Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Jalan Bersamaan


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Saat ini rombongan dengan dengan jumlah delapan orang, sedang berjalan bersama masing-masing pasangan.


Di depan ada Ardan dan Selyn, dengan Selyn yang antusias bertanya saat Arlan juga punya turunan darah seperti Mbanya.


Di barisan kedua ada Didi dan temannya, yang adalah kakak kelas mereka juga.


Di barisan terakhir ada ia dan Ezra yang berjalan berdampingan, dengan ia yang menampilkan wajah di tekuk, membuat sepupunya yang melihatnya hanya bisa mendesah lelah.


Hanya ada tiga baris?


Bukan kah tadi ada delapan orang, yang berjalan menjadi satu gerombolan?


Lalu kemana satu pasangan lagi?


Tenang saja, dua sisanya adalah Queeneira dan Ge, yang jalan berdampingan di depannya dan sepupunya, Ezra.


Dari sini, ia bisa melihat dengan jelas, saat sahabat dan kakak kelasnya yang berbincang akrab. Membuat sesuatu di dalam hati seseorang, berdecak tidak suka namun tidak ditampilkannya, tapi seseorang di sampingnya tahu bagaimana ia saat ini.


Sebenarnya kenapa, kok bisa mereka jadi empat pasangan seperti ini, bukan kah hanya empat orang dan seharusnya jadi dua pasangan?


Mau tahu, mari kita lihat mundur, dibeberapa waktu lalu.


Flasback on


Bermula pada saat mereka sampai di depan pintu, awal anak tangga yang akan membawa mereka ke atas bukit tinggi sana.


Mereka yang sama-sama berdiri menghadap ke arah tangga sana, mendengar seseorang memanggil nama salah satu dari mereka. Dengan Queeneira lah, nama yang di panggil tersebut.


Queeneira, yang merasa namanya disebut pun menoleh ke sumber suara. Di hadapannya saat ini terlihat empat empat orang, remaja laki yang dikenalnya sebagai kakak kelas mereka.


"Kalian."


"Yo! Ketemu di sini kita, gue kira kalian bukan rombongan dari kota S."


Queeneira hanya melihat dengan alis terangkat, saat si kakak kelas atu ketos gelo panggilan darinya, menjelaskan hal yang sama sekali tidak ditanya olehnya.


"Kakak, siapa?" tanya Selyn, dengan kening berkerut penasaran.


Tentu ia penasaran dengan penampakan empat laki-laki remaja, yang tadi memanggil Mbanya dengan sebutan akrab seperti itu.


"Dia ini kakak kelas kami, El."


Bukan si kakak kelas atau juga Ge, yang menjawab pertanyaan dari Selyn. Namun sepupunya, yang menatap sahabatnya dan kakak kelasnya bergantian.


"Kakak kelas," beo Selyn mengulangi perkataan sepupunya, dengan kepala miring ke kanan, pose imut turunan dari sang Mommy. Membuat kakak kelas dari mereka, melihat ke arah Selyn dengan mata berbinar gemas.


Gavriel tentu saja langsung bertindak, ia menyembunyikan sang adik dengan segera di belakangnya, menuai dengkusan tidak terima dari tiga kakak kelas mereka, sedangkan satunya beralih menatap sahabat perempuannya.


"Ck, mau apa mereka," batin Gavriel sedikit kesal. Seketika ia merasa de javu saat dulu pernah merasakan ini, bedanya bukan hanya kepada adiknya ia merasa was-was, tapi kepada sahabatnya yang tidak mempermasalahkan kedatangan mereka berempat.


Queeneira yang tadi diam saja melirik sahabatnya, yang diam dengan ekspresi wajah kaku, yang ia tahu sangat kenapa dan mengapa.


Sahabatnya tidak akan bilang apa-apa, namun ekspresi dari wajahnya sudah mewakili semuanya.


Her know him so well.


"Kalian liburan di sini juga?" tanya Queeneira akhirnya buka suara, membuat tanggapan berbeda dari mereka yang mendengarnya.


Gavriel tentu saja diam, namun semakin memasang wajah lempeng.


Ezra, hanya berdiri santai sambil mengistirahatkan betis kesayanganya.


Lalu Selyn bergantian melihat Mamas, Mba dan kakak laki-laki di depan mereka. Ia merasa seperti pernah mengalami ini, tapi dengan seseorang yang berbeda.


"Yup! Kami ke tempat kace, maksudnya kakak perempuan Ardan," ujar Ge menjelaskan, tanpa tahu jika Queene tahu apa maksud dari panggil kace.


"Lei okghei hai pin a? (Rumah kamu di mana)" tanya Queeneira dengan bahasa fasih, ke arah Ardan yang langsung melihatnya, saat ia lebih senang memperhatikan Selyn yang ada di belakang tubuh adik kelasnya.


"Haito lah, Shatin. Lei a? (Di sini, Shatin. Kamu)" tanya balik Ardan, sempat kaget namun tidak lama.


"Long ping," balas Queeneira singkat.


"Can kah? Kem yun meh, (Benarkah? Terlalu jauh)" sahut Ardan dengan ekspresi tidak percaya.


"Hai lah, (Iya lah)" timpal Queene meyakinkan.


Ge yang sama sekali tidak mengerti, hanya mampu melihat sahabatnya dan adik kelasnya bergantian, lengkap dengan ekspresi cengok yang membuat Didi yang ada di sebelahnya meraup wajah Ge dengan telapak tangannya sengaja.

__ADS_1


"Biasa aja, barokokok. Muke lu kagak sedap di pandang," cibir Didi balas dendam, saat kemarin yang mendapatkan raupan cinta dari ketua OSIS gelo, yang merengkap teman sekelasnya.


"Ck ... Biting, reseh banget lu," sungut Ge menatap Didi kesal, namun sayang Didi hanya cuek, lanjut melihat ke arah Selyn yang ketakutan.


"Itu mata mau minta dicolok ya, jangan lihat-lihat adik saya, kak!" sentak Gavriel posesif, padahal ia sudah menyembunyikan sang adik di belakang tubuhnya. Tapi mata kakak Kelasnya masih saja jelalatan, masih melihat dengan binar tertarik ke arah adiknya.


"Ck, santai elah Gavriel Wijaya. Yang diliatin aja biasa aja," sahut Didi dengan pedenya, menuai tampolan dari Ge dan satu temannya yang lain, yang sama-sama sedang melihat ke arah Selyn dengan mata lope-lope.


"Basing lu, Biting," sewot Ge kemudian melihat Queeneira sepenuhnya, tidak ikutan masalah perempuan lain, yang ada penjaga berupa shinigami tampan.


"Oh iya, Queene. Kalian baru tiba di sini kan?" tanya Ge menatap berbinar semangat, ke arah Queene yang mengangguk mengiyakan.


"Kenapa?" tanya Queene dengan alis bertaut bingung.


"Bagaimana kalau kita, jalan bersama saja, setuju kan, pada?" putus Ge seenaknya, menuai berbagai tanggapan lagi, namun ada paling seseorang yang tidak suka dengan ide tersebut.


"Ck," batinnya kesal.


Flasback end


Maka di sini lah mereka berada, di puncak dari tempat yang saat ini mereka kunjungi. Kalian bisa melihat view cantik, dengan patung budha, serta pemandangan kota yang seluruhnya hampir terlihat dari atas sini.




Pasangan pertama yaitu Selyn dan Ardan, adalah pasangan yang lebih dulu sampai, kemudian di susul pasangan yang lainnya.


"Woow! Mas! Lihat, semua kota terlihat. Tidak sia-sia kita naik tangga aduhai banyak, tapi bisa lihat pemandangan seperti ini."


Seperti biasa, Selyn walaupun sempat melupakan sang kakak tersayang, akan tetap ingat jika ia merasa senang luar biasa. Dan itu membuat Ardan, yang ia kira akan mendapatkan pelukan antusias melongo, saat bukan ia lah yang di gelayuti manja.


"Astaga! Unik sekali," batin Ardan dengan mata berkedip cepat.


Didi dan teman satunya, yang belum di ketahui namanya ini, menghampiri Ardan yang masih diam di tempat.


"Wo-kok-kok ... Yang ditinggalkan, udu-du-du, sedih euy."


Puk!


Ardan baru sadar, saat dua temannya menepuk bahunya, lengkap dengan wajah meledek dan wajah minta ditampol.


"Diem dah, pada," sewot Ardan sambil mendengkus kesal, ke arah dua temannya yang asik menertawakanya.


Ardan muslim kok, ia hanya ingin melihat dari dekat tempat sembahyang umat Budha saja, tidak lebih.


"Ck ... Jangan tinggalkan kami, uey!" seru Didi dan satunya lagi-lagi kompak.


"Mas, kita lihat di sana yuk. Eh! Ada kereta gantung juga?" pekik Selyn dengan antusias, menunjuk kereta gantung yang jauh di sana, namun cukup jelas.



"Kereta gantung kalau mau naik dari Stasiun Ngong Ping, El. Harus turun lagi, jalan kaki lagi," sahut Queene yang saat ini sedang berdiri bersisishan dengan Ge.


"Wow! Jauh lagi dong, tidak jadi lah. He-he," balas Selyn dengan cengiran khasnya.


"Kalau mau-


"Tidak, he-he ... Lain kali saja, hari ini tujuan kita kan patung seribu dan Kowloon. Iya kan," sela Selyn cepat, saat Mbanya hendak menawarkan tujuan berbeda.


Perkataan dari Selyn membuat Ge yang mendengar menoleh ke arah Queene, yang setia berdiri di sebelahnya, tanpa niat pindah seperti yang dilakukan adik dari Gavriel.


"Kalian mau ke Kowloon?" tanya Ge menatap Queene dan depannya, Gavriel, Ezra dan Selyn bergantian.


"Iya, ada apa kak?" tanya Queeneira tanpa sedikit pun curiga, ia hanya menjawab apa adanya tanpa disembunyikan dan tanpa tahu, maksud pertanyaan si Ketos gila.


"Kami ikut perjalanan kalian yah, biar ramai-ramai. Kan seru tuh," usul Ge tanpa bertanya dengan tiga temannya, tapi ia yakin jika mereka pasti setuju dengan usulannya.


"Eh!"


Bukan hanya Queene dan Selyn yang menanggapinya dengan dua huruf e-h, tapi Gavriel dan Ezra juga, meskipun tidak sekencang dua wanita kesayanga mereka.


"Apa maksud kakak?" tanya Gavriel setelah selesai dari rasa terkejutnya, ia menatap ke arah Ge dengan persaingan yang kentara, rasa yang sama sekali tidak ia ketahui apa maksud hatinya.


Dalam hati ia berpikir, buat apa ia kesal dan marah saat kakak kelasnya jalan berdua, lalu sekarang ingin berjalan bersama mereka mengunjungi tempat lainnya.


"Ya ngga ad-


"Boleh! Seperti yang kak Ge bilang, bahwa semakin ramai akan semakin seru. Jadi kenapa tidak?" sela Queeneira tanpa melihat ke arah sahabatnya, yang menatapnya tidak percaya.


"Que, apa maksudnya?" tanya Gavriel dengan nada suara tercekat.


Sumpah demi apa, sejak kapan sahabatnya bisa dekat dengan kakak kelas mereka saat ini.

__ADS_1


Seketika ingatannya melayang, saat ia melihat keduanya duduk bersama di taman belakang, saat mereka bertanding basket.


Tapi, setahunya. Keduanya bahkan tidak saling tegur-sapa, saat bertemu di koridor. Namun, lihat sendiri bagaimana sikap santai seorang Queeneira menerima begitu saja, kehadiran empat kakak kelasnya.


"Maksudnya apa sih, Gav. Bukan kah tidak apa-apa, menambah empat orang lagi dalam rombongan kita hari ini? Toh mereka jalan dengan kaki mereka masing-masing."


Jawaban asal dari Queene tak pelak membuatnya merasa sakit, namun sakit karena apa.


Saat ini ia hanya mampu melihat dengan tatapan tidak percaya, namun tidak mampu untuk berbicara, apalagi saat sahabatnya lebih memilih kakak kelas mereka, untuk jalan dan menyusuri tempat mereka berada saat ini.


"Yuk kak! Anggap saja ucapan terima kasih," ajak Queene lalu lanjut bergumam pelan yang hanya bisa di dengar oleh Ge, namun Ge tidak marah. Justru, ia dengan senyum menerima tawaran adik kelas ubreknya.


"Go chaw!"


Keduanya pun meninggalkan tiga lainnya, menyisakan tiga orang yang hanya mampu diam.


Ezra yang dari tadi diam, merasa de javu saat dulu Gavriel pun melakukan ini dengan sahabat perempuan mereka.


Dalam hati ia menghela napas lelah, pusing dengan apa yang akan terjadi lagi nanti.


Dulu Gavriel, dengan seorang perempuan anak baru, korban tabrakan saat mereka masih SMP. Dan sekarang Queeneira, dengan laki-laki baru kakak kelas yang jelas sekali, tidak disukai oleh sepupunya.


Meskipun sepupunya tidak cerita, tapi ia cukup tahu apa yang saat ini sedang dirasakan sepupunya.


Selyn yang merasakan atmosfer tidak enak, mulai mencari akal. Ia dengan semangat, namun mencoba untuk tidak dibuat-buat, menyeret sang kakak dan sepupunya, untuk berfoto di ujung dari tangga masuk.


Dan untung lah, keduanya segera bisa mengikuti keinginan Selyn, meski masih dengan perasaan canggung Ezra dan kesal untuk Gavriel, tanpa sepengtahuan Selyn, itu menurut mereka.


Asik dengan kegiatan masing-masing, Ezra yang mendapatkan view cantik segera mempostingnya di akun media sosialnya, dengan hastag #Shatinthankowloon.


Baru juga posting, sudah ribuan yang memberikan like lengkap dengan komentar, yang diabaikan olehnya.


Sementara itu, dibagian Queene dan Ge, yang saat ini sedang melihat patung berwarna putih dengan jumlah ratusan, hanya bisa terdiam tanpa obrolan.


Ge mendadak menjadi tidak reseh, saat ia ada di hadapan seorang Queeneira. Sedangkan Queeneira sendiri, sibuk dengan hal yang kedua matanya lihat.


"Em ... Que," gumam Ge pelan, namun cukup jelas di pendengaran Queene, namun Queene hanya berdehem tanda ia mendengar.


"Thank, sudah memperbolehkan kami, untuk berjalan bersama dengan kalian. Aku tahu kok, seseorang ada ya-


"Sama-sama kak, aku biasa saja. Aku hanya suka jika suasana ramai."


Queeneira menyela dengan cepat, perkataan tidak enak dari kakak kelasnya, yang biasanya ceplas-ceplos mendadak jadi malu.


"Ada apa nih," batin Queeneira penasaran.


"Ya tetap saja, aku harus berterima kasih," sahut Ge kembali mode resehnya, membuat Queeneira heran meski dalam hati.


"Iya, kembali kasih."


Sesudahnya tidak ada obrolan lagi, namun mereka tidak benar-benar diam, mereka maksudnya Queeneira menjelaskan dengan penjelasan yang mudah dipahami oleh Ge, saat Ge bertanya tentang sejarah patung seribu budha ini.


Keduanya larut dalam obrolan mereka, dengan sesekali kekehan terdengar dari mereka, tanpa tahu jika ada yang memperhatikan keduanya.


Dari kejauhan mereka diperhatikan oleh seseorang, dengan tangan mengepal erat namun wajahnya masih sama, tidak menunjukan emosi yang saat ini ia rasakan.


Ia menghitung dalam hati, saat ia meyakinkan diri jika apa yang dirasakannya adalah sebuah rasa yang salah, ia berpikir jika ia hanya tidak suka saat tawa sahabatnya, dilihat oleh orang lain dan bukan dirinya.


Ia tidak mungkin menyuka- ah! Maksudnya, mencintai sahabatnya kan.


Sehingga saat sahabatnya dekat dengan laki-laki lain, ia merasakan perasaan yang menyesakkan dalam hatinya.


"Apa ini," batinnya masih saja bingung.


Tidak ingin termakan dengan keadaan cemburu, yang belum diketahui kejelasannya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan keduanya, berjalan menghampiri adik dan sepupunya, yang menanyakan keberadaan sahabat perempuan mereka.


"Que, mana?"


"Mba Queene, mana Mas?"


Mendengar pertanyaan sama dari keduanya, Gavriel hanya bisa mengkat bahu pura-pura tidak tahu, namun tangannya yang disembunyikan di dalam saku mengepal erat.


"Kita tunggu saja," balas Gavriel dengan nada dingin. Nada yang sama sekali, belum pernah keduanya dengar, dari lisan seorang Gavriel jika di hadapan mereka.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Mau tahu?


Ikuti saja kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2