Fell In Love With My Arogan Fiance

Fell In Love With My Arogan Fiance
King And Queen


__ADS_3

Season Dua


Selamat membaca


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


SMA TRISAKTI KOTA S


Hari ini adalah hari terakhir dari masa orientasi sekolah bagi Gavriel dan dua sahabat, serta teman-teman seangkatannya.


Di depan. Tepatnya di hadapan banyak orang, berdiri sepasang murid baru, berbeda jenis kelamin dengan ekspresi malu, meski tidak kentara untuk laki-laki yang menatap depan datar.


Sebenarnya ada apa dengan kedua pasang siswa dan siswi ini? Kenapa harus mengeluarkan ekspresi malu seperti itu.


"Selamat untuk Gavriel Wijaya dan Keineira Desmon, atas terpilihnya menjadi King dan Queen of the years, pasangan yang sungguh serasi yah."


Seorang pembawa acara dari pihak osis, memberi selamat untuk adik kelasnya, yang di daulat atau juga di pilih warga sekolah sebagai raja dan ratu, oleh teman-teman yang memilih melalui poling suara.


Dari dua puluh tim, mereka mengirim masing-masing satu siswa dan siswi, dimana mereka akan di pilih menjadi maskot hingga akhir ajaran baru nanti.


Bisik-bisik dan siulan memberi selamat, membuat Kei diam-diam melirik ke arah samping, tepatnya ke arah Gavriel, yang hanya memandang depan dengan sorot mata datar.


Meskipun begitu .... Entah kenapa, mau seperti apapun, baginya dia tetap bersinar.


Jantungnya berdetak cepat, pipinya memanas dan fikirannya melayang. Saat kemarin, saat mereka bertemu untuk kedua kalinya, itu juga karena kedua temannya, yang iseng dan tidak tahan akan tingkah laku yang malunya.


"Uh, mereka jahil sekali," Batinnya malu saat mengingat lagi, jika Gavriel ternyata tidak melupakannya.


Sedangkan Gavriel yang merasa di perhatikan, melirik kecil ke arah samping, tepatnya ke arah pasangan ratunya.


Ia menyembunyikan senyum kecilnya, saat melihat perempuan, yang entah mengapa membuatnya tidak risih.


"Kenapa?" bisik Gavriel pelan, membuat Kei yang ada di sampingnya tersentak kaget.


"Eh! Ap-apa, apa yang kenapa?" balas Kei sama berbisiknya, meskipun sedikit tergagap.


Pfft ...


Hampir saja Gavriel terkekeh, saat mendengar nada gugup dari sampingnya.


"Kamu, malu?" tanya Gavriel pelan.


"Tid-tidak, aku bahkan sudah sering tampil di depan umum," balas Kei menjelaskan.


"Lalu?" tanya Gavriel penasaran.


Ia menyempatkan melihat sebentar ke arah samping, melihat Kei yang ternyata juga melihatnya, lalu kompak melengoskan kepala, saat mata mereka bersiborok.


Blush!


Rona merah semakin nyata, tercetak jelas di kedua pipi Kei.


Uh ... Ia sangat malu, saat menatap mata dengan manik hitam milik remaja laki-laki di sebelahnya.


Sementara anggota osis melakukan tugasnya, yaitu menutup acara masa orientasi sekolah tahun ini, ada sepasang mata yang melihat ke arah samping depannya, dengan sorot mata aneh.


"Gavriel," Batinnya sedikit tidak ikhlas, saat sahabat laki-lakinya, mengeluarkan ekspresi tidak biasa, untuk perempuan selain dirinya.


Kebetulan ia juga di pilih sebagai kandidat ratu, perwakilan kelompoknya. Tapi sayang, ia malah suara dengan perbandingan yang sangat tipis.


Ia juga ingat saat kemarin, saat pertemuan kedua mereka, menurut cerita yang ia dengar dari Ezra, selagi di perjalanan mereka pulang.


Flasback on


Queene pov on


"Kalian!" seru sahabatku, Ezra dengan nada kaget.


Aku melihat Ezra dan tiga siswi satu angkatan di depanku penasaran, lalu melihat ke arah samping tepatnya ke arah Gavriel, yang melepaskan leherku dan menatap ke arah salah satu dari mereka dengan tatapan aneh.


Tatapan mata berbeda, yang membuatku yang berdiri di sampingnya melihat depan dan arahnya bergantian, dengan kening berkerut semakin penasaran.


Hanya sedikit orang yang mampu membuat sahabatku, melihat seseorang dengan binar seperti itu dan entah kenapa membuat sesuatu dalam hatiku tidak terima.


"Kei!" seru Gavriel, memanggil salah satu di antara ketiga remaja di depan kami.


"Hai! Gavriel!" sapa balik salah satu dari mereka, yang aku rasa orang yang di bernama Kei, lalu menatap ke arah Gavriel dengan binar sama bahagia.


"Apa ini," Batinku aneh.


Aku tidak pernah seperti ini, apalagi saat melihat ketiga siswi baru tersebut mendekat ke arah kami, membuatku semakin merasa tidak nyaman.


"Hentikan Queene, mereka mungkin bertemu di suatu tempat," Batinku mencoba mengenyahkan fikiran negatifku.


Akhirnya mereka bertiga sampai di hadapan kami, di antara mereka perempuan yang di panggil sahabatku dengan nama Kei, tersenyum manis.


Dan aku akui, dia sangat cantik untuk ukuran remaja.


Meskipun dia memakai banyak tali rapia di kepalanya, entah kenapa tetap terlihat cantik, di mataku, yang juga sesama perempuan.


"Kalian, sekolah di sini juga?" tanya Ezra, membuatku mengalihkan pandanganku ke arah Ezra dan beralih lagi, ke arah depan tepatnya arah tiga siswi tersebut.


"Iya! He-he, sebenarnya kami dari kemarin ingin menyapa, tapi-


Ucapan salah seorang siswi baru di depanku berhenti, saat siswi dengan nama Kei menyenggolnya dengan segera dan salah tingkah.

__ADS_1


Aku semakin memicing curiga, aku pun menoleh ke arah sahabatku dan bertanya dengan mata menuntut, meminta penjelasan.


Ezra mengerti maksud tatapanku, begitu pula dengan Gavriel, yang menepuk kepalaku singkat dan tersenyum tipis.


"Penjelasannya nanti aja yah, yang penting kalian kenalan dulu," ujar Gavriel melihat ke arahku dan tiga siswi bergantian.


"Nah! Queene, perkanalkan ini Kei, di sebelahnya ada Intan dan Raiya, aku betul kan?" ujar Ezra memperkenalkan, namun tersenyum ragu saat di akhir kalimatnya.


"Yups!! Aku Intan, salam kenal Queene!" seru siswi yang bernama Intan dengan semangat.


Dia terlihat yang paling energic, di bandingkan dengan dua teman yang lainnya.


"Hai, aku Raiya. Salam kenal, Queene!" sahut satunya ikut memperkenalkan diri.


Tiba saatnya, bagi seseorang yang membuatku penasaran dan aku pun menantinya dalam diam.


Dia melihatku lalu tersenyum manis, sebelum aku ikut mengulurkan tangan, saat dia mengulurkan tangan juga ke arahku.


"Hai, aku Keineira. Salam kenal Queene!"


"Queeneira," Balasku singkat.


Aku baru ini melihat seorang perempuan, memiliki senyum semanis itu.


Queeneira pov end


Flasback end


Puk!


"Astaga!"


Di halaman area parkir, terdengar pekikan kaget dari salah seorang siswi, bernama Queene saat bahunya di tepuk, oleh sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Ezra Benedict.


"Melamun aja, ada apa?" tanya Ezra penasaran, membuat Gavriel yang juga ada di sampingnya, melihat ke arah Queene penasaran.


"Kenapa, kamu aneh semenjak pemilihan King and Queen tadi. Ada yang menggangumu?" tanya Gavriel khawatir.


Queene yang mendengar pertanyaan khawatir dari dua sahabatnya, mengernyit dahi bingung sendiri.


Benarkah dari tadi ia melamun?


"Ah ... Ini pasti karena aku yang lagi sensitif," batin Queene menghilangkan rasa anehnya.


"Tidak ada apa-apa kok, aku hanya tidak sabar untuk memakai seragam baru. He-he," balas Queene dengan kekehan kecilnya.


Gavriel dan Ezra menggeleng tidak percaya, saat mendengar perkataan sahabatnya, yang di kenal memang tidak sabaran.


"Aku kira apa, dasar," dengus Gavriel, lalu mencubit pipi Queene pelan, membuat seseorang yang melihat dari belakang mereka, memandang sedikit kesal.


Plak!


"Ih! Terserah aku, Que-que!" sahut Gavriel masa bodo.


"Ih! Mara-


"Kalian ini, mau pulang atau menginap di sini?" sela Ezra dengan nada bosan.


Oh ayolah ... Di parkiran sudah mulai sepi, hanya ada beberapa penghuni sekolah yang belum pulang, dan itu membuatnya jengah seketika.


"Giliran di bilang awas saling jatuh cinta, malah pada marah. Huh ... Dasar," lanjut Ezra kemudian mendengus kesal.


"Emang tidak akan!" seru keduanya kompak, membuat Ezra terkekeh, lalu dengan kecepatan edan meninggalkan dua sahabatnya.


Ia meninggalkan Queene yang berteriak memanggilnya dan Gavriel, yang mengumpat karena artinya ia telat datang ke kantor, untuk mengantar pereman pasar kesayangan mereka.


Bukan mengumpat kesal kok, hanya sedikit takut jika ia telat masuk bekerja.


Meskipun ia anak pemilik perusahaan, tapi ia tetaplah karyawan magang dengan jabatan rendah.


"Yah! Ezra, kenapa dia ninggalin aku!" seru Queene kesal, hampir saja ia menarik rambut kepang enam belasnya, kalau ia tidak ingat akan menyakiti kulit kepalanya sendiri.


"Sudah yuk, aku antar," ujar Gavriel bersiap memasukkan gigi motornya.


"Nggak mau!"


"Ya sudah di tinggal," ujar Gavriel, memainkan gas motornya.


"Yah! Jangan dong, seharusnya di rayu, ini malah di tinggal. Huh ... Nggak seru!" balas Queene cepat, lalu menggembungkan pipinya kesal.


"Yuk, buru!" seru Gavriel dengan kepala menggeleng.


"Oke! Kamu sih, maksa aku," ujar Queen tidak tahu malu.


"Siapa, yang maksa, siapa," balas Gavriel mendengus geli.


"Diam saja, cepat jalan!" seru Queene masa bodo.


"Oh! Gitu, turunin nih," balas Gavriel main-main.


"He-he, Gavriel tampan jalan yuk. Antar putri cantik sampai istana," ujar Queen merayu, membuat Gavriel tersenyum geli.


"Dasar, pegangan yang erat. Aku nggak mau, kamu terbang kebawa angin!" seru Gavriel sebelum terkekeh, saat sahabatnya membalasnya dengan cubitan mesra.


"Sembarangan," sembur Queene.

__ADS_1


"Ha-ha-ha!!"


Dan mereka pun meninggalkan area parkir, dengan Queene yang selalu kesal, saat lagi-lagi sahabat laki-lakinya menggodanya.


Keakraban kedua sahabat itu, di saksikan oleh dua pasang mata dengan beda pandangan.


Satu menggeleng lucu dan satunya penasaran, dengan hubungan kedua sahabat ini.


"Apa aku bisa masuk di antara kalian?"


"Siapa dia baginya?"


Sama-sama di ucapkan dalam hati, juga sama-sama dari orang berbeda, yang ingin masuk di lingkaran hidup keduanya.


Skip


Keesokan harinya


Pagi menyambut warga baru sekolah menengah atas Trisakti dengan cerah.


Murid baru dengan pakaian baru satu per satu berdatangan, bersama murid yang sudah memakai pakaian seperti mereka selama satu dan dua tahun.


Di antara para murid baru, ada tiga sekawan, yang datang dengan dua buah motor sportnya.


Penumpang dengan jenis kelamin perempuan lebih dulu turun, melepas helm yang di pakainya dan mengibaskan rambutnya. Bukan maksud tebar pesona, karena memang kebiasaannya, saat melepaskan helm dari zaman dulu seperti ini.


"Aku tunggu di sana yah, panas nih!" Serunya yang di balas anggukan kepala, oleh dua sahabatnya.


"Iya!"


Setelah mendapatkan jawaban singkat dari sahabatnya, ia pun berjalan menuju tempat yang di maksudnya, menunggu hingga dua sahabat laki-lakinya, selesai memarkirkan motor mereka.


Sedangkan di gerbang sekolah, ada seorang siswi turun dari mobil kepunyaan Papanya.


"Sampai jumpa, Papa!" Serunya ceria.


"Sampai jumpa, Kei sayang!" balas sang Papa hangat.


Brumm!


Ia pun berbalik menuju gerbang sekolah, di sana ia melihat seorang perempuan, yang kemarin berkenalan dengannya.


Senyumnya mengembang, kemudian melangkah dengan riang ke arah murid perempuan dan menyapa dengan ceria.


"Selamat pagi, Queeneira!" Sapanya dengan senyum hangat.


Queene yang di sapa menoleh ke arah samping, lalu balas sapaan dengan nada tidak kalah ceria.


Meskipun Queene sempat merasakan perasaan aneh, tapi ia tidak boleh menyapa sapaan ceria dengan ketus, apa lagi tidak membalas senyum hangat yang di terimanya.


"Selamat pagi, Keineira!"


"Eh! Panggil Kei saja, biar akrab," ujar Kei dengan senyum lebarnya.


"Kalau gitu, kamu juga panggil aku Queene saja," balas Queene tersenyum sama lebarnya.


"Oke!"


Mereka berdua pun sama-sama tertawa, membuat dua laki-laki di belakang mereka, melihat ke arah mereka dengan dahi mengernyit penasaran.


"Pagi-pagi sudah tertawa, ada apa sih?" tanya Ezra, membuat dua siswi yang adalah Queene dan Kei, menghadap ke arah mereka dengan ekspresi cerah.


"Ada deh, kepo sama urusan perempuan, blee!" balas Queene meledek ke arah Ezra, yang balas mendengus ke arahnya.


"Blee! Emang kamu perempuan?"


"Heh! Sembarangan!"


"Tuh! Tuh kan, liat sendiri," ledek Ezra semakin menjadi.


"Ez! Gigit nih,"


"Takut!" seru Ezra, sebelum kabur menghindari amukan sahabat perempuannya.


"Yah! Kemari kamu!" amuk Queene sebelum lari, mengejar Ezra yang sudah jauh di depan sana, meninggalkan Gavriel dan Kei, yang saling melempar senyum kecil.


"Selamat pagi Gavriel / Kei!" sapa keduanya bersamaan, membuat mereka sama-sama terkekeh akan kejadian tidak terduga barusan


"Masuk, yuk!" ajak Gavriel dan mereka berjalan di koridor, dengan di iringi sapaan dan juga seruan memuja, saat King and Queen jalan berdua.


Kya!


"Pangeran Gavriel, aku padamu!"


"Ya Tuhan, asupan vitamin A! "


"Keineira, jadikan aku kekasihmu!"


Seruan yang membuat keduanya salah tingkah. Namun beda, untuk satu orang yang merasa seperti ada tangan 'tak kasat mata, meremas hatinya, entah kerena apa.


"Kok gini yah," Batinnya dengan perasaan aneh yang tidak dapat terlukiskan.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.


__ADS_2