Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Perbedaan Pertama


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Long ping, Yuen Long, New teritori.


Gavriel pov on


Pagi ini suasana sedikit berbeda, saat biasanya kami telah siap untuk berangkat, mengunjungi tempat wisata di sini.


Tadi malam aku lagi-lagi tidak bisa mengatur sedikit rasa kesalku. Kenapa setiap di hadapannya, aku akan merasa seperti ini, seperti harus mengeluarkan apa yang memang yang aku rasakan, tanpa harus aku tutupi.


Aku tidak seperti ini, saat aku bekerja atau aku sedang kesal dengan pekerjaan pula. Aku bisa mengontrol emosiku, aku bisa mengatur bahkan raut dan apapun itu jika aku kesal.


Tapi kenapa tidak, jika itu sahabatku, seakan sahabatku punya pematik yang siap kapan saja, membuat api dalam hatiku hidup dan terbakar.


Huft ...


Tidak, aku tidak boleh begini.


Queeneira sahabatku, sahabat yang sudah menemani 16 tahun aku hidup di dunia. Aku tidak boleh egois dengan rasa ini, aku tidak boleh membebaninya dengan rasa posesifku lebih dari ini lagi.


Aku ingin dia bisa bersama yang lain, dia butuh seseorang juga yang selalu ada sedia ada di sampingnya. Aku tidak boleh lagi merasa seperti ini, aku harus melepasnya untuk kebaikannya.


Saat ini aku sedang berjalan santai, menikmati udara di pagi hari, negara Hongkong sendiri tanpa ada sahabat, adik atau juga sepupuku di sampingku.


Aku ingin sendiri, aku ingin menikmati ini dalam kesendirian.


Banyak taman yang aku lewati, toko-toko berjajar rapi dan juga tempat penyebrangan dengan alarm waktu, yang suaranya berisik tapi tetap saja tidak menggangguku. Bahkan aku masih merasa sunyi, saat hatiku merasa kosong, ketika ingat jika aku harus belajar berbagi perhatian sahabatku dengan laki-laki lainnya.


Jalan dan berjalan adalah yang aku lakukan, meski sesekali berhenti untuk mengambil foto, sesuatu yang menarik menurutku untuk aku simpan, bersama ribuan foto lainnya di dalam laptopku.


Momm bilang aku seperti Daddy, suka sekali mengabadikan sesuatu dengan bentuk foto.


Aku seperti Daddy?


Tidak mungkin, Daddy terlalu sempurna dengan segala kemampuannya, untuk aku jadikan patokanku.


Daddy bahkan bisa membedakan urusan satu dan lainnya, tidak denganku yang masih ragu jika itu masalah hati.


Aku masih mencari alasan, kenapa sampai nama teman sekelas kami dibawa serta. Setiap kami membahas orang asing, yang tiba-tiba masuk di lingkaran persahabatan kami.


Suka?


Aku memang menyukai teman sekelasku, namun suka apa dulu.


Aku hanya merasa senang saat aku tahu, jika aku bisa menerima kehadiran perempuan lain, saat dulu aku sama sekali tidak ingin berdekatan dengan perempuan lain selain sahabatku, Queeneira.


Aku bahkan sudah menjelaskan kepadanya, tapi kenapa sahabatku harus membawa namanya lagi, sebenarnya apa yang ingin dia sampaikan.


Inilah yang aku cari dan belum temukan.


Huft ...


Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas, riwet saat memikirkan masalah rasa, aku lebih baik diberikan setumpuk tugas sekolah, atau juga setumpuk pekerjaan dari Daddy, dari pada aku harus memikirkan perasaan rumit ini.


Ngomong-ngomong aku di mana ini, apa aku kesasar?


Aku menggelengkan kepala, masa bodo kesasar juga, aku bisa bertanya dengan handphoneku.


Aku terus berjalan dan tersentak kecil, saat aku merasakan tepukan di bahuku dari arah belakang. Aku pun menolehkan wajahku ke belakang dan harus kaget, saat melihat penampakan tidak asing di depanku.


"Kamu."


"Gavriel!"


Gavriel pov end


Beberapa jam sebelumnya


Tiga remaja yang terdiri dari Keineira, Intan dan Raiya ini, bersiap untuk turun dari MTR yang mengantar mereka ke sini, tepatnya ke daerah Long Ping, Yuen Long.


Rencananya mereka akan mengunjungi taman strawberry, tapi tiba-tiba Susan, guide mereka ada keperluan dan meminta mereka untuk berhenti di sini, lalu nanti lanjut naik kereta kecil(Teng-teng).


"Maaf yah, sebentar saja kok, nggak lama," ujar Susan dengan nada tidak enak.


Ketiganya mengangguk dan tersenyum memaklumi keperluan Susan, mereka juga berpikir untuk bisa menikmati suasana kota, yang kedua mata mereka lihat saat ini.


Long Ping juga bagus, pikir mereka kompak.


"Nggak apa-apa, Mba."

__ADS_1


"Bener yah, he-he ... Oh iya, di sana ada toko kue, jajanan khas gitu. Kalian bisa beli, nanti kalian bilang aja kei to jin (Harga berapa), biasanya harga $20 hkd atau yi sap man (Dua puluh dolar). Eh! Atau aku antar aja yuk, sebelum aku masuk."


Susan menjelaskan dengan jelas, namun berubah pikiran lagi, saat ia takut jika ketiganya akan salah dalam pengucapan kata.


Lagi-lagi ketiganya hanya mengangguk, kemudian berjalan bersama menuju stand makanan, yang menjual berbagai macam jajanan khas negara Hongkong.


Sesampainya mereka di depan stand, aroma manis dari jajanan mulai tercium, dengan mereka yang menatap makanan tersebut berbinar.


"Nah ... Ini yang namanya Eggroll, ini enak loh cocok di makan waktu musim dingin. Lalu ada polo pao, sebenarnya kalau di artikan per suki kata roti-nanas, tapi bukan berarti rasa dari roti ini rasa nanas. Hanya sebutannya saja," jelas Susan menatap ketiganya dengan senyum kecil.


"Enak nggak Mba?" tanya Keineira, yang kebetulan suka dengan jajanan manis.


"Enak, kalian bisa coba sendiri. Aku belikan yah," sahut Susan kemudian meninggalkan ketiganya, untuk membeli masing-masing satu dari jajanan yang tadi disebutnya.


Tidak lama Susan pun membawa tiga kantung plastik berisi jajanan, lalu ia berikan kepada ketiganya masing-masing satu kantung plastik.


"Mba, ini kebanyakan," ujar Intan saat ia melihat banyak jenis makanan, padahal yang disebut hanya dua macam.


"Nggak apa-apa, sambil nunggu aku ya. Oh iya, di sana ada taman, jadi kalian bisa tunggu aku sambil duduk santai. Bagaimana?" tanya Susan, sambil menunjuk seberang toko yang memang ada taman, untuk duduk dan santai.


"Oke! Kita tunggu di sana ya Mba," balas Intan mewakili.


Ketiganya pun duduk di taman, sambil menikmati jajanan dan juga sesekali mengabadikan kebersamaan mereka, menggunakan kamera handphone, dengan bantuan alat berupa tongsis.


Disaat sedang asik menikmati suasana taman yang tidak terlalu ramai, salah satu di antara mereka melihat sekeliling dan terdiam, saat melihat penampakan tidak asing, sedang berjalan sendirian di seberang jalan sana. Keningnya mengernyit saat ia yakin, jika yang ia lihat adalah dia, yang saat ini sedang berjalan benar adalah dia, yang dari kemarin ingin ia temui.


Ia pun menoleh ke arah dua temannya, lalu menoleh lagi ke arah sana, ke arah seseorang yang semakin menjauh.


"Aku harus pastikan," batinnya, menghela napas baru kemudian berdiri dari duduknya.


"Tan, Rai, aku ke toilet sebentar," gumamnya lalu meninggalkan begitu saja dua temannya, yang belum sempat menjawab karena ia sudah lari menuju penyebarangan, ingin cepat menghampiri seseorang itu.


Saat ini


"Kamu."


"Gavriel!"


Keineira tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, saat bisa bertemu dengan seseorang yang dari kemarin mereka cari keberadaannya.


Dengan kening bertaut bingung, Gavriel menatap tidak percaya kehadiran teman sekelasnya, yang saat ini sedang mengatur napas di hadapannya.


"Kamu, kenapa lari-lari?" tanya Gavriel, sedikit kasian saat melihat peluh di kening teman sekelasnya. Tangannya terulur, untuk memberikan sapu tangan miliknya, yang di terima Keineira dengan segera.


"Hn."


Mereka pun menepi dari tengah jalan, saling diam dan melihat sekitar dengan tatapan dan isi pikiran berbeda.


"Gavriel."


"Kei."


Mereka diam dan saling melihat, saat mereka memanggil nama di waktu yang bersamaan.


"Kamu dulu," lanjut Gavriel cepat.


"Eh! Eum ... Ano, kamu libur di sini, sendirian?" tanya Kei menatap Gavriel, dengan senyum yang tidak bisa ditahan.


Gavriel menggelengkan kepala, menampik pertanyaan dari teman sekelasnya, yang sebenarnya sudah tahu, namun hanya basa-basi mencari obrolan untuk awalan.


"Tidak, aku bersama adikku, Selyn. Lalu Ezra dan Queeneira. Kamu sendirian?" tanya Gavriel, setelah menjelaskan secara singkat.


"Tidak, aku bersama Intan dan Raiya."


"Kemana mereka?" tanya Gavriel, sambil melihat sekitarnya, mencari keberadaan teman sekelasnya yang lain, teman dari remaja perempuan di hadapannya.


"Aku, em, aku meninggalkan mereka di taman."


"Kamu ninggalin mereka?" tanya Gavriel dengan alis terangkat.


"Bukan, maksud aku. Aku melihat kamu semakin jauh, lalu Intan dan Raiya masih makan. Dan aku takut kamu jalan lebih jauh, aku takut tidak bisa ketemu kamu," timpal Keineira menjelaskan, sebelum Gavriel salah paham dengannya.


"Seperti itu," gumam Gavriel menanggapi dengan anggukan kepala pelan.


Kemudian hening lagi, saat Gavriel kembali melihat sekitar sedangkan Keineira bingung, ingin menanyakan apa lagi supaya ia bisa berbicara dengan Gavriel.


"Itu, Gavriel," panggil Keineira ragu, dengan Gavriel yang bergumam dan melihat Keineira, dengan alis terangkat penasaran.


"Kamu, kamu nggak jalan-jalan, kemana gitu?" tanya Keineira dengan gugup, ia hampir saja bergerak salah tingkah, namun cepat-cepat ditahannya.


"Hn. Tidak," sahut Gavriel singkat dan apa adanya, membuat Keineira meringis dalam hati, saat mendapatkan jawaban dingin dari laki-laki yang ia sukai.


Gavriel saat ini sedang dalam mood tidak bagus, ia hanya menjaga agar dirinya tidak segera pergi dan berjalan menikmati kesendiriannya.

__ADS_1


Bukan kah sudah dari awal ia bilang ingin sendirian, tapi ia merasa tidak sampai hati meninggalkan begitu saja, temannya yang rela berlari menghampirinya.


"Kamu sudah makan?"


"Hn. Sudah, kamu?"


"Kami sedang makan roti, kamu mau?" tanya Keineira antusias, tidak masalah saat pertanyaannya dijawab dengan sangat singkat.


"Tidak, aku sudah kenyang."


"Biasanya anak laki makannya banyak."


"Tidak juga."


Keineira yang selalu mendapatkan jawaban singkat tidak habis akal, ia dengan semangat bertanya lagi dan lagi, sehingga Gavriel pun menghela napas, menyerah. Lalu ia pun berdiri tegak di hadapan Kei, pindah posisi saat tadi mereka berdiri bersisihan.


"Kenapa anak perempuan tidak kenal menyerah, seperti Queeneira yang mudah sekali membuatku luluh, namun bedanya hitungan waktu."


Yah bagi Gavriel, Keineira terlalu lama membuatnya menyerah dan luluh, tidak seperti sahabatnya, Queene, yang dengan mudah membuatnya menyerah dan luluh dalam hitungan detik.


"Mau jalan?"


Deg!


"Apa!"


Jantung Keineira berdetak cepat, saat mendapat ajakan jalan dari laki-laki yang ia sukai. Bagaimana ia menolak, jika kesempatan seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya.


"Kamu mau jalan sama aku, di sekitar sini?"


"Jalan sama kamu?" tanya Keineira dengan perasaan senang.


"Hn."


"Boleh," sahut Keineira cepat.


"Kamu hubungi teman-teman kamu dulu, atau ajak mereka sekalian," usul Gavriel.


"Em, tidak. Biar mereka berdua, eh! Em, maksudnya-


"Terserah kamu, Kei. Kamu ajak atau tidak, aku tidak masalah," sela Gavriel saat temannya bingung, dengan kalimat tidak jelas tapi punya maksud jelas sekali bagi seorang Gavriel.


"Aku hanya mau membuktikan, benar kah aku suka dengan kamu, Kei. Seperti apa yang dibilang sahabatku," batin Gavriel menatap Kei dalam diam.


"Kalau begitu, aku kirim pesan untuk mereka," timpal Kei, dengan Gavriel mengangguk kecil.


"Kalau begitu, silakan."


Dengan anggukan kepala semangat, akhirnya mereka pun jalan bersama, setelah Keineira mengirim pesan, memberitahukan dua temannya, jika ia tidak ikut ke taman strawberry dan akan menunggu di sini lagi, jika sudah selesai.


"Sudah?" tanya Gavriel, dengan Keineira yang mengangguk semangat.


"Um, sudah."


Mereka pun berjalan meninggalkan tempat mereka tadi berdiri.


"Mau kemana?" tanya Keineira penasaran.


"Tidak tahu, aku tidak tahu mau kemana," balas Gavriel apa adanya, sehingga Keineira terkekeh.


"Kok ketawa?" tanya Gavriel penasaran.


"Kamu lucu, ngajak jalan, tapi nggak tahu mau kemana," sahut Keineira setelah terkekeh.


"Hn. Karena aku juga baru ini ke sini."


"Apa?"


Keineira berhenti dari jalannya menatap Gavriel dan sekitarnya takut, sehingga Gavriel pun berhenti dan menatap Keineira dengan bahu terangkat.


"Aku memang tidak tahu, bukan berarti aku buta arah, Kei. Jadi kamu tenang saja."


Dengan senyum malu, Keineira pun menganggukan kepala dan melanjutkan perjalanan mereka, entah mau kemana. Tapi yang pasti, kemana pun itu, jika dengan Gavriel ia tidak masalah.


"Oke ... Kita lihat, apa yang aku rasakan setelah ini."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2