Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Bersama Namun Tidak Berdampingan


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


Referensi lagu untuk part ini Kahi ft Yuuk Sungjae (Cast Ge)__That Man, That Women. Saat Ezra dan Queeneira menyanyi.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Tin Shui Wai, New teritori.


Kali ini mereka ada di Tin Shui Wai, tepatnya di Ginza, Yang ramai dengan pejalan kaki di sepanjang trotoarnya dan juga Mall besar.



Hari ini empat remaja yang sedang berlibur ini, memilih daerah Tin Shui Wai untuk cuci mata, karena besok pun mereka akan jalan ke tempat yang lebih jauh dari rumah nenek Queeneira.


"Mba, kenapa yah El merasa ada yang aneh, dengan hari ini," ucap Selyn dengan nada sedih, membuat Queeneira pun merasa sedih, saat biasanya mereka berempat akan jalan berbaris disaat liburan seperti ini. Bukannya memisahkan diri seperti ini, menjadi dua kelompok dengan ia bersama adik dari sahabatnya.


"Berbeda bagaimana?" tanya Queeneira pura-pura tidak tahu, tapi sayang Selyn tahu dan ikut berpura-pura tidak tahu juga.


"Yah ... El merasa, jika apa yang sedang kita jalani ini hanya kebahagiaan yang dibuat-buat. Bukan seperti kita yang biasanya," jawab Selyn dengan mata berkedip pura-pura polos, padahal ia sedang menyindir sang kakak dan Mbanya, yang bergerak salah tingkah, dengan Ezra yang hanya diam tanpa niat ikut serta. Karena bagi Ezra, Selyn sudah cukup kalau hanya untuk menyindir.


Please lah ... Ezra ingin liburan, seperti saat dulu mereka liburan bersama. Tidak ada ketegangan dan canggung, dengan keceriaan dibuat-buat seperti ini. Ia merasa ini terjadi sejak mereka jalan bersama kakak kelas, ditambah dengan sepupunya yang jalan juga dengan teman perempuan lainnya.


Apa perlu ia juga mencari pasangan jalan, sehingga mereka lebih baik jalan sendiri-sendiri, daripada ia harus merasa canggung seperti ini.


Kepalanya menggeleng, menampik pemikiran absurdnya. Kalau sampai ia juga punya, bagaimana dengan tiga orang yang saat ini sedang diam, berdiri saling berhadapan dengan Selyn yang melihat bergantian, antara kakak dan Mbanya.


"Itu hanya perasaanmu, El. Yuk, Mas traktir minum di starbuck, kita istirahat di sana," tampik Gavriel, menarik tangan sang adik dan membawanya dalam pelukanannya, memeluk bahu sang adik erat, dengan sang adik yang mengangguk lalu melihat ke arah Queeneira, yang juga mengangguk mengiyakan.


Queeneira dan Ezra mengikuti dua lainnya dari belakang, melihat bagaimana sikap Gavriel yang seperti biasa, jika sedang bersama sang adik.


"Besok jadi, barengan Ge dan yang lainnya, Que?" tanya Ezra tanpa melihat ke arah Queeneira, yang jalan bersisihan dengannya.


Queeneira mengangguk, kemudian menyeret tangan sahabatnya, untuk cepat melangkah saat dua orang di depannya sudah masuk ke dalam kafe.


Mereka duduk bersisihan, dengan Selyn duduk di samping sang kakak, sedangkan Queeneira bersisihan dengan sahabatnya dan berhadapan dengan sahabatnya yang satunya, Gavriel.


Mereka memesan makanan seperti biasa, masing-masing memesan minuman berbeda dan tambahan sepotong tiramisu untuk Selyn, si maniak manis seperti Mommy Kiara.


Selyn membuka kamera handphone dan mengambil foto, dari Mas dan Mbanya yang saat ini sedang sibuk dengan handphone masing-masing.


"Mas! Lihat di sana," perintah Selyn, kepada sang kakak yang saat ini memakai kemeja berwarna putih sebagai luaran, sehingga Gavriel pun melihat ke arah yang di tunjukkan oleh sang adik.


"Ada apa?"


Cekrek!


"Dapat! He-he ..."


"Is ... Tidak bilang-bilang. Coba lihat," gwrutu dan pinta Gavriel yang segera ditunjukkan oleh adiknya.


"Nih!"



Gavriel pun melihat hasil foto di handphone sang adik, kemudian tersenyum geli dengan posenya sendiri.


"Bagus yah?" tanya Selyn antusias.


"Bagus, nanti kirimin yah," sahut Gavriel dengan tangan menepuk kepala adiknya lembut, membuat Selyn pun tersenyum lebar dan balik menatap Mbanya, yang sedang memperhatikannya dan sang kakak dalam diam.


"Ayo Mba, pose!" seru Selyn kali ini kepada Queeneira, yang segera mengangkat tangannya ke atas kepala dan membentuk simbol 'V'.


"Peace!"


Cekrek!



"Perfect!"


"Coba lihat!"


Selyn pun memberikan handphonenya, yang langsung diterima oleh Queene segera.


"Bibirnya kurang mancus, Mba. Di ulang yuk!" ajak Selyn dengan kekehan senangnya, membuat Queeneira mendengkus saat bibir kissablenya dinistakan.


"Ye ... Ini sudah cantik," sahut Queene cepat.

__ADS_1


"Iya deh iya, tinggal Mas Ezra, yang belu-


"Mas, ke toilet dulu," sela Ezra cepat, saat Selyn hendak mengarahkan kamera handphone ke arahnya. Ia dengan terburu meninggalkan meja, menuai desahan kesal dari Selyn, saat merasa Mas Ezranya, sepupu uwu-nya sedang menghindar dari jepretan kameranya.


"Mas! Ih! Nggak seru, ah!"


Tanpa mendengar gerutuan sepupunya, Ezra meninggalkan meja dan berjalan ke arah toilet


Sepeninggalnya Ezra, kini hanya tinggal tiga orang tersisa, melakukan kegiatan masing-masing, dengan Selyn dan Queeneira yang melihat-lihat foto di galeri handphone milik Selyn.


"Ini foto yang di Shatin itu?" tanya Queeneira saat melihat foto lain, saat mereka sedang liburan kemarin.



"Iya, waktu kak Ge minta fotoin," balas Selyn dengan cengiran lebarnya, menatap Mbanya dengan senyum usil yang dibalas dengan cubitan di pipinya oleh Queeneira.


Gyutt!


"Usil, hapus gih," pinta Queene, tanpa tahu jika Gavriel yang mendengarnya merasa senang, saat tadi harus kesal saat adiknya menyimpan foto kakak kelasnya.


"Nggak ah! Buat kenang-kenangan," tolak Selyn kemudian membuka aplikasi media sosialnya, memposting foto mereka kemarin.


"Di posting ya, Mba?" tanya Selyn meminta persetujuan, kepada Queeneira yang menggelengkan kepala menolak.


"Jangan, cukup kita aja yang tahu, lagian aku nggak mau ada yang lebih salah paham, cukup aku menjauh saja," tolak Queene, kemudian melanjutkan dalam hati saat matanya tidak sengaja melihat ke arah sahabatnya, yang kebetulan juga sedang menatapnya dalam diam.


"Is ... Nggak seru," dumel Selyn.


Ia membuka-buka lagi postingan lainnya, kemudian menunjukan kepada Queeneira, postingan dengan jumlah like banyak, padahal baru beberapa saat ia posting foto sang kakak.



"Lihat, yang ini wow banget likenya, padahal El baru posting tadi pagi, Mba. Hebat ya," ujar Selyn dengan nada semangat, menunjukan postingannya kepada Queeneira yang hanya bisa tersenyum.


"Iya, hebat," gumam Queene, memutuskan kontak mata dengan Gavriel dan menoleh ke arah lain saat menanggapi pernyataan Selyn, yang sibuk pura-pura fokus dengan handphonenya.


"Kok Mas Ezra lama banget yah, ke toiletnya?" tanya Selyn saat ia merasa terlalu lama menunggu kedatangan sepupunya.


"Iya, lama bange-


"Biar Mas yang susul, kalian tunggu di sini saja," sela Gavriel saat Queeneira menyahuti perkataan khawatir adiknya.


"Oke, Mas."


Dengan begitu, Gavriel pun berdiri dari duduknya, hendak pergi ke arah toilet namun sayang, belum juga melangkah jauh, sepupunya sudah terlihat dan melangkah mendekatinya dengan senyum mengembang.


"Kenapa?" tanya Gavriel dengan alis terangkat penasaran.


"Ada nyanyi di jalan," balas Ezra tidak jelas, membuat Gavriel yang penasaran jadi bingung, dengan apa yang dikatakan oleh sepupunya.


"Hah?"


"Ada penyanyi jalanan, aku mau ikut nyanyi, kalian mau ikut nggak?" jelas Ezra saat sudah sampai di samping meja mereka duduk santai.


"Di mana, Mas?" tanya Selyn antusias.


"Di luar, yuk!"


Ezra dan Selyn yang penasaran pun lebih dulu meninggalkan kafe, berjalan ke luar dan menyisakan Gavriel dan Queeneira yang saling melihat, sebelum Queene ikut pergi meninggalkan Gavriel, yang masih sempat mencegah dengan memegang lengan kanan Queeneira erat.


Grep!


"Que, tunggu."


Queeneira hanya diam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya, Gavriel.


"Bukan kah kita bisa bersama-sama, pergi menyusul mereka. Kenapa kamu buru-buru seperti ini, Que?" tanya Gavriel dengan nada sedih.


Sebelum menjawab, Queeneira melepas tangan sahabatnya yang memegang lembut lengannya, kemudian menghadap ke arah sahabatnya tersebut.


"Kalau gitu, kamu hanya perlu berjalan di belakang aku, Gavriel. Aku tidak meninggalkanmu, aku hanya berjalan di depanmu. Bukan kah sama saja?" tanya Queeneira dengan nada santai, menatap Gavriel dengan ekspresi sebisa mungkin tidak menampilkan wajah sedih.


"Tidak sama, aku ingin kita bisa berjalan seperti dulu, berdampingan. Bukannya aku di belakang dan kamu di depan," tandas Gavriel dengan nada tidak senang, sedikit mengeluarkan emosinya, saat biasanya nada datar lah yang selalu keluar dari lisannya.


"Itu dulu Gavriel. Sekarang aku mau kita bersama, namun bukan berarti bersama-sama. Aku ingin kamu terbiasa, saat kamu nanti dengannya," timpal Queene cepat.


"Queeneira, aku tidak mengerti maksud kamu apa. Bersama siapa? Aku bahkan baru kemarin jalan dengan yang lain, lalu kamu sudah marah seperti aku sedang berselingkuh dan ketahuan. Kenapa kamu marah seperti ini, Queene?"


Gavriel bertanya dengan nada frustrasi dan mengeluarkan lagi-lagi apa yang ada dipikirinnya, tanpa difilter dan tanpa tahu jika pertanyaan adalah pertanyaan yang mengatakan jika tidak seharusnya Queeneira bersikap seperti ini dan Queeneira menyadari arti dari pertanyaan dari sahabatnya.

__ADS_1


Nyut!


Tiba-tiba hati Queeneira merasa berdenyut sakit, saat mendengarnya, mendengar bagaimana Gavriel menegaskan, jika tidak seharusnya ia marah seperti ini.


"Ah! Benar juga, siapa aku."


"Kamu benar Gavriel, tidak seharusnya aku seperti ini," gumam Queeneira menatap Gavriel dengan senyum hambar.


"Que, maksud aku."


"Aku tahu, aku bukan siapa-siapa kamu. Aku hanya sahabat kamu, dan tidak seharusnya aku seperti ini."


"Queeneira, bukan gitu. Maksud aku-


"Maaf Gavriel, seharusnya aku hanya perlu tersenyum. Bukan malah membalas perbuatan kamu."


"Apa?"


Queeneira pun segera meninggalkan Gavriel, saat ia juga kelepasan dengan perkataannya, sehingga Gavriel menatapnya dengan kaget dan tidak percaya.


"Apa yang aku sudah katakan," batin Queeneira, dengan langkah cepat meninggalkan begitu saja Gavriel, yang masih mencerna apa arti ucapan sahabatnya.


"Apa maksudmu, Queene," gumam Gavriel dengan hati sakit dan bingung disaat bersamaan. Saat lagi-lagi ditinggal begitu saja oleh sahabatnya, lengkap dengan perkataan yang tidak ia mengerti.


"Sial," batinnya kesal.


Sedangkan di luar sana, di jalan tidak jauh dari pintu masuk mall, ada sekumpulan orang-orang mengerumuni seorang musisi jalanan, yang biasa menghibur daerah Ginza sini.


Ezra yang mengajak Selyn untuk melihat, menatap dengan berbinar gitar yang sedang dipetik oleh si musisi.


Lalu tidak lama kemudian, ia pun merasakan tepukan di bahunya, dengan Queeneira yang berdiri di sampingnya, sehingga kini ia berdiri dengan dua remaja perempuan cantik di samping kanan-kirinya.


"Mana Gavriel?" tanya Ezra saat tidak melihat eksistensi sepupunya, padahal setahunya sepupunya dengan sahabatnya yang paling terakhir meninggalkan kafe.


"Di belakang," balas Queeneira apa adanya.


"Oh."


Tepuk tangan riuh saat si musisi selesai dengan permainan lagu dan gitarnya. Si musisi menyapa para penonton dan dengan bahasa pribumi, yang sedikit dimengerti oleh Ezra, sehingga Ezra yang ingin menunjukan kebisaannya pun mengangkat tangan, menuai tepuk tangan dari orang-orang di sekitarnya, yang senang saat ada penonton unjuk kebolehan.


"Mas, beneran mau nyanyi?" tanya Selyn menatap Ezra dengan ekspresi tidak percaya.


Ezra hanya memberikan cengiran khasnya, kemudian menarik tangan Queeneira yang kaget, dan hampir terpekik jika saja Ezra tidak segera menahannya, dengan menutup bibir Queeneira menggunakan telapak tangannya.


"Sampaikan rasa kesal dan kecewa kamu, Que. Lewat lagu ini," bisik Ezra, yang membuat Queeneira tersentak saat sahabatnya tahu jika ia sedang kesal dan kecewa.


"Maksudnya?" balas Queene sama berbisiknya, di samping Ezra yang sedang siap-siap dengan gitar yang diberikan oleh si musisi.


"Aku hanya tahu jika ada yang berbeda, itu saja."



Jawaban singkat tanpa penjelasan dari sahabatnya, membuat Queeneira menatap sahabatnya dengan senyum sedih.


Puk!


"Semangat!" seru Ezra dengan senyum tulus.


"Masih ingat kan, lagunya?" lanjut Ezra bertanya yang akhirnya di angguki kepala mengerti dari Queeneira.


"Masih."


Dengan petikan gitar dan suara Ezra sebagai pembuka, akhirnya dimulai lah, penyampaian perasaan melalui lagu dari Queeneira, sesuai dengan apa yang di bilang oleh seorang Ezra Bennedict.


(Silakan dengarkan lagu yang Author referensikan, saat part ini. Karena kalian akan lebih mendalami setting, saat petikan gitar dan lagu di mulai)


Queeneira bernyanyi dengan mata melihat sahabatnya, yang menatapnya juga dengan pandangan yang sulit diartikan.


Sedangkan Selyn mengabadikan saat Mas dan Mbanya bernyanyi, tanpa melihat ke arah sang kakak, yang saat ini ini menatap Queeneira dengan jantung berdenyut nyeri.


"Aku mencintaimu, tapi aku rasa ini adalah akhirnya. Apa aku harus menyerah?"


"Apa kamu menyukaiku, Queeneira?"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ...

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2