
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Wijaya
Di halaman belakang rumah dari orang tua Gavriel, ada Gavriel yang sedang melakukan warming up sebelum melakukan gerakan olahraga lainnya.
Hari ini adalah hari minggu, hari libur sekolah yang artinya hari santuy nasional.
Seperti biasa, ia akan berlari mengelilingi halaman luas taman belakang rumahnya, lalu lanjut hal lainnya.
Terkadang ia akan melakukan push-up atau juga angkat beban, di gym pribadi milik sang Daddy.
"Kenapa tidak ajak-ajak!"
Gavriel yang sedang berlari kecil berhenti, menatap sang Daddy yang berjalan dengan sesekali merenggangkan ototnya.
"Takut ganggu," balas Gavriel apa adanya.
Daddy yang sedang berdua'an dengan sang Mommy akan melupakan segalanya.
Maka itu, ia lebih baik tidak mengganggu dari pada dihukum, mengerjakan laporan yang bukan tugasnya.
Dirga terkekeh kecil, saat mendengar nada suara khasnya dari sang anak.
Astaga .... Kemana Gavriel imutnya dulu, yang selalu memanggilnya da-da saat bayi.
Kekehan dari sang Daddy, membuatnya Gavriel menatap Daddynya curiga.
Biasanya, jika sang Daddy sudah terkekeh seperti itu, artinya ia sedang dibullly dalam pikiran sang Daddy.
"Dadd, nanda yo?" tanya Gavriel masih menatap sang Daddy curiga. (Ayah, kenapa?)
Dirga menggeleng kepalanya, meskipun masih terkekeh kecil.
"Nandemonay," balas Dirga disela-sela kekehannya. (Tidak ada apa-apa)
Gavriel pun berusaha mengabaikannya, saat sang Daddy berlari mengelilingi lapangan masih dengan kekehannya.
Pasangan Daddy-son ini berlari bersama, dengan keheningan saat dua-duanya memang suka ketenangan.
Drap! Drap! Drap!
Hanya derap langkah dari keduanya, yang menemani mereka berolahraga.
Merasa moment ini adalah moment langka dalam hidupnya, Gavriel pun tidak menyia-yiakan kesempatan ini.
"Dadd," panggil Gavriel disela-sela larinya, menuai gumaman dari sang Daddy yang berlari disebelahnya.
"Hn?"
"Dadd, menurut Dadd, aku sebaiknya kuliah di sini atau di luar negeri?" tanya Gavriel berhenti dari larinya, membuat Dirga ikut berhenti dan menatap anaknya penasaran.
Bukan kah Gavriel sendiri, yang bilang tidak bisa pergi jauh dari Mommy dan adiknya, tapi sekarang dia bertanya tentang kuliah di luar negeri.
Gavriel yang merasa Daddynya perlu penjelasan, segera melanjutkan kalimatnya.
"Ini hanya rencana Dadd, jangan dipikirkan."
Dirga mengernyit sebentar, berpikir karena ini juga demi masa depan sang anak.
Berdiri sambil berhadapan, Dirga menatap sang anak dengan ekspresi seriusnya, membuat yang ditatap juga ikut serius.
"Kuliah di luar negeri memang bagus sih, akan ada banyak nilai plus apalagi kamu masuk di universitas ternama. Bukan hanya untuk penilaian orang-orang, tapi juga kamu sendiri akan memiliki lebih banyak pengalaman."
Gavriel mendengarnya dengan serius, saat sang Daddy menjelaskan jawaban dari pertanyaannya.
"Namun, tidak mudah untuk belajar di luar negeri. Banyak sekali hal yang harus di persiapkan, belum lagi pergaulan bebas, gaya hidup yang berbeda, kebudayaan juga berbeda dan juga yang pasti mental lebih diuji."
Dirga berhenti sejenak untuk melihat anaknya, lalu tersenyum tipis, ini adalah moment langka dirinya berbicara santai dengan anaknya, ia yakin akan ada banyak hal yang ditanyakan oleh sang anak setelah ini.
"Tapi jika itu kamu, pasti bisa, karena kamu adalah seorang Wijaya, dan Wijaya tidak akan mudah terbawa arus dari sekitar."
"Jadi menurut Daddy bagaimana?" tanya Gavriel yang merasa belum dapat jawaban dari sang Daddy.
"Menurut Daddy yah ... Daddy sih lebih mendukung kamu kuliah di luar negeri, bukan hanya untuk pelajaran, tapi juga untuk melatih kesiapan kamu di kemudian hari," balas Dirga menjelaskan.
"Begitu," gumam Gavriel merenungi pendapat sang Daddy.
"Yah sekalian juga sih," ujar Dirga menggantung kalimatnya, membuat Gavriel menatap sang Daddy penasaran.
"Sekalian?" beo Gavriel bingung.
"Iya .... Sekalian menjauhkan kamu dari Mommy, ha-ha-ha!"
__ADS_1
Dirga pun berlari dengan tawa meledeknya, menghindari sang anak yang kesal karena ucapan ngawurnya.
"Daddy reseh banget!"
Gavriel pun berlari mengejar Dirga yang sudah jauh di depan sana, berlari menuju tempat biasa mereka gym bersama.
Ceklek!
Membuka pintunya dengan segera, Gavriel seperti biasa di suguhkan pemandangan khas tempat gym milik sang Daddy.
Dari sini ia bisa melihat sang Daddy, yang sedang bersiap dengan sarung tinjunya.
Oh ... Sepertinya sang Daddy mau mengajaknya sparing.
Senyumnya meski tidak lebar muncul, saat sang Daddy mengerti jika saat ini ia sedang ingin bersama sang Daddy dikeadaan santai.
Biasanya Daddy dan ia akan bertemu dengan kertas berkas sebagai penghalang, sehingga obrolan yang terjadi terkesan kaku, tapi sekarang tidak, saat sang Daddy memanggil namanya dengan sebutan itu lagi.
"Come here, Kid!"
"Yes, Dadd!"
Ia menerima dan segera memakai sarung tinju tersebut di kedua tangannya, dengan bantuan sang Daddy saat ia mengencangkan ikatannya.
"Bagaimana kalau yang kalah mengerjakan dokumen, kebetulan ada proyek baru yang belum rampung Daddy kerjakan," ujar Dirga menantang Gavriel yang balas dengan senyum kesal.
"Daddy sengaja ya? Aku kan selalu kalah darimu," balas Gavriel sarkas, memandang sang Daddy yang terkekeh tanpa dosa.
"Come on kid, ini hari minggu. Tidak bisakah Daddy pacaran dengan Mommymu, heum?" tanya Dirga disela-sela kekehannya.
"Kalau gitu biarkan aku yang pegang perusahaan cabang," balas Gavriel dengan senyum miringnya.
Dirga melotot protes, saat sang anak melobinya untuk menyerahkan kekuasaan.
Hell ... Alamat jatahnya dipotong.
"Tidak bisa! Kamu mau Daddy dicuekin Mommy ya? Kamu magang dan pegang kendali saham di Eropa saja Daddy di kasih punggung, apalagi membiarkan kamu bekerja dua kali lipat," ujar Dirga tiba-tiba merinding, saat mengingat dirinya diomeli sang istri.
Kali ini gantian Gavriel yang menertawai sang Daddy, ya ampun... Ia tidak menyangka jika dibalik kesombongan sang Daddy, ada bucin yang haqiqi.
"kenapa kamu tertawa? Mau jadi anak durhaka ya?" tanya Dirga sewot, tapi ia tidak marah saat melihat anaknya yang biasa sarkas dengannya kini tertawa renyah.
Ia seakan kembali pada masa itu, masa dimana ia bisa tertawa lepas bersama Gavriel, di saat sang anak masih polos dan belum mengerti akan kewajibannya.
"Daddy ikut perkumpulan suami-suami takut istri saja, katanya the great Dirga handsome, tapi kok takut dengan Mommy," ledek Gavriel membuat sang Daddy meradang dengan segera memiting lehernya.
Di belakang sang anak, Dirga tertawa setan.
Wah ... Dirinya di ejek oleh anak sendiri, harga dirinya sebagai most wanted man this year ternodai.
"Mulai bisa mengejek ya kamu, mau Daddy kirim secepatnya ke suku pedalaman sana, heum?" ujar Dirga dengan menahan rasa gemasnya.
Anaknya masih seperti dulu, selalu bisa membuatnya gemas dan kesal disaat bersamaan.
"Dadd! Ah! Lepas! Kita tanding secara jantan, jangan seperti ini!"
"Oh! Oke, kita lihat sejantan apa kamu, heum. Gavriel Wijaya."
Dirga pun melepas pitingan di leher sang anak dan segera pasang kuda-kuda, begitu juga Gavriel yang merenggangkan otot lehernya, bersiap untuk melawan sang Daddy yang selalu mengalahkannya.
"Yang pasti lebih jantan dari Daddy!"
"Jangan banyak bicara, tunjukkan saja, kid!"
Buagh!
Bukh!
Pats! Grep!
Adu tinju pun terjadi, dengan Dirga dan Gavriel yang saling melayangkan tangan.
Menangkis, melayangkan tinju lagi, lalu menghindar adalah hal yang dilakukan keduanya.
Tidak ada yang mau mengalah, dua-duanya saling beri dan unjuk kekuatan.
Di sela-sela sparing mereka, diam-diam pasangan Daddy dan Son ini tersenyum, saat mereka merasa kesenangan didalam setiap ayunan tangan mereka.
Tenang saja, Dirga maupun Gavriel tidak benar-benar mengeluarkan kekuatan sebenarnya, mereka hanya menguji kekuatan dan kecepatan saat menghindar.
"Perhatikan pertahananmu, kid!"
Buakh!
Pats!
"Tentu Dadd, don't worry!"
__ADS_1
Gavriel menangkis setiap pukulan yang di arahkan untuknya, begitu pula sebaliknya.
Dirga memandang anaknya bangga, melihat perkembangan yang dialami oleh keturunan keduanya.
Entah sudah berapa lama mereka duel, Dirga pun menyudahi, saat dirasa sudah cukup mereka mengeluarkan tenaga dan keringat.
"Oke! Stop here, kid!"
Gavriel pun menurunkan posisi siap menyerang tangannya, saat mendengar instruksi dari sang Daddy.
"Sudahan Dadd?" tanya Gavriel yang dibalas anggukan kepala oleh Dirga.
Gavriel mengikuti langkah kaki sang Daddy dengan mata tajam turunan dari Sang Daddy, saat Daddynya berjalan menghampiri showcase dan berjalan menghampirinya lagi dengan dua botol air kemasan untuk mereka.
"Thanks, Dadd," gumam Gavriel saat sang Daddy mengulurkan minuman untuknya.
"Hn."
Keheningan tercipta, saat keduanya masih mengatur napas dan mengembalikan tenaga mereka pasca sparing.
Di tengah-tengah keterdiaman mereka, Gavriel yang penasaran bertanya kepada sang Daddy.
"Dadd," panggil Gavriel tanpa melihat ke arah sang Daddy.
"Hn?"
"Daddy, aku boleh bertanya," gumam Gavriel bertanya dengan ragu, membuat Dirga yang merasa aneh menolehkan wajahnya menghadap sang anak.
"Hn?"
"Dadd, sebenarnya apa yang dimaksud dengan suka? Kenapa sepertinya suka ini ribet sekali?" tanya Gavriel memandang Daddynya penasaran, dengan kening berkerut bingung.
Dirga mengangkat sebelah alisnya heran, aneh saat anaknya membahas tentang perasaan yang sungguh sensitif.
"Suka? Maksudnya?" tanya Dirga memastikan.
"Iya, suka. Aku bingung saat El dan Ezra bertanya tentang suka, saat mereka mengira aku suka dengan seseorang, hanya karena aku menerima kehadirannya."
Gavriel memandang Daddynya dengan ekspresi, yang sungguh terlihat lucu di pandangan Dirga.
Astaga ... Apa ini, kenapa anaknya mengikuti jejak polos sang istri.
Entah harus tertawa atau apa, tapi yang jelas Dirga tahu, jika sang anak sedang bingung dengan perasaannya sendiri.
Aih ... Bisa-bisanya anaknya yang jenius dibidang pelajaran, tapi nol tentang perasaan sendiri.
Dirga diam-diam tersenyum geli, tentang sang anak yang sudah mulai beranjak dewasa.
Ah! Ia merasa semakin tua saja.
Padahal umurnya masih 17 tahun.
(Nggak usah ngaco, blee! Author edan sewot)
Sebelum menjawab pertanyaan sang anak, Dirga meminum minumannya terlebih dahulu.
Glek! Glek! Glek!
"Ah!" desah Dirga saat rasa kering di tenggorokannya hilang.
Gavriel masih menunggu, lalu mulai memperhatikan saat sang Daddy menghadapnya, dengan ekspresi yang membuatnya mengernyit.
"Gini, suka kan, pertanyaan kamu?" tanya Dirga mengulangi pertanyaan Gavriel.
"Iya."
"Suka itu perasaan yang pasti dimiliki semua mahluk hidup. Tapi ... Suka juga punya banyak devinisi," ujar Dirga menjeda kalimatnya saat melihat Gavriel memandangnya serius.
"Suka itu bermacam-macam, ada yang suka karena alasan nyaman, ada suka karena menerima kehadiran seperti kata kamu tadi. Ada yang karena kita suka begitu saja tanpa alasan, juga karena kita terbiasa dengan kehadirannya."
Gavriel mengangguk, saat mendengar empat point yang tadi disebutkan sang Daddy.
Ia merasa benar saat Daddynya bilang nyaman dan terbiasa.
"Suka belum berarti cinta, dan cinta belum berarti suka."
"Maksudnya Dad?"
"Maksud Daddy ......
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Sampai babai.
__ADS_1