Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Dua Hati Beda Isi


__ADS_3

Season Dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Keineira pov on


Hai ... Namaku Keineira Desmon, biasa di panggil Kei.


Umurku saat ini 15 tahun, aku anak tunggal dari pasangan Reno dan Indy Desmon.


Saat ini aku sedang menunggu Papa, untuk mengantarku berangkat ke sekolah.


Aku selalu di antar oleh Papa, saat Papa tidak ada pekerjaan mendesak di pagi hari.


Papaku sangat menyayangiku, tentunya Mamaku juga.


Sambil nunggu Papa selesai memanaskan mobil, bagaimana kalau kita foto dulu.


Oke siap yah ....



Ini aku, hari ini adalah hari kesekian aku memakai baju seragam baru.


Hi-hi!


Aku tidak sabar ingin bertemu lagi dengan teman-teman yang lain, Intan dan Raiya, yah ... Termasuk dia.


Dia siapa?


Dia, tentu saja, dia yang kemarin menjadi pasangan rajaku.


Siswa SMP yang kemarin menabrakku, yang sekarang sudah menjadi siswa SMA dan satu sekolah denganku.


Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi, aku kira pertemuan kami hanya sebatas bertemu di jalan.


Uh ... Aku malu kalau harus membicarakannya. Ini pertama kali aku seperti ini, padahal banyak laki-laki seumur atau juga kakak kelasku yang tampan, mempesona dan sebagainya.


Tapi ... Entah kenapa, aku merasa dia yang paling bersinar, bisa membuatku terpesona di pertemuan pertamaku.


Aku tidak tahu ini perasaan apa, yang jelas aku selalu malu saat bertemu dengannya.


Aku bisa melihat matanya dengan jelas, saat kami tidak sengaja bertabrakan dan dia jatuh menimpahku.


Di situ aku juga bisa menghirup aroma tubuhnya yang sangat wangi, yah ... Sangat wangi dengan aromanya yang berbeda.


Dan aku suka.


Tin! Tin! Tin!


Ah!


Aku sudah harus berangkat, sampai sini dulu.


Bye!


Keineira pov end


_________________________ 


Queeneira pov on


Sudah pada tahu aku, kan?


Saat ini aku sedang menunggu sahabatku, Ezra, siapa lagi.


Dia yang paling dekat rumahnya denganku.


Jadi dia adalah pilihan pertamaku, untuk pergi bersama ke sekolah, kalau pulang aku biasa dengan Gavriel, sahabatku yang satunya.


Sahabatku dari zaman aku masih bayi, Baba bilang dia adalah seorang yang akan menjadi suamiku di masa depan.


Mimpi ...


Aku dan dia sudah seperti meong dan guguk, lagian aku nyaman dengannya seperti saudara.


Terlebih aku tahu, jika saat ini ada tambahan satu wanita lainnya, di kehidupan yang di jalani dia.


Sebagai sahabat tentu aku tahu, bagaimana perubahan sikapnya terhadap dia.


Tidak usah di fikirkan, aku senang saat dia senang dan bagiku itu cukup.


Seharusnya seperti itu, kan?


Ini aku dengan seragam baruku.




"Oy! Lagi liatin apa? Buruan naik!"


Hais ... Mengagetkan aku saja.


"Iya! Elah ... Lagi pose cantik, ganggu aja!" Ujarku sewot.


"Eleh!"


Oke, aku berangkat ke sekolah dulu.


Sampai babai.


Queeneira pov end


_____________________


Selyn pov on


Selamat pagi!


Semangat baru semua, hari ini aku pergi ke sekolah dengan Mamas lagi.


Daddy lagi-lagi harus pergi pagi sekali, untuk menghadiri meeting ulu-lu-lu-lu.


Meeting, yang membuatku tidak bisa menikmati waktu dengan Daddy tampanku.


Aku saat ini sedang menunggu Mas Gavriel memanaskan motor, sambil menunggunya, aku melihat foto-foto semasa kami kecil.


Hi-hi-hi!


Lucu sekali, aku ingat di salah satu foto tersebut, ada kejadian lucu saat kami kecil.


Eh!


Foto Daddy dan Mommy juga ada.







Momm bilang, foto itu di ambil saat aku merengek kepada Mas Gav, untuk menemaniku berkeliling desa, saat kami menghadiri festival di desa Nuan.


Dan Momm bilang, saat kami berlibur di desa, itu pertama kalinya bagi Daddy memberikan sambutan, untuk pembukaan festival peringatan musim semi.


Momm memanggil Daddy, lalu dapat deh fotonya.



Dan ini aku sekarang, bagaimana menurut kalian?


"El, yuk berangkat!"


"Oke, Mas!"


Eh ... Mas sudah memanggilku, sampai babai semua, nanti di lanjut yah.


"Momm, El berangkat yah! Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, sayang!"


Selyn pov end


 ______________________________


Ezra pov on


Hai mua-muanya ...


Tadi aku baru dari lapangan bisball emh ... Tulisannya seperti apa yah, baseball, bisball atau bassboll.


Eh pokoknya itu itu lah, permainan yang memakai bola dan pemukul, pastinya.


(Timpuk nih, yang bener. Iya, elah maaf)


Aku suka bisball, basket juga sih, meski tidak seperti Gavriel, sepupuku yang sampai menjadi kapten basket.


Eleh .... Tali sepatuku lepas, mana Gavriel sedang membaca laporan, kan aku tidak bisa memintanya untuk memakaikan tali sepatuku.



Bercanda!


Aku pakai tali sepatuku dulu, bisa-bisa nanti aku terserimpet tali sepatuku sendiri dan jatuh.


Harga diriku sebagai laki-laki tampan ternodai guys ...


"Oy! Nengok sini!"


"Ap-


Cekrek!

__ADS_1


"Ha-ha-ha, dapat foto, lumayan untuk di jual!" seru Queene, membuatku mendengus kesal.


"Dasar!"


"Mau kemana? Sebentar lagi bel masuk loh!" seru Queene.


"Toilet, kenapa, mau ikut?" Balasku menggoda.


"Is! Reseh! Syuh-syuh!"


Aku terkekeh, lalu meninggalkan Queene dan Gavriel, yang masih membaca laporan kerjaannya.


"Dasar," Gumamku sebelum meninggalkan keduanya.


Ezra pov end


___________________________


Gavriel pov on


"Gav! Lihat aku!"


Aku pun menoleh ke arah samping, dimana sahabatku si pereman pasar, memanggilku dan menyuruhku untuk melihatnya.


"Ap-


Cekrek!



"Ais! Que-que," Ujarku sewot dan dia hanya terkekeh.


"Dasar," Dengusku dan melanjutkan kegiatanku.


"Gav!"


"Heum?" Gumamku menyahuti panggilannya.


"Lihat! Ini foto yang kemarin," Ujarnya dan aku pun mendekat ke arahnya, melihat foto yang katanya fotoku kemarin.


"Mana?"


"Nih!"



Ya ampun ... Aku seperti sedang menjadi foto model.


"Ini nih, foto kamu dengan Ez!" seru sahabatku semakin semangat, dia yang paling semangat di antara kami.


Tanpa dia, hidup kami tidak ramai.


Dan aku menyukai keramaian darinya.


Sahabatku dan juga ....


"Mana?" Ujarku


Dia pun menunjukan foto kami berdua, memakai seragam kami SMA di hari pertama.



Astaga ... Lagi-lagi dia, yang paling rajin mengabadikan foto kami berdua.


"Nanti di kirim yah, mau aku jadikan wallpaper, oke!" Seruku mengusap rambutnya lembut.


"Oke, Tav!"


"Queene!"


"He-he-he!"


Aku menggeleng kepala, saat dia hanya terkekeh dan melanjutkan sesi liat-liat fotonya.


"Shining," Batinku tersenyum samar.


Gavriel pov end


________________


Rajendra pov on


Selamat pagi!


Sudah kenal kan sama gue, kalau belum kenal, hayoook atuh kenalan.


Rajendra Glen Saputra.


Umur 16 tahun dan gue anak dari pasangan Adiya dan Irene Saputra.


Gue anak tunggal, artinya nggak punya adik.


Bercanda!


Sekarang sudah masuk tahun ajaran baru, kami juga sudah melewati kegiatan masa orientasi.


Di masa orientasi kemarin, Gue mendapatkan pengalaman yang lucu dan juga seru.


Siapa?


Eit ... Siapa lagi kalau bukan Queeneira, si ubrek, yang saat ini sedang berdiri di depan halaman sekolah.


Heum ... Sepertinya dia sedang menunggu dua teman laki-lakinya, kegiatan yang selalu dia lakukan di tiap paginya.



Dia sangat bersinar, dari yang lain di hari pertama gue melihatnya.


(Foto kapan itu? Nguntit ya?)


Oh ... Itu foto kemarin, Gue iseng lagi megang handphone dan viola .... Foto dia tersimpan di galeri handphone gue.



Dan ini gue, ketua Osis unik, itu kata mereka.


Kenapa?


Soalnya dari sekian banyak murid, kenapa coba Gue yang jadi ketos, saat murid baik lainnya siap jadi ketua.


Eh ... Tenang aja, itu penampilan saat gue masih di luar jam pelajaran dan ini gue, saat gue ada di dalam kelas mengikuti pelajaran.



Rambut gue mirip seperti jagung.


(Kuning, orange)


Etdah, bukan ... Ini kuning emas, bosen hitam terus.


Oke saatnya masuk kelas, jam pelajaran sudah di mulai nih.


Sampai jumpa.


Rajendra pov end


_____________________


Di halaman depan sekolah ada Kei, yang baru saja turun dari mobil sang Papa.


Ia saat ini sedang menunggu dua temannya, yang sedang berjalan di penyeberangan jalan.


Keineira pov on


Aku tersenyum saat melihat kedua temanku.


Mereka juga melambai ke arahku, membuatku ikut melambai tangan, sama semangatnya dengan mereka.



"kei!" seru temanku, Intan, saat dia ada di hadapanku.


"Hai!" Sapaku ceria.


"Di anter Om Reno?" tanya Raiya, dengan tangan sibuk memegang handphone, handphone dengan casing bergambar bulan.


"Iya, kalian jalan berdua?" Tanyaku.


"Enak jalan, biar sehat!" seru Intan dan kami pun tertawa bersama.


"Foto yuk!" ajak Raiya semangat.


Aku pun mengangguk kemudian mengambil posisi, dengan Raiya di depan, sedangkan aku di tengah dan Intan paling belakang.


"Siap?"


"Cheez!"


Cekrek!



"Kirim ke aku, yah!" Seruku saat melihat hasil jepretan ponsel pagi ini.


"Sip!"


Kami pun berjalan bersama, dengan sesekali aku membalas sapaan saat siswa seangkatan atau pun kakak kelas menyapaku.


"Pagi, Queen!"


"Selamat pagi, Kei!"


Hampir satu minggu aku bersekolah di sini dan hampir satu minggu pula, aku bisa bertemu dengannya.


Yah ... Walaupun hanya sebatas tegur sapa, karena selebihnya dia akan bersama dua sahabatnya.


Istirahat, bahkan pulang pun dia akan bersama mereka.


Apa karena mereka selalu bersama, makanya mereka selalu kemana-mana bertiga, di mana pun dan kapan pun.

__ADS_1


Hum ... Entah, untuk saat ini aku cukup senang, setidaknya dia akan menoleh dan berbicara denganku.


Tidak seperti dengan yang lainnya, dia cenderung diam dan hanya akan menatap biasa.


Dan itu membuatku merasa, jika dia juga ...


"Kei!"


"Ah!"


Aku terpekik kaget, saat temanku memanggilku dan menatapku penasaran.


Ya ampun ... Sepertinya aku sedikit melamun.


"Masih pagi Kei, sudah melamun saja."


"Siapa yang melamun?" Elakku.


"Kamu lah, siapa lagi?" ujar Raiya, menatapku dengan mata memicing.


Aku tersenyum kaku, lalu mendorong punggung kedua temanku, agar berjalan dari pada aku di lihat penasaran oleh mereka.


"Tidak usah di fikirkan, lebih baik kita masuk!" Seruku sambil tertawa kecil, mereka pun tertawa dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.


Kelas kami ada di ujung koridor sana, membuatku semakin semangat melangkah menuju kelas.


"Selamat pagi, semua!" Seruku semangat, membuat teman-teman sekelasku, menoleh ke arahku serempak, termasuk dia.


Dia saat ini sedang duduk dengan sahabat perempuannya, sedang berdempetan entah melihat apa.


Dia juga menepuk dan mengusap rambut sahabat perempuannya, membuat sesuatu dalam hatiku merasakan tidak terima.


"Apa harus, sahabat seperti itu?" Batinku bertanya.


Aku pun berusaha mengenyahkan fikiran anehku.


Itu haknya dan aku tidak bisa melarangnya.


Tapi ... Aku juga ingin di tepuk seperti itu olehnya.


"Selamat pagi, Kei!"


Teman sekelasku menjawab hampir bersamaan, lalu menanyakan kabar, apakah aku sudah sarapan dan lain sebagainya.


Aku hanya menjawab seadanya dan tersenyum, menuai pekikan memuja dari teman sekelas bergender laki-laki.


Saat aku hendak duduk di bangkuku, aku menoleh ke arahnya lagi dan seketika aku salah tingkah, saat dia juga melihat ke arahku dan tersenyum tipis.


Meskipun senyumnya tipis, tapi itu adalah senyum darinya, senyum mahal di saat perempuan lainnya ingin dapat senyumnya juga.


Aku balas tersenyum, senyum manis dan dia pun membisikan kata semangat, lalu menolehkan kepalanya lagi ke depan.


Kebetulan, kedatanganku, bersamaan dengan bel masuk dan guru pengajar datang.


"Good morning, Class. Ready to study today?"


"Yes, ready Teacher!"


Keineira pov end


Normal pov


Skip


Teng! Teng! Teng!


Jam pelajaran pun selesai, di gantikan dengan jam istirahat.


Murid-murid SMA Trisakti berbondong-bondong, keluar ruangan dengan tujuan satu tempat.


Di mana?


Tentu saja kantin sekolah.


Hampir empat jam lamanya mereka belajar, kini saatnya mereka memenuhi panggilan dari suara perut mereka.


Tidak sepenuhnya tujuan utama kantin, ada juga yang lebih memilih menghabiskan istirahat di perpustakaan atau juga di lapangan dan lain sebagainya.


Contohnya saja pemeran utama kita, Gavriel dan dua sahabatnya, yang saat ini sedang menikmati makanan kantin.


"Jadi, apa pilihanmu, Gav?" tanya Ezra tiba-tiba, saat ia ingat jika mereka belum memilih kegiatan tambahan mereka.


"Sepertinya tidak ada, aku sedang ingin fokus dengan kerjaan di kantor," balas Gavriel, memukul tangan Queene, saat sahabat perempuannya hendak menambahkan sambal di makanannya.


"Jangan jahil," sewot Gavriel yang hanya di balas kekehan oleh sahabat peremannya.


Queene yang terkekeh menjadi tersentak kaget. Saat mendengar pernyataan sahabatnya, karena baru ini seorang Gavriel, tidak memilih ekskul Basket, di saat dulu dia adalah kaptennya.


"Yakin, kamu nggak ikut basket?" tanya Queene melihat Gav penasaran.


"Iya! Aku takut tidak konsen dengan pekerjaan kantor, kalau ada kegiatan lain," balas Gavriel santai.


"Padahal, aku mau ikut jadi chearleaders loh," gumam Queene menggoda.


"Tapi nggak jadi, deh!" Lanjutnya menuai pukulan sayang, di kening dan belakang kepalanya, dari dua sahabat laki-lakinya.


"Akh! Kalian selalu menyiksaku!" Serunya protes.


"Kamu tidak pantas, berjalan saja seperti pereman, mau jadi anak chearleaders," ujar Ezra kejam, membuat kedua pipi Queene menggembung kesal.


"Sembarangan!" sembur Queene kesal.


"Jadi, bagaimana, Gav?" tanya Ezra penasaran.


"Yah! Lihat nanti saja, lagian lusa baru pemilihan ekskul, kan?" balas Gavriel, mengangkat bahu 'tak acuh.


"Kalau kalian?" tanya Gavriel memandang dua sahabatnya penasaran.


"Aku? Heum ... Sepertinya basket lagi, tapi tidak ingin terlalu aktif. Biasa saja," balas Ezra, lalu ia menatap perempuan satu-satunya di antara mereka.


"Kamu?"


"Aku? Kalau ak-


"Hai! Boleh kami bergabung?"


Kalimat dari Queene harus di telan kembali, saat tiba-tiba suara dari samping menyelanya.


Di samping mereka berdiri tiga siswi satu kelas dengan mereka, membawa nampan berisi makanan dan menatap mereka dengan tatapan memohon.


Gavriel menatap Ezra dan Ezra menatap Queene, lalu Queene yang di tatap seperti itu hanya bisa mendengus.


Ia pun tersenyum dan mempersilakan ketiga teman sekelasnya, untuk duduk dan makan bersama mereka di satu meja.


"Maaf yah, mengganggu. Meja yang lain sudah penuh," ujar Kei, mewakili kedua temannya.


"Tidak apa-apa, santai saja!" seru Queene dengan senyum lebarnya.


Mereka pun makan bersama, saling bertanya dan bercerita dengan tema sama, yaitu ekskul.


"Jadi Queene, pilih ekskul apa?" tanya Intan penasaran.


Ia memang di kenal yang paling suka bicara apa adanya, tanpa kenal siapa yang di tanya.


"Eh! Aku? Heum ... Sepertinya memasak, seseorang bilang aku harus berubah, agar aku dapat suami tampan, saat siap berumah tangga nanti."


Gavriel dan Ezra tersedak berjamaah, ketika mendengar sindiran halus dari sahabatnya si Queene, yang saat ini menyembunyikan senyum kemenangan, di antara senyum polosnya.


"Loh! Kalian kompak sekali, satu tersedak yang lainnya juga tersedak. Benar-benar sahabat, yah," ujar Raiya menatap dua laki-laki di antara mereka takjub.


Gavriel dan Ezra hanya bisa tersenyum canggung, beda dengan Kei yang memiliki kepekaan tinggi.


Sudah pasti ucapan teman semejanya bermaksud menyindir, itu sebabnya dua laki-laki di depan mereka merasa dan akhirnya tersedak.


Senyum kecil pun terbit di bibirnya, merasa lucu dengan persahabatan yang di jalin ketiganya.


Sebegitu sayangnya yah, mereka dengan satu-satunya perempuan di antara mereka, sampai-sampai hal yang seperti ini pun, tidak luput dari perhatian keduanya.


"Jadi iri," Batinnya memandang ke arah depan, ke arah Queene yang sedang duduk di apit dua laki-laki, dengan satu laki-laki yang mulai ia sukai.


"Lalu, kalau kalian berdua?" tanya Intan, kali ini kepada Gav dan Ezra, menuai kernyitan dahi saat keduanya berfikir.


"Basket!"


"Mungkin basket!"


Jawaban kompak dari keduanya, membuat Intan dan Raiya terpekik senang, mengundang murid yang lainya, memandang mereka dengan ekspresi penasaran.


"Ups! Sorry!" seru Intan dan Raiya tidak enak.


"Tidak apa-apa," balas Queene dengan tangan terayun, sedangkan Gav, Ezra dan Kei hanya bisa menggeleng kepala maklum.


"Kalian kan ambil basket, kebetulan sekali. Kei kita di usulkan dengan kakak kelas, untuk menjadi anggota chearleaders loh," ujar Intan semangat.


"Iya! Kei dari SMP sudah jadi chearleaders, bahkan Kei juga jadi ketuanya. Hebat, kan?" timpal Raiya entah dengan maksud apa.


"Oh yah!"


Beda Ezra, beda Queene, beda pula dengan Gavriel.


Ia memandang dengan senyum kecil, saat Kei tersenyum salah tingkah, ketika dua temannya menjelaskan, sesuatu yang tidak perlu di jelaskan.


"Kali-


"Hebat! Semoga di sini, kamu di jadikan ketua juga yah. Semangat, Kei!"


Dua pasang mata melihat Gavriel senang, satu pasang mata melihat Gavriel dengan alis terangkat sebelah.


Lalu ada dua hati dengan perasaan lain, saat di antara mereka di puji dengan lembut oleh satu pria.


Hati yang pertama merasa senang berbunga dan hati yang kedua, merasa tidak rela saat ada pujian, selain untuknya dari dia yang sudah lama ada di hatinya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.

__ADS_1


 


__ADS_2