Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Cerita Pertemuan Tempo Dulu


__ADS_3

Season dua


Terimakasih


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Desmon


Tidak butuh lama, untuk Gavriel mengantar teman sekelasnya pulang.


Kini, mereka berdua sudah sampai di halaman rumah milik keluarga Desmon.


Keineira turun dari motor, dengan berpegangan pada bahu Gavriel tanpa canggung, kemudian membuka helmnya masih dengan sedikit susah.


"Masih belum terbiasa."


Bukan pertanyaan namun itu pernyataan, dengan dengkusan geli dari Gavriel saat melihat Kei, yang kesusahan membuka pengait helm.


Ia dengan segera mengambil alih pengait, melepaskan pengait dengan Kei yang tersenyum malu, memandang lekat Gavriel yang tidak menatapnya, melainkan menatap pengait helmnya.


Klik!


"Terbuka! Bukankah sudah aku ajari, heum," gerutu Gavriel menatap mata Kei dengan binar geli.


"He-he-he."


Keineira terkekeh kecil, saat mendengar gerutuan kesal dari seorang Gavriel.


Selain senyum tipis, tepukan kepala, saat ini Gavriel juga sudah bisa menggerutu di hadapannya.


Dengan itu semua, apakah ia boleh berharap jika Gavriel memiliki sedikit rasa untuknya.


Ia juga sudah tahu, jika Gavriel tidak benar-benar memiliki kekasih, remaja yang kemarin memperkenalkan dirinya sebagai kekasih, ternyata hanyalah seorang adik dari Gavriel.


Berterima kasih lah kepada temannya yang kepo, yang rajin mencari tahu informasi melalui dunia maya.


Ngomong-ngomong, ia juga belum bertanya kepada Gavriel tentang ini. Ia takut Gavriel akan salah sangka kepadanya, menilainya perempuan kepo dengan kehidupannya.


Ia hanya ingin kejujuran Gavriel, bukan dengan paksaan darinya.


"Kalau begitu aku pul-


"Kei! Sudah pulang!" seru seseorang menginterupsi, membuat Gavriel merasa seperti de javu, saat ia dulu juga pernah mendengar kalimat ini.


"Mah! Assalamualaikum, iya aku pulang."


"Waalaikum salam."


Kei segera menghampiri sang Mama, mencium punggung tangan dan berjalan lagi, menghampiri Gavriel mengikuti jejak Mamanya dari belakang.


"Gavriel, mau langsung pulang?" tanya Indy kepada Gavriel, yang akhirnya mau tidak mau turun juga dari motornya.


Akan sangat tidak sopan, jika ada orang tua menghampiri tapi kita tidak menyambutnya dengan baik.


"Iya, tante. Sudah sore," balas Gavriel setelah melepas tangannya, yang tadi bersalaman dengan tangan Mama dari teman sekelasnya.


"Baru juga jam segini, mampir dulu yuk. Kamu kan sudah janji, akan mampir lain waktu," ajak Indy memaksa, menuai protesan dari sang anak saat teman laki-lakinya jadi korban paksaan.


"Mah! Jangan gitu," desah Kei melihat Gavriel, dengan tatapan tidak enak.


"Gitu bagaimana Kei, kan Mam-


"Ada apa ini, Mah, Kei!"


Ucapan dari Mama Indy terpaksa harus ditelan kembali, saat suara sang suami menginterupsinya.


Sepertinya keluarga dari Desmon, senang sekali menginterupsi pembicaraan.


Ketiga orang yang tadi mendengar suara, dari arah belakangan pun kompak melihat, dan menemukan Reno yang berjalan santai menghampiri mereka.


"Pah! Sudah pulang? Kirain Kei Papa belum pulang," ujar Kei sebal, jika ia tahu sang papa sudah pulang, mending ia minta jemput daripada malu saat Mamanya memaksa temannya mampir.


"Ini Pah, Mama hanya meminta Gavriel mampir, tapi Kei malah melarang," adu Indy kepada suaminya yang geleng kepala.


"Benar apa kata Kei, ini sudah sore, takutnya nak Gavriel punya kesibukan. Bukan begitu, nak Gavriel?" ujar Reno bijak, menuai gerutuan dari sang istri dan kepala mengangguk setuju dari sang anak.


Gavriel melihat keluarga didepannya dengan datar, tapi tetap mengangguk saat ia merasa Mama dari Kei, sangat berharap ia bisa masuk ke dalam rumah mereka.

__ADS_1


"Baiklah Om, Tante. Maaf merepotkan," gumam Gavriel menyetujui.


Perkataan Gavriel tentu saja membuat ekspresi Indy menjadi senang, termasuk sang putri, Kei, juga Papahnya, Reno.


Sifat dingin turunan Daddy memang melekat pada diri Gavriel, tapi sifat tidak enakan dari Mommy ternyata ikut ada padanya juga, sehingga ia terkadang bingung saat menerima ajakan seperti ini.


"Kalau begitu masuk yuk! Tante siapkan kudapan untuk menemani kita ngobrol santai," ajak Indy dengan semangat.


Keempatnya pun berjalan memasuki rumah keluarga Desmon, melewati ruang depan berupa guci dan barang antik, lalu berjalan masuk lebih dalam, ke ruang tamu lumayan luas rumah teman sekelasnya.


Sofa dengan warna merah maroon terlihat, dengan jumlah tiga buah sofa kecil dan satu buah sofa panjang, lengkap dengan meja terbuat dari kaca.


Lantai yang terbuat dari marmer berwarna coklat ini, membuat ruangan terlihat mewah cocok dengan warna sofa.


Gavriel dipersilakan Tuan rumah untuk duduk, dengan Tuan rumah sendiri mengambil bagian duduk di single sofa.


"Kei, kamu ganti baju dulu," perintah Reno yang diangguki kepala segera oleh sang putri.


"Baik Pah. Gav, aku ke atas dulu yah, nanti aku kembali lagi," jawab dan kemudian ujar Kei kepada Gavriel, yang hanya mengangguk mengiyakan ucapan teman sekelasnya.


Keineira pun pergi meninggalkan ruang tamu, menyisakan Reno dan Gavriel, yang saling diam dengan saling menatap dengan beda ekspresi.


Reno tersenyum dalam hati saat bisa melihat langsung, bagaimana ekspresi turunan dari pengusaha sukses partner bisnisnya.


Ia juga tidak menyangka jika anaknya bisa bertemu, bahkan kenal hingga diantar oleh anak orang berpengaruh di kotanya.


Karena tidak ingin membuat suasana canggung, Reno pun berdehem untuk meminta perhatian Gavriel dan berhasil, saat Gavriel melihatnya dengan tatapan datar namun tidak meninggalkan kesan sombong didalamnya.


"Ehem ..."


Merasa sudah mendapat perhatian dari teman laki-laki anaknya, Reno pun tersenyum tipis sebagai salam pembuka.


"Terima kasih yah, nak Gavriel, sudah mengantar Kei pulang sampai rumah dan selamat," ujar Reno dengan senyum kecilnya, kepada Gavriel yang balas dengan anggukan kepala singkat.


"Hn, tidak masalah, Om," balas Gavriel masih dengan nada datar.


"Oh iya, bagaimana dengan sekolah kamu. Bukankah kamu juga sibuk dengan pekerjaan kantor?" tanya Reno antusias, melihat Gavriel dengan pandangan bangga.


"Akan sangat bagus, jika Kei bisa dekat dengannya," batin Reno berharap.


"Lancar Om, kerjaan juga lancar," balas Gavriel apa adanya, bahkan ia sama sekali tidak menjelaskan, sesuai dengan keantusiasan Reno.


Ia malah bersyukur, saat pertanyaannya dijawab meskipun singkat dan tanpa penjelasan didalamnya.


"Bagaimana kamu mengatur waktumu, nak Gavriel?" tanya Reno belum menyerah.


"Hanya mengurangi waktu main," balas Gavriel lagi-lagi singkat dan apa adanya.


Bukannya Gavriel enggan menjawab, tapi apa yang dikatakannya benar adanya seperti itu.


Itu sebabnya ia jarang bermain dengan adik, sahabat, bahkan berbicara dengan sang Mommy kesayangan pun ia sudah jarang.


"Padahal kamu masih muda, tapi kamu sudah bekerja. Om bangga denganmu, akan sangat beruntung seseorang yang akan mendapatkan hati kamu," ujar Reno dengan nada semangat, terselip kode kata didalamnya. Namun sayang sekali, otak Gavriel belum sampai jika itu masalah asmara.


"Terima kasih, Om," balas Gavriel singkat.


Dari arah dapur terlihat Indy, yang berjalan dengan nampan berisi empat gelas minuman dingin, serta cemilan berupa kue kering atau juga cookie, yang baru saja keluar dari oven.


Kedatangan Indy bersamaan dengan Kei, yang saat ini sedang menuruni tangga, dengan langkah semangatnya.


Kei berganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai, kaos kebesaran menutupi paha hingga lutut, menutupi celana pendek sebagai bawahan.


"Mah! Sini, Kei bantu," ucap Kei dengan nada senang, membuat Indy yang mendengarnya menatap sang anak dengan senyum menggoda.


"Ciee ... Mentang-mentang yang di suguhi tamu spesial, jadi semangat gitu," goda Indy, semakin menggoda sang anak dengan alis naik-turun.


Kei tersipu malu saat mendengar ucapan sang Mama, ia bergerak salah tingkah dengan menolehkan wajah ke segala arah, dan itu semakin membuat Indy semangat menggoda.


"Oke deh ... Kamu bawa nampan ini, Mama bawa kudapan lain yang masih ada di dapur," putus Indy sambil menyerahkan nampan, kepada Keineira yang dengan sigap menerimanya.


"Siap, Mah!"


Seruan semangat dari sang anak membuat Indy terkekeh, ia menggelengkan kepala dengan senyum geli, ke arah Kei yang tersenyum semakin lebar.


"Ah! Calon menantuku," batin Indy percaya diri.


Keineira berjalan menghampiri sang Papa, sedangkan Indy kembali ke arah dapur mengambil kudapan sesuai perkataannya.

__ADS_1


Dari tempatnya berjalan saat ini, ia bisa mendengar suara semangat dari sang Papa, yang berbicara santai dengan teman laki-lakinya.


"Kemarin Om ada pro-


"Permisi."


Ucapan Reno terpaksa ditunda, saat melihat sang anak meletakkan gelas berisi minuman, dengan gumaman meminta izin.


"Mama mana?" tanya Reno saat tidak melihat istrinya.


"Di dapur Pah, ambil kudapan yang lain," balas Kei melihat Papanya, sambil bangkit dari jongkoknya dan berdiri di antara Papa dan teman laki-lakinya.


"Kamu letakkan nampan di bawah saja, kita ngobrol santai dulu dengan Gavriel."


Perintah dari sang Papa, di balas anggukan kepala oleh Kei, yang segera duduk bersisihan dengan Gavriel, sehingga kini Gavriel ada di tengah-tengah pasangan Papa dan anak.


"Maaf yah! Lama."


Tidak lama kemudian, suara Indy memasuki indra pendengaran mereka, ketiganya kompak menoleh dan mendapati Indy, yang berjalan dengan piring di tangannya.


Indy meletakkan piring berisi potongan bua melon, buah yang sebenarnya tidak disukai oleh Gavriel, karena ia lebih suka berry seperti sang Mommy.


"Di minum jusnya, nak Gavriel!" seru Indy dengan semangat.


"Iya, terima kasih, Tante," sahut Gavriel sopan.


Keempatnya pun melanjutkan pembicaraan, bertanya kepada Gavriel yang menjawabnya dengan apa adanya, tanpa ada pertanyaan balik dari Gavriel, yang dari turunan sang Daddy memang bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain.


Ditengah-tengah obrolan mereka, Reno yang mengingat masa lalu, tersentak kaget dan itu membuat Gavriel serta dua orang lainnya penasaran.


"Ah Iya! Aku lupa."


"Kenapa, Pah?" tanya Indy penasaran.


Reno melihat Gavriel dan anaknya, dengan mata berbinar senang, membuat Gavriel yang ditatap semakin penasaran dibuatnya.


"Kenapa Pak Reno," batin Gavriel melihat Reno, dengan alis terangkat penasaran, namun masih dengan ekspresi wajah biasa.


"Kamu masih ingat, saat Om bilang kita harus ngobrol santai," ujar Reno mengingatkan, menuai anggukan kepala membenarkan dari Gavriel yang ditanya.


"Jadi .... Om itu mau bercerita, sebenarnya kalian itu dulu pernah bertemu, sewaktu kalian bayi," lanjut Reno menatap Kei dan Gavriel yang sama-sama kaget.


"Benarkah, Pah?" tanya Kei penasaran, sedangkan Gavriel mengerutkan kening tidak percaya.


Reno mengangguk antusias, melihat Gavriel dan anaknya masih dengan binar semangat.


"Iya! Kalau tidak percaya, Papa punya kok fotonya. Iya kan, mah?" tandas Reno, meminta pembenaran dari sang istri.


"Benar sekali, Mama punya loh fotonya. Kalian mau lihat?"


Pertanyaan semangat dari sang Mama, tentu saja menuai jawaban semangat pula dari sang anak.


Kemudian Indy pun mengambil album kecil, yang berisi foto saat mereka makan siang bersama keluar Wijaya, kehadapan Gavriel yang melihatnya kaget.


"Apa ini yang membuat aku nyaman dengan Kei, saat ternyata dulu aku dan Kei sudah saling bertemu, namun terpisah untuk waktu lama."


Gavriel tidak mendengar lagi, apa yang menjadi percakapan keluarga Desmon.


Yang ia tahu adalah, waktu sudah semakin petang dan ia pun pamit undur diri, dengan Kei yang mengantarnya hingga depan rumah.


"Hati-hati di jalan, Gav!"


"Hn."


Dan Gavriel pun meninggalkan Kediamanan Desmon, berjalan menuju Kediamanan Benedict, atau juga rumah Ezra alih-alih kerumahnya untuk pulang.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Apa yang akan dilakukan Gavriel di rumah sepupunya?


Apakah karena pertemuan singkat saat bayi, hubungan Gavriel dan Kei akan semakin dekat?


Lalu bagaimana dengan Queeneira?


Mau tahu?

__ADS_1


Ikuti saja kisah selanjutnya ...


Sampai babai.


__ADS_2