Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Persalinan bocil


__ADS_3

Maaf bila typo mengganggu saat membaca dan alur cerita lambat


So


Happy reading


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Supermarket


Kiara memasuki Area supermarket , berjalan pelan dengan tangan kiri menenteng Tas tangan , sedangkan tangan kanannya memegang perut bagian bawahnya.


Kepalanya celingak celinguk, mencari sesuatu yang sedari tadi di inginkannya.


" Ah ... Itu dia " gumam Kiara senang.


Kiara segera menuju tempat di mana ia melihat sesuatu yang di inginkannya dengan langkah senang.


Pada saat Kiara sampai dan hendak memegang benda tersebut , Kiara berhenti dengan tangan memegang perutnya menahan sakit.


Ughh


" Ada apa ini ? , kenapa perut aku sakit sekali " gumam Kiara dalam hati


Perutnya seakan melilit dan di remas tangan tak kasat mata.


Sesuatu di dalam perut bagian bawahnya seakan ingin menorobos keluar dari jalan lahirnya.


" Astagfirullah ... Jangan bilang ini sudah waktunya anak aku lahir , tapi ini belum harinya " fikir Kiara panik dalam hati , dengan sekuat tenaga menahan rasa mulasnya.


Jika menurut HPL-nya seharusnya bocil mereka lahir 1 minggu lagi , itu sebabnya Dirga mengejar target agar dia bisa menemani Kiara di saat persalinan nanti .


Ugh ...


Sakitnya semakin terasa dan sesuatu mengalir dari miliknya membasahi celana dalam serta mengalir hingga paha


" Akh ... Aww ... " Pekik Kiara dengan suara keras


Air ketuban mengalir semakin banyak , hingga menggenang di lantai keramik berwarna putih Supermarket.


Kiara merosot ke bawah dengan tangan senantiasa memegang perutnya yang terasa sakit sekali.


Keringat sebesar biji jagung menghiasi dahi hingga leher Kiara, bahkan wajah Kiara pun sudah pucat pasi.


Ugh ...


" Engh ... Dirga huh ... Dirga tolong aku " gumam Kiara menahan sakit , ia memanggil nama suaminya berharap jika saat Dirga akan segera datang menolongnya.


Pak Anto yang melihat gelagat aneh dari Nyonyanya segera menghampiri Kiara yang sedang duduk menahan sakit.


" Nyonya ... Nyonya kenapa ?" tanya Pak Anto dengan ekspresi panik.


Kiara mendengar suara panggilan dari Pak Anto yang memenggil namanya serta memangku kepalanya, tapi Ia tidak bisa menjawab saat merasakan tubuh bagian bawahnya semakin manjadi dan rasanya sakit sekali .


" Hah ... Huh ... Hosh ... "


Kiara tidak menjawab pertanyaan dari Pak Anto yang terlihat panik sekali , bahkan nafasnya pun sudah mulai tidak beraturan.


Tidak mendapat jawaban dari Sang Nyonya Pak Anto mencoba kembali bertanya , tapi sebelum Ia bertanya matanya tidak sengaja melihat lantai yang basah di sekitar Nyonyanya .


" Nyonya ... Nyonya! " panggil Pak Anto panik dan ternyata kiara pingsan tidak kuat menahan rasa sakit .


Kya ... Ada yang pingsan , seperti nya ingin melahirkan .


Hei ... Tolong bapak itu angkat Ibu itu, panggil ambulan


Hei ... Minggir jangan di kerumuni nanti tidak ada oksigen


Pak Anto yang panik semakin panik saat kerumunan pengunjung berkumpul dengan ia sebagai pusatnya.


" Jangan panggil ambulan , Tolong bantu saya angkat Nyonya saya ke dalam mobil !" seru Pak Anto panik saat Ia melihat seseorang menghubungi ambulan.


Perusahaan Wijaya


Saat ini Dirga sedang mengadakan meeting , di ruang meeting perusahaannya.


Dirga diam dengan wajah datar memandang dan mendengarkan dengan seksama penjelasan rencana proyek yang sedang dalam tahap rancangan.


Deg ...


" Ugh ... Perasaan apa ini , kenapa perut gue rasanya mules banget " batin Dirga cemas saat merasa perut bagian bawahnya sakit dan tidak nyaman.


Dirga merasakan Keringat dingin mengalir dari dahinya , padahal ruang meeting perusahaannya di lengkapi AC yang selalu rutin di jaga dan juga selalu dengan temperatur yang tidak pernah di ubah.


" Dirga tolong aku! "


Deg ...


" Kiara ! "


Kepala Dirga menoleh ke arah samping kiri dan kanan mencari sumber suara yang tadi memanggilnya. Namun nihil, tidak ada apa-apa kecuali bawahannya yang melihat ia dengan ekspresi heran dan bertanya.


" Bos ... Ada apa? Apa ada yang salah ? " Tanya Dani khawatir , karena Bosnya yang tidak konsentrasi seakan sedang mencemaskan sesuatu.


Dirga tersentak kaget saat Dani memanggil nya , bahkan Ia tidak sadar telah berdiri dari kursinya dan memandang sekitar dengan tidak fokus.


" Nggak apa-apa , Lanjutkan meetingnya! " ujar Dirga dengan suara datar , kemudian duduk kembali ke kursinya masih dengan hati gelisah.


Ia bingung kenapa Ia bisa seperti ini , Ia tidak pernah tidak fokus jika sedang mengadakan meeting.


" Baik Bos " balas Dani menuruti perintah Dirga.


Drt ... Drt ...


Getaran pada saku celana yang berasal dari handphone miliknya, membuatnya lagi-lagi tersentak kaget .


" Gila gue kenapa sih ?" batin Dirga bertanya.


Tangannya mengangkat sebagai tanda interupsi waktu , Lalu melihat ke arah layar handphone yang menampilkan nama Sang Mama sebagai pemanggil.


" Mama!" batin Dirga heran.

__ADS_1


Tidak biasanya Sang Mama menelponnya di saat seperti ini , biasanya cukup kirim pesan dan Ia sendiri yang akan menghubungi.


Tut


" Ya Mah , Aku lagi meet ..."


" ..."


" Apa! Sekarang Mama di mana ? "


" ... "


" Oke , Dirga segera ke sana Mah! "


Bawahannya hanya bisa menatap dirga cemas saat melihatnya dalam keadaan panik , hilang kendali tidak seperti Bos yang seperti biasa.


" Ada apa ? " batin Mereka kompak


" Dani rapat di tunda , lu atur sisanya! " seru Dirga panik , Kemudian pergi meninggalkan ruang meeting dengan langkah setengah berlari dan menutup pintu meninggalkan debaman kuat.


Brak ...


Bisik-bisik pun terdengar setelah kepergian Dirga , Menanyakan tentang apa yang terjadi dsn sebagainya.


" Sudah semuanya , kita fokus lagi " seru Dani mengambil alih kendali dan mulai mengatur kelanjutan meeting sesuai perintah Dirga.


" Pak Dani , Bos Dirga kenapa ?" tanya salah satu temannnya dengan nada Penasaran dan khawatir.


" Tidak tahu , Oke ... Rapatnya kita tunda dulu , kalian perbaiki lagi di bagian rancangan dan pengeluaran biaya . Lalu nanti ... Bla ... Bla ... "


Dani pun menjalankan tugas sesuai instruksi dari dirga dan terburu meninggalkan kantor menyusul Dirga ke RSIA Kota S , setelah tadi dapat pesan singkat dari Dirga.


Sebelumnya


Mansion Wijaya


Mama putri dan Kakek Bakrie sedang berada di belakang halaman , berbincang bersama Kakek Bagus dan Mama Sarah yang kebetulan sedang bertamu.


Mereka juga sedang membahas persalinan kiara yang menurut perhitungan dokter akan melahirkan minggu depan dan masalah pindahan rumah jika kiara sudah melahirkan .


Dirga sudah membooking ruangan VIP untuk Kiara nanti melahirkan , rencananya H-3 Kiara akan tinggal di Rumah Sakit agar kondisinya terus di pantau.


Mengingat ini adalah kelahiran pertama dari Kiara , mereka semua khawatir akan terjadi apa-apa dengan Kiara, apalagi Kiara punya riwayat operasi sebalumnya.


" Jadi nanti rencananya mereka akan lang ..."


Ucapan Putri tertunda , karena Ia mendengar nada dering dari handphone miliknya.


" Nanti dulu ya Jeng , ini ada telepon dari Pak Anto " ujar Putri saat melihat nama penelpon yang ternyata adalah sopir pribadi Kiara.


Tut ...


" Iya Pak Anto, ada apa?" tanya Putri setelah menekan tombol hijau pada layar handphonenya.


" Nyonya Besar! Nyonya Kiara pingsan dan sekarang ada di Rumah Sakit !"


" Apa! Bagaimana bisa? Rumah Sakit mana ?" tanya putri dengan panik


" Baik, Saya segera kesana! "


Tut


Putri menghadap ke arah keluarganya dengan raut wajah panik dan itu semakin membuat mereka yang melihat merasakan gelagat yang tidak mengenakan.


" Ada apa?" tanya mereka kompak dalam hati.


" Gawat! Kiara pingsan dan saat ini sedang perjalanan ke rumah sakit bersama Pak Anto"


Seru Putri panik melihat ke arah mereka dengan wajah bingung.


" Apa! "


" Sebaiknya Kita cepat berangkat , kamu hubungi Suami kamu Sarah. Aku hubungi Dirga dan Hendri " ujar Putri panik namun Ia bisa mengendalikan diri dengan segera memikirkan langkah selanjutnya.


Kedua Kakek dan juga Sarah masing-masing segera bergegas menelepon atau pun memerintahkan pelayan untuk menyiapkan mobil lalu dengan terburu meninggalkan mansion wijaya menuju rumah sakit dimana Kiara berada.


.


.


Saat ini


Dirga dengan terburu buru meninggalkan meeting yang baru jalan setengah dan berjalan dengan langkah tergesa menuju lift berada.


Dirga menekan tombol lift dengan tidak sabar saat 4 detik seakan seabad baginya.


Jantungnya berdetak dengan kencang panik saat menerima kabar dari Sang Mama,Iia berfikir apa ini alasan Ia tidak fokus selama meeting berlangsung? Bibirnya mengeluarkan kata sumpah serapah saat lift tidak kunjung terbuka dengan tangan mengepal kesal.


Dalam hati Ia berdoa semoga istri dan anaknya baik-baik saja hingga Ia sampai di tempat.


Sungguh Dirga tidak siap jika harus kehilangan anak untuk kedua kalinya apalagi istrinya juga dalam keadaan pingsan.


Ting


Ketika pintu lift terbuka Dirga segera masuk dan kembali menekan tombol dengan tidak sabar, bibirnya senantiasa mengucapkan kata " cepat " berulang dan panik di saat bersamaan.


" Ya tuhan semoga mereka baik-baik saja " gumam Dirga pelan dengan kedua tangan mengepal menahan rasa sabar saat lift masih dalam perjalanan menuju lantai bawah.


Kenapa 10 detik di dalam lift terasa sangat lama.


" Sial ... "


Ting


Pintu terbuka Dirga segera melangkahkan kakinya dengan langkah lebar dan cepat tanpa menghiraukan sapaan ataupun saat menabrak bawahannya yang berlalu lapang di lobby perusahaannya.


Begitu sampai di parkiran mobil , Ia segera membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kuat hingga terdengar debaman kuat yang sekali lagi tidak Ia hiraukan.


Dengan kecepatan setan Dirga meninggalkan area gedung perkantoran dan tancap gas menuju rumah sakit.


" Kiara tunggu Gue !" gumam Dirga gusar

__ADS_1


Rumah Sakit Ibu Dan Anak Kota S


Mobil yang di kendarai Pak Anto berhenti di bagian UGD bersamaan dengan mobil keluarga Wijaya yang tidak putus komunikasi melalui panggilan telepon.


Brak ...


Sarah dan Putri di ikuti oleh Kakek Bakrie dan Kakek Bagus berjalan tergesa , saat melihat perawat membawa Brangkar dengan Kiara di atasnya yang telah bangun dari pingsannya.


" Sayang! Sayang kamu harus tetap sadar sayang , ayo bernafas yang teratur. Tarik nafas hembuskan perlahan seperti itu sayang ayo!"


Ketika sampai di samping Kiara yang sudah kesusahan mengatur nafasnya Sarah segera memegang dan berseru panik membatu Kiara mengatur nafasnya.


Keringat mengalir dari dahi membasahi seluruh wajah hingga leher Kiara , dengan sesekali meringis dan mengedan.


Eng ... Huf ... Huf


" Mama Yaya nggak tahan lagi Mah!"


Huf ... Huf ... Eng


" Dokter! Dokter! Cepat tolong anak saya" seru Putri panik saat melihat seorang dokter berjalan ke arahnya.


" Kalian bisa cepat tidak, lihat cucu saya sudah kesakitan!"


" Kiara sayang , bertahan sayang ayo atur nafas lagi"


Di samping kiri kanan Kiara ada Sarah yang memegang tangan Kiara menguatkan sedangkan Kakek Bagus mengusap wajah berpeluh Kiara dengan tangan gemetar. Rasanya Bagus tidak sanggup melihat cucu kesayanganya kesakitan seperti ini, air matanya mengalir saat Kiara yang sedang mengatur nafas tidak teratur dan sesekali mengedan di hadapannya.


" Ya Gusti selamatkan cucu dan cicitku" Doa Bagus dalam hati.


Pihak Medis segera memeriksa bukaan pada jalan lahir Kiara yang sudah memasuki bukaan enam.


" Suster ruang bersalin apa sudah di siapkan?"


" Sudah Dokter "


" Segera bersiap"


" Baik Dokter"


Kiara tidak fokus dengan percakapan di sekitarnya, saat ini yang Ia rasakan adalah rasa kantuk yang luar biasa jika saja sang mama tidak menepuk berulang pipinya mungkin Ia sudah benar-benar akan jatuh tertidur.


Kiara di dorong ke ruang bersalin oleh perawat di IKUTI oleh keluarganya yang berjalan cepat di belakang.


Tangan kanannya mengenggam erat tangan Sang Mama sebagai pelampiasan rasa sakitnya.


" Mah sakit mah! Ugh ... Akh!"


" Kamu kuat sayang , tahan sebentar lagi! "


" Kiara sayang nyebut sayang , semangat sayang "


Meskipun mendengar setiap seruan semangat untuknya tapi Kiara tidak sungguh sungguh mendengarnya, jangankan untuk mendengar suara sang mama dan mertua. Bahkan Kiara tidak yakin masih dalam keadaan sadar jika dirinya bisa melihat bayang bayang kilasan masa lalu di masa kehamilannya seakan Flasback.


Entah ini halusinasi atau apa tapi ia bisa melihat Neneknya yang tersenyum Seakan memanggil namanya, mengajaknya untuk tinggal bersama.


Ugh ...


Rasa Sakitnya menyerang lagi, lebih cepat di bandingkan sebelum ia pingsan di supermarket dan rasanya dua kali lipat lebih sakit, seakan miliknya sedang terbuka dengan paksa dan itu membuatnya semakin mengedan.


Eng ...


Kiara sampai di ruang operasi untuk bersalin dengan suster dan dokter yang di kenalnya sudah dalam keadaan siap.


Mereka mulai memeriksa kondisi dari jalan lahir dan bisa sedikit merasakan kepala bayi tidak jauh dari jangkauan jarinya.


" Bukaan delapan , periksa tekanan darah.


Cepat beri Entonox ( gas dan air) "


Suara bersahutan dalam ruang operasi terdengar, Kiara hanya pasrah saat pakaiannya di buka dan hanya di selimuti kain berwarna hijau serta saat seorang asisten dokter memberinya bantuan udara saat merasakan kepayahan menahan kontraksi yang sangat menyakitkan.


Matanya sayu melihat sekeliling ,


Puk ... Puk ...


" Nyonya ... Nyonya masih sadar " tanya seorang Suster setelah menepuk kedua pipinya pelan agar Kiara tetap dalam keadaan sadar.


Kiara mengangguk antara sadar dan tidak , yang ia tahu sakitnya semakin dan semakin menjadi.


Ugh ...


Di luar ruang operasi


Dirga segera memacu langkahnya dengan tergesa , menulikan telinganya saat mendapat teguran agar tidak berlari di sepanjang koridor. Saat ini hanya keadaan sang istri dan anaknya yang ia khawatirkan.


Keringat mengalir membasahi wajah dan leher mengalir turun ke dada dan punggungnya , nafasnya tercekat saat ingatan masa suram muncul .


Ia pernah kehilangan dan itu menjadi momok menakutkan dalam hidupnya, Ia merasa de javu saat berlarian di sepanjang lorong koridor rumah sakit menuju ruang operasi.


Di depan sana Ia bisa melihat keluarganya yang menunggu dengan berbagai macam ekspresi tapi yang pasti ekspresi khawatir lebih mendominasi.


Tap


" Mama, dimana Kiara mah?" tanya Dirga saat sudah ada di depan Mamanya , bertanya dengan nafas terputus di sertai wajah basah berkeringat.


" Kiara di dal ...


Ceklek


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya....


Jangan lupa loh tinggalkan jejak komentar dan klik jempolnya...


Serta vote dukunganya ya


Sampai babai

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2