Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Menjemput Yang Satunya


__ADS_3

Season dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Masih di kediaman milik keluarga Wardhana.


Saat ini ketiga remaja dengan satu laki-laki, sedang bersiap untuk pergi ke sekolah bersama.


Gavriel yang bertugas sebagai sopir sudah duduk anteng, di belakang kemudi menunggu dua penumpang lainnya, Selyn adiknya, serta Queene sahabat perempuannya.


Di luar sana ada Selyn dan Queene, yang sedang berpamitan dengan suk-suk serta yi-yi atau juga orang tua dari Queeneira.


Adiknya selalu manja dengan sahabat dari orang tuanya, dulu apalagi jika belum membuat suk-suk Faro mendesah frustrasi, maka bukan Selyn namanya.


Dari sini ia bisa melihat adiknya, yang berjalan dengan Queene saling bergandengan lalu di dorong menjauh, saat hendak membuka pintu mobil di belakang.


Mengernyitkan alis bingung, Gavriel menunggu dalam diam, apa lagi yang akan di lakukan adik kesayangan tapi jahilnya minta ampun di luar sana bersama sahabatnya.


"Selyn dan tingkah lakunya," batin Gavriel mendesah lelah.


Percakapan Di luar mobil


"Kenapa El?" tanya Queeneira tidak mengerti, saat ia hendak membuka pintu penumpang belakang, malah dengan sengaja adik dari sahabatnya mencegahnya.


Selyn yang di tanya mengerucutkan bibir imut, protes saat Mba kesayangan, kakak ipar sepihaknya dengan dengkusan sebal.


Kenapa harus duduk di belakang, kalau bisa duduk di depan, samping Mamasnya. Pikirnya gemas.


"Mba duduk di depan loh, biar El yang di belakang. Soalnya abis ini kita mau jemput Mba satunya, kan El juga mau sapa Mba yang satunya," cerocos Selyn dengan modus tipu muslihatnya.


"Jemput Mba satunya," ulang Queeneira dengan perasaan tidak enak, menuai anggukan kepala kecil dari Selyn, yang masih mengerucutkan bibir, belum lagi pipi menggembung lengkap dengan mata menyipitnya.


Khas, saat seorang Selyn kesal.


Kesal? Sepertinya kesal, harus membiarkan Mamasnya layaknya sopir antar jemput.


Kalau jemput Mba kesayanganya sih, baginya It's oke banget.


"Iya, jemput yang satunya."


Jawaban singkat yang diberikan adiknya, membuat Queene berpikir satu nama dari sekian banyak nama di muka bumi ini.


Keineira


Siapa lagi.


Seketika hatinya yang semula senang, muram kembali, tapi dengan cepat ia mengubah lagi sebelum si Selyn sensitif menyadarinya.


"Kalau gitu, kenapa tidak kita saja yang duduk di belakang?" usul Queene dengan ceria, namun sayang, gelengan kepala adalah yang diterimanya.


"Tidak bisa, El maunya, Mba yang duduk di samping Mas. Titik," tolak Selyn dengan tegas.


Ia segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan Queene yang berdiri dengan helaan napas pasrah.


"Astaga, seperti Onty Yaya," gumam Queene pelan, sebelum membuka pintu depan kemudian duduk di samping Gavriel, yang melihatnya dengan senyum kecil.


"Pakai seat belt-nya," ujar Gavriel lembut memperingati.


"Iya," sahut Queene singkat, kemudian memakai seat belt sesuai perkataan sahabatnya.


"El, sudah siap?" tanya Gavriel, menolehkan wajahnya menghadap sang adik, yang tersenyum bahagia ke arahnya.


"Kenapa dengan El?" batin Gavriel dengan kening berkerut, penasaran akan ekspresi bahagia, yang ditampilkan oleh adiknya saat ini.


"Siap, Mas! Siap banget," sahut Selyn dengan gaya berlebihan.


Gavriel menggelengkan kepalanya, kemudian balik menoleh ke arah sahabat perempuannya.


"Siap, Que?" tanya Gavriel kali ini untuk sahabatnya.


"Hum, siap Tav!" seru Queene seperti biasa, menyahuti pertanyaan Gavriel, dengan panggilan saat mereka kecil. Membuat Gavriel sebal, lalu mengusak rambut sahabatnya bar-bar.


"Gavriel, Que sayang. Bukan Tav, mau aku sumpal bibirnya, heum?" tawar Gavriel gemas, tidak sadar akan panggilan gemasnya, membuat sang adik di belakang sana terpekik senang.


"Mas sumpal pake apa?"


"Kaos kaki!"


"Yah! Gavriel, jorok banget, iyuh!"


"Kaos kaki yang sudah sebulan belum di cuci?"


"Tentu saja!"


"Astaga Selyn, jorok sekali!"

__ADS_1


Ha-ha-ha!


Gelak tawa memenuhi mobil milik Gavriel, mobil dengan penumpang perdana adik serta sahabatnya, sahabat yang sudah di lebeli oleh sang adik, sebagai calon kakak ipar di masa depan sang kakak.


Ditemani oleh lagu kesukaan mereka, lagu dari saudrtack anime kesukaan Author, Nico touches the walls.


Perjalanan mereka pun berlanjut ke rumah, yang akan menjadi jemputan terakhir Gavriel, sebagai perjalanan perdana memakai mobil.


Tidak butuh waktu lama untuk Gavriel, sampai di halaman rumah milik teman perempuannya.


Di depan sana ia bisa melihat teman, beserta Mama dari teman sekelasnya, sepertinya sengaja menunggunya datang.


Mematikan mesin mobilnya, Gavriel melepas seat belt dan melihat ke arah dua perempuan kesayangannya.


"Mau ikut keluar? Sapa ibu Indy," ajak Gavriel kepada adiknya dan juga sahabatnya.


Keduanya mengangguk dan mengikuti jejak dari Gavriel, keluar dari dalam mobil dan berdiri di samping kanan-kirinya, sehingga kini dipenglihatan seorang Indy, Gavriel seperti pangeran membawa dua orang selir. Dan tentunya anaknya adalah yang akan menjadi seorang permaisuri.


"Selamat pagi, tante," sapa Gavriel dengan nada datar seperti biasa.


"Pagi, Gavriel. Jemput Kei lagi, senangnya punya teman baik seperti kamu. Eh ... Siapa dua perempuan cantik ini?" sahut dan tanya Indy dengan nada penasaran, untuk kemudian melihat ke arah seorang remaja perempuan, yang sepertinya seumuran dengan anaknya.


"Huem ... Apa ini saingan Kei. Kalau yang satunya sih aku sudah tahu," batin Indy menatap Queene dengan menilai.


"Cantik dan sederhana**," lanjutnya setelah menilai dengan cermat.


"El, Que," gumam Gavriel pelan, yang dimengerti oleh adik serta sahabatnya.


Mereka berdua pun maju dan menyalami tangan dari Mama seorang Keineira, yang disambut antusias oleh Indy, apalagi saat bersalamaan dengan Selyn.


"Halo, tante. Saya Selyn Wicaksono, saya adiknya Mas Gav," ujar Selyn memperkenalkan diri, tidak lupa dengan senyum lebar seperti biasa, menuai pekikan senang dari Indy.


Wicaksono__keluarga kaya, yang keturunannya menikah dengan keluarga Wijaya.


Mengikuti jejak adik dari sahabatnya, Queene pun memperkenalkan diri dengan ramah.


"Selamat pagi tante, nama saya Queeneira Wardhana. Salam kenal," ujar Queeneira dengan senyum cerah, senyum khas kesukaan Gavriel.


"Oh ... Anak dari keturunan Wardhana. Si pengacara kondang itu," batin Indy saat ingat nama belakang keluarga kaya lainnya.


"Salam kenal semuanya, terima kasih yah, sudah mau berteman dengan anak tante, tolong kalau dia manja dimaklumi. Kei ini anak satu-satunya Tante dan Om," ujar Indy dengan nada antusias, menceritakan tentang anaknya, yang ditanggapi berbeda dari orang yang mendengarnya.


Sang anak atau juga Kei, si orang yang di omongin tentu saja mendesah malu. Sedangkan Queeneira dan Selyn hanya tersenyum kecil. Lalu Gavriel hanya memperhatikan dalam diam, kemudian berdehem, mengingat hari sudah semakin beranjak siang.


"Ehem, maaf mengganggu tante. Tapi kita harus segera berangkat sekolah," sela Gavriel membuat empat orang perempuan di hadapannya menoleh ke arahnya.


Indy pun mengangguk, lalu disusul oleh sang anak yang mengambil tangannya, untuk di salaminya.


"Iya, kalian semua hati-hati di perjalanan. Gavriel, bawa mobilnya jangan kebut-kebut!" seru Indy memperingati.


"Hn," gumam Gavriel sebelum berbalik lebih dulu, dan berjalan menuju mobilnya meninggalkan adik, sahabat, serta temannya yang berjalan di belakang sana.


Sesampainya di dekat mobil, Selyn si bontot kesayangan Gavriel ini bergerak cepat, mendorong lagi Queene untuk duduk di depan, duduk di samping Mamasnya sebelum keduluan seseorang, yang juga hendak membuka pintu mobil bagian depan.


"Nah! Mba Que, Mba kan tadi duduk di depan, berarti harus duduk di depan lagi, oke," tandas Selyn tidak menerima penolakan, menatap Queene dengan sorot mata tegas, membuat Queene mau tidak mau mengangguk.


"Oke, dasar," dengkus Queeneira pura-pura sebal, padahal dalam hati sudah terkikik saat melihat ekspresi canggung dari teman sekelasnya.


Sepertinya teman sekelasnya sudah tahu, siapa Selyn sebenarnya, maka dari itu saat perkenalan tadi, teman sekelasnya sama sekali tidak menampilkan raut wajah kaget.


"Atau Gavriel yang memberitahu yah," batin Queene kemudian tanpa melihat lagi, membuka dan menutup pintu, masuk ke dalam, lalu duduk dengan nyaman.


Queeneira pun melihat ke arah samping, tepatnya ke arah Gavriel, yang saat ini sedang melihat ke arah layar handphonenya.


"Sedang apa?" tanya Queene penasaran, sambil memakai seat belt, lalu menatap kembali ke arah Gavriel yang juga menatapnya.


"Balas pesan Ezra, sambil nyari lagu," balas Gavriel dengan senyum kecil.


"Mana lihat," sahut Queene, tanpa memperhatikan belakang sana, maksudnya Selyn dan Kei yang masuk dengan debamam pintu kecil.


Ia asik melihat layar handphone milik sahabatnya, mencari lagu di daftar musik milik sahabatnya.


Wajah keduanya berdekatan, membuat seseorang di belakang sana merasa perasaan tidak suka.


Menggigit bibir bawahnya, serta meremas rok yang dikenakannya adalah hal yang dilakukan Keineira, untuk menetralisir rasa cemburunya.


"Bukan kah kemarin mereka sempat bertengkar," batin Kei bingung.


Tentu ia bingung, saat kemarin teman laki-lakinya menampilkan raut wajah biasa, saat sedang bersama dengan sahabat perempuannya. Lalu sekarang, mereka sudah dekat seperti dulu lagi.


"Mas, lagu kesukaan Mba Que dong!" seru Selyn ikut rusuh, saat melihat kedekatan Mba dan Mas kesayanganya. Sesekali menoleh ke arah Kei, untuk memberikan cengiran khasnya.


Kedua orang di depan sana kompak menoleh ke arah belakang, membuat hidung mereka bersentuhan dan membuat dua tanggapan berbeda, dari mereka yang melihat. Sedangkan yang punya hidung biasa saja, karena bagi mereka itu sudah biasa. Meskipun ada getaran aneh yang mereka berdua rasakan, namun mereka mencoba untuk biasa saja.


"Mau lagu kesukaan Mba Que?" tanya Gavriel datar, menutupi rasa aneh dalam hatinya.


Matanya tidak sengaja melihat ke arah teman yang tadi dijemputnya, kemudian tersenyum tipis yang dibalas senyum manis.

__ADS_1


"Iya Mas, yang duet itu, yang waktu itu duet sama Mas, yang itu, yang judulnya, huem judulnya."


"How can i love." sahut Queene dan Gavriel bersamaan, saat gemas dengan kalimat adiknya, kalimat dengan kata terlalu banyak itu dan yang, yang di ucapkan oleh Selyn.


Selyn mengangguk semangat, tersenyum lebar sengaja saat menyebutkan lagu duet Mas dan Mbanya.


"Iya! Yang sering Mas dan Mba nyanyiin, kalau kita lagi karaokean," ujar Selyn ceria.


Gavriel mengangguk mengiyakan, kemudian belik menghadap depan, diikuti Queene yang juga menghadap depan.


Kemudian lagu rekaman dari handphone milik Gavriel terdengar, mangalun merdu dengan suara dentingan piano mengawali, disusul dengan suara lembut seorang perempuan, suara khas milik preman kesayanga mereka.


(Silakan dengarkan lagu Akmu__How can i love, untuk menambah pendalaman dialog)


(Thor nggak ada di daftar musik, ah! Iya yah sorry, silakan di download dulu🤣)


"Ini suara mereka berdua?" tanya Kei berbisik, kepada Selyn yang mengangguk semangat.


"Yups! Cocok kan jadi pasangan? Maksudnya, Pasangan duet?" balas Selyn sengaja, kemudian meralatnya cepat saat melihat ekspresi aneh dari kakak perempuan di sampingnya.


"Oh," gumam Kei tanpa banyak bicara.


Perjalanan pun berlanjut, dengan sesekali terdengar obrolan pertanyaan dari Selyn, yang sengaja juga membahas masalah liburan mereka nanti.


Hingga seseorang merasa seperti asing, saat ada ditengah-tengah ketiganya.


"Kok aku merasa aneh yah, sepertinya adik dari Gavriel lebih peka, dibandingkan dengan Gavrielnya sendiri," batin Kei melihat ketiganya dengan senyum canggung.


Tidak lama kemudian sekolah dulu yang menjadi tempat Queriel (Queene dan Gavriel) sekolah pun terlihat.


Berhenti di depan gerbang, Gavriel turun di ikuti Queene, lalu Kei yang merasa tidak enak.


Di depan gerbang seperti biasa, ada kumpulan para siswa dan siswi, yang baru datang atau juga sengaja saling menunggu.


Mereka melihat dengan penasaran, berganti menjadi pekikan kagum, saat bisa melihat lagi kakak kelas mantan OSIS favorit mereka.


Kyaaa! Kakak Gavriel!


Kyaaa!! Tambah ganteng euy!


Mba Queeneira, saranghae!


Pekikan dengan nama Gavriel dan Queene yang dielu-elukan terdengar berisik, membuat suasana menjadi gaduh.


Keineira yang baru ini melihat pemandangan seperti ini terdiam dengan senyum kaku, maskipun ia juga jadi bintang di sekolah lamanya, sambutan ini sangat antusias. Padahal keduanya sudah tidak sekolah di sekolah ini lagi, kenapa masih saja menjadi idola.


"Gavriel benar-benar hebat," batin Kei memandang Gavriel dengan senyum malu.


Selyn yang mendengar kegaduhan pun berdecak sebal, saat teman-temannya tidak berubah ketika melihat kakak tampannya.


"Hih, bisa tidak sih mereka diam," dumel Selyn dihadapan Mamasnya, yang menggelengkan kepala tidak heran.


Gavriel pun menepuk kepala adiknya sayang, membuat Selyn yang tadi sibuk melotot ke arah sekitar melihat ke arahnya.


"Tidak usah di pikirkan, sekarang El masuk, lalu tunggu Daddy datang, oke?" ujar Gavriel lembut, menuai anggukan kepala imut dari sang adik.


"Oke Mas, El mengerti!" seru Selyn senang.


Gavriel tersenyum bangga kepada adiknya, menuai pekikan berlebih dari sekitar sehingga Gavriel pun menghilangkan senyumnya lagi.


Astaga!


"El masuk yah, semangat!" ucap Queene yang diam hanya memperhatikan kedua orang yang di sayanginya, tanpa ikut serta.


"Oke Mba!"


"Oh iya! Nanti El ikut Daddy ke sekolah Mas, he-he," kekeh Selyn saat ingat jika pembagian laporan belajarnya lebih cepat, dibandingkan dengan sekolah sang kakak.


"Iya! Mas tunggu," sahut Gavriel, kemudian menepuk kepala adiknya untuk yang terakhir, sebelum berbalik setelah sang adik memberinya pose hormat berlebihan.


"Siap! Sampai jumpa, Mas, Mba!"


"Sampai jumpa, El!"


"Sampai jumpa, Selyn!"


Ketiga remaja ini pun kembali ke mobil, dengan Gavriel yang sudah balik ke dalam dan duduk di kursi kemudi, sedangkan dua orang remaja perempuan tersebut masih di luar.


Keduanya saling pandang, saat salah satu dari mereka mengucapkan permintaan yang membuat salah satunya merasa ditantang.


"Boleh aku duduk di depan?"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Terima kasih semua.


Sampai babai.


__ADS_2