
Seoson dua
Selamat membaca
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Perbatasan kota S
Saat ini mobil yang di kendarai oleh Dirga sedang berhenti di perbatasan kota, menunggu mobil lainnya siapa lagi kalau bukan mobil milik sahabatnya.
Hari ini rencananya mereka akan pergi ke kota Y tepatnya ke desa Nuan, desa yang menjadi saksi percintaan dari kedua orang tua Gavriel dan Selyn.
Dirga menyandar pada pintu mobilnya, menunggu Faro yang sedang dalam perjalanan kemari sesuai kesepakatan, sedangkan Raka di sebelahnya sedang duduk di gapura perbatasan.
"Lama banget sih!" seru Raka tiba-tiba. Ia berjalan menghampiri Dirga dan ikut menyandar di pintu mobil milik sahabatnya.
"Lu juga tadi lama," balas Dirga datar, berdecih saat sahabat kampretnya tidak sadar diri.
"Eleh ... Lamaan Si geblek kali," gumam Raka mendumel sendiri.
"Lagian tugas anak SD ada-ada saja, masa iya harus ada binatangnya sih!" Lanjutnya berseru tidak habis fikir.
Dirga tidak menjawab, Ia hanya mengangkat bahu acuh dan kemudian membuka handphone miliknya.
"Sebentar lagi nih," gumam Dirga lalu menyimpan handphonenya kembali.
"Sebentar lagi apa'an?" tanya Raka tidak mengerti.
"Sampai,"
"Oh," balas Raka padahal Dirga tidak menjelaskan.
Mereka berdua pun melanjutkan obrolan santai mereka, sambil menunggu sahabat satunya sampai. Di tengah obrolan mereka, Raka bertanya kepada Dirga tentang tugas anak-anak mereka, karena jujur saja Ia masih penasaran dengan semua ini.
"Tapi Ga," ujar Raka menggantung kalimatnya.
"Huem?"
"Apa masa iya sih, harus gitu mereka menangkap katak?" lanjut Raka saat mendapat gumaman khas dari sahabat songongnya.
Seringnya Sang anak mengerjainya, membuat Ia waspada pada hal yang menyangkut tentang apapun itu, jika sudah melibatkan Sang anak pastinya.
Dirga terdiam memikirkan apa yang di ucapkan oleh Raka, lalu merenungkan maksud di balik pertanyaan berulang dari sahabat kampretnya.
"Emang sih aneh, bagi anak kelas tiga untuk mempelajari hewan secara langsung. Tapi mungkin ini sistem pendidikan baru, agar Si anak benar-benar mengerti. Tapi em ... Entahlah, Gue rasa nggak salah juga kan sekalian kita refreshing!" seru Dirga membalas pertanyaan Raka dengan penjelasan tidak yakin.
"Iya sih, untung aja laporan Gue udah selesai. Gila aja ... Gue harus pegang dua perusahaan, bisa meledak otak tampan Gue," balas Raka kemudian curhat betapa pusingnya kehidupan barunya, setelah orang tuanya memberi tugas tambahan berupa perusahaan keluarga.
Dirga berdecih sebal saat sahabat kampretnya mengadu tentang kesialannya, apa kabar dirinya yang dari remaja sudah memegang perusahaan.
"Baru segitu sudah mengeluh, Lu pikir Gue nggak pusing. Lu enak baru dua perusahaan, lah Gue? Hitung sendiri tuh, jumlah perusahaan yang Gue handle. Kampret," sembur Dirga kemudin berdiri tegak saat melihat mobil yang di kenalnya.
"Lu sih beda, Bangke!" dumel Raka lalu ikut berdiri saat melihat mobil berhenti di depannya.
"Itu tahu, nggak usah ngeluh. Laki bukan?" gumam Dirga membalas dumelan Raka dengan nada meledeknya.
"Iti tihi, nggik isih ngilih. Liki bikin, preett," ujar Raka balas meledek Dirga.
"Kampret Lu,"
Dari mobil di depan mereka, turun Si pengendara siapa lagi kalau bukan Faro yang turun dengan mata merah.
"Yoo!" sapa Faro tidak semangat kepada Dua sahabatnya.
"Kenawhy?" tanya Raka dengan senyum meledek.
"Kasus lagi?" ujar Dirga ikut bertanya.
Faro yang mendapat pertanyaan dari dua sahabatnya hanya mengangguk.
"Iya ... Biasa lah,"
"Ya sudah, kita langsung ke tempat saja. Gue mau langsung istirahat," Lanjutnya kemudian menguap.
"Perlu Gue bantu, biar Gue yang stir mobilnya," ujar Raka khawatir.
"Oke,"
Setelah mendapat jawaban singkat dari Faro, Raka memanggil keluarga kecilnya untuk pindah mobil.
"Ay, Kita pindah ke mobil Faro," ujar Raka setelah membuka pintu mobil.
Amira yang tadi sedang berbincang dengan Kakak ipar sepupunya menoleh ke arah samping, dimana ada Suaminya yang bersiap mengambil tas kantornya.
"Oke, Pih!" seru Amira tanpa banyak protes.
Jika Sang Mimi menjawab tanpa banyak tanya, beda lagi dengan Ezra yang segera menggeleng kepala menolak.
"Ez di sini saja Pih!" seru Ezra menolak, Ia menatap Pipinya dengan mata bulat serius.
"Nggak ikut Pipi dan Mimi?" tanya Raka dengan alis terangkat.
"Eem," gumam Ezra dengan kepala menggeleng tegas.
"Oke deh, tapi jangan nangis yah!" seru Raka meledek Putranya yang langsung menjulurkan lidah tidak terima.
"Pipi jelek!" seru Ezra meledek, membuat Raka yang mendengarnya tertawa ngakak.
Ia senang sekali menggoda Putranya, bahkan jika di rumah dan bisa santai bareng, tidak jarang Ia dan Putranya saling menjahili.
Sepertinya gen jahilnya dan Sang istri menurun pada Putranya.
"Eh ... Tapi bukan anak Gue aja sih, anak Si songong juga gitu. Bahkan lebih parah," batin Raka lalu mengangkat bahu acuh.
"Mata Kamu bermasalah Kiddo, tampan begini di bilang jelek. Dasar," dengus Raka lalu Ia dengan usil mengacak-acak rambut Putranya.
"Akh ... Pipi, bilangin Mimi nih!"
__ADS_1
"Tukang ngadu,"
"Pergi sana, syuh-syuh!"
"Jangan kangen,"
"Tidak akan,"
Percekcokan sudah biasa antara anak dan Suaminya, membuat Amira menggeleng kepala dan mendengus geli.
"Padahal kalau anaknya nggak ada di rumah di cariin, giliran ada di jahilin. Dasar," batin Amira.
Ia pun menghampiri Suaminya yang kepalanya masih di dalam, masih lanjut meledek Sang putra.
Ia berdiri di belakang Suaminya dan menarik kerah kemeja, yang di kenakan Sang suami dengan pelan.
"Kapan berangkatnya, Pipi. Jahil mulu," ujar Amira sambil menarik kerah Suaminya kebelakang.
Raka yang menerima serangan tiba-tiba kaget, namun terkekeh saat suara merdu istrinya terdengar.
Ia berpura-pura menyerah dan mengangkat tangan ke atas.
"Oke-oke ... Kita berangkat," ujar Raka di sela-sela kekehanya.
Sekarang kita beralih kepada keluarga Wardhana, dimana Queene yang meminta kepada Baba dan Mamanya untuk pindah mobil, tepatnya Dia ingin bisa satu mobil dengan Dua sahabatnya.
"Kenapa pindah mobil, sayang?" tanya Faro yang saat ini duduk di samping Putrinya.
"Baba ... Queene mau nanya tentang pelajaran," ujar Queene manja, padahal Ia sedang menyembunyikan maksud di balik permintaannya.
"Yahhh ..." lanjut Queene dengan mata polos memohon.
Faro yang sangat menyayangi Queene kecilnya luluh, Ia mengusap kepala anaknya sayang dan mengangguk kecil.
"Fine ... Baba selalu kalah sama kamu," balas Faro. Ia tersenyum di sela-sela kantuknya saat mendapat pelukan senang dari Sang putri.
"Yeyyy ... Sayang Baba!" seru Queene semangat.
"Sayang Queene juga," gumam Faro lembut, meskipun Sang anak sering mengerjainya tapi darah lebih kental dari air, jadi Ia dengan sadar diri jika apa pun berbuatan Putrinya adalah cerminan kehidupan Ia kecil.
"Eleh ... Jadi inget zaman masih bocah, abis ini minta maaf sama Papa," batin Faro sadar diri.
Queene dengan segera mengambil tas bentuk strawberry kesayangannya, setelah melepas pelukan eratnya pada Sang Baba dan bersiap turun masih dengan bantuan Babanya.
"Bye Baba, sampai ketemu disana Mama!" seru Queene semangat, lalu berjalan menghampiri mobil sedan milik keluarga Wijaya.
Raka dan Amira yang melihatnya memandang Faro dengan raut wajah bertanya, bingung dengan kelakuan anak-anak mereka saat ini.
"Quene bilang mau tanya pelajaran," jawab Faro menjelaskan.
"Ooh!!" seru Keduanya kompak.
Mereka pun memasuki mobil milik Faro dan melanjutkan perjalanan.
Sedangkan di dalam mobil milik Dirga tepatnya di belakang kursi kemudi, ada tiga dari empat anak kecil yang sedang berbisik-bisik membicarakan hal yang cukup mereka saja yang tahu, mambuat Dirga sebagai orang yang peka melirik melalui kaca spion, memperhatikan tingkah laku ketiganya dengan dahi berkerut penasaran.
Bisik-bisiknya itu loh .... Mirip sekali dengan rapat anggota, mana pake acara nulis di kertas. Alhasil telinga tajamnya tidak bisa mencuri dengar pembicaraan para anak lucu, namun terkadang seperti titisan lucifer di saat bersamaan.
Selyn Putri bontotnya, yang duduk menyempil di antara ketiga anak di belakangnya sibuk memainkan rubik.
Selyn ini beda sekali dengan Gavriel yang dari dulu pecicilan, Dia diam tapi kalau sudah bertindak seisi rumah bisa gempar dengan kelakuanya.
"Bener nih, wajah mirip belum tentu kelakuan mirip. Nah ... Anak Gue yang laki mirip Gue tapi pecicilan kayak Mommynya, terus anak Gue yang cewek juga mirip Gue tapi keras kepalanya ngelebihin Mommynya juga. Di syukuri aja deh," batin Dirga geli sendiri.
Bosan dengan keheningan yang tercipta, Dirga menghidupkan musik melalui sambungan kabel USB yang di sambungkan pada handphone miliknya.
Seketika lagu kenangan antara Ia dan Sang istri terdengar, membuat Kiara yang asik membaca menoleh ke arahnya segera.
"Wow ... Kamu masih simpan lagu ini, Yank?" tanya Kiara antusias, bahkan Ia ikut menyanyikan lagu tersebut.
"Tentu saja, ini kan kenangan Kita,"
"Lagu kenangan Daddy sama Mommy, saat hari pernikahan?" tanya Gavriel ikut menimpali pertanyaan Kiara.
Kiara yang mendengar pertanyaan dari Putranya menoleh ke belakang, lalu tersenyum dengan kepala mengangguk membenarkan.
"Iya ... Daddymu juga nyanyi lagu ini loh, suaranya bagus!" seru Kiara semangat.
"Unkel bisa nyanyi, Wow!!" seru Queene takjub, mulutnya membentuk huruf 'o' lucu.
"Kalau begitu Unkel nyanyi dong," ujar Ezra polos, persis seperti bapaknya suka seenaknya saat memerintahkan orang.
Dirga mendengus mendengar suara penumpang di belakang yang antusias, apalagi Ezra keponakannya yang wajah mirip Amira, namun kelakuanya sebelas dua belas dengan sahabat kampretnya.
"Nggak anak nggak bapak, enak banget nyeplosnya," batin Dirga gemas.
"Kalian saja yang menyanyi, nanti Unkel sawer deh!" balas Dirga ngaco membuat Istrinya terkekeh kecil, tapi tidak dengan tangannya yang mencubit pelan lengannya.
"Akh ... Kok Aku di cubit!"
"Terus cubit siapa dong?"
"Cubit online aja kan bisa,"
"Ngaco!"
"Aku memang macho,".
"Yee ... Siapa yang bilang macho?"
Percakapan Mommy dan Daddy di depan sana membuat Gavriel menepuk dahi pelan, Ia tidak habis fikir dengan kelakuan mereka berdua.
"Hais ... Mereka ini benar-benar, apa nggak malu yah di liat Kita?" gumam Gav menggeleng kepala layaknya orang dewasa.
"Baba dan Mama juga gitu," sahut Queene menimpali perkataan sahabatnya.
"Pipi sama Mimi lebih parah," gumam Ezra ikut mengeluh.
__ADS_1
"Haih!!!" seru mereka kompak dengan menghela nafas lelah.
Sedangkan Selyn yang tidak mengerti hanya bisa melihat depan dan kakaknya bergantian, Ia menepuk pipi Sang kakak dan berbisik.
"Kenapa Mas?"
"Tidak apa-apa, lanjutin susun rubiknya. Oke," balas Gavriel tersenyum kecil.
"Eung!" gumam Selyn lalu fokus lagi dengan tantangan dari kakaknya, Ia terkikik saat Sang kakak menepuk kepalanya pelan.
"Pintar!"
"Hi-hi!!"
Sekitar sejam kemudian mereka pun sampai di garasi khusus milik Dirga, mereka di sambut antusias oleh Pak Toto selaku penjaga.
Karena waktu sedang terik-teriknya, mereka pun tidak membuang waktu untuk melaksanakan niat mereka.
Dengan Pak Teguh sebagai orang yang bertanggung jawab, mereka di giring ke lokasi yang sudah di siapkan sebelumnya atas perintahnya.
Mereka berjalan dengan kepala menoleh kanan-kiri takjub, saat mata mereka di sajikan pemandangan hamparan karpet alam.
Sepanjang jalan yang mereka lalui hijau adalah yang mereka lihat, hijau dari sawah yang kebetulan sedang memasuki masa panen.
"Silakan tuan, Nyonya ... Di sini Kami telah menyiapkan makanan dan minuman, jika ada yang kurang segera panggil Saya. Saya akan segera menyiapkan," ujar Pak Teguh ramah.
"Terima kasih Pak Teguh, ini sudah cukup. Tapi nanti kalau ada yang kurang Aku panggil," balas Kiara mewakili Suaminya.
"Baik Nyonya, sama-sama. Kalau gitu saya permisi,"
"Silakan, Pak,"
Sepeninggalnya Pak Teguh tiga keluarga ini segera bersiap dengan niatnya.
Para anak-anak yang punya tugas sudah stand by di pinggir sawah, menatap tiga laki-laki dewasa dengan pandangan yang membuat mereka mengernyit bingung.
"Ada apa?" tanya Dirga mewakili.
"Kok ada apa Dadd?" tanya Gavriel balik.
"Ya lalu?" balas Dirga tidak mengerti, apalagi melihat Putranya mendengus mirip sepertinya.
"Bukannya kalian bilang ingin mempelajari katak? Nah di sana banyak katak, ayo tangkap!" seru Raka yang sedang duduk bersiap membuka Laptopnya.
"Emang!!" seru ketiga anak kompak.
"Ya terus???" balas ketiga Daddy tidak kalah kompak.
"Bukan berarti Kami yang tangkap!"
"Maksudnya?"
"Daddy / Baba / Pipi dong yang tangkap!" seru ketiganya lagi-lagi kompak.
"Apa???"
"Kami kan tidak tahu cara menangkapnya, iya kan Ez, Queene?" ujar Gavriel polos lalu bertanya kapada dua sahabatnya meminta bantuan.
"Iya!"
"Betul, betul, betul,"
"Ah .... Bilang saja kalian mau ngerjain Kami kan?"
"Mimi, Pipi marah!"
"Mama, Baba seram matanya merah!"
"Momm, Dadd keluar tanduknya!"
******
Slide story
Bisik-bisik di dalam mobil
Queene yang pindah mobil memberikan cengiran khasnya, ke arah dua sahabat sepopoknya.
"Quenee," bisik Gavriel sambil menuliskan sesuatu di kertas.
"Apa?" balas Queene bingung.
"Lihat," bisik Gav memperlihatkan gambarnya yang rapih.
"Bagaimana?" lanjutnya bangga.
"Sip, hi-hi!" balas Queene terkikik kecil.
"Ez?"
"Good job!" balas Ezra dengan dua jempol terangkat.
Kemudian mereka pun terkikik, hingga mereka mendengar lagu yang di putar oleh Daddy dari Gavriel dan ikut bertanya merecoki obrolan dua orang di depannya.
Melupakan kertas dengan hasil gambar abstrak yang hanya di mengerti ketiganya.
Gambar sawah ... Tiga orang dewasa di tengah sawah dan tentu saja .... Gambar mereka lengkap dengan Para Mommy di pinggir sawah.
Sekali-kali mereka ingin Para Daddy menyatu dengan alam, maksudnya benar-benar menyatu ... Mandi lumpur misalnya.
(Jangan di tiru yah ... Ini hanya di lakukan untuk anak-anak gabut, bosan dengan kesibukan Para Daddy di dunia perkantorannya)
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Eits masih ada kejahilan lainnya loh.
Sampai babai