
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Bar Galaxy kota S
Sekitar 30 menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Dirga, dengan Dani sebagai sopir, sampai di parkiran khusus Bar Galaxy.
Gav yang kali ini ikut, memandang sekitar dengan bingung. Saat wajahnya di tutup oleh Sang Daddy, menghadap ke dalam dada.
" Da da,"
" Sudah sampai sayang, Gav jangan nangis yah, Mommy nggak ada," sahut Dirga. Saat Sang anak, memanggilnya dengan nada takut.
Sepanjang perjalanan Si buntal kiddo ini, melanjutkan bobok tamvannya,jadi Dia tidak melihat jalan yang di lalui.
Gav saat ini sudah ber-usia 11 bulan, kurang 1 minggu, Anaknya sangat aktif, maksudnya aktiv sebagai biang onar.
" Ung, hi hi "
Dirga terkekeh, saat mendengar kekehan dari Sang anak. Ia menundukkan wajahnya, ke arah di mana Anaknya sedang mengemut jempol, meninggalkan jejak basah di kemeja yang Ia pakai saat ini.
Hodie berwarna putih, yang di pakai Gav saat ini mampu menutupi wajah Sang anak. Sehingga Ia tidak perlu khawatir, wajah Sang anak terlihat, apalagi di tempat seperti ini.
" Ga, Faro bilang sebentar lagi sampai, Dia nanya kumpul di kamar siapa?" ujar Dani bertanya.
" Gue, kamar Gue," balas Dirga singkat.
Dani segera menghubungi Faro, dengan setia mengikuti langkah Sang Bos, yang jika di luar adalah sahabatnya.
Di pintu ada penjaga, dari kelompoknya. Orang-orang hebat, dengan kemampuan bela diri dan material art yang mumpuni.
Sebenarnya, meski tidak mengikuti cara kerja dunia bawah, Dirga sendiri memiliki anggota pelindungnya sendiri. Menjaga dalam bayangan, di saat Ia sedang ada di luar daerahnya.
Dirga hanya mengangguk, saat kedua penjaga membungkuk hormat ke arahnya, lalu melanjutkan langkah kakinya dengan lengkah lebar. Ingin segera sampai, agar Anaknya cepat berada di wilayah aman.
Ceklek
Dani membukakan pintu kamar milik Dirga, mereka masuk dengan segera lalu menutup pintu pelan.
Sesampainya di dalam, Gav segera di turunkan dan di dudukan di Sofa dengan selimut putih menutupi, maklum sudah lama mereka tidak berkumpul.
Gav dengan segera, jelalatan ingin melipir kesegala arah, saat Ia turunkan.
" Da da, ain,"
" Main? Yah, Daddy lupa bawa mainan Kicik, main sama Unkel Dani dulu ya! Bisa jadi kuda-kudaan loh," ujar Dirga santai.
" Pegel woy, nanti dulu. Rebahan sebentar," sahut Dani ketus. Saat namanya di sebut-sebut sabagai kuda-kudaan, di iringi kekehan edan dari Bos-nya.
" Kenapa nggak Dia aja, yang jadi kuda," batin Dani kesal.
Menyetir dari kota satu ke yang lainnya, dalam waktu bersamaan, siapa yang tidak merasa pegal di pinggang, heum ...
" Belum lagi ngurus ini itu, dasar Setan-nya kumat gitu tuh, anak orang di pukulin," lanjut Dani masih dalam batin.
Dani segera memejamkan matanya, mengistirahatkan pinggang dan punggungnya yang kaku, efek menyetir jauh.
Meninggalkan Dirga yang menggerutu, kesal saat ranjang miliknya, di invasi oleh tangan kanannya sendiri.
__ADS_1
" Tidur di rumah sana, potong juga nih bonus-nya," seru Dirga sewot.
" Bodo Ga," sahut Dani. Sebelum benar-benar meninggalkan Dirga, menuju alam mimpi dengan dengkuran halus.
Tidak lama, pintu terbuka. Di susul Faro dan Raka, yang masuk dengan raka menggendong Bayi Ez dalam gendongan monkey-nya.
" Yo," sapa Raka singkat. Cengiran lebarnya berubah jadi ringisan, saat Sang anak menampol pipinya dengan bunyi kuat.
" Yah, salah Pipi ( papa) apa sih kiddo?" seru Raka gemas. Namun hanya kikikan yang di dapat, dari Bayi laki-laki ber-usia 5 bulan tersebut.
Hi hi ni ni ni
" Si Selebor nggak marah, Ez di bawa Ka?" tanya Dirga heran. Saat melihat ponakannya, di bawa keluar oleh sahabatnya.
" Si lebor lagi ada perlu, nggak ada di rumah," balas Raka. Ia meletakkan Ez, yang langsung tengkurap saat melihat ada kakak sepupunya, sedang duduk melihatnya dengan cengiran senang.
Hidungnya mirip sekali dengan Amira, namun cengirannya persis seperti Raka. Lebar dan ceria, meski belum se-aktif Gav, tapi Ez sudah bisa tengkurap dengan waktu lama.
" Queeneira mana?" tanya Dirga singkat. Faro datang sendiri, lengkap dengan tas kerjanya. Sepertinya baru pulang, dari menangani kasus.
" Lagi di rumah kung-kung ( kakek ), Gue juga nggak pulang ke rumah, langsung ke sini," balas Faro menjelaskan.
Faro segera berjalan, mendekati Gav yang saat ini sedang menarik-narik topi beruang milik sepupunya, membuat kedua bayi beda usia itu terlibat cek-cok dengan bahasa bayi yang tidak di mengertinya.
" Yo, calon mantu. Apa kabar Gav, besok main sama Queene yah di rumah," seru Faro semangat. Mengangkat Gav ke pangkuannya, menuai protes dari Ez, yang merasa teman geludnya di culik darinya.
Na na na na huuuu
" Yah Ez, Unkel kan cuma gendong bentaran," sahut Faro. Ia terkekeh, saat melihat raut wajah tidak terima, dari bayi yang baru menginjak umur 5 bulan kurang ini.
Faro pun meletakkan lagi, calon menantu sepihaknya kembali di samping Kiddo, hasil cocok tanam sahabat edannya.
Sedangkan Dirga, saat ini sedang membangunkan tangan kanan kurang ajar-nya, yang malah enak-enakan tidur.
" Elah Ga, baru juga merem," ujar Dani kesal. Tapi langsung bangun, saat merasa tatapan setan dari Bos-nya, yang sudah lama tidak mengeluarkan tatapan seperti itu.
" Oke, Gue bangun," lanjut Dani segera.
Akhirnya mereka ber-empat, membahas masalah yang sedang di hadapi oleh Dirga, kali ini dengan serius.
" Berkasnya mana?" pinta Faro singkat.
" Ini berkasnya," ujar Dani. Ia mengulurkan Map berwarna coklat, yang di terima langsung oleh Faro.
Suasana pun menjadi tegang, saat mereka bertiga melihat ke arah Faro, yang saat ini fokus membaca berkas perkara. Karena memang ini bukan bidang ketiganya, jadi mereka hanya bisa diam, mengikuti apa yang akan di katakan oleh Faro sebagai ahli di bidangnya.
Suara cekikikan Duo bocil, setidaknya membuat ruangan itu tidak seperti kuburan. Karena orang dewasa di sana sedang serius, menanti perkataan Faro, yang akhirnya mengangkat wajah ke arah mereka.
" Gue udah baca, klasik banget tuduhan penganiayaan. Apa Dia ini nggak sadar yah, Lu kan Laki-nya Bini Lu, ya wajar aja marah," ujar Faro santai. Baginya kasus seperti ini, hanya se ujung kukunya.
" Pada pasal-pasal KUHP, contohnya Pasal 351 ayat 1 penganiayaan diancam penjara paling lama 2 tahun 8 bulan, dan denda 4500 rupiah, " lanjut Faro menjelaskan. Ia melihat ke arah Dirga, yang mengangguk kepala mengerti.
" Banding aja," ujar Faro. Saat ketiganya menunggunya selesai berbicara.
" Ka, udah di Copy kan rekamannya? " Lanjutnya. Bertanya kepada Raka, yang mengangguk kepala.
" Sip," seru Raka. Dengan jempol teracung, sedangkan Dirga hanya bisa mengangkat alis bingung.
" Apaan sih pada, Gue nggak ngerti?" tanya Dirga penasaran.
" Yang jelas, banding nanti kita menang," balas Faro misterius.
" Tapi Ga, bukan masalah hukum sebenarnya, yang mesti Lu khawatirin," ujar Raka serius.
__ADS_1
" Gue tahu, Gue juga denger Jaya Dharma abu-abu. Ada yang bilang Dia juga main di bawah," balas Dirga tidak kalah serius.
" Iya, kita nggak tahu. Ini hanya sekedar jebakan atau apa, karena dari tuntutan seharusnya mereka sadar, penganiayaan bukan hal yang berat." sahut Faro curiga, Ia merasa aneh saja, seharusnya keluarga Dharma tahu Wijaya siapa.
" Sebaiknya Lu hati-hati Ga, bayangan gelap punya Jaya Dharma banyak yang tahu, tapi sama sekali nggak ada yang ganggu. Terakhir dapet kabar, mereka bahkan ngebantai perusahaan saingan, waktu kalah tender. Tapi sayang banget, Back up-nya kuat jadi hukum juga lewat," jelas Raka. Ia tahu informasi ini dari teman gelap, di dunia bawah.
" Gue ngerti, Gue juga udah kasih tahu FCA buat jaga-jaga di sekitar rumah. Kalau Mansion sih nggak khawatir, sistemnya lebih canggih," balas Dirga dengan sikap tenang.
" Beritanya juga udah keluar, ada pro dan kontra. Banyak yang setuju dan ada yang menghujat, bilang Lu nggak manusiawi mukulin orang, padahal ceritanya nggak di beberin. Hanya ada berita inti tanpa penjabaran, seakan-akan Mereka mau Lu jelek di mata masyarakat," ujar Dani. Ia memutar Laptop yang sedang menampilkan berita, tentang kejadian di Taman saat insiden perkelahian.
Mereka semua melihat, membaca mulai dari judul dan isi berita yang membuat Dirga mendengus geli.
" Cabut beritanya, nggak perlu tuntut, asal mereka meluruskan berita itu, lepas," ujar Dirga ambigu. Namun di mengerti oleh Dani, yang segera mengerjakan tugasnya.
" Biasanya pemegang saham ribut, kalau ada hal begini, gimana perusahaan Ga?" tanya Faro. Ia melihat raut wajah Dirga yang sedikit keruh, sepertinya tebakannya tidak meleset.
" Kemarin udah di bahas, ada penurunan harga saham. Gue heran, yang begini di jadiin alesan mereka buat jatuhin orang. Sial," balas Dirga muram.
Pemilik saham sempat protes, saat Ia tersandung kasus yang melibatkan hukum. Mereka menilai jika masalah hukum, bisa mempengaruhi jatuhnya nilai saham mereka di dunia.
Itulah sebabnya, Dirga lebih memilih memakai kekuasaannya ketimbang otot, jika ada masalah. Ia baru ini melakukan tindakan kekerasan, yang berujung ke Meja Hijau.
" Apa selain ini, Lu pernah punya urusan sama Jaya Dharma Ga?" tanya Raka serius.
" Kalau nggak salah, waktu pembangunan jalur MRT dari perusahaan swasta. Dana-nya lumayan banyak, orang atas pilih jasa konstruksi Wijaya dari pada Dharma," balas Dirga mengingat.
Kejadian sudah lama, tepatnya sebelum Ia menikah dengan Kiara, ada proyek pembangunan dan Ia memenangkannya.
" Sepertinya mereka cari perkara sepele, untuk dapet tangkapan besar. Intinya Lu hati-hati Ga, jangan lepas dari bayangan," ujar Raka menebak.
" Hn, Gue rasa begitu," balas Dirga singkat.
" Oke, sidangnya bulan depan. Karena kasusnya melibatkan Dua nama keluarga besar, sepertinya nanti akan ada banyak yang melihat," seru Faro mengingatkan. Ia memberi kode, yang di jawab anggukan kepala mengerti dari Dirga.
" Hn, Gue atur penjagaan," balas Dirga mengerti.
Setelahnya, mereka kembali ke kegiatan masing-masing. Faro yang mengurus berkas perkara, Dani yang tidur lalu Dua Daddy yang kembali bermain bersama anak kesayangan mereka.
Perusahaan Jaya Dharma
Di ruangan Si pemilik perusahaan, sedang ada beberapa orang berkumpul. Membahas masalah yang di lakukan Sang anak, yang baru beberapa bulan ini pulang ke Kota S, setelah mendapat hukuman darinya.
" Secantik apa Istri dari Wijaya itu, sehingga kamu bisa terlibat perkelahian?"
Richard hanya diam, saat mendengar pertanyaan dari Sang Papa, meski suaranya santai tapi Richard tahu, jika Sang Papa sedang senang.
Senang saat mendapat kesempatan, bisa mengusik ketenangan keluarga Wijaya, yang terkenal dengan segalanya.
" Cantik sekali, Papa juga bakal ngiler melihatnya," balas Richard dengan senyum ganjilnya.
" Kalau gitu, kita bisa berbagi. Heh ... Anakku?" seru Si Papa, yang di balas senyum miring dari seorang yang di panggil anakku.
" Kita bisa ......
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
FCA \= Federal Criminal Agency
Ikuti kisah selanjutnya...
Jangan lupa komentar dan klik jempol nya yaaa...
Serta vote dukunganya....
__ADS_1
Sampai babai
Terima kasih