
Seoson dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Brugh!!
Byur!!
"Ha-ha-ha-ha!!!"
Tawa membahana keluar dari mulut lucknut kedua sahabat edan, saat melihat Dirga yang jatuh dengan posisi tidak elit sama sekali.
Jika Faro jatuh dengan bokong menghantam lumpur, maka Dirga lebih parah.
Rasa kaget yang menyerangnya tiba-tiba, membuat tubuhnya tidak seimbang, karena Ia juga mengibaskan kaki dengan brutal.
Niat hati ingin menyingkirkan belut dari kakinya, Ia malah terjatuh dengan wajah nyungsep terlebih dahulu.
Itulah yang membuat tawa renyah menjurus edan, keluar dari kedua sahabat yang dari sananya memang sudah edan.
Sedangkan Para Mommy, terlebih Kiara. Ia segera berjalan sedikit cepat, saat melihat Suaminya jatuh dengan posisi tidak menguntungkan sama sekali.
(Em ... Ano Kiara istrinya Dirga, iya?. Setahu Author yang namanya jatuh itu, tidak ada untungnya sama sekali, yang ada syakit. Oh iya juga, oke deh)
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" ujar Kiara bertanya dengan nada khawatir, Ia bersimpuh di samping Suaminya tanpa takut kotor.
Oh ... Jelas sekali, Ia sudah mengganti pakaiannya.
"Aku tidak apa-apa, Dear," balas Dirga menenangkan.
Ia bangkit dan duduk pasrah di samping Sang istri, yang langsung menyeka wajahnya dengan kaos yang di pakai Istrinya.
"Makanya jangan tertawa di atas penderitaan orang," ujar Faro setelah puas mentertawai sahabat songongnya, yang tadi mentertawainya juga.
"Humb, tapi langsung enak," batin Faro, mendengus ke arah Dirga yang saat ini sedang di manja Kiara.
"Bodo!" seru Dirga tidak perduli.
"Karma is real, Bro!" seru Raka tanpa dosa.
Ia di temani istri dan Sang putra duduk santai di lumpur, seakan mereka sedang duduk di atas karpet permadani.
"Serah Lu, kampret!" balas Dirga melotot ke arah Raka, lalu menghadap ke arah istrinya dan memasang wajah manja.
"Lap lagi, Dear!"
"Iya-iya," dengus istrinya, dengan kikikan kecil.
"Daddy, curang mandi lumpur tidak ajak-ajak!" seru Gavriel pura-pura kesal.
Entah mau meledek atau apa, karena ketika Sang anak bilang seperti itu, ekspresi wajahnya seperti orang minta di tampol, ekspresi wajahnya mirip sekali dengannya ketika meledek seseorang.
"Kalau begitu kemari!" seru Dirga mengajak Sang anak titisan lucifer dengan senyum merekah.
"Sini-sini," Lanjutnya dengan tangan terayun memanggil.
"Dadd, El nggak mau deket-deket Dadd!"
Seruan memanggil dari Sang Daddy, membuat Selyn Si bontot memasang wajah jiejiek, apalagi saat melihat lumpur yang hampir mengering di seluruh tubuh Daddynya.
Senyum Dirga semakin merekah saat mendengar nada takut dari putri bungsunya, Ia pun dengan sengaja bangkit dan jalan perlahan menghampiri Putrinya.
"Kemari sayang, come to Daddy!" seru Daddy dengan nada mendayu, layaknya om-om sedang mencari mangsa.
Ia semakin mendekat ke arah Putrinya, yang bersembunyi di belakang Putranya dengan kekehan yang terdengar lucu di telinganya.
"Hi-hi-hi, Mas kabul!" seru Selyn saat Dirga sampai di dekatnya.
Ia pun kabur berlari ke arah lain, setelah mendorong kecil punggung Sang kakak iseng, sehingga Gav yang tidak siap terjerempab jatuh kedalam kubangan lumpur sawah.
Byurr!!
"Ah .... Selyn!" seru Gavriel kesal.
Ia duduk di tengah sawah lesehan, memandang adiknya yang sedang di kejar Sang Daddy dengan kesal.
"Lil princess, jangan kabur!" seru Dirga dengan kekehan senang saat bisa menghabiskan waktu, bercanda seperti ini dengan Sang anak beserta sahabat yang sudah di anggapnya saudara.
"Hi-hi-hi!!!"
"Hei ... Imouto-chan, kemari Kamu!"
Gavriel tidak tinggal diam, Ia mengikuti jejak Daddynya yang sudah lebih dulu mengejar adiknya.
"Jangan kabur, kemari Kamu!" seru Gavriel yang saat ini ada di belakang Daddynya.
Dan dengan begitu terjadilah kejar-kejaran, antara Dua orang anak kecil dan satu Daddy, dengan biang keladi Si setan kecil, anak dari raja setan yaitu Tuan Dirga devil Mahesa.
Kiara sendiri yang menyaksikan keseruan tiga orang kesayangan, tertawa dengan renyahnya tanpa bisa menahan lebih lama.
"Dasar mereka itu," Gumamnya dengan kepala menggeleng.
Karena tidak ingin tertinggal dengan keseruan tiga orang kesayangannya, Ia pun ikut berlari menuju ke arah dimana anak dan Suaminya saling berkejaran.
"Tunggu Mommy Dadd, Gav. Kita kejar El ramai-ramai!" seru Kiara menyemangati Suami dan Anak laki-lakinya, menuai pekikan larangan namun masih terdengar kekehan dari Selyn, yang semakin berlari kencang di depan sana.
"Hi-hi-hi, Momm jangan itut-itutan!"
"Tangkap penjahat kecil!"
"Huwaaaa!!!"
Kejadian di depan mereka saat ini mereka nikmati dengan senyum bahagia, kapan lagi coba mereka menikmati waktu berharga seperti ini.
"Seru yah, kalau punya anak perempuan?" gumam Raka tanpa menoleh.
Ia masih fokus melihat kejadian langka di depannya dengan senyum tulus, beranda-andai jika Ia juga bisa menikmati moment memiliki anak perempuan lucu seperti keponakannya.
Amira sendiri yang awalnya menyaksikan keceriaan keluarga sepupunya dengan senyum, tiba-tiba tubuhnya menegang saat mendengar gumaman keinginan dari Sang suami.
Ia merasa jika gumaman itu adalah keinginan yang paling di inginkan Suaminya, Ia pun merilekskan tubuhnya lagi, lalu bersandar di bahu Suaminya dan tersenyum kecil.
"Kalau Tuhan mengizinkan, Kita bisa punya lagi kok," ujar Amira lembut.
Ia ikut melihat ke arah Suaminya, saat merasa jika Sang suami menoleh ke arahnya.
"Tentu, Aku akan berjuang untuk itu!" seru Raka semangat, membuat Amira mendengus saat mendengarnya.
"Eleh ... Yang seperti itu semangat sekali bilang berjuangnya," bisik Amira takut kedengaran telinga tajam Putranya.
"Eleh ... Tapi suka kan?" balas Raka ikut berbisik di telinga Istrinya, sehingga Amira terkikik geli dan itu membuat Ezra menoleh ke arah kedua orang tuanya, dengan ekspresi bingung dan penasaran.
__ADS_1
"Mimi dan Pipi bisik-bisik apa sih? Ez boleh tahu?" tanya Ezra penasaran, sepertinya Ia ketularan kepo Eyang putri, Eyangnya Si Gavriel.
(Eyang Kamu juga Ezra, oh iya betul)
Raka dan Amira kompak menoleh ke arah depan, melihat Sang anak yang saat ini sedang menampilkan ekspresi penasaran yang terlihat lucu.
Keduanya terkekeh kembali, membuat Ezra semakin bingung tapi tidak lama berubah kesal, saat Sang Pipi menepuk kepalanya di susul Sang Mimi yang ikut-ikutan mengerjainya.
"Tidak ada apa-apa, mandi lumpur dulu sana," ujar Raka dengan nada jahil, Ia juga sengaja menepuk kepala Sang anak dengan telapak tangan penuh lumpur.
"Yupss ... Santai aja, Honey!"
"Yah ... Pipi dan Mimi sengaja yah, lihat rambut Aku kotor!" seru Ezra tidak terima dan membuat Raka serta Amira melanjutkan kekehannya.
"Sesama keluarga harus saling berbagi,"
"Yup ... Betul, betul, betul,"
"Kalau gitu rasakan, hiyaaa!!"
Brugh!!
"Ha-ha-ha!!!"
Beda keluarga beda juga cara mereka mempererat hubungan mereka.
Jika keluarga dari Wijaya muda lari kejar-kejaran untuk menciptakan suasana hangat.
Keluarga Benedict yang saling bergulat di tengah-tengah lumpur.
Maka keluarga wardhana adalah keluraga yang paling beda dari yang lainnya.
Terlihat saat ini Sang kepala keluarga sedang rebahan santuy di paha Sang istri, dengan tambahan Queene duduk di atas perutnya.
"Baba!"
"Heum?" gumam Faro masih dengan mata setengah terpejam.
"Apa Que-que juga boleh bekerja?" tanya Queene polos, membuat Faro membuka matanya cepat saat Putrinya bertanya seperti itu tiba-tiba.
"Apa maksud Kamu, muymuy?" ujar Faro. Ia bahkan tidak menutupi nada kagetnya.
"Emang Kamu mengerti apa arti dari bekerja?" Lanjutnya bertanya lembut.
Queene berpindah posisi dengan gerakan heboh, membuat Faro harus menahan ringisannya saat perutnya merasakan sakit, akibat gerakan heboh dari Sang anak.
"Ugh ... Heboh seperti Mamanya," batin Faro sambil merasakan penderitaan yang tidak bisa di bagi-bagi.
"Tahu Baba!" seru Queene semangat.
Faro harus ekstra menahan tangannya, agar tidak memcubit pipi Anaknya saat ini juga. Karena saat Queene berseru semangat, Ia melihat binar mata yang terlihat menggemaskan di mata anaknya.
"Apa?" tanya Faro singkat, Ia semakin terkekeh saat melihat wajah berseri-seri dari Anaknya saat menjelaskan, apa yang menurutnya benar tentang apa itu bekerja.
"Bekerja itu menghasilkan uang dan memakai seragam dan pergi pagi pulang sore dan-
Elisa yang dari tadi memperhatikan dalam diam percakapan ayah dan anak, terkekeh dalam hati merasa lucu dan geli di saat bersamaan. Apalagi saat mendengar penjelasan absurd dari Sang anak, tentang apa itu bekerja dengan bonus wajah berserinya.
Sedangkan Faro entah harus bersyukur atau bagaimana, saat mendapati Sang anak yang begitu kritis tentang apa pun di sekitarnya.
Wajah Queene mirip seratus persen dengannya, tapi kalau soal ngeromet mirip sekali dengan Mamanya.
"Ngomong-ngomong, anak Gue nyebut kata 'dan' sudah berapa kali yah?" batin Faro menghitung menggunakan jarinya, yang saat ini berendam di lumpur.
Queeneira menghentikan ucapannya, saat penjelasan yang menurutnya benar tersampaikan kepada Sang Baba, lalu memandang Babanya dengan mata meminta pembenaran.
"Benar kan Baba?" tanya Queene sekali lagi.
Sebelum menjawab pertanyaan Anaknya, Faro dengan usil mengusapkan tangan penuh lumpur di pipi Queene, baru kemudian menjawab setelah mendengus, heran dengan kelakuan Sang putri.
"Ih ... Baba, kotorkan!" seru Queene tidak terima, membuat Faro harus rela saat dadanya sesak menerima lonjakan tubuh sengaja, yang di lakukan oleh Putrinya.
"Uhuk! ... Ouch, sakit sayang," desis Faro.
"Queene!" seru Elisa dengan mata melirik Anaknya memperingati.
"Habis Mam, Baba iseng banget," adu Queene dengan pipi menggembung lucu dan tangan bersedekap kesal.
"Kamu juga sering iseng," balas Elisa meledek Putrinya yang semakin memasang wajah kesal.
"Ih ... Mama, kok Aku iseng sih?"
"Emang,"
"Hembb,"
"Ha-ha-ha!!!"
Faro tertawa saat melihat ekspresi kesal Anaknya, meskipun harus merasakan sakit pada dadanya, jika Ia bisa melihat wajah menggemaskan Putrinya Ia rela.
"Ih ... Baba, jelasin!"
"Ha-ha-ha, oke Princess!"
"Jadi ..."
Dengan begitu Faro pun menjelaskan kepada Anaknya, apa yang di maksud dengan bekerja hingga kewajiban manusia yang berbeda-beda kepada Queene, yang menampilkan wajah kaget menggemaskan.
"Seperti itu Baba?"
"Yups!"
Skip
Perburuan katak pun di lupakan saat ketiga keluarga malah asik bermain, hingga mereka hampir menyerah dan terduduk di tengah sawah dengan ekspresi lesu.
Sedangkan di pinggir sawah, ada Pak Teguh yang memperhatikan kejadian di depannya dengan senyum kaku dan kepala menggeleng takjub.
"Baru ini lihat Tuan Dirga seperti itu, ini pasti karena di sekelilingnya adalah orang-orang berharga," gumam Pak Teguh. Ia ikut merasa senang, saat melihat keluarga kecil tuanya bahagia.
Ia tidak menyangka jika ini sudah lewat sembilan tahun, sejak tamu bernama Kiara yang dulu adalah tunangan dan sekarang menjadi istri Tuan mudanya berkunjung ke desa Nuan ini.
"Waktu cepat sekali berlalu," gumam Teguh ikut senang.
Ia pun menggulung celana panjangnya dan ikut turun ke sawah, lalu menghampiri Tuan dari pemilik desa ini.
"Permisi tuan dan nyonya, apa yang di cari sudah dapat?" tanya Teguh ramah.
Mereka yang sedang duduk tanpa memikirkan lagi jika mereka semakin kotor, menoleh ke arah suara berasal.
Di depan mereka berdiri Pak Teguh dengan memasang senyum ramah.
"Ah Pak Teguh, belum nih Pak," balas Kiara mewakili Suaminya, yang sedang sibuk usap-usapan lumpur dengan Putri bontot mereka.
__ADS_1
"Begitu ... Hum, sepertinya di danau sekitar ada deh. Mau bapak bantu cari?" ujar Teguh dengan kepala menoleh ke kanan dan kiri, lalu melihat ke arah Tuannya lagi.
Bagai angin segar, tawaran yang di ucapkan oleh Pak Teguh membuat tiga keluarga itu, memandang Pak Teguh dengan mata berbinar senang dan itu membuatnya terkekeh canggung.
"Benarkah?"
"Serius Pak?"
"Ah ... Akhirnya bisa istirahat juga,"
"Kalau begitu, mohon bantuanya Pak!"
Seruan ramai yang di terima oleh Pak Teguh, membuat Pak Teguh merasa bersalah.
Seharusnya mereka dari tadi meminta bantuannya atau juga penduduk sekitar.
Tapi karena sudah berlalu, maka Ia pun hanya bisa mengganguk dengan kepala bergerak kaku.
"Kalau begitu Saya pergi cari, permisi Tuan dan nyonya!"
"Iya Pak!"
"Semangat Pak!"
"Yey ... Main lumpul lagi!"
Akhirnya Pak Teguh pun meninggalkan keluarga Tuannya, menuju ke arah lokasi dimana biasa katak tinggal.
Sementara Pak Teguh mencari katak , ketiga keluarga ini pergi ke penginapan untuk membersihkan wajah dan tubuh mereka.
"Dadd!" panggil Gavriel yang saat ini ada di genggaman tangannya.
"Heum?" gumam Dirga pelan.
"Ada kolam berenang?" tanya Gavriel penasaran.
"Tidak ada-
"Y-
"Tapi boong, yey ada yang kecewa!" lanjut Dirga menggoda Anaknya, yang tadinya cemberut memasang wajah berseri-seri saat mendengar kata kolam renang.
"Berena-
"Sudah sore, kalian besok harus sekolah lagi," ujar Dirga menyela ucapan Sang putra, yang sudah Ia tahu dengan jelas apa.
"Bhuu! Tidak seru," ujar Gavriel kecewa.
Dirga terkekeh di sepanjang perjalanan, Ia menepuk kepala anaknya sayang lalu melanjutkan ucapannya.
"Liburan minggu depan bagaimana?" tanya Dirga.
"Janji?"
"Hum .... Janji!" balas Dirga tersenyum kecil.
"Asik!!!"
"Gendong Dadd!"
"Ish ... Kamu sudah besar,"
"Dadd!!"
"Oke, fine,"
"Yuhuuu!!!!"
"Daddy, kenapa hanya Mas. El itut gendong!"
"Tidak boleh!"
"Momm!!!"
"Oke, kemari lill Princess!"
"Yey ... Gendong juga!"
"Huh, dasar iri saja,"
"Bialin, bleee!"
"Dasar kalian ini,"
"El Sayyyyaaangg .... Daddy,"
"Pintar merayu, seperti Mommy,".
"Hi-hi-hi!!"
"Apa sayang, bisa ulangi?"
"He-he-he ... Mommy cantik,"
"Apa?"
"Mommy ikutan minta gendong juga deh,"
"Yey ... Gendong semua!!"
"Yank berat loh!!!"
"Kamu nggak mau gendong Aku?"
"Bukan gitu, kan Ak-
"Alasan saja,"
"Tapi-
"Gendong,"
"Ya Lord!!!"
"Hi-hi-hi!!!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
Masih sisa satu episode, edisi liburan singkat ala keluarga cemara ...
__ADS_1
Sampai babai