
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Exo__Walk On Memories.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Gavriel saat ini sedang dalam perjalanan, menuju gedung perusahaan milik keluarganya, hendak menemui sang Daddy ingin membicarakan rencana, yang tadi dibahas olehnya bersama sepupunya.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menatap depan fokus namun tidak dengan hatinya yang kembali mengingat, sesaat sebelum sahabatnya masuk ke dalam mobil milik kakak kelasnya.
Tangan yang ada di atas stir kemudi mengepal saat itu, dengan bibir terkekeh layaknya orang gila.
Apa ini, kenapa bisa rasanya sakit sekali, apalagi saat melihat kakak kelas itu membukakan pintu, dengan sahabatnya yang tersenyum manis.
Fak, sialan.
Lampu lalu lintas berubah menjadi merah, kemudian ia pun menginjak rem dengan pelan, menghentikan laju kendaraannya di belakang garis pembatas.
Suasana dalam mobilnya sunyi, saat dirinya sengaja menghindar mendengar lagu yang berujung dengan ia yang sebal sendiri. Ia masih trauma mendengar lagu, apalagi sampai keputar lagu galau yang membuat telinganya tuli mendadak.
Matanya usil melihat sekitar di luar sana dan tidak sengaja melihat sepasang remaja, sama sepertinya masih memakai seragam namun beda sekolah. Sedang berjalan bersama, sambil bergandengan tangan dan bercanda ceria.
Ada perasaan iri di hatinya, saat melihat pasangan di luar sana. Apalagi saat melihat betapa senang keduanya, meskipun tidak ada hal lain selain kedua saling berbisik dan kemudian tertawa bersama, dengan si perempuan memukul manja bahu si remaja laki-laki .
Memang ia juga pernah merasakan hal itu, bertiga dengan sepupunya dan sahabatnya, saat dulu mereka masih jalan bersama hendak keluar rumah.
Tapi rasanya kan pasti berbeda.
Di luar sana ia bisa merasa, jika keduanya saat ini sedang merasakan apa itu rasa bahagia.
Sedikit ada rasa iri, saat melihat yang lain bisa santai mengekspresikan suasana hati dengan mudah. Tidak sepertinya , si kaku yang hanya akan rileks, jika itu dihadapan beberapa orang saja sebagai pengecualian.
Lampu merah berganti dengan hijau, Gavriel pun kembali menginjak pedal gas setelah mengganti persneling, melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan, yang sore ini tidak terlalu ramai.
Tidak lama ia sampai di kompleks gedung perkantoran Wijaya, memasuki pos pemeriksaan dan memarkirkan mobil di tempat kosong, kemudian mematikan mesin mobil.
Gavriel turun dari mobil, dengan tas laptop yang ia tenteng, sedangkan tas sekolah disampirkan di bahu kanannya.
Berjalan dengan langkah pelan, serta sesekali mengangguk saat mendapat sapaan ramah, juga pekikan kagum dari karyawan yang berpapasan dengannya.
Gavriel kali ini tidak takut lagi, saat ada karyawati yang memandangnya dengan love-love di mata. Ia ingat perkataan meledek sang Daddy, yang bilang jika semakin ia menampilkan ekspresi takut, mereka akan semakin semangat menggodanya.
Daddy dari Gavriel ini memang masih reseh seperti dulu, wajar dong jika ia takut, ia baru berumur sebelas tahun saat itu, bagaimana bisa ia tidak takut saat melihat tante-tante siap memakannya. Bahkan sebenarnya sampai beberapa waktu lalu, ia masih harus menahannya dalam hati rasa takutnya, dengan cara tidak berlari saat itu juga.
Di dalam lift, Gavriel membuka jas sekolahnya, kemudian menyampirkannya di lengan sebelah kiri.
Ting!
Dengan segera ia melangkahkan kakinya, keluar dari lift dan berjalan ke arah pintu satu-satunya di lantai ini, pintu ganda terbuat dari kayu berkualitas tinggi.
Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu sedikit kuat, kemudian menunggu hingga pintu terbuka atau setidaknya ada suara yang mengizinkannya masuk ke dalam.
Ceklek!
Pintu pun terbuka dengan istri seorang Direktur, yang adalah Mommy Gavriel sendiri, menatap Gavriel sedikit kaget.
"Gavriel!" seru seseorang si pembuka pintu__Kiara.
"Momm, di sini juga?" tanya Gavriel kaget, namun tetap saja ekspresinya tidak berubah. Tapi langsung berubah menjadi senyum malu, saat Kiara mengusap sayang pipinya.
"Iya, Momm dan Dadd ada acara makan malam dengan kolega malam ini."
Gavriel hanya mengangguk dan ikut masuk, saat Kiara mengamit lengannya dan menyeretnya masuk.
"Siapa? Dear!" seru pria, si pemilik ruangan__Dirga.
"Gavriel, sayang!"
"Selamat sore, Dadd," sapa Gavriel dengan nada biasa.
"Hn. Sore."
Gavriel membiarkan Kiara membawanya duduk, dengan sang Mommy yang duduk di sebelahnya, setelah Mommynya menjawab pertanyaan, dengan Gavriel yang menyapa Dirga seperti biasa.
__ADS_1
"Sudah tidak ada kegiatan?" tanya Dirga, sambil berjalan ke arah anak dan istrinya duduk, lalu ikut duduk di hadapan Gavriel, dengan sang Mommy yang masih duduk di sampingnya.
"Tidak, aku hari ini tidak ada kegiatan sekolah, Dadd," balas Gavriel menjelaskan dengan singkat.
Dirga menggangguk mendengar jawaban anak sulungnya, kemudian menatap istrinya yang betah nempel dengan si sulung.
Ck.
"Jadi, bagaimana?" tanya Dirga mengabaikan tingkah istrinya, yang lupa daratan kalau sudah ada anak sulungnya di tengah-tengah mereka.
Gavriel yang tahu jika sang Daddy sedang cemburu, melirik ke arah sang Mommy yang masih santai duduk di sampingnya, tanpa merasa perubahan atmosfer di sekitarnya.
Dalam hatinya Gavriel terkekeh kejam, suka, saat melihat the great Dirga Wijaya mengeluarkan ekspresi seperti ingin menguliti seseorang.
Ia tidak habis pikir, kenapa sang Daddy sampai segitunya cemburu padanya, yang jelas-jelas adalah anaknya, anak mereka.
Tunggu.
Seketika ia merasa aneh dengan pemikirannya sendiri.
Rasa posesif yang tidak wajar ini, entah mengapa mirip sekali dengan rasa posesif berlebihannya kepada sahabatnya.
Aneh, saat Queeneira bukanlah siapa-siapanya, tapi ia marah saat ada orang yang mendekatinya.
Seketika Gavriel memandang sang Daddy, yang balas memandangnya dengan tatapan sama datar sepertinya. Dari raut wajah Dirga, terlihat jelas jika tatapan itu adalah tatapan bertanya, sehingga Gavriel pun memilih melengoskan wajahnya, malu jika sampai Daddynya tahu, jika ia sedang memikirkan persamaannya dengan sang Daddy sendiri.
Sial, ternyata emang ada keturunannya. Tapi nggak jelas banget, masa sama sahabat sendiri, Gavriel mengumpat dalam hati, saat dirinya sadar jika penyakit posesif, ternyata menular juga dari orang terdekat.
Apa aku harus menjauhi Daddy, jadi aku tidak tertular virus lainnya. Virus bucin, misalnya. Lagi-lagi Gavriel dan pemikiran absurdnya, yang membuat Dirga mengernyit saat melihat tingkah aneh sang anak di hadapannya.
"Kenapa, Gavriel?" tegur Dirga, bertanya dengan nada datar namun semua tahu, jika dirinya sangat menyayangi anak sulungnya, yang dulu nakalnya naudzubillah, namun juga lucunya nggak ketulungan.
Gavriel tersentak kecil, dengan kepala menggeleng menatap Daddynya, yang menatapnya juga dengan alis terangkat sebelah.
"Tidak, tidak ada apa-apa, Dadd."
"Yakin?"
"Hn."
"Jadi, bagaimana?" tanya Dirga sekali lagi.
Sebelum menjawab, Gavriel membuka tas laptopnya dan menghidupkan daya laptop segera. Sedangkan di sampingnya, Kiara hanya diam memperhatikan kegiatan suami dan anaknya, tanpa niat untuk masuk ke dalam obrolan keduanya.
Bunyi ketikan keyboard adalah yang terdengar, saat ketiganya diam dengan Gavriel yang memutar laptopnya, menghadap ke arah sang Daddy yang menariknya semakin dekat ke arahnya sendiri.
Sunyi lagi, saat Gavriel dan Kiara menunggu Dirga selesai memeriksa pekerjaan, yang tadi di tunjukkan oleh Gavriel.
"Jadi, maksudnya, kamu mau pakai sponsor, untuk gabung dalam acara nanti?" tanya Dirga setelah mengerti maksud keinginan sang anak.
"Hn, benar. Jadi nama besar Wijaya hanya sebagai pemicu, agar yang lainnya ikut dalam acara sosial ini. Bagaimana, Dadd?" sahut Gavriel, kemudian menjelaskan keinginannya, lebih tepatnya taktik licik yang dipelajarinya, saat dulu dua kakeknya masih bisa membahas masalah politik dengannya.
"Belajar dari buyut? Pantas saja," dengkus Dirga dengan nada bangga di dalamnya.
Anaknya benar-benar copyannya.
Selalu bisa membuatnya kagum, dengan ide dan pemikiran cepatnya.
Memanfaatkan nama besar keluarga, untuk memicu lainnya agar bersaing, sehingga secara tidak langsung mereka semua akan ikut dalam acara sosial ini.
Manusia cenderung menyaksikan dengan hati iri, saat melihat yang lainnya sedang berbuat baik, dengan jaminan naiknya pamor(Pandangan moral) di masyarakat saat melakukannya.
"Oke, tapi meskipun begitu kita harus tetap mengikuti kegiatan ini dari hati, bukan karena pandangan masyarakat. Apa kamu paham," nasihat Dirga dengan bijak, tidak ingin anaknya seperti sang kakek, yang otaknya terlampau licik.
"Paham, Dadd."
"Bagus."
Keterdiaman anaknya, sesaat setelah kalimat terakhirnya, membuat Dirga menatap Gavriel dengan ekspresi bertanya, kemudian menjadi curiga saat anaknya menampilkan ekspresi ragu.
"Ada apa?" tanya Dirga tidak tahan untuk tidak bertanya, saat melihat ekspresi gelisah di wajah anaknya.
"Dadd, Momm," gumam Gavriel dengan menatap wajah kedua orang tuanya bergantian, menuai gumamam dari Dirga dan sentuhan lembut dari Kiara di lengannya.
"Hn?"
__ADS_1
"Ada apa, sayang?"
Gavriel diam sejenak, kemudian memantapkan hatinya dan menghembuskan napasnya perlahan, menatap Dirga dengan sorot mata serius.
"Dadd, sebenarnya ......"
Di tempat lain, disaat bersamaan.
Queeneira saat ini sedang dalam perjalanan, batal pulang saat ia mendapat ajakan membeli buku, dari kakak kelasnya dengan ia yang kebetulan ingin membeli beberapa novel juga.
"Nggak apa-apa nih, nggak ngerepotin? Soalnya kalau lu nggak bisa, gue antar lu pulang dulu, baru deh gue ke toko buku," tanya Ge untuk yang kesekian kalinya, saat takut jika adik kelasnya tidak nyaman dengan ajakannya.
Ge keceplosan, saat bilang ingin mengajak ke toko buku, sehingga Queeneira pun hanya mengangguk menerima ajakannya. Tapi sebenarnya tidak begitu, karena Queeneira pun sebenarnya ingin sesekali keluar rumah dan kebetulan kakak kelasnya mengajaknya.
"Nggak apa-apa kak, aku juga ingin membeli beberapa novel. Malah kebetulan sekali, jadi aku tidak perlu keluar rumah lagi," jelas Queeneira, sehingga Ge pun menghela napas lega saat pemikirannya ternyata salah.
"Syukur deh, gue kira lu nggak suka," tandas Ge dengan nada gembira serta senyum yang menghiasi wajahnya, senyum yang akan muncul jika ia sedang bersama adik kelasnya ini.
"Nggak kok kak, santai saja," sahut Queeneira cepat.
Kemudian setelahnya mereka sama-sama diam, dengan Queeneira yang melihat ke arah luar mobil, memperhatikan banyaknya pejalan kaki yang jalan di trotoar sana.
Netra dengan warna coklat beningnya melihat dengan perasaan iri, saat ia melihat pasangan remaja yang jalan bersama. Pemandangan yang juga di lihat Gavriel, namun beda tempat saat arah rumah Queeneira sebaliknya dari kantor sang Daddy.
Jumlahnya empat remaja, terbagi menjadi dua pasangan. Seperti ia dan tiga lainnya, yang dulu senang sekali jalan bersama dan berpasangan, dengan ia yang masih santai saat sahabatnya menggengam tangannya lembut, untuk menyebrangi jalanan atau juga saat melindunginya dari pejalan kaki lainnya.
Senyum kecil terulas dibibirnya, dengan Ge yang memperhatikannya dari samping, yang sesekali akan menoleh ke arah Queeneira dan fokus ke depan saat dirinya masih menyetir mobilnya.
Apakah Ge bertanya, sebab adik kelasnya tersenyum tiba-tiba seperti itu? Tidak, Ge hanya melihat dalam diam, menyimpan dalam hati, karena ia sadar jika tidak selamanya ia bisa menikmati senyum itu lagi. Belum tentu juga besok atau satu jam yang akan datang, ia masih bisa melihat senyum dari remaja perempuan di sampingnya.
"Lagi memikirkan dia yah, cie!" celetuk Ge tiba-tiba, menggoda Queeneira yang langsung tersedak saat mendengarnya.
Uhuk!
"Wah! Ternyata iya!" seru Ge semakin menggoda, membuat Queeneira malu dan salah tingkah di sampingnya.
"Ih! Apa sih, siapa yang memikirkan dia," sewot Queeneira, pura-pura marah untuk menutupi rasa malunya. Sehingga Ge pun tak kuasa untuk menahan tawanya, tawa dengan hati masih saja sakit, padahal ia sudah berusaha melepas adik kelas kesayanganya.
"Ha-ha! Lu nggak cocok jadi pembohong, Queene," tandas Ge setelah kekehannya reda, membuat Queeneira melengos dengan bibir mencebil lucu.
"Terserah kak," dengkus Queeneira terlanjur malu, namun dalam hati sibuk mengumpati kakak kelasnya yang selalu peka dengannya.
"Queeneira," panggil Ge dengan nada berbeda, sehingga Queeneira yang tadi melengos malu, menoleh ka arah Ge yang masih fokus melihat ke arah jalan di depan mereka.
"Iya?"
"Katakan, jika kamu menyukainya. Maka semua akan mudah untuk dijalani," ucap Ge dengan lancar, tanpa tahu jika Queeneira yang mendengarnya terdiam, dengan jantung berdetak kencang.
"Terkadang, jujur dengan sesuatu itu memang sulit, tapi apa kamu tidak iri dengan pasangan lainnya, saat mereka bisa bersama, setelah keduanya sama-sama jujur akan perasaan masing-masing?"
Deg! Deg! Deg!
Benar apa yang dikatakan oleh kamu, kak. Aku juga iri dengan yang lainnya, tapi jika aku tidak mendapatkan balasan yang sesuai dengan keinginanku, apakah aku masih bisa bersamanya seperti sedia kala, seperti saat aku belum mengutarakan rasa yang aku punya kepadanya.
Queeneira tidak bisa menjawab pertanyaan dan pernyataan dari kakak kelasnya, yang tadi menoleh ke arahnya namun kembali melihat arah depan. Maka itu, ia pun hanya melengoskan wajahnya, menghela napas dan tersenyum kecil.
Harus kah?
"Mau gue bantu?"
"Hah!"
Dengan cepat Queeneira menoleh ke arah kakak kelasnya, namun sayang Ge hanya tersenyum, masih melihat ke arah depan tanpa melirik sedikitpun ke arahnya.
Dan entah kenapa, senyum yang ditampilkan oleh kakak kelasnya, membuat ia merasakan perasaan tidak enak kedepannya.
Apa lagi ini, pikir Queeneira dalam hati.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih dan sampai babai.
__ADS_1