
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Rothy__Hello.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Chen
Pagi hari berikutnya datang dengan cepat, satu per satu penghuni rumah terbangun dari tidurnya, melakukan kegiatan masing-masing, untuk menjalani pagi hari yang cerah dengan semangat.
Di salah satu kamar ada dua remaja perempuan, yang sedang duduk saling menghadap dengan satu yang menatap lainnya, dengan ekspresi penasaran.
"Sudah kasih tahu Mba, pukul berapa mereka jemput?" tanya Selyn kepada Queeneira, yang sedang melihat ke arah layar handphonenya.
"Sudah, mereka bilang sekitar pukul sepuluh. Kamu bener mau pergi? Nggak takut Mamas kamu marah?" cecar Queeneira bertanya dengan pertanyaan, yang membuat Selyn sebal seketika.
Menyedekapkan tangannya, dengan bibir mengerucut lucu, Selyn melengoskan wajahnya saat nama sang kakak dibawa serta.
"Biarin Mba, emang El pikirin. Terserah El dong, El sudah besar, tidak perlu diawasi lagi," balas Selyn dengan nada kesal yang kentara.
Queeneira tersenyum kecil, saat melihat ekspresi kesal adik sahabatnya, yang selalu terlihat lucu alih-alih menyeramkan.
"Yakin ... Nanti nangis, waktu Mamasnya tepuk-tepuk kepala?" goda Queeneira yang memang benar adanya.
"Ukh!"
Queeneira tergelak saat melihat Selyn yang mencebil, seperti merasa tertohok, karena memang seperti itu lah mereka jika sudah bertengkar dan saling memaafkan.
Selyn yang akan berkaca-kaca saat Gavriel menepuk kepalanya sayang, sehingga akan ada moment lucu dan menakutkan, jika keduanya sudah terlibat perseteruan.
Tidak tahan dengan pemandangan di depannya, Queene pun mencubit gemas kedua pipi Selyn yang langsung memekik sakit, dengan pipi menggembung setelahnya.
Gyutt!
"Aw-aw-aw! Mba, sakit, udu-du-du!"
"Sakit? Mau tambah?"
"Tidak mau!"
"Apa ma-
Tok! Tok! Tok!
Queeneira menelan lagi ucapannya, saat mendengar ketukan pada pintu kamarnya dari luar.
"Siapa!" seru keduanya hampir bersamaan.
"Mas Ezra!"
"Mas Ezra," beo Selyn, menatap Queeneira dengan kening berkerut bingung.
Selyn pun turun dari atas ranjangnya, berjalan menuju pintu kamar dan membukanya pelan.
Ceklek!
"Kenapa, Mas?" tanya Selyn saat melihat Ezra di depannya, yang sudah rapih dengan pakaian olahraganya.
"Mas mau olahraga?" lanjut Selyn bertanya.
"Iya, sama Mas Gavriel."
"Kalian jadi mau pergi?" lanjut Ezra bertanya.
"Jadi, pukul sepuluh nanti," jawab Selyn singkat.
"Oh."
Ezra melihat ke arah ruang tamu, di mana sepupunya yang menunggu sambil mengikat tali sepatu.
"Kalau gitu Mas pergi dulu, jangan lupa hubungi Mas, di mana pun kalian berada. Oke?" lanjut Ezra tanpa basa-basi, karena memang tujuannya hanya bertanya dan mengingatkan, saat sepupunya menyerahkan misi ini untuknya.
"Kenapa Mas yang bilang begini?" tanya Selyn sebal, bukan tidak terima, tapi ia merasa aneh saat ada sang kakak, namun sepupunya lah yang lebih perhatian.
"Gavriel yang nyuruh," jawab Ezra singkat. Ia tidak tersinggung, justru ia menepuk kepala adik sepupunya, kemudian membalikkan badan dan berjalan santai menuju Gavriel yang berdiri dari duduknya.
"Yuk!"
"Hn. Sudah?" tanya Gavriel singkat, padat dan tidak jelas, tapi untunglah sepupunya mengerti ia yang memang seperti ini kelakuannya.
"Sudah, yuk!" sahut Ezra sama singkatnya.
Gavriel menoleh ke arah kamar adiknya, melihat sekilas kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi sang adik, berjalan mengikuti sepupunya yang sudah jalan keluar lebih dulu.
Lalu Selyn, hanya bisa menghentakkan kakinya, sebal melihat sikap sang kakak yang berubah terhadapnya.
"Ck ... Menyebalkan," dengkus Selyn kesal.
"Kenapa?" tanya Queeneira penasaran.
Selyn yang ditanya, menolehkan wajahnya menghadap Queeneira, kemudian menggelengkan kepalanya pelan, tidak ingin menjawab pertanyaan yang baru saja di tanyakan kepadanya.
"El mandi dulu," gumam Selyn, kemudian berjalan menuju kamar mandi, menutup pintu dan meninggalkan Queeneira, yang menatap pintu kamar mandi dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Huft ... Payah," umpatnya untuk diri sendiri.
🍃🍃🍃🍃🍃
Gavriel dan Ezra yang saat ini sama-sama memakai hodie hitam, berlari santai di sepanjang jalan menuju lapangan, tempat yang tidak sengaja Gavriel lihat saat dulu jalan dengan Keineira.
Mereka berlari santai, sesekali melakukan gerakan warming up dengan merenggangkan otot tangan mereka. Sesekali mereka juga akan berhenti untuk melihat sekeliling.
"Padahal di sini juga bagus, tapi kita mengunjungi tempat jauh. Aneh sekali," celetuk Ezra dengan tangan ke atas, membawa tulang punggungnya ke atas hingga menimbulkan bunyi kretek, kemudian menghitung dalam hati hingga tiga dan merilekskan lagi tulang punggungnya.
"Hn, tapi aku sudah pernah mengelilingi daerah sini," sahut Gavriel pamer, ikut melakukan apa yang dilakukan oleh sepupunya.
"Cih ... Pamer," dengkus Ezra setelah berdecih sebal.
"Ngiri aja," sahut Gavriel tidak peduli.
Ternyata bukan hanya mereka yang sedang melakukan aktivitas olahraga, ada beberapa orang pribumi juga yang sedang berolahraga, bahkan ada juga sekelompok orang, yang melakukan senam dengan kipas dan pedang panjang sebagai media pendukung.
"Keren!" seru Ezra takjub.
"Seperti gerakan kung fu, atau memang kung fu? Hum ... Tapi gerakannya luwes juga," lanjut Ezra bergumam dengan tangan memegang dagu. Berpikir ala-ala detektif dengan pose sok cool.
"Ikutan gih, sana," timpal Gavriel dengan nada datar, kemudian mendorong punggung sepupunya, sedangkan ia sendiri berlari sedikit kencang, dengan Ezra yang mengejarnya sambil mengumpatinya.
"Gavriel sialan! Kamu saja sana!"
Ezra mau saja gabung, dengan catatan jika yang sedang melakukan gerakan tadi adalah kumpulan perempuan segar, bukan nini-nini yang kulitnya sudah layu.
Sepertinya Ezra sudah mulai mengikuti jejak Pipinya, mulai nackal dengan lawan jenis. Heh?
Mereka pun menghabiskan waktu pagi mereka dengan berolahraga, diisi dengan obrolan ringan tanpa menyinggung masalah kemarin.
Ezra berpikir jika saat ini sepupunya butuh waktu sendiri, jadi saat sepupunya sudah siap bercerita, ia juga siap mendengarkan hingga tuntas.
Sementara Gavriel dan Ezra berolahraga, Queene dan Selyn saat ini sudah siap dengan pakaian santainya. Mereka juga saat ini sedang berada di stasiun, menunggu dua kakak kelas, yang akan mengajak mereka menghabiskan sisa hari liburan mereka di negara beton ini.
Sambil menunggu, seperti biasa Selyn akan membuka akun media sosialnya. Ia menggeser layar handphonenya, dari atas ke bawah, lalu mengklik tombol hati saat melihat posting Mba dan Masnya yang aktiv di media sosial, minus Mamasnya karena Mamasnya tidak memposting foto selain foto pekerjaan.
"Lihat Mba! Tulisannya jangan lihat kami, tapi sama Mas Ezra di posting, kan aneh," gerutu Selyn saat melihat instakilo milik sepupunya, yang memposting foto sang kakak serta.
"El yakin, foto yang ini banyak yang akan screenshoot," lanjutnya mendumel tentang kebiasaan fans dari kakaknya.
Sepertinya ada yang tidak berpikir, jika dirinya pun sering memposting foto kakaknya, di akun pribadinya yang jumlah followernya tidak tanggung-tanggung.
"Kamu juga suka posting foto Mas Gavriel, kan? Nggak takut di comot orang?" tanya Queeneira meledek Selyn, yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Iya juga yah ... He-he," sahut Selyn dengan kekehan ringannya.
"Lihat yang ini, ternyata nggak kalah banyak likenya, dari foto-foto Mas. Mue-he-he ..." lanjutnya, saat melihat foto dirinya dengan jumlah like ribuan.
"Dasar," dengkus Queeneira geli, saat tidak tahu harus menanggapi Selyn seperti apa lagi, jika sudah sibuk dengan akun media sosialnya.
Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat-lihat lagi sekitar, mencari keberadaan kakak kelas mereka yang seharusnya menemui mereka sesuai dengan janji.
"Kemana mereka, lama sekali," batin Queeneira cemas.
Ekspresi cemas Queeneira berubah menjadi senyum kecil, saat melihat dua laki-laki yang berjalan sambil mengedarkan pandangan juga sepertinya, kemudian melambaikan tangan saat tatapan mata mereka bertemu.
"Queeneira!"
Dari sini ia bisa melihat, dua kakak kelasnya melangkah dengan langkah semangat, serta bibir tersenyum lebar.
Tap!
"Hai! Maaf lama," sesal Ge, menatap Queeneira dengan senyum tidak enak.
"Tidak, kami juga baru sampai. Iya kan, El?" sahut Queeneira, menoleh ke arah Selyn yang mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Hum ... Baru sampai kok Mas, tenang saja," timpal Selyn meyakinkan.
Ge dan Ardan pun menghela napas lega, mereka kira mereka telat datang, sehingga membuat dua perempuan cantik harus menunggu mereka lama.
"Syukurlah," desah keduanya senang.
"Jadi, mau jalan kemana?" tanya Queeneira, menatap kedua kakak kelasnya bergantian.
"Pagoda, aku dengar di sini ada pagoda. Jadi aku ingin mengajak kalian untuk mengunjunginya," balas Ge dengan kening berkerut penasaran.
"Maksudnya pagoda yang ada taman burungnya?" tanya Queeneira memastikan.
"Kamu tahu!"
Ge semakin bersemangat, saat adik kelas kesayangannya ternyata tahu tempat yang ingin ia kunjungi. Ia memandang Queeneira dengan binar senang, sehingga Queeneira pun mengangguk dengan senyum tipis namun mampu membuat Ge salah tingkah.
"Ukh ... Silau sekali," batin Ge.
"Pernah dengar sih, tapi aku belum pernah ke sana juga," jelas Queeneira sedikit menyesal.
__ADS_1
"Tidak masalah, jadi kita bisa sama-sama tahu. Bagaimana, setuju kan?" timpal Ge tidak perduli sekalipun adik kelasnya tidak tahu di mana letak daerahnya.
"Setuju aja, lagian tempatnya tidak jauh. Hanya jalan kaki, sekitar dua puluh menit, sampai deh," jawab Queeneira.
"Kalau kamu, El?" tanya Ardan, melihat adik dari adik kelasnya dengan binar berharap.
"Oke aja," balas Selyn dengan bahu terangkat.
Karena sudah di putuskan jika tujuan mereka adalah pagoda, mereka pun bersama-sama berjalan menuju gerbang exit F dan berjalan di jembatan penyeberangan, menuruni tangga dan berjalan lagi sambil berbincang ringan.
Benar saja, dua puluh menit kemudian bangunan pagoda, dengan kandang burung besar akhirnya terlihat juga.
Meskipun mereka harus menaiki anak tangga lagi, tapi saat melihat sendiri bangunan lama tapi masih tampak gagah di hadapan mereka, meraka senang juga saat melihatnya.
Banyak yang mereka lakukan, mulai dari foto hingga melihat burung-burung yang tinggal di dalam kandang.
Selain mereka, tempat ini ramai di kunjungi oleh pekerja imigran, juga penduduk pribumi yang menghabiskan waktu liburnya dengan keluarga, bersantai di atas rumput hijau layaknya karpet alam.
Puas dengan pagoda, mereka memutuskan untuk pergi ke tempat makan seefood, mereka perlu mengisi perut mereka yang keroncongan minta di notice, karena hari juga sudah siang saat mereka terlalu senang akan kegiatan hari ini.
Tidak seperti Selyn dan Ardan yang memilih duduk, Queeneira dan Ge justru sibuk melihat kepiting yang sengaja di letakkan di bak besar untuk di pilih sebelum di masak.
"Yang ini?" tanya Ge, dengan senyum lebarnya. Ia mengangkat kepiting hidup dan memperlihatkannya kepada Queeneira, yang tertawa sumringah sambil menunjuk si kepiting.
"Terlalu kecil, kak," sahut Queeneira, setelah terkekeh saat melihat kepiting yang meronta di jepitan jari kakak kelasnya.
"Yang ini?" tanya Ge lagi, senang saat melihat tawa tulus dari adik kelasnya.
"Nah ... Ini lumayan besar, cari lagi kak. Aku mau makan banyak kepiting," sahut Queeneira senang.
"Tapi El nggak bisa makan kepiting kak, dia alergi," lanjut Queeneira, saat ingat jika Gavriel dan Selyn yang tidak bisa makan kepiting, sama seperti sang Mommy, Kiara.
"Loh! Lalu kenapa kamu ajak kita makan di sini?" tanya Ge kaget, saat ia tahu jika Selyn alergi dengan makanan yang disukainya.
"Selyn bakal marah, jika kita tidak jadi makan di sini karena alerginya. Tapi tenang aja, makanan di sini kan ada yang daging juga," jelas Queeneira menenangkan.
"Lagian, aku juga nggak mau buat kakak repot, dengan selera makan kami masing-masing," lanjut Queeneira tanpa maksud, tapi sayang sekali karena Ge menilai, jika itu adalah bentuk perhatian Queeneira terhadapnya.
"Ah! Bisa gila," batin Ge bingung sendiri.
"Oke, kita pesan kepiting dan daging juga berarti?" tanya Ge memastikan.
"Boleh deh, kak." Queeneira menganggukkan kepalanya, dengan senyum tipis yang lagi-lagi membuat Ge merasa senang.
"Sudah berapa kali Gue senang? Ya Tuhan," batin Ge dengan jantung berdetak tidak wajar.
Skip
Makan sudah, jalan-jalan sudah, semua sudah mereka lalui dengan perasaan gembira. Hingga mereka tidak sadar jika hari sudah malam, saat mereka keluar dari bioskop di daerah Tin Shui wai, agak melenceng sedikit jauh saat mereka tadinya memutuskan untuk bermain di daerah Long Ping saja.
Mereka pun menaiki kereta MTR, kemudian sama-sama turun saat kedua kakak kelas ini keukeuh, ingin mengantar mereka hingga depan pintu rumah.
Dan karena tidak bisa menolak, akhirnya mereka pun mengiyakan.
Mereka sama-sama berjalan dengan saling berbincang dan berpasangan.
Ardan dan Selyn berjalan di depan mereka, sedikit jauh sehingga hanya kekehan senang yang terdengar, sedangkan karena alasan apa keduanya terkekeh, mereka pun tidak tahu.
Rumah milik kakek Queeneira sudah terlihat, Ge menghentikan langkahnya dengan Queeneira, yang juga ikut berhenti dan melihat kakak kelasnya bingung.
"Kenapa, kak?" tanya Queeneira penasaran.
"Queeneira, aku boleh bertanya?" ujar Ge bertanya, alih-alih menjawab pertanyaan adik kelasnya.
"Iya?"
"Apa kamu bahagia? Apa kamu bahagia hari ini?" tanya Ge dengan nada aneh.
"Tentu saja," sahut Queeneira cepat.
"Tentu saja aku bahagia, aku bisa menghabiskan waktu dengan kalian," lanjut Queeneira menjelaskan.
"Aku juga bahagia," gumam Ge tanpa melihat Queeneira yang tersenyum kecil, namun jadi kaget, saat mendengar kelanjutan perkataan kakak kelasnya.
"Aku juga bahagia, karena aku bisa melihat senyumanmu, untukku, karenaku, bukan karena orang lain."
"Maksudnya?"
"Queeneira, apa kamu menyukainya?"
"Apa?"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jadi, sebenarnya apa maksud dari pertanyaan Ge?
Mau tahu?
Ikuti kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Terima kasih dan sampai babai.