Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Masa Orientasi Sekolah


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA S


Nama sekolah di atas adalah nama dari sekolah Gavriel, Ezra dan Queene untuk tiga tahun yang akan datang.


Heum ... Tidak juga, jika Gavriel atau pun ketiganya ingin, mungkin saja mereka sudah bisa ikut ujian kelulusan SMA.


Bercanda!


Gavriel dan Queene mau saja, tapi Ezra bilang ingin menikmati masa putih abu-abu seperti layaknya remaja lainnya.


Ez bilang ...


Come on Dude,


Cukup di perusahaan saja, aku merasa tua di umurku yang ke-15.


Dan berkat perkataan Ez yang berbicara dengan gaya candaannya, maka mereka putuskan untuk mengikuti apa mau sahabat mereka.


Lagian Gavriel pun berfikir, kapan lagi mereka memiliki kenangan golden memory di masa remaja seperti ini.


Masa remaja hanya sekali, tidak bisa di ulang.


Sebenarnya ada alasan lainnya ...


Apa coba?


Psst ... Sebenarnya Gavriel tidak ingin di rejeng oleh sang Daddy untuk kedua kalinya, saat ingat jika sang Mommy sempat mengamuk, karena dirinya ikut terjun di dunia bisnis di umurnya yang ke-12.


Sang Daddy di musuhi oleh sang Mommy, sang Mommy mendiaminya dan sang Daddy bilang ini semua salahnya.


Hek ... Daddy durhaka, untung saja ia punya senjata andalannya, senjata paling ampuh untuk merayu sang Mommy.


Senjata andalannya apa hayo?


Nangis!


Sorry gaes, sudah bukan zamannya ia menangis dengan linangan air mata kadal.


Untuk saat ini tidak usah dibahas dulu, karena yang akan di bahas adalah tiga sekawan, dengan pakaian dan atribut yang sama, namun hanya beda pada bagian kepala ketiganya.


Di depan gerbang ada panitia Osis dari pihak sekolah, menyambut murid baru dengan wajah ramah.


Ini wajah pembukaan, biasanya seperti itu, sebelum bertransformasi menjadi killer, di acara utama yang akan segera di laksanakan.


Motor yang di kendarai Gavriel tiba bersamaan dengan motor yang di kendarai Ezra.


Tentu saja, mereka sempat kok balapan icip-icip, dengan Queene yang memberi semangat di boncengan motor Ezra.


"Pffftt!!"


Suara tawa yang seperti di tahan dari arah samping, membuat perempuan di antara ketiganya menoleh dengan cepat.


Dengan memicingkan mata dan tangan sibuk membenahi rambutnya, Queene, perempuan tersebut menarik kantung matanya meledek ke arah Si pelaku tahan tawa.


"Reseh, jangan tertawa seperti itu!" sembur Queene, membuat yang di sembur tidak kuasa menahan gelak tawanya.


"Ha-ha-ha!!"


Ezra yang baru membuka helm, menggeleng kepala saat melihat sahabatnya mentertawakan sahabat lainnya.


"Queene, itu rambut apa kios jepit rambut?" celetuk Ezra, membuat Gavriel semakin tergelak dengan tampannya.


"Ez! Ah!"


Tidak bisa melawan apa yang di katakan Ezra, Queene menghentak kaki kesal, dengan tangan bersedekap pose ngambek.


"Queene, Mang Jojo kehilangan banyak tali rapia, ternyata kamu yang curi yah?" ujar Gavriel di sela gelak tawanya.


"Ih! Ngeselin banget, udah yuk masuk!" seru Queene menyerah.


Ia ingin membalas perkataan kedua sahabatnya, tapi pakaian laki-laki tidak ada yang aneh kecuali ....


"Pffttt!!!"


Kalau tadi Gavriel dan Ezra yang menahan tawa, kini giliran Queene yang tertawa saat dua sahabat laki-lakinya, menggulung celana dan memasukkannya kedalam kaos kaki beda warna.


"Bwa-ha-ha!!!"


Queene bahkan tidak menyembunyikan tawa membahananya.


Ia dengan tangan memegang perut, tertawa santai tanpa malu saat orang-orang di sekitarnya, melihat mereka dengan sorot mata beda-beda.


"Ampun dah, kalian ini tukeran yah kaos kakinya? atau mau main bola, kaos kaki panjang banget?"


Setelah tertawa seperti itu, Queene kembali tertawa membuat Gavriel dan Ezra yang mendengarnya menahan kesal.


Dua sahabat satu jenis kelamin ini menoleh, saling melihat dengan pandangan mata yg sama.


Dengan isyarat anggukan kepala singkat, mereka mendengkat ke arah Queene, ia belum sadar dengan bahaya yang sedang mengintainya.


Queene sendiri masih tertawa ngakak, bahkan kalau urat malunya sudah putus, ia ingin guling-gulingan sekarang juga.


"Ha-ha-ha!!"


Selagi sahabat perempuannya tertawa, Gav dan Ez berdiri di belakangnya dengan tangan siap eksekusi.


Keduanya saling mengangguk dan memasang senyum mengerikan.


"Queene," bisik Gavriel di telinga sang sahabat, membuat Queene yang di bisiki dengan cara seperti itu merinding seketika.


Tawanya hilang dengan tubuh mendadak kaku, dari arah belakang ia bisa merasakan hawa frezer dan hawa air conditioner, yang tiba-tiba membuatnya menggigil.


Brr!


Dengan gerakan kaku ia menoleh ke arah belakang, ke arah dua remaja yang menatapnya dengan senyum tanpa ekspresi.

__ADS_1


"He-he."


Queene tertawa canggung dengan menampilkan senyum lebar, memamerkan gigi putih terawatnya ke arah sahabatnya.


"Hari yang cerah," Lanjutnya, sambil mundur berniat mengeluarkan jurus seribu langkahnya.


Tapi sayang sekali, niat hanya tinggal niat, nyatanya saat ia melakukan mundur kamuflase. Ezra dengan sigap berdiri di belakangnya, hingga akhirnya ia kini di apit oleh dua sahabatnya dari arah belakang dan depannya.


"Hari ini cerah sekali," ujar Gavriel dengan nada main-mainnya, melihat langit yang cerah kemudian melihat ke arah sahabat perempuannya, yang kini menampilkan ekspresi lucu seperti tikus nyemplung ke got.


"Enaknya ngapain?" sahut Ezra membalas perkataan sepupunya, ikut menampilkan ekspresi wajah yang sama dengan sepupunya.


"Ada guguk yang perlu di bawa jalan-jalan, bagaimana menurutmu, Ez?" balas Gavriel melihat sepupunya dengan ekspresi polos.


"Bagaimana kalau kita geret saja?" balas Ezra tersenyum lebar, namun matanya menatap Queene yang saat ini sedang menelan salivanya susah payah.


"Hiks, huwee," batin Queene menangis.


"Ah ... Kalau gitu bagaimana kalau kita geret sekarang juga?" ujar Gavriel ceria.


"Ide bagus, lets go!"


"Tidak!!!"


Pekikan membahana dari Queene, tidak membuat Gav dan Ez melepaskan tangan mereka, di area leher dan rambut sahabat perempuannya.


Mereka dengan semangat mengunyel-ngunyel rambut, serta memiting leher Queene yang hampir kehabisan nafas, di iringi tawa setan saat menganiaya sahabat perempuan mereka.


"Akh! Lepas, lepas. Akh!"


Queene memberontak sekuat tenaga, saat kedua sahabatnya tanpa ampun mengerjai rambut dan lehernya.


"Tidak akan," sahut Gavriel cepat, bahkan dengan iseng ia membawa wajah Queene ke arah ketiaknya jurus andalannya saat sedang gelud.


Bagi orang yang melihat kejadian ini, mereka mengira jika Queene sedang di sayang dengan dua orang tampan, tapi nyatanya ia sedang mengalami apa itu rasanya kejamnya dunia persahabatan.


"Ah!! Ampun, oke ampun!!"


Queene pun menyerah dan mengibarkan bendera putih, membuat Gav dan Ez pun melepaskan pitingan tangan lalu tertawa puas bersama.


Queene yang sudah bebas dari jerat aniaya pun segera menarik nafas dalam, mencubit dengan kekuatan seribu Dewa, sehingga dua sahabatnya memekik sakit merasakan pembalasannya.


"Akh! Sak-sakit Que!"


"Aw-aw!! Ya-yampun!"


"Rasakan! Rasakan!"


Mereka yang bercanda dengan cara mereka tidak menyadari, jika kegiatan awal dari mereka datang hingga menerima balasan di perhatikan, oleh seseorang dengan pakaian putih abu-abu lengkap dengan handband di lengannya.


"Ge!"


"Oi!"


"Lagi liatin apa?" tanya teman orang yang memanggil Ge.


"Anak baru, apa lagi?" balas Ge balik bertanya.


"Ck ... Basing Lu aja, Gue periksa yang lain. Udah mau masuk nih," ujar si teman kesal lalu meninggalkan Ge, yang masih melihat ke arah Gavriel dan teman-teman penasaran.


Di sisi Gavriel, mereka masih menahan sakit dari cubitan yang di berikan oleh Queene.


Sakit yang mereka rasakan sama dengan sakit di sengat lebah, namun dengan tambah pedas dan sebagainya.


"Ah! Queene lepaskan!"


"Tidak akan!" seru Queene menolak dengan cepat.


"Queene, nanti aku beliin kartu game terbaru,"


"Tidak mempan!"


"Ah! Que-


"Sebaiknya kalian cepat masuk atau kalian saya hukum sekarang juga,"


Ucapan Ezra berhenti saat tiba-tiba ada suara seseorang mengintrupsi, dari arah belakang mereka saat ini.


Mereka bertiga kompak menoleh, melihat penampakan laki-laki dengan seragam putih abu-abu, lengkap dengan tanda pengenal osis di lengannya.


"Kalian tidak dengar, dengan apa yang saya katakan?" lanjut senior tersebut.


"Baik!" seru Queene segera.


"Hn."


"Ya,"


Si senior melihat ke arah ketiganya dengan sorot mata berbeda, apalagi saat melihat wajah datar dari adik kelasnya saat ini.


Dalam hati ia bersiul takjub, saat melihat ada murid baru tidak takut dengan orang berstatus kakak kelas, terlebih Ia adalah ketua osis di acara masa orientasi kali ini.


"Buruan masuk, masih ada waktu untuk bersiap-siap," Ujarnya kemudian berjalan setelah ketiga calon adik kelasnya memasuki gerbang sekolahnya.


Dari belakang sini ia bisa melihat, bagaimana perempuan satu-satunya di antara mereka, di tepuk kepala dan membalas dengan cara yang unik.


"Khe .... Lucu sekali," Gumamnya dengan kekehan yang tidak ia sadari.


"What, gila. Baru juga pertama lihat, sudah bisa membuat Gue terkekeh aja," Batinnya heran.


Aula sekolah


Murid baru dengan jumlah 200 orang ini di kumpulkan di aula besar, tempat biasa mereka melakukan peloncoan untuk murid tahun ajaran baru.


Sebuah mimbar kecil di depan sana, berdiri seorang laki-laki yang tadi pagi menegur mereka bertiga.


Queene yang duduk di samping Gavriel, mencolek dan berbisik lirih saat ia ingat dengan penampakan di depannya.


"Psst!! Psst!!"


"Heum?" gumam Gavriel tanpa melirik.

__ADS_1


"Itu kakak yang tadi pagi," bisik Queene mendekat ke arah telinga Gavriel.


"Iya, terus kenapa?" tanya Gavriel bingung.


Ia mendorong wajah sahabat perempuannya, saat ia merasa jika wajah sahabatnya terlalu dekat dengan telinganya, membuat ia merasa geli sehingga bulu kuduknya meremang.


"Jangan dekat-dekat," bisik Gavriel, membuat Queene merengut kesal.


"Is, baru di bisikin, belum di cium," dumel Queene asal, menuai pelototan dari Gavriel yang segera menjitak kepalanya pelan.


"Sembarangan," sembur Gavriel, tapi sayang yang di sembur hanya menampilkan senyum polos-polos menghanyutkan.


"Cie-cie, malu," goda Queene dengan alis naik-turun.


Ezra yang ada di sebelah keduanya hanya geleng kepala, untung saja mereka ada di bagian belakang karena telat masuk aula.


Coba kalau mereka datang awal dan duduk ngaso di depan sana.


Ia yakin dua sahabatnya sudah jadi santapan panitia osis, yang saat ini sedang mengumumkan peraturan-peraturan untuk tiga hari kedepan.


"Kalian ini, awas loh lama-lama jatuh cinta," celetuk Ezra tanpa melihat ke arah samping.


Shing!


Dua pasang mata beda ukuran itu kompak menoleh ke arah Ezra, si pelaku celetukan unfaedah yang malah bersiul pura-pura tidak lihat.


"Coba katakan lagi?" desis Gavriel menatap Ezra dengan mata tajamnya.


"Lama-lama jatuh cinta," ujar Ezra mengulangi dengan nada santai, berpura-pura polos lalu terkekeh saat kedua temannya kompak membuat gaya gumoh jamaah.


"Tidak akan!"


"Cie, kompaknya,"


Queene yang kesal berdiri dari duduknya, menunjuk ke arah Ezra dengan bibir mengumpat kesal.


"Ah! Ezra siilin, gelud yu-


"Hey kalian bertiga, maju ke depan sekarang juga!"


"Ampun dah."


"Astatang, Queene."


Dua laki-laki sahabat Queene hanya bisa menepuk dahi dan mendesah frustrasi, saat mereka mendengar panggilan perintah untuk maju ke depan.


Sedangkan Queene sang pelaku keonaran, hanya bisa menatap depan dan dua sahabatnya bergantian.


"Eh! Saya kak?"


"Iya! Siapa lagi! Sini kalian!"


Akibat keributan yang di lakukan seorang murid baru, acara pun di tunda untuk memberikan hukuman untuk tiga murid biang onar.


Sedangkan di tengah-tengah kumpulan para murid baru, duduk dengan anggun seorang siswi peserta MOS yang melihat arah depan dengan kening berkerut, saat melihat satu di antara tiga murid tersebut.


"Itu ka-


"Itu kan Gavriel dan Ezra,"


Ucapan siswi baru ini berhenti saat siswi lain yang duduk di sebelahnya, menyela menyebut nama yang ingin ia sebut.


"Iya, itu kan Gavriel dan Ezra," timpal orang yang lainnya.


"Ih aku nggak sangka, bisa satu sekolah dengan pangeran kita, tidak apa-apa tidak satu sekolah saat SMP, yang penting satu SMA."


"Iya-iya, betul banget!"


Bisik-bisik di sebelahnya semakin menjadi, membuat ia merasa, jika siswa yang ada di depan sana pasti lah sangat terkenal.


"Ya ... Tentu saja, dia memang paling bersinar," Batinnya melihat ke arah Gavriel yang berdiri dengan seorang siswi saling senggol.


"Tapi, siapa murid perempuan itu?" Gumamnya pelan, sehingga sahabatnya yang duduk di samping mengernyit heran.


"Kenapa?" tanya sang sahabat.


"Eh, tapi itu Gavriel dan Ezra kan? Kita satu sekolah," Lanjutnya berbisik kepada sahabatnya, yang masih melihat ke arah depan sana, tapatnya ke arah Gavriel berada.


"Iya ... Seperti itu lah," Balasnya mencoba biasa.


"Asik! Bisa ketemu terus dong," bisik sahabatnya menggoda.


"Ih ... Apa'an sih,"


"Cie!"


Di depan sana Gavriel, Queene dan Ezra yang mendapat hukuman berdiri hanya bisa diam.


Queene sibuk menyenggol Gav dan Ez yang berdiri di sebelahnya, sedangkan Gav dan Ez hanya bisa menatap datar ke arah depan, saat mendapat tatapan berbeda dari semua orang yang ada di dalam aula.


"Psst! Pegel nih berdiri terus," bisik Queene kesal, ke arah Gavriel yang mendengus.


"Ck ... Salah siapa, diam saja lah," bisik Gavriel kejam.


"Ih! Ga-


"Kalian mau di tambah hukumannya?"


"Tidak!"


"Dasar, lucu juga," batin seseorang geli.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Siapakah murid baru perempuan ini?


Siapakah seseorang yang berbicara di batin dengan geli?


Mau tahu ...

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai


__ADS_2