Kiara dan Elisa kompak.


"Iya, Mommy!" seru Gavriel membenarkan, kepalanya mengangguk dengan cengiran khasnya.


"Katak, apa itu katak Mommy?" tanya Selyn penasaran yang saat ini sedang bermain dengan mainannya.


Selyn sendiri saat ini sudah berumur enam tahun kurang enam bulan, Ia sudah mulai aktif belajar di bangku sekolah kanak-kanak.


"Em ... Binatang yang hidupnya di dua dunia dan kalau berjalan melompat," ujar Kiara menjelaskan dengan singkat.


Selyn berfikir dengan kening berkerut dan kemudian mengangguk, lalu kembali pada kegiatannya yaitu bermain dengan mainan bukan anak-anak.


(Maksudnya mainan bukan anak-anak apa? Eleh sok nggak tahu. Khi-ki-kik)


"Jadi dimana Momm?" ujar Gavriel mengulangi pertanyaannya.


Kiara tidak menjawab segera pertanyaan dari Anak sulungnya, Ia berfikir dengan kening berkerut mencoba mengingat tempat yang masih ada rumput dan sawah, habitat dari binatang dua alam tersebut.


"Hum!!" gumam Kiara.


Tiga anak yang punya tugas menunggu dengan berbagai ekspresi, ada yang mengetuk pensil di meja, yang berkedip polos ke arah Kiara dan ada yang bergabung dengan selyn, bermain catur dengan pion hitam dan putih setengah perjalanan.


Elisa yang menyaksikan kelakuan anak-anak di depannya tersenyum kecil, kepalanya menggeleng, apalagi saat melihat kakak beradik berebut menjalankan pion yang menurut mereka benar.


"Ih El, putih ya makan hitam, masa sesama putih saling makan!"


Itu suara Gavriel yang protes, tapi adiknya dengan keras kepala tidak mengakui.


"Mas jangan ganggu, kalau putih makan hitam, nanti putih belubah menjadi hitam. Kasihan!"


"Ah ... Itu peraturannya Imouto-chan!"


"Ih Mas pelgi aja, jangan ganggu El!"


Perdebatan kakak adik tersebut membuat Elisa terkekeh kecil, Selyn itu wajahnya mirip sekali dengan Dirga, tapi entah mengapa keras kepalanya melebihi Mommynya.


"Sudah ketemu tempatnya Ra?" tanya Elisa saat sahabatnya berfikir terlalu lama, tentang tempat tinggal dari hewan bernama katak.


"Um ... Nanti Aku tanya dulu," ujar Kiara tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Maksudnya?" tanya Elisa bingung, tapi sayang Kiara hanya memberikan cengirannya dan beranjak dari duduknya.


"Nanti Aku kasih tahu," ujar Kiara kemudian meninggalkan Elisa di ruang tamu, sedangkan Ia sendiri pergi ke kamarnya mengambil handphone yang sengaja Ia tinggal.


"Apa maksudnya?" gumam Elisa bingung, namun kemudian Ia mengangkat bahu acuh dan melihat lagi kelakuan anak-anak di depannya.


***


Kiara yang sampai di kamarnya segera mengambil Handphone miliknya.


Ia menekan nomor satu di layar handphonenya, kemudian muncul nomor Suaminya dengan keadaan sedang memanggil.


Sambil menunggu Suaminya mengangkat panggilan darinya, Ia duduk di tepi ranjang dan tersenyum saat panggilannya di terima di nada tunggu ke-dua.


Tut! Tut!


Klik!


"Heum, kangen sama Aku?"


Kiara mendengus kecil saat mendengar pertanyaan narsis, tapi benar adanya yang di ucapkan Suaminya.


"Ge'er, siapa yang kangen?" balas Kiara dengan senyum kecil.


"Wah ... Jahatnya, padahal Aku kangen banget loh!"


"Dih ... Baru juga beberapa jam berpisah, dasar lebay," ujar Kiara geli sendiri, saat mendengar rayuan dari Suaminya.


"Emang kangen, bagaimana dong?"


"Kalau gitu pulang!" balas Kiara main-main.


"Oke!"


"Aku bercanda sayang!"

__ADS_1


Kiara memekik kaget, saat Suaminya mengiyakan dengan mudah ucapan ngasalnya.


"Emang Aku mau pulang, kangen Kamu. Bleee!!"


"Ih ... Aku serius sayang!" seru Kiara.


"Ha-ha-ha ... Oke-oke, aku hanya bercanda. Nah sekarang ada apa, heum?"


Kiara menggembungkan pipinya, saat tahu jika Sang suami hanya mengerjainya.


"Kalau pipi Kamu di gembungkan seperti itu, siap-siap Dear!"


"Siap-siap apa?" tanya Kiara cepat saat Suaminya menggantung kalimatnya.


"Siap-siap, malam ini Aku makan,"


Meskipun Suaminya saat ini tidak ada di depannya, tapi saat mendengar suara rendah dari seberang telepon sana, Ia tetap merasakan bulu kuduknya meremang.


"Ih ... Gigit nih!" seru Kiara dengan nada gugup.


"Gigit balik, ha-ha-ha!"


Kiara tersenyum lembut saat mendengar tawa renyah Sang suami, di usia pernikahan mereka yang ke-sembilan memasuki sepuluh, Ia dan Suaminya masih tetap bertingkah layaknya pasangan kekasih.


Setelah beberapa saat tertawa, Kiara bisa mendengar suara deheman yang berasal dari Suaminya.


"Ehem .... Jadi nelpon Aku ada apa, Dear. Tidak mungkin dong kalau hanya kangen?"


"Ih ... Siapa yang bilang kangen sih, dasar!" seru Kiara tidak terima, maksudnya tidak mengakui kebenaran pada Suaminya.


"Oke-oke, nggak kangen deh iya,"


Kiara tersenyum geli, saat Suaminya dengan mudah mengalah kepadanya. Ia sungguh mencintai Suaminya yang seperti ini, yang selalu tahu tempat dan kapan Dia harus mengalah.


"Jadi ada apa?"


"Em ... Itu yank, Gavriel dan anak-anak ada tugas sekolah,"


"Lalu?"


"Yah jangan di potong dulu yank!"


Kiara berseru protes saat penjelasannya di sela oleh suaminya, Ia mencebilkan bibirnya kesal apalagi saat mendengar suara kekehan dari sana.


"Oke-oke sorry, Dear,"


"Heum," dengus Kiara kesal


"Jangan di potong lagi, awas loh!" Lanjutnya mengancam.


"Iya sayang,"


Setelah mendapat jawaban tanpa nada suara jahil dari Sang suami, Kiara pun menceritakan tentang tugas sekolah serta pemikirannya, kepada Suaminya yang menyetujui ide darinya segera.


"Kalau begitu kalian bersiap-siap saja, Aku dan Mereka jemput kalian. Bagaimana?"


"Eh ... Kamu setuju Yank?" tanya Kiara kaget, sebab tanpa perhitungan Suaminya langsung memutuskan untuk pergi, ke tempat yang tadi Ia usulkan.


"Oke!"


Kiara dengan semangat menjawab pernyataan dari Suaminya, Ia dengan hati dan bibir tersenyum senang membalas ucapan sayang dari Suaminya, yang mematikan panggilan darinya untuk melakukan apa katanya tadi.


"Baiklah, sampai jumpa nanti. Love you, Dear!"


"Eum ... Love you, honey!"


Tut!


"Akh ... Tidak sabar melihat lagi sungai di sana!" Serunya semangat.


Ia pun mengganti pakaiannya dan berjalan keluar kamarnya, turun ke bawah untuk memberitahukan tentang rencananya kepada Elisa serta anak-anaknya.


Drap! Drap! Drap!


Langkah kaki yang menuruni tangga dengan semangat, membuat Elisa dan anak-anak yang ada di ruang tamu menoleh kompak ke asal suara.


Di pertengahan anak tangga sana, ada Kiara atau juga Mommy dari Gav dan Selyn, yang memamerkan senyum lebar kepada mereka.


"Momm, kenapa?" tanya Gavriel saat Sang Mommy sampai di tempat mereka duduk saat ini.


"Kita siap-siap, sebentar lagi Daddy jemput kita!" seru Kiara semangat tanpa menjawab pertanyaan Si sulung.


"Siap-siap bagaimana, Ra?" tanya Elisa bingung.


"Siap-siap pergi ketempat dimana Kalian bisa menangkap katak," balas Kiara dengan senyum lebar.


"Hah?" seru Elisa belum mengerti.


Kiara terkekeh kecil, lalu menjelaskan tentang usulannya kepada Sang suami tentang tugas sekolah mereka dan penjelasan darinya di sambut dengan antusias dari mereka semua.


Terlebih Gavriel yang hanya tahu lokasi dari foto-foto dulu kedua orang tuanya.


"Beneran Ra?" tanya Elisa.


"Iya!" seru Kiara membalas dengan semangat pertanyaan Sahabatnya.


"Oke deh, kalau begitu Aku pulang ke rumah dulu menyiapkan keperluan," ujar Elisa dengan mata berbinar senang.


"Kita kan tidak menginap," ujar Kiara bingung.


"Ya kali aja main basah-basahan di sungai!" seru Elisa.


"Ya sudah, Aku pulang dulu. Kita ketemuan di perbatasan oke?" Lanjutnya mencium pipi Sang sahabat, lalu melenggang pergi setelah menggandengan tangan sang anak.


"Queene, Kita siap-siap liburan sayang!"


"Siap, Mama!"

__ADS_1


Kiara hanya bisa berkedip-kedip saat sahabatnya pergi, lalu menoleh ke arah sisa anak yang juga melihatnya dengan mata bulat polos khas anak-anak.


"Ezra Mimi kamu juga nanti kesini, sayang," ujar Kiara ke arah Ezra yang hanya mengangkat bahu acuh.


"Mimi sama pipi kesini, syukur deh!" seru Ezra seolah biasa saja, padahal dalam hati sudah senang saat mengetahui jika mereka akan beramai-ramai pergi ke suatu tempat.


Gavriel yang tadi sibuk dengan Sang adik beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Sang Mommy yang langsung memeluknya gemas.


"Yey ... Kamu seneng nggak?" tanya Kiara saat Gavriel sudah ada di pelukannya.


"Seneng Momm, tapi apa di sana masih ada air sungainya?" tanya Gavriel penasaran di buat-buat.


"Eh .... Maksud Kamu apa sayang?" tanya Kiara bingung.


"Kan Momm dan Dadd sudah lama tidak kesana, apa benar sungainya masih berair atau sawahnya tidak mengering? Cuaca sangat panas loh Momm," ujar Gavriel menjelaskan, Ia menyembunyikan maksud modus dari pertanyaannya.


Gavriel membuat ekspresi wajah semeyakinkan mungkin, sehingga Kiara yang melihatnya tertawa geli, apalagi saat mendengar perkataan ngawur dari Sang putra.


"Ha-ha-ha, Kamu ada-ada saja sayang. Sungainya tidak akan kehabisan air, sawah di sama juga tidak akan kekeringan. Kan ada yang mengurusnya!" seru Kiara dengan nada geli kemudian Ia mencolek gemas hidung Putranya.


"Berarti Mommy pintar!" balas Gavriel dengan kepala mengangguk, sehingga Kiara yang melihatnya mengerutkan kening bingung.


"Maksudnya, Kak?" tanya Kiara bingung.


"Mommy pintar, bisa menjawab pertanyaan Aku. Muah ... Sayang deh!" seru Gavriel kemudian mengecup pipi Sang Mommy dan pergi meninggalkan Mommynya dengan kekehan kecil.


"Mumpung belum ada Daddy, hi-hi!"


Kiara melongo saat mendengar gumaman anak sulungnya, menyebut nama Daddy yang berarti Suaminya dan seketika Ia tertawa geli saat sadar apa maksud dari pertanyaan ngaco dari Anaknya.


"Lucu sekali," batin Kiara mendengus kecil.


Anaknya ternyata hanya ingin mengambil kesempatan saat Suaminya tidak ada. Daddy mereka sering membuat mereka merengek, karena jika sudah ada di rumah Dirga akan memonopoli dirinya, sehingga Gavriel maupun Selyn akan kesal dan ujung-ujungnya selalu saling menjahili.


Suaminya yang usil akan semakin mengerjai mereka, apalagi kalau tiba saatnya waktu bermanja di ruang keluarga.


"Mommy siapin keperluan kalian yah!" seru Kiara setelah puas menyaksikan tingkah menggemaskan Putranya.


"Selyn ganti baju yuk!" Lanjutnya mengajak Si bontot, yang memang belum mengganti seragam taman kanak-kanaknya.


"Ung!" gumam Selyn mengangguk kecil dan mengulurkan tangannya minta di gandeng.


Sepeninggalnya Kiara dan Selyn, di ruang tamu hanya tersisa Gavriel dan Ezra yang saling melihat.


"Apa?" tanya Gavriel saat sepupunya hanya memandanginya.


"Gav kenapa kita harus pergi hanya untuk mengerjakan tugas ini? Kan-


"Sssst ... Diam saja Ez, kan lumayan bisa jalan-jalan. Nanti juga Kamu tahu maksud Aku apa," sela Gavriel saat Sang sepupu dengan polosnya menjelaskan tugas mereka, yang sebenarnya dirinya pun tahu dengan jelas.


"Maksudnya?" tanya Ezra belum mengerti.


"Maksud Aku ......"


Gavriel memberi clue, membuat Ezra semakin bingung tapi tidak lama saat cengiran mirip Sang pipi terbit dengan lebarnya, membuat Gavriel ikut tersenyum setan.


"Ah ... Aku mengerti!" seru Ezra bangga, Ia terkekeh bersama Gavriel yang sudah terkekeh dari awal.


"Apa Queene tahu?" tanya Ezra.


Gavriel menggeleng kepala, membuat Ezra menepuk dahi pasrah.


"Nanti Dia kasih tahu Onty Elisa,"


"Tenang saja, seperti tidak tahu Queene saja. Dia kan paling senang mengerjai Babanya," balas Gavriel santai dan itu membuat Ezra menepuk dahinya lagi.


"Oh iya yah, hi-hi-hi!"


Keduanya pun terkekeh bersama, membuat seseorang di ujung ruangan sana mengernyit dahi bingung.


"Apa yang kalian tertawakan? Mencurigakan sekali!"


Gavriel dan Ezra tersentak kaget dan dengan segera menghentikan kekehan mereka, lalu menoleh kompak ke arah orang yang bertanya kepada mereka dengan nada penasaran.


"Daddy!" seru Gavriel mengubah raut wajahnya menjadi polos.


Ia dengan segera menghampiri orang yang di panggil Daddy yang adalah Dirga, lalu menerjangnya dengan pelukan maut ala Gavriel.


"Tangkap Gav Dadd!" seru Gavriel semangat, lalu melompat dengan sengaja ke arah Daddynya.


Brugh!


Hup!


"Aish ... Kamu bukan anak kecil lagi, Boy," ujar Dirga pura-pura kesal. Ia hampir saja terjengkang saat menerima terjangan maut dari Sulungnya.


"Hi-hi!"


Gavriel tidak membalas tapi hanya tertawa mengalihkan rasa curiga Sang Daddy toyyib, Daddy durhaka yang sering berebut perhatian Sang Mommy dengannya dan Selyn.


Dirga hanya bisa geleng kepala sambil melangkahkan kakinya ke arah Ezra, keponakannya atau juga anak dari sepupu dan sahabatnya.


"Ez ganti baju punya Gavriel saja yah," ujar Dirga saat sudah ada di hadapan keponakannya.


"Baik Ungkel!" seru Ezra menjawan dengan semangat, ikut mengalihkan rasa curiga Sang paman.


"Ya sudah, kalian ke atas. Daddy juga mau siap-siap," ujar Dirga menurunkan Gavriel dari gendongannya.


Mereka pun bersama-sama berjalan ke arah tangga, menuju kamar masing-masing mempersiapkan diri, untuk melakukan perjalanan dua jam menuju tempat yang sudah di jelaskan oleh ratu dari pasangan Wijaya Muda.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kira-kira apa clue yang di sebutkan oleh Gavriel kepada Ezra dan apa hal yang membuat keduanya terkekeh mencurigakan bersama.


Mau tahu ...

__ADS_1


Tunggu saja kisah selanjutnya ...


Sampai babai


__ADS_2