Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Kakek berkunjung


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


3 bulan kemudian


Sudah lebih dari 3 bulan sejak kejadian Anita, Kiara tidak mengambil lagi tambahan pembantu, untuk merawat Gav yang sekarang berusia 9 bulan. Ia di bantu oleh Mama dan Mami, yang merasa bersalah. Karena bagaimana pun, mereka juga ikut andil dalam pemilihan Para pekerja di rumah Anak mereka.


Sebenarnya hampir tiap hari juga, mereka berkunjung saat masih ada Anita bekerja. Tapi mereka tidak menyangka, akan ada kejadian seperti ini. Padahal di Mansion pun ada pembantu, yang usianya sama dengan Anita. Tapi karena Anaknya tidak tinggal di Mansion, kejadian seperti ini tidak sampai terjadi.


Di ruang tamu ada 2 Buyut,yang hari ini datang berkunjung main bersama Gav. Setelah beberapa bulan kemarin ada perjalanan bisnis di Eropa, sebenarnya sekalian Jalan-jalan juga sih. Sehingga membuat Sang Suami, harus merelakan dirinya bolak-balik antara satu perusahaan ke perusahaan lainya. Untuk melihat lokasi atau menghadiri meeting kerja sama, serta urusan yang berhubungan dengan pekerjaan 2 kakeknya.


Gelak tawa memenuhi ruang tamu, saat mereka melihat Gav yang sudah bisa merangkak. Melipir kesegala arah, ke setiap sudut batas Matras menggunakan pagar yang di pasang pembantunya.


Bhuu bhu bhu


Celotehan Gav mendominasi, membuat kedua Kakeknya geleng kepala. Lucu dengan tingkah balita yang saat ini sedang mencoba berdiri, berpegangan pada pagar pembatas namun jatuh lagi.


" Haha ... Popoknya keberatan ya kicik? Jatuh lagi, kasian Pipitnya Uyut." Seru Kakek Bagus, mengangkat Gav ke pangkuannya.


" Gav kita bawa ke luar dulu yah, Yaya sayang." ujar Kakek Bakrie. Membuat Kiara yang sedang duduk di sofa, memperhatikan tingkah Sang anak mengernyit bingung. Ia melihat ke arah kedua Kakeknya, dengan kening berkerut lucu.


" Mau kemana Kek?" tanya Kiara bingung.


" Jalan-jalan, ke rumah teman Kakek. Kumpul dengan sahabat kakek, kebetulan hari ini ada reuni." balas Kakek Bakrie, yang di dukung anggukan kepala dari Kakek Bagus.


" Iya, kamu santai saja di rumah." Sahut Kakek Bagus. Ia melihat Cucunya yang mengangguk, tapi masih menampilkan raut wajah bingung.


" Tapi, kalau nanti Gav Pup. Emang kakek bisa mengganti popoknya? Yaya takut merepotkan Kakek." balas Kiara, bertanya kepada Kedua Kakeknya yang tersenyum.


" Gampang, jangan fikir itu. Kakek bisa kok. Kamu tenang saja, dulu kan Kakek pernah ngurus Kamu juga. Masa Kamu lupa! " seru Kakek Bagus meyakinkan.


Kiara akhirnya mengangguk, memperbolehkan Kedua Buyut membawa Gav keluar. Emang sudah biasa sih, Gav pergi ke luar bersama Oma atau Eyang putrinya. Tapi kan beda, perempuan dan Lelaki beda cara mengasuhnya.


" Gav, aktif banget loh Kek. Nggak apa-apa nih?" tanya Kiara sekali lagi.


Kedua Kakek itu mengangguk mendengarnya, serta menyanggupi pertanyaan Cucunya.


" Nggak apa-apa Yaya" balas Kakek Bakrie singkat.


" Nanti kalau encoknya kambuh, jangan ngambek yah!" seru Kiara, menahan kikikannya saat Kedua Kekeknya melotot kesal ke arahnya.


" Cucu jahil, awas kamu. Dirga akan kakek tugaskan ke Madagaskar, biar Kamu tidur sendiri." ujar Kakek Bakrie, menggoda Kiara yang langsung memeluknya. Menyender manja, merayu dengan nada manis di buat-buat.


" Yah, Kakek tampannya Yaya. Tega banget sama Yaya, nanti Yaya sama Gav kesepian. " rayu Kiara manja, mengedipkan matanya imut. Membuat Kakek Bagus pun, mendengus dengan senyuman di bibirnya.


" Lihat saja nanti, Kakek ...


" Kakek, hari ini cuaca cerah. Bukankah kakek bilang, ingin membawa Gav ke acara reuni?" potong Kiara cepat, memandang Kakek Bakrie dengan senyum lebar.


Kakek Bagus, yang melihat Cucunya sedang merayu Bakrie pun tertawa kecil. Temannya yang kaku, bisa rileks dengan Cucu kesayanganya. Beda sekali kalau sedang berhadapan dengan Dirga, padahal yang Cucu aslinya adalah Dirga. Tapi malah songong dan keras, apa karena Dirga lelaki serta pewaris Perusahaan. Sehingga perlakuannya berbada? Entahlah ... Karena Ia juga sama, memperlakukan itu terhadap Fandi anaknya.


" Hmm ... Baiklah, karena kamu berhasil merayu Kakek. Kakek batalkan penugasannya, sekarang kamu siapkan peralatan Gav. Kakek tunggu di sini, jangan lama-lama yah." ujar Sang Kakek berpura-pura cuek, padahal dalam hati sudah tertawa. Senang saat melihat Sang Cucu menyerah, Ia juga menikmati sikap manja Cucu menantunya.


" Oke, siap kapten." balas Kiara, berdiri dari duduknya. Kemudian melenggang pergi ke arah kamar Gav berada, meninggalkan Kedua Kakek yang terkekeh.


" Dasar, padahal kamu nggak pernah tuh manja-manjaan sama Cucu sendiri. Kenapa sama Cucuku malah jahil? Kurang bahagia yah waktu muda dulu." ujar Bagus, meledek Bakrie yang malah tertawa alih-alih tersinggung. Karena emang kenyataan benar, jadi Ia pun menyetujinya.


" Kamu nggak tahu saja, sejak umur 6 tahun Dirga sudah tertarik dengan dunia bisnis. Jadi aku melihat ekspresi manisnya, terakhir adalah waktu umur 5 tahun lebih 8 bulan." balas Bakrie santai, dengan kekehannya.


" Emangnya Kamu akan tertawa, melihat anak umur 6 tahun menampilkan raut wajah datar? Yang ada mau nampol. " Lanjutnya, membuat Bagus ikut terkekeh. Ia tidak menyangka, dari kecil ternyata Cucu menantunya sudah memiliki ekspresi datar seperti papan.


" Yah, salah aku juga sih waktu itu. Karena mengetahui bakat bisnis Dirga yang kuat, sehingga dari kecil juga, sudah Aku persiapkan untuk menjadi pewaris Perusahaan." gumam Bakrie menyesal, melihat ke arah Cicitnya yang memandang Ia polos


Bhuu nu nu buuu

__ADS_1


" Iya, Buyut salah. Tapi Gav tenang saja, apa yang di rasakan oleh Daddy Gav. Nggak akan di rasakan oleh Gav, Buyut janji." Sahut Bakrie, saat melihat Cicitnya berceloteh ke arahnya.


" Kamu memang kejam" ledek Bagus, menuai gerutuan dari Bakrie yang tidak terima.


" Biar saja, tapi Aku Buyut kaya. Tidak seperti kamu, Buyut misqueen. Gav Wijaya, selanjutnya Kamu yang akan jadi penguasa dunia bisnis. Mengganti Buyut keren mu ini, tidak seperti Uyut yang itu tuh." ujar Bakrie, meledek Bagus balik. Sehingga terjadilah pertengkaran ala aki-aki reot, yang tidak ada ujungnya.


Bhuuuu ahi hi ba ba


" Yah, Cicitku memanggil Aku ba ba." Seru Bakrie heboh, tentu saja langsung di sanggah oleh Bagus.


" Enak saja, jelas- jelas memanggil Aku." ujar Bagus tidak terima.


" Akui saja, sobat misqueen."


" Ngaj ...


" Ya ampun kakek"


Kiara yang mendengar pertengkaran sudah biasa antara Kedua Kakeknya, segera melerai Keduanya. Tapi anehnya malah membuat Gav tertawa senang, bertepuk tangan girang dengan tubuh melonjak semangat.


Bhuu tu tu baaaaa


" Yah sayang, kenapa di kasih semangat?" sahut Kiara, melihat ke arah Anaknya yang tertawa senang.


Kiara menghela nafas lelah, tapi ikut tersenyum saat melihat ketiganya cekikikan bareng.


" Cicitku pintar" seru Bagus, mengusap kepala Gav yang ada di pangkuannya.


" Cicit kita, sembarangan." Sahut Bakrie sewot. Menuai dengusan tidak perduli dari Bagus, sahabat songongnya memang nyebelin.


" Ya ya ya, Cicit kita." balas Bagus, dengan nada cuek.


" Ya ampun, seperti anak kecil saja." batin Kiara lelah, namun tidak menyangkal ada rasa bahagia di hatinya.


" Semoga kalian sehat terus yah, kakek" Lanjutnya masih dalam batin. Tersenyum lebar, kemudian mencium kedua pipi Kakeknya.


" Ada apa Yaya sayang?" tanya Bagus heran, Ia senang kok mendapatkan kecupan dari Cucunya.


Sedangkan Bakrie, melihat Kiara dengan hati terharu. Kecupan penuh sayang dari Cucu menantunya sangat lembut, membuatnya nyaman dan senang di saat bersamaan.


" Yaya sayang sama Kakek, sehat terus yah. Biar Bisa temenin Gav main, biar bisa nemenin Yaya di saat Dirga kerja. Dan bisa melindungi Gav dan Yaya, sampai akhir hayat nanti." ujar Kiara, dengan mata berkaca-kaca sedih.


Saat melihat Cucunya hampir menitikan air mata, membuat Bakrie dan Bagus ikut sedih. Tapi mereka tidak boleh ikut menangis, jika tidak mereka gagal dan akan membuat khawatir cucu kesayangan mereka.


Melihat situasi ini bahkan Gav pun turut diam, memandang ke arah Mommynya dengan mata bulat menahan tangis.


Hiks hu huweeee tu tu bhuuu


Kiara segera menghapus air matanya, yang hampir saja terjun bebas. Ia memasang senyum lebar, membawa Gav ke dekapannya. Kemudian menepuk bokong serta mengusap sayang kepala anaknya.


Hu huww huu tu tu


" Cup ... Cup, ssssttt ... Mommy salah. Mommy nakal yah, maafin Mommy yah. Bentar lagi Kicik mau jalan-jalan loh, masa nangis? nanti nggak tampan lagi loh." bisik Kiara, menenangkan Gav yang terisak di pelukannya.


" Gav Cicit Buyut, jangan nangis yah. Yuk kita berangkat, nanti ada teman bayi juga di sana." bujuk Bakrie, ikut mengusap punggung Sang Cicit guna meredakan isakannya.


Hu hu huw


Bagus yang duduk di samping kiri Kiara, juga ikut menepuk-nepuk bokong Cicitnya. Ia tidak tega melihat Gav yang tadi cekikikan, sekarang menangis tersedu-sedu. Seakan ikut merasakan, kesedihan Sang Mommy yang tadi hampir menangis.


Sekitar 15 menit, barulah tangisan Gav reda itu juga karena tertidur. Membuat ketiganya menghembuskan nafas lega, lebih baik melihat Gav tertawa senang dari pada menangis seperti tadi.


Kejadian ini jadi pelajaran untuk ketiganya, jika saat ini Gav sudah bisa merasa dengan keadaan sekitar. Kedepannya mereka akan hati-hati, jika sedang membahas masalah hal sensitif seperti tadi.


" Gavnya tidur, apa lain kali saja kakek ajak mainnya?" tanya Kiara, berbisik pelan agar Sang anak yang sedang tertidur pulas tidak terbangun.


" Apa boleh buat, sepertinya besok-besok lagi saja main bersamanya. Biarkan Gav tidur saja, Kami pergi berdua saja ke acaranya." balas Kakek Bakrie maklum.


" Kakek pulang dulu, kamu juga istirahat. Jaga kesehatan, jangan terlalu lelah." Sahut Kakek Bagus, mengusap rambut Kiara sayang.

__ADS_1


Kiara mengangguk, lalu tersenyum lebar.


" Iya kek, kakek berdua juga hati-hati di jalan yah. Maaf seharusnya kalian berenang-senang, malah batal gara-gara Yaya. " ujar Kiara menyesal, Ia memandang Kedua Kakeknya dengan sorot mata bersalah.


" Tidak, ini bukan salah kamu. Kakek akan jaga kesehatan Kakek, agar bisa melihat tumbuh kembang Gav. Cicit kakek tercinta, dunia Kakek yang kalabu jadi berwarna karena tawa Gav." balas Bakrie, menepuk kepala Kiara lembut.


" Cucu kesayanganya Kakek, apapun untuk kalian. Jika kesehatan yang Yaya inginkan dari kakek, kakek akan mengabulkannya." Sahut Kakek Bagus, menimpali ucapan sahabatnya.


" Terima kasih Kakek, Yaya sayang kalian." balas Kiara. Ia menerima kecupan sayang di kepalanya, sebelum Kedua keduanya meninggalkannya.


Skip


Dirga pulang jam 7 malam, dengan badan letih luar biasa. Ia hari ini menghadiri rapat, untuk pembuatan film. Ia sedang mencoba mengepakkan sayapnya, di dunia perfilman. Meski tidak ikut terjun langsung, Ia hanya sponsor dalam proyek pembuatan layar lebar dengan Genre Laga dan Romantis.


" Assalamualaikum, Daddy pulang. Kecup-kecupnya nggak ada nih? Daddy kangen loh." Seru Dirga semangat seperti biasa, melupakan rasa lelahnya.


" Waalaikum salam, yey ... Daddy pulang. Gav dan Mommy kangen loh, sini Gav kasih kecup basah." Sahut Kiara menyambut kedatangan Suaminya, dengan senyum lebar beserta tawa dari Anaknya.


Hi hi hi bhuuu da da


Rasa lelah Dirga luruh seketika, saat melihat senyum lebar dari kesayanganya. Bahunya yang tadi melorot lesu menjadi tegap kembali, saat melihat Gav yang mamanggil Namanya.


Bhuu da da ndong


Gav bukan saja sudah bisa merangkak, namun juga bisa mengatakan sepatah dua patah meski tidak jelas tapi di pahami mereka.


" Hahaha ... Oke oke, Daddy mandi dulu. Nanti gendong Kicik yah, got it?" sahut Dirga, setelah terkekeh senang. Ia mendapatkan sambutan hangat, apalagi bonus kecupan sayang dari Sang Istri. Membuatnya 2 kali lipat senang, balik mengecup kening Istrinya sayang.


Mereka berjalan bersama, menuju kamar ruang tamu. Dengan Kiara yang menunggu duduk di sofa, sedangkan Dirga lanjut naik ke atas. Menuju kamarnya berada, membersihkan tubuhnya agar bisa segera bermain dengan Sang Anak yang sangat di rindukannya.


Pukul. 23:00 WKS.


Gav baru saja tertidur, setelah puas mengerjai Sang Daddy toyyib, dengan mengacak-acak kertas yang ternyata berkas kerja sama.


Salahnya sih, memangku Sang anak duduk di depan meja kerjanya. Alhasil saat Dirga meleng sibuk membaca, Sang Anak dengan santainya menarik tumpukan berkas yang ada di meja.


Dirga tertawa, saat melihat sang anak yang malah bengong. Menghadap ke arahnya, dengan raut wajah polos lengkap dengan cengiran mirip Sang Istri.


Seriusan, wajah 100% turunan darinya. Tapi kelakuan dan ekspresi mirip sekali dengan Sang Istri yang sekarang sedang duduk di sofa single. Melihat ke arahnya yang saat ini sedang rebahan, setelah capek membereskan kekacauan Anak Buntalnya.



" Hahaha ... Kasihan banget Daddy, mau marah tapi sayang anak sendiri." Seru Kiara menggoda Sang Suami, yang saat ini sedang melihat ke arahnya dengan senyum kecil.



" Biasa aja tuh, masa baru yang seperti ini saja marah. Bagaimana nanti Gav sudah bisa berjalan, lalu melakukan yang lain yang pastinya membuat aku geleng kepala." balas Dirga santai, tangannya menepuk-nepuk kasur di sebelahnya yang kosong. Kode untuk Sang Istri, agar segera pindah ke sebelahnya.


Kalian juga bisa mengartikan kode minta di manja.


Ehem ...


" Kenapa?" tanya Kiara, setelah rebahan nyaman, di samping Suaminya yang segera mendekapnya erat.


" Besok kita ....


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya yaaaa....


Jangan lupa komentar dan klik jempolnya...


Serta vote dukunganya...


Sampai babai


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2