
Season dua
Selamat membaca
Referensi lagu untuk part ini, Exo__Universe.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
SMA TRISAKTI KOTA S
Ini bukan lah hari pertama mereka masuk sekolah, tepatnya ini adalah minggu kesekian mereka sudah aktif lagi belajar di sekolah.
Kehidupan dan kegiatan tiga sahabat ini juga tidak jauh berbeda, dengan apa yang sudah mereka lalui bersama dulu.
Masih bersama di sekolah atau juga pulang bersama, hanya kegiatan ketiganya yang sudah mulai berubah. Bukan hanya dari segi pelajaran, tapi ekstrakulikuler juga yang mereka ikuti, serta masuknya dua orang asing di tengah lingkaran persahabatan mereka.
Meskipun begitu, ketiganya masih menyempatkan diri juga untuk berkumpul dengan Selyn, yang juga sedang sibuk menyiapkan program akselerasinya.
Sepertinya bungsu atau adik dari Gavriel ini sangat bersemangat, untuk segera menyusul ketiga kakaknya.
Pukul masih menunjuk waktu tujuh pagi, tapi sudah banyak siswa dan siswi yang datang, dengan atau tanpa kendaraan mereka.
Di antara banyaknya siswa-siswi yang berjalan di halaman, lorong, juga di parkiran sekolah. Ada Gavriel dan Ezra, yang berjalan dengan Queeneira di tengah. Ketiganya adalah yang paling bersinar, di antara siswa-siswi lainnya.
Gavriel berjalan dengan tangan kanan masuk di saku celananya, memandang sekitar datar dan juga hanya mengangguk sambil mengangkat tangan, saat teman atau juga fansnya menyapa ramah kepadanya.
Queeneira yang ada disamping Gavriel, hanya melihat dengan gelengan kepala, saat tidak ada sedikitpun yang berubah dari sikap Gavriel. Masih saja dingin, namun tetap menjadi seseorang yang di kagumi.
"Awas, Que. Kepalanya lepas," ledek Ezra, yang tahu jika sahabat perempuannya diam-diam melirik ke arah sepupunya.
Queeneira hanya melirik sekilas ke arah Ezra, lalu melengos setelah melempar ledekan untuk sahabatnya tersebut.
"Bisa di sambung lagi, blee!"
Grep!
"Bisa beli yang baru," sahut Ezra dengan santai memeluk bahu Queeneira, tanpa tahu jika perbuatannya membuatnya sepupunya menahan diri, agar tidak segera memindahkan tangan itu ke tempat semula.
"Ck ... Ezra bodoh," batin Gavriel mendengkus kesal.
Disaat mereka sedang berjalan, hampir sampai di lorong depan kelasnya, tiba-tiba terdengar seruan memanggil dari arah belakang mereka, disusul dengan seorang kakak kelas yang berjalan santai ke arah ketiganya.
"Que! Selamat pagi!" sapa kakak kelas itu, siapa lagi kalau bukan Ge, sehingga satu dari ketiganya merasakan perasaan kesal, namun ditahannya.
Tentu saja ia menahannya, saat dirinya sudah berjanji akan mencoba mengikhlaskan sahabatnya dekat dengan yang lainnya, tak terkecuali kakak kelas mereka.
"Selamat pagi, kak!" balas Queeneira, dengan senyum kecil saat kakak kelasnya menyapa ia dengan senyum lebar seperti biasa.
"Selamat pagi juga, kalian berdua," lanjut Ge menyapa Gavriel dan Ezra, dengan nada berbeda saat menyapa Queeneira, yang diam-diam terkekeh ketika melihat ekspresi wajah kesal Ezra, sedangkan Gavriel seperti biasa sama sekali tidak berubah meski ada kerutan kecil di dahinya.
Kerutan yang sebenarnya tidak terlalu terlihat, tapi cukup membuat Queeneira paham, jika Gavriel juga kesal.
"Hn."
"Pagi."
"Ck, di sapa malah reseh," dengkus Ge kesal. Ia pun mengangkat bahu acuh, berusaha tidak peduli.
"Gk minta di sapa," sahut Ezra dengan siulan pelan sambil melengoskan wajahnya, membuat Queeneira, yang melihat ekspresi kesal di tahan kakak kelasnya terkekeh kecil.
"Astaga! Kalian ini bisa tidak akur sebentar, pasti akan sangat keren jika kalian bisa jalan bersama," ucap Queeneira dengan kekekahnya, membuat Ge yang melihatnya tentu saja senang, sama halnya dengan Gavriel, yang diam-diam merekam setiap kekehan yang keluar dari bibir mungil sahabatnya.
"Mimpi Que, sampai kupu-kupu berubah jadi kepompong, aku ogah jalan sama kakak kelas ini," sahut Ezra dengan kejujuran haqiqi yang ia punya. Menolak tegas usulan sahabatnya, yang semakin tertawa karena ucapan konyolnya.
"Nggak pernah belajar ilmu pengetahuan alam yah? Dimana-mana kepompong dulu baru kupu-kupu, adik kelas durhaka," tandas Ge dengan gemas, menuai jawaban cepat dari Ezra yang memberikan dua jempol untuknya.
"Cakep! Pinter kak! Artinya itu tidak akan terjadi."
"Aish! Ngaja-
"Stop! Oke guys ... Jangan bertengkar, lihat, banyak yang melihat ke arah kalian," lerai Queeneira, saat sahabat dan kakak kelasnya bersiap untuk gelud.
"Lagian sebentar lagi sudah waktunya bel berbunyi, sebaiknya kita masuk kelas. Dan kakak juga, nanti telat," lanjut Queeneira mengingatkan, saat benar murid lainnya melihat ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
Sebenarnya bukan hanya tatapan penasaran, tapi juga berbinar saat tiga laki-laki favorit sekolah mereka kumpul jadi satu.
Ge yang mendengar perkataan Queeneira pun melihat sekitarnya, kemudian melihat ke arah Queeneira lagi, baru lah ia pamit untuk kembali ke kelas sendiri.
"Kalau gitu gue ke kelas, nanti istirahat gue ke sini lagi," ujar Ge berpamitan kepada Queene, yang mengangguk menjawab kalimat darinya.
__ADS_1
"Um ... Oke."
Kemudian Ge pun meninggalkan depan kelas adik kelasnya, berjalan santai menuju arah kelasnya sendiri berada, tepatnya di lantai tiga, sedangkan lantai dua adalah ruangan untuk kelas tiga.
Mereka terlihat akrab akhir-akhir ini, benar, tepatnya saat mereka bertemu kembali dari liburan, tepatnya hari pertama mereka masuk sekolah.
Sepeninggalnya si kakak kelas, Queeneira pun melangkahkan kakinya lebih dulu ke dalam kelas, disusul oleh Ezra baru kemudian Gavriel, yang kali ini harus menunda langkahnya, membalikkan tubuhnya lagi saat seseorang memanggil namanya semangat.
"Gav!"
"Kei."
Tap!
Dengan senyum cerahnya, seseorang yang dipanggil oleh Gavriel Kei ini akhirnya sampai juga di depannya.
"Selamat pagi! Kamu masih belum masuk kelas?" sapa dan tanya Kei, menata Gavriel dengan wajah masih dengan senyumannya.
"Aku baru mau masuk," jawab Gavriel singkat.
"Kirain kamu baru datang," timpal Kei mengikuti Gavriel, yang membalikkan tubuhnya lagi dan melangkah masuk dengan langkah pelan.
"Sudah dari tadi."
"Tapi belum masuk?" tanya Keineira berusaha untuk terus membuat mereka terlibat obrolan tanpa henti.
Sebenarnya yang dekat dengan orang asing, bukan lah hanya Queeneira seorang. Tapi Gavriel pun, yang beberapa kali menghabiskan sisa istirahatnya bersama Keineira, saat Queeneira sendiri lebih memilih menghabiskan waktu istirahat dengan kakak kelasnya. Meninggalkan Ezra yang terpaksa harus bersama Intan dan Raiya, saat Gavriel memilih bersama Keineira menghabiskan waktu istirahatnya.
"Hn. Tadi ada seseorang yang menyapa," jawab Gavriel dengan nada sabar, menjawab semua pertanyaan teman sekelasnya, saat ia tahu jika teman sekelasnya hanya ingin membuat obrolan dengannya tidak putus.
Sepertinya Gavriel lebih peka terhadap orang lain, ketimbang perasaannya sendiri atau pun perasaan seseorang yang dekat dengannya. Atau sebenarnya Gavriel terlalu terpaku dengan rasa yang sudah lama ada, namun masih memungkirinya karena ada jurang tak kasat mata, bernama ikatan persahabatan diantara ia dan sahabatnya.
Entah siapa yang tahu.
"Seseorang? Kakak kelas OSIS itu kah?" tanya Keineira, duduk di samping Gavriel saat wali kelas mengatur dengan bijaksana tempat duduk kelas yang dinaunginya. Sehingga Gavriel yang awalnya duduk dengan Ezra dan Queeneira di dekatnya jadi pindah tempat, menjadi duduk dengan Keineira di sampingnya.
"Hn."
Dalam hati Keineira, tentu saja ia berbahagia, saat mengetahui jika teman dari laki-laki yang disukainya, ternyata sedang ada masa pendekatan dengan kakak kelas mereka.
Itu artinya, ia memiliki banyak kesempatan untuk lebih dekat dengan Gavriel saat ini.
"Bagus, aku punya banyak peluang," batin Keineira senang.
Setelahnya merasa jika yang lainnya sibuk dengan kegiatan masing-masing, ia pun melihat ke arah Gavriel yang sudah tenggelam dengan buku dan laptop yang menyala.
"Sst, Gavriel," bisik Keineira, sehingga Gavriel pun menoleh sekilas, lalu menoleh ke layar laptopnya lagi, bergumam sebagai jawaban untuk teman sebangkunya.
"Hn?"
"Gavriel, aku boleh tanya?" gumam Keineira masih menatap Gavriel, yang bergumam lagi menjawab pertanyaannya.
"Hn?"
"Mereka , maksud aku, Queene dan kak Ge, apa mereka sedang pendekatan yah. Soalnya keliatan sekali, jika kak Ge suka dengan Queene," lanjut Keineira berbisik lirih di samping Gavriel, yang sontak berhenti dari kegiatannya, dengan jantung berdetak cepat.
Ada rasa tidak suka di hatinya, namun saat memikirkan jika ini adalah hak dari kakak kelas juga sahabatnya, ia pun berusaha menahan rasa tidak sukanya, kembali fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.
"Hn. Mungkin," sahut Gavriel pura-pura tidak peduli.
"Tapi kalau kata aku sih mereka cocok, Queene cantik dan kak Ge tampan. Bagaimana menurut kamu, Gavriel? Sebagai sahabatnya, kamu tentu setuju kan?" ucap Keineira memanasi, dengan Gavriel yang sadar jika tidak sepenuhnya ucapan Keineira benar.
Queeneira Wardhana adalah perempuan paling cantik menurutnya, ia bahkan tidak memungkiri itu.
Tapi kalau untuk setuju, bisakah, saat ia juga sedang belajar merelakan sahabatnya, yang sering memilih istirahat dengan kakak kelasnya akhir-akhir ini.
Tidak ingin menjawab pertanyaan yang sampai saat ini belum diketahui olehnya, Gavriel pun hanya bisa bergumam dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Hn."
Keineira sedikit sebal, saat Gavriel tidak menjawab pertanyaan dengan jelas. Tapi ia juga senang, saat bisa melihat ekspresi berbeda dari Gavriel, saat ia membahas masalah kakak kelas mereka.
Aku hanya ingin kamu membuka mata, jika selamanya kalian hanya akan jadi sahabat. Lalu kamu sadar jika hanya akan ada aku, yang menemani setiap langkahmu di kehidupan kedepannya.
Keineira pun ikut mengeluarkan buku catatannya, membuka setiap halaman dan harus berhenti, saat merasakan tepukan di bahunya, juga suara dua temannya yang menyapanya semangat.
"Hai! Selamat pagi, Keineira!"
"Pagi!"
__ADS_1
Kemudian tidak lama, guru bahasa Jerman pun memasuki ruang kelas mereka, sehingga murid-murid yang tadi duduk bergerombol, kembali ke kursi masing-masing dengan tergepoh, termasuk Intan dan Raiya yang tadi sempat bergosip dengan Keineira.
"Guten Morgen! (Selamat pagi)" sapa seorang guru, yang mengajarkan mereka bahasa jerman di sekolah.
"Guten Morgen Frau Merlyn! (Selamat pagi ibu Meryln)"
"Nimmt bitte euer Buch raus und macht di Uebung 20 auf Seite 100. (Buka buku kalian dan kerjakan nomor 20 halaman 100)," perintah ibu Meryln tegas dan dengan patuh semua muridnya menjawab, dengan tangan sigap membuka halaman sesuai perintah.
"Bereit! (Baik)"
Dan pelajaran pun dimulai, dengan kelas berubah menjadi hening, saat mereka fokus mengerjakan tugas dari guru, yang berkeliling dengan aura tegas mengiringi setiap langkah.
Tidak lama, hampir semua murid-murid kelas yang ditempati Gavriel selesai mengerjakan tugas. Mereka tetap duduk di bangku masing-masing, menunggu ketua kelas mengambil satu per satu buku tugas.
Selesai mengerjakan tugas, mereka juga di perintahkan untuk mempelajari halaman selanjutnya, untuk tugas di pertemuan yang akan datang.
Skip
Pelajaran usai dengan bel istirahat menggantikan. Semua murid dengan semangat berhambur keluar kelas, menyisakan beberapa murid termasuk Gavriel, Ezra, Queene. Juga Keineira yang masih betah duduk di samping Gavriel, tanpa niat pindah saat melihat Ezra dan Queeneira, berjalan menghampiri meja mereka berdua.
"Mau istirahat di mana?" tanya Ezra, melirik ke arah Keineira, yang santai saja pura-pura tidak tahu sedang di lirik oleh Ezra.
"Aku harus mengerjakan beberapa dokumen, sepertinya aku akan di kelas saja," jelas Gavriel dengan senyum kecil, meminta pengertian.
Ezra mengangguk, kemudian berjalan ke arah tasnya untuk mengambil laptopnya. Sedangkan Queeneira baru saja ingin mengajukan diri membeli makanannya, tapi sayang kalah cepat dengan Keineira yang membuka kotak makan miliknya, membuat Queeneira pun menelan lagi kalimat yang ingin diucapkan olehnya.
"Gav ak-
"Kita makan bersama, yuk!"
Gavriel melihat ke arah Queeneira dan Keineira bergantian, lalu hendak bertanya tapi sayang sepertinya Gavriel dan Queeneira sama-sama punya kesamaan kali ini. Sama-sama selalu disela saat akan mengucapkan sebuah kalimat.
"Que-
"Queeneira! Yuk, ke kantin sama-sama!"
Jika tadi Gavriel yang menoleh bergantian, maka saat ini Queeneira lah yang melihat pintu dan Gavriel bergantian.
Ya .... Di depan sana, tepatnya di pintu kelasnya berdiri dengan senyum menghiasi wajah, dari kakak kelasnya yang tadi pagi mengajak ia, untuk menghabiskan waktu istirahat bersama.
"Kak Ge," gumam Queeneira bingung.
Dan mau tidak mau Queeneira pun harus memilih, namun menjadi pilihan pasrah, saat terang-terangan sahabatnya(Gavriel) menyuruhnya untuk menemui kakak kelas mereka, dari pada berdiri di hadapannya namun ekspresi wajah bingung.
"Sebaiknya kamu temui kakak kelas itu, kami tunggu kamu di kelas saja."
"Gavriel," timpal Queeneira dengan ekspresi kecewa.
"Gih ... Nanti istirahatnya keburu habis," tambah Gavriel, tanpa melihat Queeneira yang menatapnya tidak percaya, berpura-pura sibuk dengan laptopnya namun nyatanya hatinya tidak terima.
Bukan kah sudah dikatakan olehnya, bahwa ia akan belajar menerima kedekatan sahabat dan kakak kelasnya. Dan itu adalah sekarang, saat ini juga, agar dirinya lekas bisa menerima semuanya.
"Queeneira, lihat, kasian loh kakak Ge. Masa kamu tega membiarkan kakak kelas kita menunggu lama."
Queeneira yang sedang melihat sahabatnya, segera melihat Keineira yang sengaja mengingatkan dirinya, berucap demikian dengan nada manis, yang sungguh membuat dirinya muak seketika.
Sabar, Queene.
Huft ...
Setelah menghela napas, Queeneira pun balas tersenyum, kepada Keineira yang melihatnya dengan tatapan polos dibuat-buatnya.
"Tentu saja, Keineira. Nah, Gavriel, Ezra, aku pergi dulu," ucap Queeneira tidak kalah manisnya dari nada yang digunakan oleh Keineira, sehingga Keineira pun tersenyum, dengan tubuh bergeser mendekat ke arah Gavriel, pura-pura bertanya.
"Suka roti isi kan, Gavriel?"
"Hn."
"Jangan lama-lama, Que!"
"Oke, Ez!"
Kemudian meninggalkan ketiganya, tanpa tahu jika Gavriel melirik dari balik bulu matanya, saat Queeneira berjalan menghampiri kakak kelas, yang segera tersenyum semakin lebar menyambut sahabatnya, yang akhirnya berjalan bersama keluar dari kelas.
"Sial," batin Gavriel kesal.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ...
Terima kasih dan sampai babai.