Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
Basket!!!


__ADS_3

Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Dirga yang selesai mandi menghampiri Kiara yang tertidur lelap lalu duduk di samping istrinya, Ia dengan sengaja menjulurkan kepalanya membuat rambutnya yang basah dengan tetesan air jatuh membasahi wajah Sang istri.


"Banjir, huwaa!!"


Dirga terkekeh geli saat melihat respon dari Sang Istri, yang terbangun tiba-tiba.


"Banjir di mana sayang?" tanya Dirga dengan kekehannya.


Kiara yang terbangun, mengusap wajahnya yang basah dengan ekspresi kesal. Ia menatap Dirga yang terkekeh, melotot lalu mencubit perut dengan hiasan enam kotak milik Suaminya kuat.


Gyut!


"Aakhh ... Atit loh!" seru Dirga saat merasakan sakit namun geli di saat bersamaan.


Untung saja, perutnya dan tubuhnya sudah terlatih menerima cubitan dari Sang istri.


"Uw ... Rasakan," balas Kiara tidak perduli.


"Agak bawahan!" goda Dirga kurang ajar.


"Usil banget," ujar Kiara kesal.


"He-he, Surprise!" balas Dirga terkekeh renyah.


"Gundulmu Surprise!" sewot Kiara lalu melengoskan wajahnya kesal.


"Ha-ha-ha!"


Tawa Dirga memenuhi kamar tidur mereka, membuat Kiara semakin kesal.


"Ih ... Ngeselin!" gumam Kiara pelan.


Kekehan Dirga masih terdengar meski tidak seperti tadi, Ia mulai meredakan kekehannya dengan deheman pelan.


Tangannya yang tadi memegang handuk kecil, Ia ulurkan ke arah Sang istri yang mengerti dan mengambil alih handuk tersebut segera.


Dirga duduk memunggungi Kiara, lalu mulai menikmati pijatan lembut pada kepalanya.


"Basah nih wajah Aku!" seru Kiara sewot dengan tangan di kepala Suaminya. Mengeringkan rambut basah Sang suami, sesekali memijatnya lembut.


"Kan Surprise!" gumam Dirga tidak fokus. Ia terlalu menikmati saat bermanja seperti ini dengan Sang istri.


"Huemb" dengus Kiara.


Suasana hening saat keduanya menikmati keadaan mereka saat ini. Kiara yang sibuk dengan handuk di tangannya dan Dirga yang menikmati pijatan lembut pada kepalanya.


"Yank!" panggil Kiara pelan.


"Hn?" gumam Dirga menjawab panggilan Sang istri.


"Sakau artinya apa?" tanya Kiara sambil membawa wajahnya mendekati sisi wajah Dirga, melihat dari samping wajah Suaminya yang matanya terpejam.


"Hmmm!!" gumam Dirga panjang.


"Sakau?" Lanjutnya memastikan.


"Iya ... Katanya mau kasih tahu Aku, kalau sudah ada di rumah?" balas Kiara ke posisi semula. Ia kembali mengeringkan rambut Suaminya, yang saat ini memegang tangannya dan menghadap ke arahnya.


"Masih penasaran?" tanya Dirga dengan alis terangkat dan senyum geli terpampang.


Kiara mengangguk cepat, lalu melihat Dirga dengan tatapan penasaran dan itu membuat Dirga tidak tahan, untuk mencubit gemas hidung mancung Sang istri.


"Penyakit kepo Mami, nular yah sama Kamu?" balas Dirga tanpa menjawab pertanyaan Kiara.


"Ugh! Cakit cuyung! (sakit sayang)" seru Kiara manja dengan bibir melipat lucu.


Kekehan Dirga terdengar lagi, senang saat melihat ekspresi manja Sang Istri.


Ia menatap teduh Kiara, saat istrinya mengusap hidung berwarna merah akibat ulahnya.


"Mandi dulu, nanti lanjut tidur!" seru Dirga memerintah dengan lembut.


Kiara mengangguk, lalu menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang dan berdiri.


"Oke deh ... Aku mandi dulu, tapi ...


"Tapi?"


Nada suara Suaminya yang penasaran membuat Kiara tersenyum lebar.


"Tapi boong, Aku nggak mau mandi kalau Kamu belum kasih tahu Aku!" seru Kiara dengan kekehan kecil. Ia iseng mencolek manja hidung milik Suaminya, lalu terpekik saat Dirga menarik tangannya hingga Ia jatuh di pangkuan Suaminya.


Grep!


"Akh!!!"


Brugh!


"Ih ... Bikin kaget saja!" seru Kiara sambil memukul dada bidang Dirga yang tidak tertutup apa-apa.


"Kamu sih, maksa Aku begini," gumam Dirga tidak perduli. Ia memeluk erat Kiara, yang terkekeh di dalam dadanya.


"He-he ... Tinggal jawab saja, susah sekali!" bisik Kiara lalu melihat Suaminya dengan senyum lebar.


"Ayok ... Beri tahu Aku!" Lanjutnya memaksa.


Dengusan geli terdengar dari bibir Dirga, yang merasa jika istrinya berubah menjadi pemaksa dengan bumbu kepo khas Sang Mama.

__ADS_1


"Oke ... Fine, Aku kasih tahu. Tapi jangan ketawa yah kalau tahu artinya?" ujar Dirga. Ia mengalah lalu memperingati sebelum memberi tahu arti sesungguhnya, kata-kata alay nan lebay, sewaktu mereka muda dulu.


"Oke, sip!" balas Kiara cepat.


Matanya berbinar senang, merasa penyakit keponya akan puas setelah mendapat penjelasan dari Sang suami.


"Sakau itu sakit karena engkau. Udah kan puas?" ujar Dirga datar. Melihat ke arah Kiara dengan senyum geli, saat kening istrinya berkerut lucu.


"Itu aja?" tanya Kiara tidak puas.


"Bukannya sakau itu overdosis?" Lanjutnya tidak terima.


"Maka dari itu Aku kan sudah bilang, kata-kata ini hanya ungkapan alay sewaktu Kami sekolah. Ngeyel sih!" dengus Dirga lalu mengecup cepat bibir Kiara, yang langsung di balas refleks menampol bahunya kaget.


"Bilang dong kalau mau cium!" seru Kiara sewot, melotot lucu ke arah Dirga yang tersenyum lebar.


"Oh jadi-


"Oke Aku mandi dulu, bye!" sela Kiara cepat lalu berdiri dari pangkuan Dirga dan berlari ke arah kamar mandi. Ia meninggalkan Dirga, yang masih duduk di ranjang dengan kekehan gelinya.


"Dia kan yang bilang begitu, malah Dia sendiri yang malu. Dasar!" gumam Dirga pelan dengan kepala menggelang heran.


Ia pun bangkit berdiri, berjalan ke arah lemari pakaian dengan bibir bersiul kecil.


Ia Mengganti pakaiannya cepat, saat mendengar suara Gavriel yang ngelindur di dalam tidurnya.


"Huweee!!"


"Wait Kid!" seru Dirga setelah memakai celana boxernya.


Ia dengan segera berjalan menghampiri Box tidur Gavriel, lalu melihat anaknya yang tidur tengkurap dengan bokong terangkat, sepertinya ingin bangun tapi salah posisi.


Ia terkekeh lucu dengan kalakuan Sang anak, yang tingkahnya sebelas dua belas dengan Sang istri, apalagi kalau penyakit minta di noticenya kumat.


"Sudah bangun Kid? Apa tadi karena Daddy berisik?" ujar Dirga mengangkat tubuh Gavriel ke dalam rengkuhannya.


Mengetahui jika Sang Daddy toyyib yang menggendongnya, Gav segera menduselkan wajahnya kedalam dada Sang Daddy dan merengek manja.


"Dadd, ngun!"


"Heum ... Daddy tahu Kamu sudah bangun, tapi tanggung sekali. Lihat ini sudah larut, sayang!" sahut Dirga.


Ia berjalan ke arah ranjangnya dan merebahkan dirinya dengan Gavriel yang Ia letakan di atas dadanya.


Sang anak mencari posisi duduk di atas dadanya, lalu melihat wajah Daddynya dengan mata sayu.


Mata bulat yang biasanya berbinar cerah, saat ini berkedip-kedip seakan ingin menutup namun di tahan. Membuat Dirga tertawa kecil, gemas dengan kelakuan balita di atasnya.


"Kamu masih mengantuk, tid-


Cekle!


Dirga menghentikan kalimatnya, saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


"Sudah bangun, sayang?" ujar Kiara, Ia melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaian dan berganti pakaian dengan cepat.


"Gav bangunnya tanggung, ini sudah terlalu larut untuk bermain," ujar Dirga dengan tangan sibuk menepuk-nepuk punggung Anaknya, yang kini kembali rebahan di atas dadanya.


"Iya ... Biar bobok lagi aja yank, kalau di ajak bermain Dia mau tidur jam berapa!" balas Kiara sambil memakai gaun tidurnya.


"Sepertinya sudah otewe bobok tampan lagi yank!" seru Dirga geli saat mendengar dengkuran halus dari bibir anaknya.


"Dia nyaman tidur di atas Kamu, tahu saja tempat nyaman di dunia!" balas Kiara dengan senyum menggoda.


"Seperti Kamu, maksudnya gitu kan?" balas Dirga balik menggoda Sang istri.


Kiara terkekeh kecil, lalu menghampiri ranjang dan ikut rebahan di samping suaminya. Ia juga ikut tidur di sela-sela ketiak suaminya, lalu merengkuh Gavriel sekaligus tubuh suaminya lembut.


"You know me so well, honey!" bisik Kiara lalu ikut memejamkan matanya.


"Loh ... Kenapa ikut-ikutan bobok yank?" tanya Dirga tidak terima.


"Aku di tinggal sendiri?" Lanjutnya dengan nada kesal di buat-buat.


"Ngantuk Dadd," gumam Kiara sebelum benar-benar tertidur, lalu setelahnya dengkuran halus terdengar dari keduanya, dari dua orang kesayanganya.


"Nice dream, Dear, Kid!" gumam Dirga ikut memejamkan matanya.


Skip


Beberapa minggu kemudian


Hari-hari berlalu di lewati dengan bahagia oleh Dirga dan Kiara, serta anak lucu dan keluarganya.


Pekerjaan Dirga yang kian menumpuk membuatnya kembali menjelma menjadi Daddy toyyib. Tapi tidak seperti dulu, Ia bisa menyempatkan diri untuk bermain di pagi hari dan pulang di saat makan siang, meskipun hanya sebentar lalu pergi ke kantor lagi.


Hari ini rencananya Dirga akan mengajak Kiara dan Gavriel menonton pertandingan Basket. Pertandingan yang di langsungkan di sekolah Wesley School, pertandingan dengan Ia dan partner bisnisnya sebagai sponsor.


Dirga duduk di ruang tamu dengan Laptop menyala dan Gavriel yang duduk di pangkuannya. Mereka berdua menunggu dengan sabar, ibu ratu selesai melakukan kegiatan siap-siapnya.


Perempuan itu mahluk yang mempersiapkan segalanya dengan cara rumit, sehingga apapun itu yang di siapkan pasti memakan waktu yang lama.


Berpakaian lama ...


Dandan saat memakai alis lama juga ...


Menentukan sepatu yang akan di pakai apalagi, lama ...


Hanya saat melihat diskon besar, mereka gercep ingin segera memasuki barang dikon kedalam keranjang.


(Ga awas ada yang ngambek kalau tahu, eh ... Ini hanya candaan semata, jangan sampai Dia tahu thor. Gopek dulu)

__ADS_1


"Sayang, Aku sudah siap nih!" seru seseorang dari atas tangga sana.


Pasangan Daddy dan anak itu menoleh ke asal suara, dimana ada Kiara yang memakai baju terusan selutut dan sepatu sneaker terlihat modis, cocok dengan gaya pakaian yang saat ini di pakainya juga.


Karena hari ini tema-nya sport, Ia juga memakai baju santai dengan sepatu sneaker sebagai alas kakinya.


Ia tersenyum kecil, lalu mematikan Laptopnya dan menutup pelan setelah menyimpan data terlebih dahulu.


"Sudah siap? Yuk berangkat!" balas Dirga berdiri dari duduknya dan menunggu Sang istri sampai di hadapannya.


"Yuk!" seru Kiara semangat. Ia mengapai tangan yang terulur di hadapannya dan menggengamnya erat.


Mereka berjalan bersama keluar rumah dan menuju tempat mobil terparkir.


Kali ini mobil Audi a4 yang akan di bawanya, karena mobil Lamborghini miliknya yang sudah rusak dalam masa perbaikan.


Bukannya Ia tidak mampu membeli kembali mobil sport mahal tersebut, tapi kenangan dengan mobil merah itu terlalu banyak dan susah di lupakan.


Terlebih Lamborghini itu sudah menemaninya dari Ia masih berpacaran dengan Sang Istri hingga sekarang.


Dirga mengendarai mobilnya dengan santai, sesekali menimpali pertanyaan ambigu dari Anaknya, yang antusias saat melihat pemandangan di luar sana.


Di depan mereka saat ini sudah terlihat gedung sekolah megah dengan plang besar bertuliskan nama sekolah.


Wisley School


Sekolah bertaraf internasional, dengan murid berprestasi di dalamnya. Sekolah yang menjadi rival dengan sekolah mereka dulu dan sekarang akan bertanding dengan sekolah menengah atas Bhakti Bangsa.


Parkiran luas yang sekarang sudah hampir penuh berisi mobil lainya, membuat Dirga berfikir jika Ia terlambat datang.


"Sepertinya sudah hampir mulai yank," ujar Dirga setelah memarkirkan dan mematikan mesin mobilnya.


Ia menoleh ke arah istrinya, yang juga melihat sekeliling parkiran mobil.


"Sepertinya begitu yank!" balas Kiara mengiyakan.


"Ya sudah, yuk langsung ke stadionnya saja!" ajak Dirga semangat.


Basket adalah olah raga kesukaannya, selain renang dan bermain sepak bola.


Meski tidak berbaur dengan siswa selagi Ia sekolah, jangan salah saat praktek olahraga Ia mendapat nilai sempurna untuk bidang ini.


Mereka berjalan dengan tangan bertaut, menemui panitia dan di sambut dengan ramah oleh mereka.


"Selamat datang, Tuan Wijaya!" sapa mereka dengan senyum ramah.


Dirga menyambutnya dengan anggukan kepala, lalu menjabat tangan Si panitia untuk bersalaman.


"Terima kasih," balas dirga datar.


Di sampingnya Kiara tersenyum ramah dan mengangguk sebagai ganti jabat tangan.


"Apa pertandingannya sudah di mulai?" tanya Dirga.


"Kebetulan baru persiapan, tapi penonton dan tamu undangan sudah memenuhi kursi yang di sediakan. Mereka menanggapi pertandingan ini dengan antusias!" balas Si panitia semangat.


"Heum, baik. Apa perwakilan saya juga sudah datang?" tanya Dirga saat mengingat jika Dani juga bilang ingin hadir dan melihat.


"Sudah di tempat, Tuan Wijaya!"


Dirga mengangguk kepala mengerti, sebagai jawaban dari penjelasan Si panitia yang terlihat sekali semangat namun tidak di buat-buat.


"Bisa Kita kesana sekarang?" ujar Dirga kemudian.


"Tentu, mari ikuti saya!" balas Si panitia lalu memimpin jalan, menunjukan jalan untuk tamu sponsor yang mendukung acara mereka saat ini.


Dari arah dalam stadion, Dirga dan Kiara bisa mendengar suara riuh dari cheerleaders, dari dua kubu dengan baju seragam berbeda.


"Semangat masa muda, jadi ingat zaman sekolah dulu!" seru Kiara antusias saat melihat pemandangan di depannya.


Dirga mengulas senyum kecil, sedikit menyesal saat dulu Ia tidak menikmati masa muda seperti orang-orang di lapangan sana.


"Iya ... Tapi sayang banget, dulu Aku tidak seperti mereka. Aku sibuk dengan buku, ketimbang sibuk bermain berkelompok seperti itu!" balas Dirga dengan wajah di tekuk.


Kiara terkekeh kecil saat mendengar perkataan benar apa adanya, dari bibir Suaminya sendiri yang saat ini melihat ke lapangan dengan mata berbinar.


"Berarti Kamu tidak bisa main basket dong yank?" tanya Kiara menatap curiga ke arah Suaminya.


"Enak saja, gini-gini Aku jagonya tahu!" balas Dirga tidak terima, menuai kikikan geli dari Istrinya yang tahu Ia sedang ngambek.


"Benarkah?" goda Kiara semakin menjadi.


"Mau Aku ikutan permainan di sana?" ujar Dirga menantang.


"Hi-hi-hi, lihat Daddy merajuk dan mulai sombong sayang!" gumam Kiara ke arah Gavriel yang ikut terkikik semangat.


Anaknya ikut melihat sekitar dengan pandangan berbinar senang.


"Hi-hi, Dadd!"


"Ikut-ikutan saja, dasar buntal!"


"Daddy ngambek, cie!!!"


"Gigit nih, mau di gi-


"Oi, Ga!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya ....


Salam semangat untuk semua!


__ADS_2