
Season dua
Selamat membaca
Disarankan mendengarkan lagu 180° degree__Ben, saat part Queeneira.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Long ping, Yuen Long, New teritori.
Kediamanan Chen
Pukul. 20:00
Gavriel pov on
Hari ini di lewati dengan biasa, padahal aku tidak di rumah, aku malah di luar jalan dan bersenang-senang. Tapi kenapa aku merasa biasa saja, tidak, maksudku, aku senang tapi aku tidak sesenang itu.
Saat aku jalan dengannya, aku tahu ada beberapa perbedaan saat aku sedang jalan dengan dia satunya. Aku merasa lebih hidup, saat aku sedang berada di dekatnya, aku merasakan perasaan berwarna jika dengan satunya.
Saat ini aku sedang ada di luar rumah kakek Fendi, aku sedang menikmati udara malam, karena aku tidak bisa benar-benar menikmati udara dari balik jendela di kamarku.
Aku sendiri, aku menolak untuk ditemani saat Ezra ingin berbincang denganku. Aku sedang ingin mencari tahu sendiri, sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan, sehingga terkadang aku pun bingung sendiri.
Momm, aku rindu dengannya. Seharusnya aku bisa memeluknya, jika aku sedang seperti ini. Yah ... Meskipun aku harus berebut dengan Daddy, tapi aku lah yang akan menang ujung-ujungnya.
Kekehan tiba-tiba keluar begitu saja, dari belah bibirku saat memikirkan tentang kedua orang tuaku.
Aku rasa kisah cinta mereka lah, yang paling romantis dari semua kisah yang aku ketahui.
Terkadang aku heran, bagaimana bisa Daddy sangat mencintai Mommy sebegitunya. Maksudku, Daddy bahkan akan berubah menjadi seorang yang berbeda jika sedang bersama Mommy, akan menjadi hangat, penuh dengan senyum dan perhatian. Sedangkan jika beliau sedang berada di kantor, Daddy hanya akan menampilkan wajah datarnya.
Apa cinta memang seperti itu?
Merubah seseorang menjadi 360° dari kebiasaannya.
Hum ... Untuk saat ini aku belum yakin, tapi setidaknya aku tahu, kalau aku akan berubah jika sedang ada di dekat keluargaku, dan juga sahabatku, Queeneira. Serta sepupuku, Ezra.
Bukan kah itu juga karena aku mencintai mereka juga?
Tentu saja, aku mencintai mereka.
Udara kali ini lumayan dingin, apa karena aku sedang ada di luar rumah ya, sehingga dinginnya lebih terasa.
Hum ... Entahlah, bahkan aku tanpa memakai atasan pun akan tahan, dengan dinginnya air conditioner di dalam kamarku.
Ck ... Lagi-lagi aku ingat ucapan Momm, saat beliau bilang aku yang begini, yang tahan dingin sekalipun tidak memakai baju juga mirip Dadd. Bedanya, kalau Dadd sudah terbiasa dan akan seperti itu, sedangkan aku masih bisa menahan, dan akan memakai baju meski tidak ada orang di dekatku, kecuali sedang tidur, aku seperti Dadd atau sebenarnya aku memang seperti Daddy untuk segala hal.
"Ck ... Kenapa aku seperti Daddy sih," gumamku kesal sendiri.
Saat sedang asik melihat bintang di atas, aku mendengar pintu terbuka, kemudian disusul suara dari seseorang yang sangat aku kenali siapa.
Krieet!
Tap! Tap! Tap!
"Gavriel."
Tanpa menoleh pun aku tahu itu siapa, aku hanya bergumam dan merasakan sentuhan di lenganku, saat dia berdiri di sampingku.
"Hn."
"Sudah malam, kamu belum tidur?" tanyanya.
Aku masih bergeming, dengan suasana hati yang lagi-lagi amburadul. Padahal aku sedang menata hati, saat aku berpikir untuk mengikhlaskan diri untuk berbagi, caranya yaitu aku tidak ingin terlalu dekat lagi dengannya.
"Hn."
Hening.
"Gavriel."
Dia tidak mudah menyerah, akan selalu memanggilku, jika aku hanya bergumam saat menjawab pertanyaannya.
"Hn."
"Gavriel."
"Hn."
"Tav."
Ck ... Panggilan itu, membuatku akhirnya mengalah, saat aku tahu dia sedang menggodaku.
"Ada apa, Queene. Heum?" tanyaku gemas.
Aku bisa mendengar kekehan merdunya, saat aku gemas tapi masih dengan ekspresi wajah lempeng andalanku.
"Wajah dan rasa gemas kamu nggak cocok jadi satu, dasar."
Aku hanya melengos, enggan melihat wajah ayu milik sahabatku, yang mampu membuatku selalu tersenyum tanpa aku sadari.
"Hn."
"Aku akan menendang bokongmu, Gavriel. Jika aku bertanya, kamu masih bergumam saat menjawabnya."
Sepertinya dia mulai kesal dan harus aku akui, jika aku saat ini sedang terkekeh dalam hati saat mendengar nada suara merajuknya.
"Hn."
Buagh!
__ADS_1
Akh!
Aku meringis sakit, saat merasakan tendangan pada bokongku. Dia juga tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Sakit, Que."
"Suruh siapa?" tantangnya, tidak perduli saat aku berusaha menahan sakit, serta menahan diri agar tidak mengusap bokongku di depannya.
"Gavriel."
Lagi-lagi dia hanya memanggilku, tanpa bertanya lebih lanjut sehingga aku pun menghela napas, menyerah tidak ingin terkena tendangannya lagi.
"Iya, Queene. Ada apa?" tanyaku jelas dan dia pun akhirnya tersenyum, meskipun penerangan tidak terlalu jelas, tapi aku tahu jika dia sedang tersenyum penuh kemenangan, karena akhirnya aku tidak bergumam lagi.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memanggil namamu seperti itu."
Aku bingung dan menggelengkan kepalaku, lucu dengan jawaban tidak terduga yang aku dengar darinya.
"Jangan dipanggil terus, aku takut kalau kamu kangen sama aku, aku tidak bisa dengan segera ada di sampingmu, Queene."
Deg!
Aku menoleh dengan segera, saat ucapan seperti itu meluncur mulus dari lisanku. Apa yang baru saja aku katakan, astaga.
Dia pun melihat ke arahku, dengan senyum kecil saat aku melihatnya dengan ekspresi kaget, yang tertutup dengan ekspresi datarku.
"Maksud aku, jangan dipanggil terus. Aku tidak tuli," elakku saat dia masih menatapku dalam diam.
Dia lagi-lagi hanya tersenyum kecil, lalu kembali melihat langit, dengan aku yang mengikuti, melihat ke arah langit juga.
"Gavriel, kamu masih ingat tidak, saat dulu kita masih kecil?" tanyanya, membuatku tersenyum kecil dan mengangguk saat aku ingat akan kenangan kami.
"Tentu saja, kamu selalu menempel denganku," balasku dengan senyum kecil.
"Kenapa hanya bagian itu yang kamu ingat?" tanyanya melihat ke arahku dengan mata memicing.
Aku berpura-pura mengangkat bahuku, memasang ekspresi meledek saat dia melengoskan wajah ke arah lain.
Sepertinya dia malu, saat aku mengingatkannya, jika dia dulu memang seperti itu.
"Memang faktanya seperti itu, emang kenapa?" tanyaku balik, membuatnya semakin memasang wajah menggemaskan bagiku.
"Is ... Jangan yang itu."
"Terus yang mana?" tanyaku cepat.
Dia tidak langsung menjawab, melainkan menghadap ke arahku dan menatapku dengan ekspresi yang tidak aku mengerti.
"Yang bagian, kamu akan selalu ada untuk aku, melindungiku dan akan selalu bersamaku. Seperti janji ksatria, saat kita sedang main permainan raja-ratu kerajaan dulu."
Apa!
Tiba-tiba dia tertawa lepas, saat aku sedang kaget dan sedang mencerna apa maksud perkataannya, sebenarnya apa yang sedang ingin dia sampaikan untukku.
"Lihat, wajahmu berubah jadi kaget seperti itu. Lucu sekali."
Aku tetap terdiam saat dia santai tertawa, mengejek raut wajah kagetku, yang sepertinya tidak sempat aku sembunyikan.
"Gavriel, aku bercanda."
Lagi-lagi aku hanya diam, saat dia bilang jika perkataannya hanyalah candaan semata.
"Oh iya, tadi kamu kemana?" tanyanya saat aku masih diam, belum juga menanggapi ataupun menjawab pertanyaannya.
Aku dengan cepat menoleh ke arah lain, tidak ingin raut wajahku terbaca lagi olehnya, karena dia adalah satu di antara beberapa orang yang bisa membedakan arti ekspresi wajahku.
"Jalan keluar," balasku singkat.
"Dengan siapa?" tanyanya, dan akan terus bertanya jika dia belum puas dengan satu jawaban dariku.
"Sendiri," jawabku berbohong.
"Tidak takut kesasar?"
"Buktinya aku bisa kembali," balasku cepat.
Diam.
Kami pun kembali diam, saat aku dengan cepat tanpa menoleh menjawab pertanyaan.
"Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat, Gavriel. Besok kamu mau pergi sendiri lagi?"
"Hn. Kamu mau pergi sendiri juga?"
Aku balik bertanya, saat dia bertanya alih-alih mengusulkan tempat untuk kamu liburan esok hari.
Dia menggelengkan kepala, aku pun meliriknya dan mendengar dengan sangat jelas, saat dia menghela napas.
"Tidak, aku akan bersama Selyn, Ezra. Tapi aku tidak akan memaksamu, karena kamu sepertinya lebih suka jalan bersama yang lain. Dari pada sama kami, iya kan, Gavriel."
Deg!
"Apa maksudnya, Queene?" tanyaku tidak mengerti.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum, kemudian berbalik arah dan berjalan menuju pintu rumah.
"Satu kali, aku harap kamu tidak akan berbohong lagi, Gavriel."
Brak!
Apa maksudnya?
__ADS_1
Satu kali berbohong?
Deg! Deg! Deg!
Seketika jantungku berdetak, bukan karena senang tapi takut, saat ternyata sahabatku sudah tahu, jika aku tadi jalan dengan orang lain.
Dan sialnya, aku berbohong dengannya.
Ah!
Sial, kenapa seperti ini.
Gavriel pov end
Normal pov
Queeneira yang meninggalkan Gavriel sendiri, lebih memilih masuk ke dalam kamar orang tuanya. Ia memutuskan untuk sejenak menenangkan diri, saat ia akhirnya tidak tahan mendengar kebohongan dari sahabatnya.
Sahabatnya tidak pernah berbohong, baru ini dia berbohong seperti itu.
Ya ... Sebenarnya ia tahu, jika tadi siang Gavriel jalan dengan teman sekelasnya, di sepanjang jalan daerah Long Ping.
Bagaimana bisa ia tahu, tentu saja ia tahu, karena ia pun sedang bersama nenek dan Selyn saat itu, saat hendak menuju pasar lainnya untuk berbelanja.
Awalnya ia juga tidak yakin, saat melihat siapa dua orang yang saling menyandar di pinggir jalan. Berdiri bersisihan dan akhirnya jalan bersama, meskipun tidak bergandengan tangan, tapi ia tahu jika sahabatnya menikmati waktu bersama teman sekelasnya itu.
Dari jembatan penyebaran jalan ia bisa melihat dengan jelas, saat pejalan kaki melintasi tempat penyebarangan di bawah sana.
Untungnya neneknya dan Selyn lebih memilih jalan sambil bergandengan tangan, saling bercanda sehingga tidak sempat melihat pemandangan yang ia lihat saat pagi tadi.
Ia tidak tahu jika sampai Selyn melihatnya, mungkin Selyn akan menatapnya dengan pandangan kasihan atau apapun itu yang intinya adalah Selyn sedih.
Queeneira pov on
Kamu sudah berubah, Gavriel.
Kenapa kamu berbohong, dengan bilang jika kamu jalan sendiri tapi nyatanya kamu jalan dengannya.
Seharusnya tidak seperti ini, bukan kah sudah aku bilang jika aku tidak akan melarang kamu, untuk memiliki hubungan dengan yang lainnya, asal kamu memberitahu aku.
Apa permintaan maaf dan janjimu hanya bohong belaka, Gavriel?
Kamu tidak seharusnya seperti ini, kamu seharusnya jujur dan aku akan dengan terbuka dengan keadaan.
Aku juga bisa semakin mengunci rapat hatiku, saat kamu adalah pemilik kuncinya, sehingga rasa yang aku miliki tidak perlu kamu ketahui, meskipun kamu berhasil membukanya.
Aku pikir, ini alasan kamu bertanya kepadaku, bertanya tentang aku suka dia, alih-alih aku suka kamu.
Ini kan artinya, kamu ingin bersama yang lain sehingga kamu tidak perlu terbebani dengan perasaanku, karena aku juga sudah memiliki yang lain di saat kamu sedang denganya.
Itu menurut kamu, Gavriel.
Nyatanya, aku hanya ingin membuatmu terbuka saat melihatku dengannya, tapi malah sebaliknya, matamu semakin tertutup di ikuti juga hatimu.
Kenapa seperti ini?
Setidaknya kalau kamu tidak bohong, aku tidak perlu merasa sakit, melebihi sakit saat aku melihatmu dengannya.
Aku rasa harapanku sampai sini saja, aku rasa aku harus lebih ekstra menahan diri untuk tidak berdekatan denganmu lagi.
Yah ... Sepertinya harus.
Aku tidak sanggup untuk menjalani persahabatan denganmu, jika salah satu di antara kita sudah pernah berbohong, meskipun itu untuk menutupi kenyataan yang membuatku sakit.
Gavriel, aku harap kamu akan bahagia dengannya.
Queeneira pov end
Normal pov on
Di tempat berbeda, ada dua hati yang sama-sama merasa jika ini adalah yang terbaik untuk keduanya.
Sama-sama saling menjauh, saat mereka berpikir jika itu adalah keinginan dari satu sama lain juga.
Sama-sama tidak ingin membebani perasaan, padahal nyatanya perasaan mereka sama.
Sama-sama berharap sahabatnya memiliki pasangan yang baik.
Gavriel yang ingin Queene dapat laki-laki terbaik dan ada setiap saat, sedangkan Queene yang ingin Gavriel bahagia dengan pilihannya.
Disaat Gavriel tidak ingin membebani sahabatnya dengan rasa posesifnya, Queene juga tidak ingin membebani Gavriel dengan rasa di antara persahabatan mereka.
Kejujuran adalah yang dibutuhkan keduanya, tapi kapan semua itu akan terjadi, jika keduanya bahkan enggan membuka perasaan masing-masing, dengan satu yang masih bingung dan mencari jawaban akan arti rasa aneh di dalam hatinya.
Dan juga kesalah pahaman masih menggelayut dipikiran mereka masing-masing. Jadi bagaimana mana mereka bisa membuka mata dan hati mereka kepada satu sama lain?
Suatu hari giliran kalian akan datang untuk berdiri bersebelahan.
Bahkan jika kalian tahu itu, kalian hanya bisa menunggu dengan sabar.
Pertama-tama, kalian sangat berharap seperti "Semoga kamu dan dia bahagia"
Jadi sekarang kalian tidak pernah bisa melakukan apa yang kalian inginkan.
Lalu tunggu, saat kalian sama-sama bisa membuka diri masing-masing, membuka rasa satu sama lain.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Terima kasih, sampai babai.