
Happy reading vrohh
¶¶¶¶¶¶
"Kamu sedang apa, di samping kereta kuda Aku?" tanya Kiara. Ia bingung kenapa Pria yang belum Ia ketahui namanya ini berdiri di samping keretanya? dan juga di mana Pemandu wisatanya.
"Kenapa Dia di sini?" batin Kiara penasaran.
Seharusnya pemandunya lah yang berdiri di samping kereta, bukan seorang Cover Boy dalam balutan pakaian santai, namun tetap Kece di pandangan matanya.
Ehemmm!!!
Sebenarnya bukan hanya di matanya sih, namun di sekitar tempat parkir keretanya pun ada beberapa pengunjung yang melirik, bahkan terang-terangan memandangi sosok tersebut.
Dirga masih tersenyum tipis lalu memperkenalkan dirinya, sebagai pemandu yang akan menggantikan Pak Teguh cuti.
"Selamat pagi nona Kiara perkenalkan nama saya Dirga , saya yang akan memandu perjalana di Desa Nuan ini. Menggantikan Pak Teguh , kebetulan saya ini masih saudara jauhnya Pak Teguh," balas Dirga menjelaskan.
"Benarkah?" tanya Kiara dengan kening berkerut.
"Benar, Saya bisa menunjukan kartu pekerja saya!" seru Dirga datar. Ia menyembunyikan fakta kebenaran, jika wanita adalah mahluk paling kritis.
"Sialan,Gue lupa sama yang ini," batin Dirga tanpa ekspresi.
Mendengar penjelasan dan pengakuan dari Dirga Kiara semakin heran.
Karena dari sekian banyak pemandu di Desa, kenapa hanya pemandunya yang tampan dan memiliki Aura berbeda.
Aura yang Kiara sendiri tidak tahu apa, pokoknya Aura-nya bisa membuatnya segan dan takut bersamaan.
Yah ... Walaupun ada juga pemandu yang muda dan tampan, tapi Kiara yakin Dirga beda dengan yang lainya.
Dirga melihat Kiara yang masih mengerutkan kening dan melihat kanan kirinya dengan ekspresi lucu, sehingga Dirga semakin memperlebar senyuman di hatinya.
(Ingat di hati, mana mau Dirga senyun pasta gigi di hadapan orang ramai)
"Napa ni cewek**?" batin dirga penasaran.
__ADS_1
Ia melihat Kiara yang seperti berfikir tentang kebenaran, tapi tidak ada jawabannya.
"Lucu banget," batin Dirga senang.
Kiara mengangkat bahu acuh, tidak mempermasalkan siapa dan mengapa Laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai Dirga, pemandunya saat ini adalah orang yang berbeda dari pemandu lainya.
"Terserah aja deh!" batin Kiara tidak perduli.
Kiara lalu memasuki keretanya dan disusul Dirga duduk di kursi kemudi Kereta .
"Jadi Pak Dirga Kit-
"Dirga cukup Dirga, nggak usah pake Pak oke? wahai Nona Kiara!" seru Dirga menyela kalimat yang akan Kiara ucapakan, karena Ia tidak suka panggilan dengan embel-embel Pak dari Kiara.
"Dihhhh .... Dia kira tampang Gue kaya bapak-bapak kali ya," batin Dirga kesal.
"Yaaaa .... Suka banget yah, motong kalimat orang? dulu juga gini nih maen asal potong aja, humb ..." balas Kiara kesal. Ia melengoskan kepalanya ke arah lain, kesal karena kalimatnya di sela dengan santai-nya oleh pemandu barunya.
Fix Kiara bete, baru juga mencoba untuk ramah dan mencoba membangun komunikasi antara pemandu dan yang di pandu, nih si bapaknya udah langsung nyolot aja.
"Astaga .... Bisa di ejek Raka sama Faro nih, kalau mereka liat Gue banyak senyum beberapa hari ini, Eh ... Ngomong-ngomong tentang mereka berdua. Kira-kira bakal komentar apa ya, kalau mereka tau aksi nekat Gue ... Sial ngebayanginya aja udah bikin Gue emosi, apalagi Si Rakampret (Raka kampret) kalau Faro sih Gue bodo amat. Nah Si Raka nggak jamin, dia pasti ngetawain Gue tujuh hari tujuh malem!" batin Dirga ngawur.
Kiara yang melihat pemandu barunya melamun, mengernyit dahi bingung.
"Ada apa dengan Dirga?" batin Kiara penasaran.
Puk!!!
"Oi, Ga ... Dirga!!!"
Merasakan tepukan di bahunya dan teriakan suara Kiara memanggil namanya, Dirga akhirnya kembali dari lamunan ngawurnya tentang Dua sahabat sintingnya.
"Iya nona Kiara ada apa sih? Nggak usah pake teriak juga kan bisa!!" seru Dirga sewot.
"Abis Si Abangnya, di panggilin dari tadi nggak nyahut!" balas Kiara tidak kalah sewot.
"Udah ih buruan jalan, Kita ke Taman bunga sekarang. Oke Dirga nggak pake Pak!" ujar Kiara mengejek Dirga, yang di sambut dengusan kesal dari Dirga.
__ADS_1
"Taman bunga mana Non?" tanya Dirga dengan nada menyebalkan.
Oke sepertinya Dirga sudah tidak tahan untuk mengerjai Kiara.
"Suruh siapa kalau kesel lucu banget ekspresinya, kan jadi demen Gue ngejahilinya" batin Dirga semakin ngawur
"Ih ... Kesel Aku turun nih sekarang, nyebelin banget siiihh!!!" Seru Kiara kesal. Ia bersiap untuk membuka pintu kereta, namun Dirga cepat cepat mencegah dengan memegang tangan Kiara sambil tekekeh, Dirga meminta maaf dan berjanji untuk tidak Menjahilinya lagi.
"Jangan ngambek gitu, nanti ayam tetangga pada mati,"ujar Dirga santai.
" .... "
"Oke,sorry janji deh nggak jahilin nona Kiara lagi, sekarang Kita jalan yah! Ke taman bunga kan?" lanjut Dirga bertanya.
"Hemp ..." dengus Kiara lalu membuang muka ke samping, menyetujui permintaan maaf Dirga.
"Iya, ke taman bunga!" balas Kiara kemudian.
"Oke, berangkat sekarang kan?" tanya Dirga lagi. Membuat Kiara melotot lucu, yang di sambut kekehan kecil dari Dirga.
"Turun nih!!!"
"Oke, oke berangkat!!" balas Dirga cepat.
Kemudian Dirga mulai menjalankan kereta kudanya, menarik tali kemudi dan di mulai lah perjalanan Mereka.
"Tapi kenapa Aku sama sekali nggak merasa marah sungguhan ya? " batin Kiara heran.
Ia sendiri bingung, seharusnya Ia marah di permainkan oleh orang asing, tapi kenapa malah Ia merasa nyaman dengan kejahilan Pemandu wisatanya.
"Ada apa denganku?" batin Kiara penasaran.
\=\=\=\=
Lohhh kok bisa Si Neng Kiara di jahilin nggak marah? jelas donk nggak bisa marah, kan kakak Dirga yang jahilin he-he-he
Salam hangat dari saya, sehangat nasi dari magicom
__ADS_1