
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Perusahaan Wijaya
Ruang Meeting
Suasana ruang meeting mendadak mencekam, saat Direktur dari perusahaan milik yang menganut sistem go public menatap tajam ke arah anggota meeting saat ini.
Perusahaan yang di bangun Dirga ini adalah perusahaan non Tbk, sehingga saham dari kepemilikan bisa di jual dan di beli di bursa efek perdagangan dengan bebas.
Keringat dingin mengalir dari masing-masing peserta, padahal ruang Meeting yang mereka tempati ini suhunya dingin dengan air conditoner kualitas terjamin.
Dirga masih menatap ke arah depan dengan tatapan sinisnya.
"Jadi .... Adakah di antara Kalian, yang masih ingin menggantikan Saya di depan sini. Sedangkan Kalian belum tentu bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan, terlebih saham milik kalian bahkan di bawah persen milik Saya?" ujar Dirga datar dengan nada mencemooh.
Diam ... Tidak ada yang berani membantah, saat di hadapan mereka ada laporan peningkatan harga pasar, terlebih lagi tiba-tiba ada beberapa saham kecil yang di beli atas nama rahasia.
Jumlah mereka di gabung, belum tentu bisa mengalahkan milik Si pemilik rahasia. Hanya pemilik saham tertinggi, yang bisa menggeser kepemimpinan saat ini dan mereka tidak tahu siapa Si pemilik saham baru ini.
"Sepertinya Kalian sedang berfikir siapa pemilik saham rahasia, yang jumlahnya melebihi milik Saya. Apa kalian berniat melengserkan Saya dengan Si rahasia ini?" ujar Dirga menyindir.
"Kenapa Dia tidak hadir, di meeting pertama ini?" tanya salah seorang pemilik saham dengan nada penasaran.
Dirga mengangkat sebelah alisnya, Ia tidak terkejut saat mendengar pertanyaan dari orang di hadapannya.
"Apa kalian fikir Saya tahu?" balas Dirga datar.
"Seha-
"Back to the topic, saat ini Saya hanya ingin menanyakan tentang keluhan Kalian terhadap kepemimpinan saya. Intinya hanya satu, jual saham kalian kepada orang lain yang menginginkan atau tetap berada di sini sebagai investor yang bijak?" ujar Dirga dingin, menyela perkataan tidak penting menurutnya.
Dengan berakhirnya ucapan Dirga, Dani sebagai tangan kanan membagikan selembaran surat pernyataan penjualan saham.
"Silakan berfikir dengan bijak, Saya tunggu sampai makan siang hari ini," lanjut Dirga datar.
Tanpa permisi Ia meninggalkan ruang meeting, membuka dan menutup ruang meeting dengan debaman pintu keras.
Brak!
Dirga berjalan dengan ekspresi puas, saat melihat wajah frustrasi dari partner perusahaan di dalam ruang pertemuan tadi.
Ia menuju ruang kantor pribadinya, untuk menemui Istri dan Anaknya.
Senyumnya mengembang saat memikirkan kegiatan setelah ini.
"Tidak sabar melihat senyum mereka," gumam Dirga senang.
Ia bisa bernafas lega saat mengetahui masa depan Anaknya terjamin, setidaknya orang-orang di sisi Anaknya kelak harus bisa berdiri bersisian, tanpa ada yang saling sikut menjatuhkan seperti yang di alaminya saat ini.
Tapi Ia tahu, tidak semua apa yang di inginkan dirinya terjadi dengan mudah. Ia hanya berharap, Anaknya bisa setangguh dirinya bahkan lebih.
"Bibitnya dari Gue, ya jelas bisa seperti Gue," batin Dirga mendengus geli.
Di depannya ada pintu ganda terbuat dari kayu terbaik, Ia mendorong perlahan pintu ruangannya dan menemukan istri dan Anaknya, sedang duduk di kursi kebesarannya dengan Laptop menyala.
Kriet!
"Hai Kid, lihat apa di Laptop Daddy?" ujar Dirga bertanya.
Ia melangkahkan kakinya ringan, menghampiri Anaknya yang melihat Ia dengan senyum dan kekehan menggemaskan.
"Dadd, hi-hi!"
Hup!
Gavriel yang tadi ada di pangkuan Kiara, kini pindah di gendongan Dirga yang segera mengecupi pipi Anaknya gemas.
"Gavriel Wijaya, sedang apa tadi heum?" gumam Dirga setelah puas mengecupi pipi Putranya.
Gavriel yang di tanya hanya menepuk-nepuk pipinya kuat, menimbulkan bunyi yang membuat Kiara ngeri ikut merasakan sakit.
Pak! Pak! Pak!
"Dadd, lan-alan,"
Kiara terkekeh saat melihat Sang anak merajuk, sepertinya Gav sudah tidak sabar untuk memulai jalan bareng mereka nanti.
"Sudah tidak sabar, huem?" sahut Kiara geli. Ia terkekeh saat mendengar desisan sakit, dari Dirga yang memejamkan matanya menahan sakit.
"Ouch ... Ini sakit Kid, tidak kasian dengan wajah tampan Daddy ini, heum?" ujar Dirga dengan ringisan pura-puranya.
"No, Dadd, lan-alan!"
Gavriel tetap menepuk bar-bar pipi Sang Daddy, membuat Dirga geli karena mendengar nada protes dari Putranya.
Ah ... Sepertinya keputusan yang tepat, membawa dua penghuni hatinya ke kantor. Hatinya sedikit menghangat, saat tadi merasakan kebekuan sesaat.
"Oke Kid, sehabis ini kita jalan. Makan siang nanti, Kita ke restoran chiness. Bagaimana, heum?" ujar Dirga bertanya ke arah Istrinya.
Kiara mengangguk setuju, saat Suaminya melihatnya di ikuti pertanyaan untuknya.
"Kemana aja, yang penting Kita bersama!" seru Kiara semangat.
"Oke," balas Dirga singkat.
Ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu melihat masih ada beberapa menit sebelum kembali ke ruang pertemuan.
__ADS_1
"Mas-
Drt! Drt! Drt!
Ucapan Dirga terpaksa terhenti, saat Ia merasakan getaran pada saku celananya.
Ia mengubah posisi gendongannya, dengan bertumpu pada satu tangan.
"Ugh .. Berat sekali," gumam Dirga meledek,menuai kekehan dari Sang Istri yang mendengarnya.
Ia pun mengambil handphonenya dan melihat nama Dani terpampang di layar handphonenya.
"Dani," gumam Dirga dengan alis terangkat bingung.
Ia pun menekan tombol hijau dan menempelkan layar ke telinga kanannya.
Tut!
"Hn?" gumam Dirga bertanya.
"Lancar, sesuai prediksi!"
Dirga tersenyum miring saat mendengar nada semangat, dari Dani yang melaporkan kejadian di ruang pertemuan tanpa kehadirannya.
Senyum miring yang di tampilkan Suaminya membuat Kiara bingung, Ia ingin bertanya namun belum bisa saat Dirga masih menerima panggilan.
"Lima menit, tunggu Gue disana!" seru Dirga semangat.
Dirga pun memutuskan panggilan secara sepihak dan memasukkan kembali handphonenya kedalam saku celananya.
"Aku ke ruang pertemuan sebentar," ujar Dirga buru-buru sambil menyerahkan Gav pada Kiara.
"Oke," balas Kiara singkat, Ia menerima dengan sigap Gav masuk kedalam dekapannya.
"Dadd!"
"Sebentar Kid, hanya sepuluh menit. Oke, setelahnya Kita bisa berenang-senang. Got it?" sahut Dirga saat mendengar protesan dari Putranya.
Gavriel memandangnya dengan mata bulat polos, membuatnya tersenyum lalu menepuk kepala Anaknya sayang.
"Sepuluh menit, janji!" seru Dirga kemudian.
Akhirnya setelah melihat Sang anak melepasnya dengan senyum polos, Ia pun meninggalkan ruangan setelah mengecup kening Istrinya sayang.
"Tunggu Aku, Oke?"
"Oke!"
Blam!
Ruangan milik Dirga kembali sunyi, membuat sepasang ibu dan anak itu saling pandang.
"Mau lanjut lihat foto?" tanya Kiara ceria.
"Hi-hi!"
"Dasar .... Tadi saja ada Daddy, Mommy di tinggal," dengus Kiara pura-pura kesal.
Gav terkekeh saat Sang Mommy mengecup lehernya dengan gemas, mereka berjalan kembali menuju kursi milik Dirga dan membuka galeri foto yang Dirga simpan di dalam laptop pribadinya.
Sedangkan Dirga yang saat ini sedang berjalan ke arah ruang meeting, mendadak berhenti saat merasakan getaran di saku celananya.
"Ck ... Siapa lagi sih, ganggu aja," gumam Dirga kesal, tapi Ia tetap melihat handphonenya.
Di situ tertera pesan dari dua sahabatnya, yang mengajaknya bertemu untuk merayakan ulang tahun secara pribadi Anaknya, membuat senyumnya terbit karena merasa hari ini benar-benar sempurna.
"Kebetulan sekali, sepertinya hari ini adalah hari yang indah!" gumam Dirga berseri-seri.
Kriet!
Ia membuka pintu dengan sekali hentak, hingga pintu terbuka lebar dengan sempurna.
Wajahnya yang tadi menampilkan senyum bahagia, seketika berubah menjadi dingin dan datar. Aura pink yang tadi keluar juga berganti, menjadi aura gloomy khas malaikat pencabut nyawa dengan segala ke absolutannya.
Pemilik saham yang tadi duduk dengan lemas seketika duduk tegak, mengubah ekspresi lemasnya menjadi kaku kembali.
Dani yang sudah terbiasa tentu saja hanya bisa menghela nafas, Ia prihatin dengan nasib orang yang kemarin sempat meremehkan kepemimpinan Bos songongnya.
"Lagian ada-ada saja, sudah tahu keturunan Wijaya tidak suka mengalah, masih saja cari ulah," batin Dani menatap kedepan dengan datar.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki Dirga yang tegas jelas terdengar, saat suasana ruangan sunyi seketika.
Brugh!
Dirga mendudukan bokongnya kasar di kursi miliknya, lalu menopang dagu menanti kelanjutan dari keputusan orang-orang di hadapannya.
Kemudian jari-jari tanganya yang panjang mengetuk permukaan meja dengan tidak sabar, membuat suasana menjadi semakin tegang.
Ia melirik ke arah tangan kanannya, yang di jawab anggukan kepala dari Dani.
Dani berdehem guna menarik perhatian peserta rapat dan berhasil.
Mereka melihatnya dan memperhatikannya dengan ekspresi serius.
"Seperti yang sudah di jelaskan, di depan Anda semua ada kertas pernyataan penjualan saham, jika kalian menyetui untuk di jual di bursa efek. Kami dengan senang hati akan membantu menjualnya," ujar Dani menjelaskan.
"Dan karena sudah ada beberapa yang tetap bertahan, lalu sisanya masih abu-abu. Maka Kita akan bahas ini leb-
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu di bahas lagi, Kami semua menyetui jika Tuan Wijaya tetap sebagai pemimpin, tapi kenapa tiba-tiba menyerahkan saham kapada Anak yang bahkan masih belum mengerti?"
Penjelasan Dani terpaksa berhenti, saat tiba-tiba ada peserta yang ternyata masih keukeh dengan ketidak setujuannya.
Dirga tersenyum saat akhirnya tiba juga, ada yang menanyakan keputusannya tentang pemindahan saham atas namanya.
"Apakah dengan pemindahan milik, artinya saya akan lepas tangan?" tanya Dirga datar.
Ia melihat dengan serius, seseorang yang bergerak salah tingkah.
"Memindahkan belum tentu lepas tangan, lalu apakah anda melihat ada kelalaian dari pihak yang di tunjuk, merugikan atau membuat harga saham lainnya turun?" lanjut Dirga dengan pertanyaan menyudutkan lainnya.
"Tap-
"Bantahan yang tidak relevan, memindahkan atas nama hanya simbol, sedangkan yang bergerak tetap pemilik awal, Si pemimpin yang ada di hadapan Kalian. Lalu apa yang anda sekalian ributkan?" sela Dirga tajam.
"Hak ada di tangan Saya untuk memberikan kepada Siapa Saya akan memberikan saham saya, apa itu merugikan Kalian semua?" cerca Dirga tajam.
"Sebutkan apa yang membuat Kalian punya fikiran, jika Saya akan melalaikan tugas Saya sebagai pemimpin?"
Dirga mengeluarkan semua uneg-unegnya dengan nada biasa, tapi Dani tahu Sang bos sedang marah.
"Karena saya cacat tidak bisa berjalan, hah?"
Dirga mengeluarkan suara tingginya, saat merasa marah ketika ingat laporan dari tangan kanannya.
Diam ... Semua orang yang ada di ruangan tersebut diam, tanpa ada yang bisa membantah.
Memang benar cacat hanya alasan serta akal-akalan Mereka, untuk menjatuhkan Dirga dari kursi kepemimpinannya.
"Cih ... Bahkan tanpa kalian, banyak para investor yang ingin bergabung dengan perusahaan yang Saya pimpin. Apa kalian sadar akan hal itu?"
Dirga tidak perduli jika saat ini Ia terlihat seperti orang gila yang mengantuk.
Ia cukup muak dengan segalanya.
"Dengan terpak-
"Maafkan Saya, Saya tetap akan menjadi partner di sisi Tuan Wijaya. Saya tidak akan menjual saham saya dan akan mengikuti peraturan tanpa banyak mencela!"
Seruan putus asa dari salah seorang pemilik saham, terpaksa membuat perkataan Dirga terputus. Di susul dengan seruan setuju lainnya, yang ingin tetap di sisi dengan Dirga sebagai pemimpin.
Dirga tentu saja mendengus puas, saat mendengar pernyataan putus asa dari orang-orang di hadapannya.
Ia tersenyum miring dengan hati puas, saat satu per satu pemilik saham mengembalikan kertas pernyataan penjualan yang tidak bertanda tangan, kepada Dani yang jalan berkeliling.
"Kedepannya akan ada sistem baru, pemilik saham tidak punya wewenang untuk melengserkan kepemimpinan, selama pemimpin sanggup dan tidak terbukti memiliki cela untuk di sela. Apa Kalian paham?"
Dirga mengumumkan peraturan dengan nada mutlak, membuat para pemilik saham mau tidak mau mengangguk paham. Mereka masih ingin mendapat keuntungan, dengan persentase jarang rugi di dalamnya.
"Kami paham!" seru Mereka bersamaan.
"Bagus, selama Saya Dirga Mahesa Wijaya masih mampu berdiri dengan kedua kaki Saya, Saya pastikan tidak akan melalaikan apa yang menjadi tanggung jawab saya, selamanya!" seru Dirga percaya diri.
Meski Mereka tahu jika pemimpin mereka ini sombong, namun jika itu tidak merugikan mereka, selamanya mereka akan ikuti apa mau Dia.
"Rapat selesai sampai sini, jika masih ada kejadian seperti ini di kemudian hari. Dengan tanpa menghilangkan rasa hormat, maka Saya selaku pemimpin berhak untuk mengeluarkan kalian di antara deretan pemilik saham. Apa semua bisa mengingat ini?" tanya Dirga tegas.
"Baik, Tuan Wijaya!" seru Mereka menjawab dengan kompak.
Dirga mengangguk puas lalu meninggalkan ruang pertemuan, dengan Dani yang mengekor di belakangnya.
"Sudah semua?" gumam Dirga bertanya.
"Sudah dan tidak ada yang melawan," balas Dani menjelaskan.
"Apa identitas Si rahasia masih aman?" tanya Dirga dengan suara berbisik.
"Aman, Bos," balas Dani ikut berbisik.
Dirga mengangguk puas, lalu tersenyum lega.
Ia berhenti sebelum masuk ke dalam ruangannya, untuk menemui istri dan Anaknya.
"Pastikan tidak ada yang tahu, sampai Dia siap terjun di dunia bisnis. Biarkan ini menjadi rahasia di antara kita,apa kamu bisa di percaya. Dani?" ujar Dirga menghadap ke arah Dani dengan ekspresi serius.
Dani mengangguk saat melihat ekspresi serius dari Bos sekaligus sahabatnya, tentu saja identitas pemilik saham ini harus di rahasia kan, jika ingin saham yang sudah di beli tidak di ganggu orang.
Dan juga ini demi keamanan dari Si rahasia, Dani mengerti akan resikonya.
"Tentu, Bos," balas Dani tegas.
"Andai Lu tidak menua, Gue mau Lu yang mendampingi Gav, saat Gav sudah siap nanti . Huf ... Sayang sekali itu tidak mungkin," ujar Dirga geli sendiri.
"Kelak kalau Gue punya keturunan, bisa kah keturunan Gue mengabdi dengan keturunan Lu, Ga?" tanya Dani sungguh-sungguh.
Dirga tersenyum tipis, saat mendengar permintaan masuk akal dari orang kepercayaannya.
"Selama itu keturunan dari Lu, Gue rasa nggak masalah. Anak Gue butuh orang seperti Lu dan dengan Lu sebagai bibitnya, Gue rasa itu bisa saja," balas Dirga sambil menepuk bahu Dani bersahabat.
"Thank, Dani!" lanjut Dirga dengan senyum tulus.
"Sama-sama, Dirga," balas Dani balas tersenyum tidak kalah tulus.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Next part saatnya Jalan-jalan.
Tunggu yah ....