
Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat
So
Happy reading
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
"Hey suami Ku jangan sampai mati!!!"
Seruan keras dari ujung ruangan terdengar, hingga tempat Raka dan anggotanya berada.
Mereka berhenti berjalan, melihat lagi sekeliling lalu mengangguk.
Lokasi tepatnya sudah di ketahui, mereka berpencar untuk mencari sisa penjaga dari kelompok Andrew.
Banyaknya musuh masih menjadi rahasia, tadi saja saat di bawah mereka terpaksa harus baku hantam lagi.
Untunglah masih bisa di atasi, meskipun anggotanya ada yang terluka.
"Kalian geledah tempat yang lain,periksa dengan teliti jangan sampai ada yang terlewat. Apa kalian mengerti?" bisik Raka memerintah.
Mereka mengangguk kemudian menyebar, menuju ruangan demi ruangan memeriksa dengan seksama.
"Kita ber-lima ke ruangan target, apa kalian siap?" tanya Raka berisik.
"Siap!"
"Ya!"
"Hn!"
Mereka menjawab singkat dengan arti yang sama, kemudian jalan mengendap-endap dengan sikap waspada.
Semakin mendekat ruangan di ujung koridor, semakin terdengar jelas bunyi suara seruan pria dan bunyi suara lainnya.
"Jangan sentuh Istri Gue-
"Itu suara Dirga, kita harus cepat masuk dan menolong mereka berdua!" seru Kai khawatir.
"Bim, ambil posisi!" ujar Raka memerintah.
Bima mengangguk berjalan ke depan pintu, dengan Raka sebagai teman untuk mendobrak pintu.
"Siap? 1 ... 2 ... 3 hyaaaaaa!!!"
"Hyaaaaaa!!!!"
Raka menghitung dengan wajah menghadap Bima, lalu mengangguk di ikuti seruan kemudian mengayunkan kaki ke arah pintu dan menendangnya kuat.
Brakkkkkhhhh!!!
Sedangkan di saat bersamaan di dalam ruangan.
Dirga yang masih melawan dua orang penjaga, sudah mulai kepayahan. Luka di paha kembali terbuka dengan sesuatu mengalir di sana, sedangkan nasib lengannya tidak kalah menyedihkan.
Perlawanan yang di berikan Dirga membuat dampak buruk pada keduanya, meski harus mengalami kecacatan setelah keluar dari sini Dirga rela.
Sebenarnya tidak mungkin mengalahkan dua orang penjaga dengan keadaan seperti ini, tapi entah kekuatan dari mana Ia mampu membuat dua penjaga itu tersungkur.
Dengan nafas memburu, Dirga terduduk dengan rasa nyeri yang baru di rasakan.
"Uggh, sial! Ini belum selesai, masih ada Si sialan itu!" batin Dirga marah. Ia menormalkan deru nafasnya, memandang ke arah Andrew yang bertepuk tangan.
Plok! Plok! Plok!
"Kekuatan yang luar biasa, benar-benar seorang Wijaya sejati," ujar Andrew datar. Ia memandang dengan senyum mengejek, ke arah Dirga yang mendesis sakit.
"Kenapa di lawan sih, seharusnya diam saja. Lihat lukanya terbuka lagi kan!!" seru Caterine meledek.
Richard yang sempat berhenti untuk melihat permain seru Dirga, melanjutkan aksinya membuat Kiara yang tersungkur beringsut menjauh,saat tangan Richard mencoba menggapainya.
"Kemari Kau bunga cantikku!" seru Richard. Sambil mendekati Kiara yang beringsut menjauh dan terus menjauh, hingga punggung menabrak dinding tersudut dengan tubuh gemetar takut.
"Jangan sentuh Aku!!"
Plak!
Richard menggeram marah saat tangannya di tampik kasar oleh Kiara, Ia menatap tajam ke arah Kiara yang menatap tajam juga ke arahnya.
"Jangan melawan!" desis Richard mengerikan.
Tangannya kembali terulur, hampir menyentuh Kiara-
"Jangan sentuh Istri Gue-
Brakkkkh!!!!
Kegiatan Richard terhenti saat pintu terbuka dengan engsel rusak, di hadapan mereka ada Raka dan Bima yang berdiri dengan sikap siaga.
"Dirga/Bos!!!" seru keduanya bersamaan.
__ADS_1
Mereka memandang ngeri keadaan Dirga yang bisa di bilang, jauh dari kata baik-baik saja.
Sedangkan Dirga menatap mereka dengan ekspresi wajah lega, akhirnya bantuan untuknya datang juga.
"Kalian lama!" ledek Dirga dengan senyum tipis.
"Sorry Bro!!" balas Raka dengan senyum miring meledek.
"Apa-apaan ini, kemana para penjaga? Hey kalian berdua bangun! Hajar mereka!!" seru Andrew gelisah. Tiba-tiba rasa takut menyerangnya, Ia rasa rencana pertama mereka gagal.
Sedangkan Richard dengan segera menggapai Kiara dan berhasil.
Grep!
"Kya!!!"
"Kena kamu," gumam Richard senang.
"Sialan, lepasin Istri Gue!" seru Dirga emosi.
Melihat Istri dari Bos-nya terancam, Bima segera berlari tapi berhenti tiba-tiba saat mendengar ancaman Richard yang tidak main-main.
"Jangan ada yang bergerak, kalian mau Dia mati? Kalau mau kalian bisa langsung hajar Gue bersamaan!" seru Richard menantang.
Ia bergerak pelan ke arah Andrew dan Caterine, yang wajahnya sudah mulai panik.
"Sialan rencananya gagal, terpaksa rencana kedua di lakukan," batin Richard gelisah.
Richard mengangguk ke arah Papa-nya dan Caterine, mereka harus segera pergi dari sini jika tidak mereka akan pergi ke nirwana dengan segera.
Di depan pintu ada Faro yang juga mengangguk kepada Kai dan Ronald, mereka sengaja bersembunyi untuk langkah selanjutnya.
"Kalian siap?ketika mereka keluar kita masing-masing pegang satu orang,apa kalian mengerti?" ujar Faro menginstruksi.
"Mengerti!" balas Keduanya bersamaan.
"Minggir kalian semua atau kalian mau Dia mati sekarang juga?" sentak Richard kepada Raka dan Bima.
Dirga mengangguk ke arah keduanya, karena Ia tahu ada kode lain di wajah Bima.
Bima adalah tangan kiri-nya untuk bagian gelap, sedangkan Dani adalah tangan kanan di perusahaan. Ia beruntung memiliki mereka di sisi kanan dan kirinya, Ia berharap Anaknya juga akan memiliki orang kepercayaan di sampingnya.
"Jangan lakukan itu Richard, kalian sebaiknya menyerah sekarang, dari pada dapat yang lebih parah dari ini," ujar Dirga datar.
Kemampuannya adalah mempengaruhi mental, itu sebabnya banyak lawan bisnis-nya yang takluk dengan permainan kata darinya.
"Cih, Lu mau istri Lu mati?" ujar Richard tidak perduli.
"Kita pergi dari sini, ayo!" bisik Andrew. Richard mengangguk sedangkan Caterine hanya bisa memandang ke arah Dirga, dengan raut wajah sedih.
Mereka berjalan dengan pelan, menuju pintu di mana ada Raka dan Bima yang menyingkir memberi jalan.
Richard terakhir yang keluar dengan Kiara sebagai Sandera, sedangkan Andrew dan Caterine di belakang dengan mata fokus memandang sekitar.
Di balik dinding ada Faro yang menunggu waktu tepat, jadi saat mereka melewati pintu saat itu juga mereka menangkap Andrew dan Caterine. Tapi sayang tidak untuk Richard, Ia berkelit sehingga lepas dari tangkapan mereka.
Grep!!
"Akh!! Lepasin Aku!!" seru Caterine kesal. Ia meronta mencoba lepas dari cekalan tangan Kai, sedangkan Ronald mencekal tangan Andrew yang juga meronta dengan kekuatan luar biasa.
"Lepaskan saya,beraninya kalian?" seru Andrew emosi. Ia meronta sekuat tenaga, membuat Ronald mundur dengan tetap menjaga cekalan tangannya.
"Jadi kalian sudah mengalahkan orang di luar, hebat juga!" seru Richard meledek.
Ia berbalik arah ke dalam ruangan lagi, membawa Kiara yang mencoba meronta tapi sayang tidak berhasil.
"Lepas- ukhh!!-
"Diam!!!" bisik Richard. Ia semakin mengencangkan cekalan tangannya di kedua tangan Kiara, sedangkan tangan satunya yang memegang belati ada di leher Kiara siap menggores.
"Kiara kamu jangan melawan, biar Aku fikiran cara terbaik!" seru Dirga khawatir.
Richard terkekeh saat mendengar suara panik, dari Si arogan yang biasanya sombong sekarang menampilkan raut wajah pucat.
Ha-ha-ha!!!
"Bagaimana kalau cara terbaik satu-satunya adalah kita semua mati bersama?" ujar Richard main-main.
Mereka memandang tidak mengerti ke arah Richard, mati bersama dengan hanya belati sebagai senjata? Yang benar saja ...
"Apa maksud Lu?" tanya Dirga datar. Ia melihat Istrinya yang memandang ke arahnya, dengan mata berkaca-kaca.
"Sial, apa lagi yang di rencanakan Dia?" batin Dirga panik.
"Asal kalian tahu, gedung ini sudah siap dengan Bom yang terpasang di setiap sudut ruangan. Ha-ha-ha ... Kalian akan mati, kita akan mati!!!" seru Richard layaknya orang gila.
Ini adalah rencana terakhir mereka, jika ada apa-apa dengan mereka. Mereka lebih memilih mati bersama, dari pada gagal dan di penjara. Itu juga jika masih ada kebaikan dari lawan, minimal mereka di buat mati tak mau hidup pun segan oleh mereka.
Mereka yang mendengar terkejut luar biasa, tapi tidak untuk ketiga orang yang merencanakan bunuh diri masal ini. Mereka bertiga justru tertawa senang, setidaknya jika mereka mati semua akan ikut mati.
"Bim," panggil Dirga yang langsung di mengerti oleh Bima. Ia mengangguk ke arah Dirga, lalu menghubungi melalui Earpiece kepada anak buahnya, yang saat ini sedang memeriksa setiap ruangan.
__ADS_1
"Percuma, Bom-nya di desain khusus untuk satu kali operasi. Jadi walaupun ada Penjinak bom juga tetap saja, kita semua akan mati!"seru Richard senang.
Ia tertawa semakin keras saat mendengar Papa-nya ikut tertawa, bahkan ketiganya sudah tertawa layaknya orang kehilangan kewarasan.
"Sinting, jika kalian mau mati silakan. Tapi maaf saja, kita tidak ikut serta karena ini bukan saatnya untuk kami mati!" ujar Faro dingin.
"Terserah saja,sekali mati tetap mati," balas Richard cuek. Ia tidak menyadari ketika Dirga dan Faro mengajak Ia berbicara, pertahanannya lengah sehingga Kiara yang melihat kesempatan pun menendang ke belakang tepat di mana pusakanya berada.
Duagg!!!
"Arrghh!!!"
Richard melepas cengkraman tangannya serta belati di leher Kiara, untuk memegang miliknya yang sakit untuk kedua kalinya.
Kesempatan itu di pakai Kiara untuk lari, menjauhi Richard yang sedang menunduk menahan sakit, dengan rintihan mengilukan bagi para Pria di sana.
"Ughh ... Itu pasti sakit sekali!" batin semua Pria di sana.
Mereka tidak bisa membayangkan, jika ada di posisi Richard yang sepertinya benar-benar kesakitan.
Kiara segera menghambur kepelukan Dirga yang membuka lengannya lebar, Ia menyambut terjangan dari Istrinya dengan sigap meski lagi-lagi nyeri menyerang pahanya.
Hiks! Hiks!
"Sudah aman, ada Kami di sini!" bisik Dirga menenangkan.
Bima maju meringkus Richard yang masih kesakitan, membawa mereka bertiga yang masing-masing mencoba meronta.
Raka, Faro, Kai dan Ronald segera menghampiri Dirga, mereka mengelilingi sahabatnya yang hampir kehilangan kesadaran di pelukan Kiara.
"Ga! Lu baik-baik saja?" tanya Raka khawatir saat melihat Dirga yang matanya berkedip-kedip payah.
"Iy-
Brukh!!
"Dirga!!"
"Sayang!!"
Dirga pingsan sebelum menjawab pertanyaan khawatir dari Raka, Ia sudah mencapai batasnya dan sisa tenaganya Ia pakai untuk menerima pelukan khawatir dari Istrinya.
Seruan panik memenuhi ruangan, serta tawa dari dua dari ketiganya tidak berhenti malah semakin menjadi.
"Rasakan, akhirnya pingsan juga!" ledek Andrew senang.
Caterine khawatir luar biasa, meskipun Ia membenci semua yang terjadi. Tapi Dirga adalah Pria yang Ia cintai dan sekarang Dia sedang dalam keadaan meregang nyawa.
Luka yang Ia rawat sangat parah, itu sebabnya Ia memanggil Dokter meski kedua partnernya melarang.
"Dirga," lirih Caterine. Sehingga hanya Ia lah yang bisa mendengarnya.
"Yah, Dia pantas mendapatkannya," ujar Richard datar. Ia senang akhirnya Si arogan itu tumbang juga.
"Huh, rasakan!" batin Richard senang.
"Bawa mereka bertiga ke markas, pastikan mati adalah pilihan ketiganya," ujar Raka dingin.
Bima mengangguk mengerti, Ia segera memerintahkan anggotanya yang di lakukan dengan segera.
"Dirga, bangun sayang," gumam Kiara sedih.
Ia memangku kepala Suaminya yang pingsan, lalu memandang ke arah sahabat Suaminya yang juga melihat ke arahnya.
"Kita harus cepat bawa ke rumah sakit, Kiara kamu kuat jalan?" tanya Faro yang di jawab anggukan kepala oleh Kiara.
"Iya," gumam Kiara lirih.
"Kiara biar Gue yang pegang," sahut Kai.
Kiara hanya pasrah membiarkan Kai menuntunnya, saat ini hanya Suaminya lah yang ada di fikirannya.
Sedangkan Faro dan Raka membawa tubuh pingsan Dirga bersamaan. Mereka dengan hati-hati mengangkat Dirga, meminimalis bertambah lebar luka yang ada di paha dan lengan sahabatnya.
Kejadian di luar gedung di saat bersamaan
Di luar sudah ada mobil ambulan yang menunggu, sekitar lima unit di siapkan Hendri dan Fandi untuk merawat luka anggota mereka.
"Bagaimana, apa kondisi sudah terkendali?" tanya Fandi kepada Leo.
"Bima bilang ada Bom di dalam, anggota kita sedang mencari dan mencoba menaklukannya," balas Leo menjelaskan.
Fandi dan Hendri panik saat mendengar kata Bom, mereka hampir masuk ke dalam jika tidak mendengar kalimat lanjutan dari Leo yang semangat.
"Tapi tenang saja, anggota sudah menemukan dan menjinakan bom tersebut. Tuan tenang saja, Tuan Dirga orang yang perhitungan. Kami mendapat pelatihan dengan detail di kelompok kami!" lanjut Leo tersenyum menenangkan.
"Semua sudah terkendali, Drone juga tidak melihat pergerakan lain dari udara. Dan sepertinya ini semua sudah Berakhir!"
Ketika Dani selesai mengucapkan kalimatnya, dari ujung tempat mereka menunggu terlihat orang-orang yang mereka kenal sedang berjalan ke arah mereka.
Tapi ekspresi lega mereka tidak bertahan lama, saat melihat Raka dan Faro mengangkat seseorang dalam keadaan pingsan dengan kondisi tubuh mengenaskan.
__ADS_1
"DIRGA!!!"
Bersambung