Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Olah Raga Bareng Daddy


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Wijaya Muda


Sebelumnya


Anita yang haus terbangun dari tidurnya, Ia mengangkat gelas miliknya, yang ternyata sudah kosong.


" Habis, terpaksa ambil ke dapur." Gumamnya, kemudian turun dari ranjang tidurnya. Ia Berjalan ke arah pintu keluar kamar, menuju ke arah dapur berada.


Kamar pembantu letaknya ada di belakang, meskipun judulnya kamar pembantu, tapi fasilitasnya tidak sederhana. Masing-masing Pembantu memiliki kamar sendiri, juga di lengkapi dengan kamar mandi di dalam.


Anita berjalan menuju dapur, dengan memegang gelas miliknya yang kosong. Sesampainya di dapur, Ia terdiam dengan degub jantung kencang. Saat melihat tubuh milik Tuannya dari belakang, bukan ... Bukan hanya karena melihat. Tapi juga karena Sang Tuan dalam keadaan tidak pakai atasan,sehingga memperlihatkan punggung lebar dengan lengan yang semakin terlihat jelas ototnya.


Deg ... Deg ... Deg


" Ya Tuhan, bagaimana ini?" batin Anita. Ia gelisah melihat sesuatu yang indah, di depannya saat ini, apalagi dengan mata kepalanya sendiri. Ia memperhatikan dalam diam, namun tiba-tiba Tuannya menoleh ke belakang, seakan tahu jika ada yang memperhatikannya.


" Tu Tuan, ada yang bisa di bantu." tanya Anita, dengan nada gugup.


" Ya ampun, tatapan matanya tajam sekali." Batinnya ketar ketir.


Namun sayang , Dirga hanya menjawab " Tidak" lalu melenggang pergi, dengan membawa secangkir kopi.


Saat Tuannya melenggang pergi, sekilas Ia bisa mencium wangi segar dari Tuannya. Seperti habis mandi, entah mengapa otaknya bekerja dengan cepat. Menyambungkan hal yang dewasa, hal yang seharusnya bukan urusannya.


Tiba-tiba pipinya merona, saat terbayang adegan iya-iya penuh sensor.


" Oh ya ampun, Aku bahkan baru mau 19 tahun." Batinnya galau.


Ia pun melanjutkan tujuannya, yaitu mengambil air minum yang tadi tertunda karena melihat tub ...


Plak


" Hentikan" Gumamnya, dengan kedua tangan menepuk pipinya. Membuang fantasi liarnya saat teringat lagi, keindahan yang di suguhkan oleh Sang Tuan.


Cepat-cepat Ia menekan tombol biru pada dispenser, setelah itu pergi ke kamarnya kembali. Merekam kejadian ini dalam diam, karena jika sampai ada yang tahu. Maka pekerjaannya yang akan terancam, Ia bisa di pecat oleh majikannya.


.


.


Sedangkan Dirga, yang sedang berjalan ke arah ruang kerjanya, entah kenapa merasakan kesal. Kesal karena terbawa perasaan dari kecurigaan Sang Istri dan juga kesal karena Ia kecolongan, ada yang melihat tubuh berharganya selain sang Istri.


" Shit " Umpatnya dalam hati.


Ceklek


Ia membuka pintu ruang kerjanya, kemudian berjalan menuju meja miliknya. Meletakkan cangkir kopi dengan uap mengepul, di samping Laptop dan Laporan kemarin.


Brukh


Ia menjatuhkan bokongnya di kursi, lalu mulai membuka Laptop miliknya. Layar dengan wallpaper mereka bertiga muncul, foto saat mereka liburan kemarin di kebun binatang.


Senyumnya terbit, Ia melirik pojok kiri bawah layar Laptopnya. Di mana tertera pukul. 02:19 Wks, artinya Ia hanya punya waktu beberapa jam untuk istirahat. Besok Ia ingin olahraga bersama Gavnya, berkeliling halaman rumahnya. Sudah lama Ia tidak melatih tubuhnya, Ia merasa berat saat melakukan aktivitas sehari-harinya.


Namun, saat teringat kejadian barusan membuatnya berfikir. Bagaimana caranya supaya kecurigaan Istrinya terungkap, tanpa menuduh seseorang yang di curigai.


Masalahnya sepele karena Ia yakin, Dengan perilakunya sehari-hari. seharusnya Dia tidak akan mempunyai keinginan, untuk menghianati keluarga majikannya sendiri.


Seharusnya seperti itu kan?


Ia mengangkat bahunya, kemudian mulai fokus dengan kerjaannya. Setelahnya yang terdengar adalah bunyi ketikan, yang berasal dari jari-jari terlatihnya.


Tidak terasa ,Dirga menghabiskan waktu berapa jam lamanya. Ia melirik ke arah sudut layar Laptopnya dan terkejut melihatnya, Ia akui jika sudah bekerja waktu seakan cepat berlalu.


" Gile, udah jam segini aja. Mending besok lagi aja deh, bentaran lagi juga kelar." Gumamnya, saat waktu menunjukan pukul. 04:03 Wks.


Ia pun membereskan dokumennya, mematikan Laptop tanpa membawanya. Lalu melenggang pergi meninggalkan ruang kerja, menuju kamarnya berada.


Keesokan harinya


Seperti janjinya, Ia yang terbiasa bangun jika memiliki tujuan, bangun lebih awal. Meski masih mengantuk, tapi saat melihat Anaknya yang kedip-kedip melihat langit-langi kamar tanpa rengekan, membuatnya tersenyum.


Tadi malam, sebelum tertidur Ia memindahkan Gav di tengah-tengah mereka.


Bhuu


" Tahu aja Daddy bangun" Gumamnya.


" Morning sayang." lanjutnya berbisik pelan, mengecup pipi Sang Anak gemas. Saat melihat kaki anaknya yang bergerak heboh, menjawab bisikannya.


Da da


" Huem" Sahutnya, lalu membawa Anaknya ke atas perutnya.


" Mau temenin Daddy olahraga? Kita keliling halaman Kuy, Mommy biar istirahat. Okey?" ujar Dirga, lalu bersiap memakai kaos oblongnya. Gav sendiri Ia pakaikan jumpsuit lengan panjang, mengingat saat ini masih terlalu pagi untuk Gav keluar rumah.


Mereka berdua, pasangan Daddy dan anak akhirnya keluar kamar . Meninggalkan Sang Mommy, yang masih terbuai akan mimpi indahnya.

__ADS_1


Bhu da da ngih


" Yups ... Kita pergi jalan-jalan sayang, tapi di sekitar rumah aja dulu yah. Bagaimana kalau kita berenang sore nanti?" ujar Dirga, menuai kekehan senang, saat Sang Daddy menciuminya gemas.


Dari atas anak tangga yang di turuninya, di ruang tamu bawah sana. Ia melihat Para pembantunya, yang hilir mudik membersihkan perabotan.


Tap ... Tap ... Tap


Kaki beralaskan sepatu sport mahal, membuat pembantunya mengalihkan pandangan mereka ke atas. Tepatnya ke arah Sang majikan Pria, yang saat ini sedang menggendong Tuan kiciknya.


" Selamat pagi, Tuan Dirga." sapa Bi Ana dan Anita, hampir bersamaan. Mereka berdua menunduk sopan, saat melihatnya menuruni tangga.


" Hum" gumam Dirga, menjawab sapaan mereka. Sedangkan Gav yang ada di gendongannya berceloteh, riang seperti biasa.


Bhu na na


Dirga terkekeh, saat Gavnya tidak sabar untuk memulai olahraganya. Ia bersyukur doanya di kabulkan oleh Tuhan, sehingga Gav menjadi anak yang ceria.


" Ya mudah-mudahan aja, sampai dewasa nanti jadi anak yang ceria." Batinnya berharap.


Tapi siapa yang tahu, karena buah kan jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Buyutnya songong, kakeknya songong, bapaknya songongnya kebablasan. lalu Anaknya? Siapa yang tahu ...


Mereka sampai di halaman luas belakang, di dekat kolam renang. Ada juga Gazebo kecil tempat untuk bersantai, terakhir kali di pakai saat ia berkumpul dengan sahabatnya. Entah kapan itu, Ia sendiri tidak ingat karena terlalu lama tidak kumpul.


" Right Kicik, sekarang kita mulai dari pemanasan. Nah ... Baby duduk di sini yah, perhatikan apa yang Daddy lakukan, okey?" ujar Dirga, setelah mendudukan Anaknya. Ia meletakkan Gav di kursi khusus Bayi, lalu berjongkok di depan Gav yang bertepuk tangan semangat.


Bhu da da


" Good Boy " gumam Dirga senang, menepuk kepala Anaknya sayang. Lalu Ia pun mundur, melakukan pamanasannya.


Dirga berlari-lari kecil, memutari kursi Anaknya yang ikut memutar kepala, saat Sang Daddy berada di belakangnya.


Ahihi bhu da da


" Heum?"


*Bhuu hi hi* ...


" Baby senang?" tanya Dirga, menghentikan larinya merasa cukup untuk pemanasan.


Ia menghampiri Gav, yang sedang menepuk-ngepuk dengan semangat meja penyangga, agar Anaknya tidak jatuh. Karena mejanya terbuat dari plastik bunyinya terdengar nyaring, hingga membuatnya ngeri sendiri. Takut mejanya belah, karena kekuatan Anaknya yang tidak main-main.


Brak Brak


Dirga melotot horor, antara gemas dan ngeri. Saat melihat mejanya berguncang seiring tepukan bar-bar Anaknya.


" Semangat sekali, kali ini bagaimana kalau kita squat jump? Setuju heum?" tanya Dirga, menuai kekehan tidak paham dari Gav.


" Good Boy"


Dirga melakukan kegiatan olahraga lainnya, dengan Gav sebagai penyemangat. Di iringi dengan tepukan tangan dan kekekhan senang, Dirga lupa dengan Radarnya. Sehingga Ia tidak melihat sekitar, saat ada sepasang mata yang melihat dari kejauhan.


.


Pukul. 8 pagi Kiara bangun dari tidurnya, Ia meraba kasur di sebelahnya yang kosong. Sepertinya Suami sudah bangun, lalu Ia ke arah ranjang milik Gav yang juga ...


" Gav, Gav sayang kamu di man ...


Ceklek


Bhu da da hi hi


Kiara langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka, di susul suara Anaknya yang kini tersenyum dengan lebar.


Bhuu tu tu


Ia pun memghembuskan nafas lega, saat melihat Anaknya baik-baik saja. Ia kira ada apa, hampir saja Jantungnya copot.


" kenapa sayang?" tanya Dirga, saat melihat Istrinya menghela nafas, dengan tangan memegang Jantungnya.


" Nggak apa-apa sayang, kamu nggak ke kantor?" tanya Kiara, tapi bukannya jawaban yang di dapat malah kecupan dalam.


Kiss


" Good morning, My heart." bisik Dirga, setelah mencium Kiara yang kedip-kedip lucu.


Bhuu tu tu hihi


" Yah, ada Gav loh. Kenapa sembarangan cium aku? " seru Kiara sewot, membuat sepasang Daddy dan anak itu terkekeh bahagia.


Bhuu


" Gav bilang nggak apa-apa kok, iya kan sayang?" tanya Dirga, melihat Anaknya yang bertepuk tangan.


Bhuu Ahihi hi


" Heumb" gumam Kiara, melengos wajah ke arah lain. Kemudian tersenyum kecil, menggelitik Gav yang langsung ke girangan, pagi-pagi bercanda dengan kedua Orang tuanya.


Bhuu hi hi hi


Skip


Setelah bercanda, hingga Sang anak tertawa kegirangan. Keluarga kecil Dirga sarapan bersama, yang tumben sekali terjadi.

__ADS_1


Di meja makan sudah tersedia, menu sarapan sederhana. Baik Dirga maupun kiara lebih memilih roti sebagai sarapan, nasi terlalu berat untuk di jadikan sarapan.


" Tuan, biar saya gendong Tuan kicik." ujar Anita, menunduk saat melihat Tuannya menggendong Gav.


" Tidak perlu" balas Dirga singkat, kemudian mendudukan dirinya di kursi. Di ikuti Kiara, yang duduk di sampingnya.


Anita pun mengangguk, berdiri menunggu perintah. Biasanya, pagi-pagi begini setelah selesai pekerjaan. Ia akan membawa Gav Jalan-jalan, tapi karena pagi ini Sang Tuan sudah mengajak Gav berkeliling Ia jadi bingung sendiri.


" An, kamu bersihin kamar aja." ujar Kiara, memerintah Anita.


" Iya Nyonya." balas Anita, kemudian melenggang pergi, meninggalkan ruang makan.


" Kamu katanya curiga?" gumam Dirga pelan, bertanya kepada Istrinya setelah kepergian Anita. Ia melihat ke arah Istrinya, yang tersenyum aneh.


" Kamu mau kopi?" seru Kiara, tanpa membalas pertanyaan. Membuat Dirga menghela nafas, menyerah.


" Hn, seperti biasa." balas Dirga, berusaha membiarkan apa yang akan di lakukan Sang Istri.


Kiara membuatkan kopi untuknya dengan semangat, bersenandung senang dengan bibir penuh senyum. Pemandangan yang sangat indah menurutnya, hingga Ia pun tersenyum melihatnya.


Trak


Kiara meletakkan secangkir kopi di meja makan pelan, menimbulkan bunyi beradu dari keduanya. Uap mengepul di atas permukaannya, dengan aroma khas yang membuatnya rileks.


" Arigatou hime ( terima kasih permaisuriku )" ujar Dirga lembut, mengusap rambut basah Istrinya sayang.


" Doitashimashite otou-sama ( kembali, Daddy )" balas Kiara.


Mereka memulai sarapannya, namun di tengah acara sarapan. Kiara izin ke atas, ingin mengecek sesuatu. Dirga hanya mengiyakan, yang penting Istrinya senang. Karena saat izin, ada senyum aneh di bibirnya.


" Haih, ini yang buat Daddy males. Perempuan itu unik, terlalu sensitif sama sekitar. Nanti, kalau Gav sudah besar, jangan Cepat-cepat punya pacar yah. Pusing, mending main saham seperti Daddy dulu." ujar Dirga, menghadap ke arah Anaknya yang memandang Ia dengan polos.


Bhuu da da tu


" Heum, Mommy juga perempuan. Bawel dan tukang gigit!" sahut Dirga kurang ajar


Bhuu


" Hum hum ... Betul, sejenis macan betina." Lanjutnya tambah kurang ajar.


Bhu tu tu nuuuuuu


" Mommy lagi pergi, jadi nggak denger sayang, Baby tenang saja." Lanjutnya, tidak tahu jika anaknya menyebut tu tu yang artinya Sang Mommy.


Tu tu ahi hihi


Gyuttt


Tepat saat Gav tertawa dengan gurihnya, telinganya merasakan perih. Di sertai muncul suara desisan yang sudah Ia hafal, hingga membuat bulu kuduknya meremang takut.


" Siapa sayang yang macan betina, heum?"


Kiara menarik telinga Suaminya, yang memohon ampun dengan kekehan kecilnya. Ia Terlalu semangat julid Sang Istri, hingga tidak sadar yang di julid ada di belakangnya.


" Aaaggg ... Ya ya ya ampun sayang, Aku cuma lagi diskusi sama Baby. " Seru Dirga menahan sakit, sesekali Ia terkekeh saat melihat Anaknya memberi semangat pada Sang Istri.


" Yah Gav, tolong Daddy dong."


Ahihi bhuuuu da da


Gyutt


" Aaakkh ... Sayang, jangan di situ. Yah yah sakit!" seru Dirga, menahan perih di dadanya saat di cubit ganas.


" Heumb"


Kiara pun melepaskan cubitannya, kemudian duduk kembali, dengan wajah di tekuk kesal. Ia merasa di khianati oleh Sang suami, di belakangnya Suaminya menggosipinya, lebih parahnya bersama Sang Anak yang masih polos.


" Hehe ... Maaf sayang, cuma bercanda kok."


Bujuk Dirga, saat melihat Istrinya cemberut. Tapi tidak lama, saat tiba-tiba Sang Istri menampilkan raut wajah serius menghadapnya. Membuat perasaannya tidak enak, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.


" Yank"


" Hum?" Gumamnya menjawab penggilan Sang Istri, alisnya mengernyit saat melihat sorot mata serius Kiara yang berubah drastis.


" Sepertinya ada yang salah" Lanjutnya dalam hati.


" Aku tadi melihatnya"


" Hah?"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya...


Jangan lupa kirim komentar dan klik jempolnya...


Serta vote dukunganya...


Sampai babai


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2