
Season dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Saat ini lapangan luas milik sekolah Trisakti, sedang dipakai oleh murid kelas sepuluh, yang sedang dalam waktu pelajaran pendidikan jasmani atau juga bisa disebut olahraga.
Di tengah lapangan, sudah bergerombol siswa dan siswi yang memperhatikan dengan serius seorang guru laki-laki, dengan nama Daniel yang saat ini sedang menjelaskan tentang materi pagi ini.
Guru dengan perawakan tubuh tinggi dan tegap ini, sukses menjadi guru paling diminati di kalangan guru lain dan para siswi.
Meskipun begitu, jangan salah ...
Guru ini sudah menikah, lalu baginya murid tetap lah murid dan tidak akan berubah.
"Baiklah anak-anak, materi hari ini adalah lari jarak pendek, lari jarak pendek biasa disebut dengan lari sprint. Pelari dalam lari jarak pendek disebut dengan sprinter," ujar Pak Daniel menjelaskan, kemudian menjeda penjelasan saat melihat ekspresi serius dari murid didiknya.
"Nah jadi ... Ada yang tahu cabang berapa meter saja, yang di perlombakan untuk lari jarak pendek?" tanya Pak Daniel masih melihat satu per satu muridnya.
Murid-murid sekolah dengan taraf internasional, mana ada yang tidak tahu jawaban akan pertanyaan darinya.
"Iya kamu!" seru Pak Daniel saat melihat salah satu siswa, mengangkat tangan dengan percaya diri, meski wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Benar-benar keturunan Wijaya," batinnya tidak heran.
"Lari jarak pendek memiliki beberapa nomor yang biasa diperlombakan, yakni 100 m, 200 m, dan 400 m."
Semua murid yang melihat dan mendengar jawaban darinya, kompak menoleh ke arahnya, membuat ia mendengus tapi masih ditahannya.
Daddy toyyib bilang, pantang mengeluarkan ekspresi kesal di hadapan orang banyak.
Kecuali orang-orang terdekat, juga seseorang yang .....
"Ya benar sakali! Jawaban yang tepat Gavriel."
Daniel kemudian melihat lagi anak-anak didiknya, lalu meminta semuanya untuk melakukan praktik lari jarak pendek, sesuai abjad absensi.
Setelahnya, para murid pun melakukan apa yang di perintahkan oleh guru mereka, melakukan lari bergantian dan bagi yang belum dapat giliran, duduk lesehan sambil memperhatikan cara start yang benar.
Di antara para murid, ada Gavriel yang menunggu giliran saat dirinya menjadi murid dengan urut absensi di tengah.
Sedangkan Ezra lebih dulu start, saat dirinya adalah satu-satunya murid dengan huruf abjad E.
Di samping Gavriel ada Queene, yang duduk diam dengan sesekali meringis dan memegang perut menahan sakit.
Dan itu membuat Gavriel yang melihatnya, menatap sahabat perempuannya khawatir.
"Ada apa?" bisik Gavriel ditelinga Queene.
Queene melihat juga ke arah samping.
Tepatnya ke arah Gavriel yang masih mendekatkan wajahnya di telinganya, sehingga kini jarak di antara keduanya dekat sekali, bahkan jika ada seseorang yang usil mendorong wajah keduanya, sudah di pastikan jika mereka akan saling mengadu bibir.
"Sakit," bisik Queene lirih, membuat Gavriel yang mendengarnya semakin khawatir.
"Apa perlu kita ke UKS?" tanya Gavriel dengan raut wajah cemas.
Sahabat strongnya, yang jatuh berdarah saja tidak sakit, kini kesakitan karena hal yang ia tidak tahu apa.
"Tidak, tidak perlu, ak-
"Baiklah, giliran absen berikutnya!"
Ucapan Queene terpaksa berhenti, saat sang guru mengintruksikan untuk murid selanjutnya, yang akan melakukan praktik lari jarak pendek.
Gavriel berdiri saat ia merasa ia adalah selanjutnya, ia menetap sekilas ke arah sang sahabat yang mengangguk mengizinkan.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa, percaya deh," ujar Queene meyakinkan.
Gavriel pun mengangguk, meski hatinya masih khawatir, apalagi saat melihat wajah semi pucat dari sahabat preman kesayanganya.
"Baiklah, kalau ada apa-apa, kasih tahu aku," balas Gavriel.
"Ada apa?" tanya seseorang dari arah belakang, ia pun menoleh dan menemukan sepupunya yang berjalan dengan keringat di wajah.
"Huft .... Capek," gumam Ezra saat sudah sampai di samping sepupunya.
"Ez."
"Heum?"
"Titip Queene, sepertinya dia kur-
"Gav ... I'm oke, It's gone be alright!" sela Queene cepat, saat mendengar sahabatnya terlalu berlebihan.
Gavriel dan Ezra kompak menoleh, ke arah satu-satunya perempuan dia antara mereka, yang saat ini memandang mereka seakan memberitahukan jika ia tidak apa-apa.
Kedua laki-laki ini menghela napas, kemudian mengangguk saat Queene tersenyum.
"Baiklah, ingat apa kataku tadi," ujar Gavriel tidak terbantahkan, membuat Queene mau tidak mau mengangguk.
Sahabat posesif yang sangat di .....
"Iya, aku mengerti," balas Queene pelan.
"Ez," gumam Gavriel yang di angguki kepala mengerti oleh sepupunya.
"Aku ambil air hangat, kamu bilang Pak Daniel," balas Ezra sebelum meninggalkan dua sahabatnya, setelah dapat anggukan kepala dari sepupunya.
"Aku ke lapangan dulu," ujar Gavriel ke arah Queene, yang mengangguk mengerti.
"Iya ... Semangat Gav!"
"Pasti," balas Gavriel dengan senyum tipis.
Di depannya ada Kei, yang kebetulan urutan absensinya, dekat dengan Gavriel yang kebetulan juga hanya ia yang murid dengan nama awalan huruf G.
"Hai Gav, kita satu line," sapa Kei dengan senyum cerah, senyum yang di balas Gavriel meski hanya senyum tipis, setipis keripik kentang kesukaannya.
Err ... Selain es krim yang menurun dari sang Mommy, ia juga dapat turunan dari sang Daddy, suka dengan makanan renyah seperti keripik kentang.
"Hai Kei, semangat larinya," balas Gavriel menyemangati, membuat Kei senang saat mendengar balasan positif dari laki-laki remaja yang tadi di sapanya.
"Tentu, tapi aku masih belum terlalu mengerti, saat melakukan start awalan," ujar Kei tanpa sungkan.
"Gampang kok, nanti aku kasih tahu," balas Gavriel, yang disambut antusias oleh Kei.
"Benarkah?"
"Tentu saja," balas Gavriel singkat.
Kei tersenyum cerah, meskipun nada yang dipakai Gavriel datar dan biasa saja, tapi ia tahu jika Gavriel menerima keberadaannya.
Kedekatan keduanya, membuat teman sekelas melihatnya dengan berbagai ekspresi.
Ada yang iri dengan Gavriel yang berbicara santai dengan Queen mereka, ada juga yang iri dengan Kei yang berbicara santai dengan King mereka.
Ada juga yang melihat kedekatan keduanya dengan ekspresi biasa saja dan senang luar biasa, serta ada juga seseorang yang melihat keduanya dengan tangan mengepal di atas perut.
Bukan hanya menahan rasa sakit pada perutnya, tapi juga menahan diri agar tidak cemburu, rasa yang selalu mampir, saat ia meliha sahabatnya dekat dengan yang lain.
"Ukh! Perutku," gumamnya lirih menahan perih.
Ezra datang tidak lama, lalu duduk dengan tangan mengulurkan segelas air putih hangat.
"Nih, Que!"
__ADS_1
Tidak mendapat jawaban, akan pertanyaan dan juga gelas yang di ulurkan belum di terima oleh sahabat perempuannya.
Ia pun menundukkan wajahnya, hendak melihat ekspresi wajah dari sahabat, yang saat ini meletakkan wajah di antara dengkul.
"Queene, hei! Queene jawab aku!"
Ezra memanggil dan menepuk bahu sahabatnya khawatir, saat ia sama sekali tidak mendapat jawaban, bahkan gumaman pun tidak.
Puk! Puk!
"Qu-
"Ukh!"
Ezra semakin panik, saat mendengar ringisan dari sahabat premannya, sehingga ia memanggil Gavriel dengan seruan keras, membuat yang di panggil menoleh di ikuti dengan semua teman sekelasnya.
Ezra yang dapat turunan selebor dari sang Mimi, sangat payah jika sedang panik.
"Gavriel! Cepat kemari!"
Sedangkan Gavriel yang saat ini sedang menjelaskan start, kepada Kei yang mengangguk mengerti, segera menoleh saat sepupunya memanggil namanya panik.
Deg!
Dari sini ia melihatnya, bagaimana Ezra menepuk-nepuk bahu Queene yang tetap menunduk dan itu membuat perasaannya tidak enak seketika.
"Ad- Gav! Gavriel, tunggu!"
Saat Kei hendak bertanya kepadanya, Gavriel dengan segera berlari tanpa menjawab pertanyaan untuknya.
Ia menghampiri dua sahabatnya, dengan salah satu seperti menahan sakit dan satunya lagi sedang panik.
Di dekat mereka juga ada teman sekelas yang bergerombol, mengelilingi sahabatnya yang meminta untuk tidak mengerumuninya.
"Minggir!"
Dengan sentakan bernada dingin dari seorang keturunan Wijaya, teman sekelasnya pun akhirnya perlahan menyingkir.
Tidak jauh dari mereka, ada Pak Daniel yang memerintahkan Gavriel untuk membawa Queene ke UKS.
"Cepat bawa ke UKS!"
Tanpa banyak protes Gavriel segera mengambil tubuh mungil, milik sahabatnya saat sepupunya hendak mengangkatnya.
"Biar aku saja," ujar Gavriel.
Ia bukan meminta, tapi ia memang merasa tidak terima, jika bukan ia yang membawa Queene, untuk segera di periksa keadaannya.
Ezra sendiri tidak merasa tersinggung, ia mengerti arti Queene untuk mereka.
Ia dengan segera mengikuti sepupunya, yang berlarian di koridor sekolah dengan Queene di gendonganya.
"Sakit!"
"Sabar Que, sebentar lagi sampai!"
"Gav, perlu kasih tahu Yiyi dan Suk-suk?"
"Jangan! Nanti saja."
Ternyata bukan hanya Ezra yang berlari di belakang Gavriel, Kei pun yang merasa khawatir akan keadaan teman barunya, ikut berlari setelah mendapat izin dari Pak Daniel.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Queene kenapa?
Mau tahu!
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ....
Sampai babai.